Bismillah..

26 01 2010

.. But, that’s only hope, because I realize the main secret to pass this IELTS test is: 1. Pray, 2. practice, practice, practice and 3. Confidence. That’s enough to give all tricks to win. That’s all, no luck in here. I was losing that last item at the last minute. But it’s ok, because I already faced that fact, learning my weakness, and I will take more practice to take IELTS test again. For me, pass this test is only 1 small gate in my long journey to catch my dreams. So, I will never give up with this. This is my next target: minimum 6 for individual band score and 7 for overall band score. You will become my witness for this target. […July 15, 2009]

Beberapa waktu lalu..rasanya kata – kata itu hanya terngiang dalam pikiranku. “This is my next target..This is my next target:.” Aku ingat, waktu menuliskannya pun, aku sempat takut. Tapi ditengah keraguan itu, sempat terlintas, kalau untuk bermimpi saja sudah tidak berani, sudah pasti tak ada yang mungkin. Aku masih teringat juga ucapan Soe jauh diwaktu dulu, seakan ia berbicara langsung padaku, padahal jarak hidup kami dipisahkan puluhan tahun waktu. Aku baru menyadari, umurnya terpaut tak terlampau jauh dariku saat dengan penuh keyakinan seperti itu, ia katakan kalimat yang masih menggema hingga kini, “Manusia itu adalah apa yang dipikirkannya tentang dirinya. Jika anda orang yang jujur dan berani, dan itu yang anda pikirkan, maka..tidak ada seorangpun yang bisa mengubahnya.”
Dan saat ini, berbulan – bulan setelahnya desember 2009, di dalam hiruk pikuk dan merasa kecilnya aku di tengah keramaian kota ini, aku duduk mengambil nafas panjang beberapa saat, mengulang lagi dalam pikiranku, mencoba menguatkan diri menghadapi semua kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi di depan sana. Aku mengingat tulisan yang kubuat sendiri, saat kucoba buktikan ucapan Soe, membuka lembar kertas yang berisi sejuta arti dari sedikit jerih perjuangan ini, aku membaca,

Dan, hanya sedikit kata yang lalu mampu kuucapkan, untuk rahmat yang ditunjukan sang Rahman. Aku bisikan jauh kedalam diriku, “My dream, don’t wait for me, because..i plan to run to you. Bismillah..

Jakarta, 17 desember 2009

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu? yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (Al-Insyiroh 1-8)

Advertisements




Berbahagia

13 01 2010

“Kebahagiaan adalah kualitas perasaan Anda, yang seharusnya berada dalam kekuasaan penuh Anda untuk membangunnya.  Jika Anda ikhlas, menguatkan diri – Anda akan mengubah apa pun menjadi pemungkin bagi pemenuhan hak Anda untuk menjadi pribadi yang berbahagia, maka putuskanlah.. Berbahagia!” Mario Teguh

Malam tadi aku bermimpi lagi. Bedanya, mimpi itu kuingat jelas hingga penghujung hari. Mungkin karena mimpi ini, adalah tentang mimpiku. Aku bergegas ke kantor dan memulai pagi dengan ingatan yang masih kuat atas itu. Tapi aku tidak sedang membicarakan itu saat ini. Hanya saja, tiba – tiba aku diingatkan apa yang harusnya tetap kusyukuri hingga detik ini. Dan tiba – tiba diantara demikiannya perasaan terbuang, jenuh dan tidak berdaya dalam diriku, aku diingatkan bahwa menjadi bahagia atau tidak itu adalah pilihan, perbedaan yang begitu jelas, tapi sering kali kita membuat itu semua berada di alam bawah sadar, hanya sekedar berlari dari fakta bahwa keputusan yang diambil adalah : tidak.

Sepulang bekerja dan berbenah, aku membuka – buka lagi lemari buku, diantaranya ada  majalah kusam yang hampir saja kuputuskan untuk dibuang. Tapi aku lalu membacanya, dan diantara hanyutnya aku membaca baris demi baris itu, aku teringat saat beberapa tahun lalu, ketika aku membuat keputusan untuk memilih salah satu jurusan paling diminati di perguruan tinggi terkemuka di negri ini. Saat itu, aku begitu gelisah hingga aku tak bisa tidur di hari ketika batas pengembalian formulir telah tiba. Tapi lalu akhirnya aku putusan untuk memilih, walaupun itu adalah pilihan yang paling kutakuti, dan walaupun pada akhirnya aku gagal. Tapi aku tidak menyesal, hingga saat ini. Aku yakin, kegagalan terbesar bukanlah kegagalan, tapi ketakutan untuk gagal itu sendiri.
Aku kembali pada tulisan ini, bahwa di dalam nya aku tidak saja diingatkan tentang apa yang harusnya tetap kusyukuri, tapi juga apa yang seharusnya tetap kuperjuangkan dalam hidupku. Bahwa siapapun yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik, harus menyadari bahwa kesulitan demi kesulitan hanyalah salah satu fase perjalanan dan kesempatan untuk menempa diri, agar siap menerima sesuatu yang lebih besar.
Tulisan itu adalah wawancara Dieter Lamle’ (Kepala Bagian Pers Kedubes Repubik Federasi Jerman di Jakarta) pada BJ Habibie, untuk SCALA edisi 1998, diantara masa singkat beliau ketika menjadi presiden republik ini. Berikut salah satu kutipannya..
DL : Apakah studi Bapak di jerman memberi keuntungan dalam profesi Bapak ? apakah ceritanya akan lain, seandainya Bapak studi di Amerika Serikat atau di Australia ?
Habibie :  
Saya tidak dapat membuat perbandingan dengan Amerika Serikat dan Australia, oleh karena saya tidak pernah tinggal di sana. Tapi satu hal saya tahu pasti : semangat dan pendidikan jerman telah memberi banyak hal pada saya, sehingga saya dapat seperti saya sekarang ini.
Pengertian hidup saya sebagai seorang cendekiawan, sikap saya terhadap keadilan dan demokrasi, nilai – nilai etis saya sangat dipengaruhi oleh semangat jerman. Saya seorang yang taat beragama, saya seorang muslim. Ada 25 Nabi, Nabi ang terakhir dari ke-25 Nabi itu adalah Muhammad, yang ke-24 adalah Jesus Kristus. Saya harus menghormati semua nabi dan menurut apa yang mereka katakan. Dan kalau saya membuat itu menjadi dasar piikiran, maka saya akan mempunyai penyebut yang sama dengan anda, artinya nilai – nilai saya untuk etika moral dan nilai-nilai lainnya yang penting untuk hidup. Oleh karena kita mempunya 24 penyebut yang sama yang tentu mirip, maka saya tidak pernah mempunyai masalah dengan orang – orang Eropa, dengan orang – orang Kristen.
Saya ingin bercerita kepada Anda : saya pergi ke Jerman ketika saya berumur 18. Saya dididik taat beragama. Saya sering merasa rindu pada orang tua dan keluarga, saya tidak pernah memperoleh beaiswa kecuali dari Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD), tapi baru pada tahun – tahun terakhir penulisan disertasi doktor, sehingga saya harus membiayai sendiri. Orang tua saya yang membiayai, saya bahkan tidak dapat menerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, yang waktu itu juga sudah ada.
Ada saat – saat sulit pada masa itu bagi saya dan kadang – kadang uang saya waktu itu tidak cukup menelepon ibu atau saudara – saudara saya. Bahkan kadang – kadang karena uang belanja saya tidak datang pada waktunya, saya harus sarapan pagi hanya dengan roti dan susu saja. Mensa (kantin mahasiswa) bagi saya waktu itu adalah suatu kemewahan. Saya mempunyai tempat kost yang sering disebut “Studentenbude” di jalan Frankenberger Str. 12, di Keluarga Neuwald. Di sana tidak ada pemanas ruangan, tidak ada kamar mandi, hanya ada wastafel. Sekarang keadaannya memang sudah jauh lebih baik. Tapi dulu pada tahun 50-an, Jerman masih belum begitu maju seperti sekarang. Oleh karena tidak adanya kamar mandi, maka saya hanya dua kali seminggu pergi mandi : ke kolam renang umum. Dan karena di kamar tidak ada pemanas ruangan, ada tahu tidak dimana saya belajar ? di perpustakaan, karena disana cukup panas.
Akan tetapi saya tidak pernah merasa sedih, saya tidak pernah merasa kurang senang, saya tidak pernah merasa iri; saya bersyukur kepada Allah SWT, bahwa saya masih boleh hidup dan dapat kuliah. kondisi kehidupan yang sulit itu telah menempa saya, seorang yang bersyukur kepada Allah SWT.
Dan ada tahu tidak apa yang saya alami ? Kadang – kadang saya rindu keluarga dan kampung halaman, padahal saya dalam kesulitan karena tidak punya uang lagi, sepatu sudah berlubang – lubang, sama sekali sudah tidak punya uang untuk memberli karcis kerta api atau trem. Dalam keadaan seperti itu, saya harus berjalan kaki pulang ke pondokan, saya hanya memegang sebuah apel di tangan untuk makan malam, saya sangat kurus waktu itu.
Anda tahu tidak, pada saat-saat seperti itu saya sangat mendambakan mendekatkan diri pada Allah SWt. Tapi disana tidak ada mesjid, sehingga sulit bagi saya. Tapi anda tahu apa yang saya lakukan ? saya lalu pergi ke sebuah gereja, saya duduk paling akhir dan saya berkata pada diri sendiri, hanya ada satu Allah, “Bolehkah saya berdoa kepadamu?”. Saya mencari jalan. Saya adalah seorang pemuda yang bahagia.
SCALA, 1998.




Mengapa Aku Menulis

25 09 2009


<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:"Cambria Math";
panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Verdana;
panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-unhide:no;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
margin-top:0in;
margin-right:0in;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
a:link, span.MsoHyperlink
{mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
color:blue;
text-decoration:underline;
text-underline:single;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
{mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
color:purple;
mso-themecolor:followedhyperlink;
text-decoration:underline;
text-underline:single;}
p
{mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-margin-top-alt:auto;
margin-right:0in;
mso-margin-bottom-alt:auto;
margin-left:0in;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman","serif";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
.MsoChpDefault
{mso-style-type:export-only;
mso-default-props:yes;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
{mso-style-type:export-only;
margin-bottom:10.0pt;
line-height:115%;}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}

Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia (dalam) kerugian.

Raihan – Demi Masa*

Hari ini, disela waktu luang, aku mencari tautan namaku pada jejaring dunia maya melalui mesin pencari sensasional, paman google. Aku berseluncur, mengunjungi dan membaca rumah maya kawan – kawan sejawat dan mempelajari pemikiran mereka.

Tanpa sengaja, dalam keasikan membaca itu, aku terdampar pada beberapa halaman asing, yang beberapanya menampilkan ulang tulisan – tulisan yang pernah kubuat dan sempat di-share beberapa tahun, bulan atau hari lalu, baik pada rumah pribadi ini dan beberapa website yang berhubungan.

Senyum simpul tersirat dari wajahku, gembira karena apa yang kulakukan –walaupun kecil– ternyata bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Namun, kali ini dan kali sebelumnya, aku kembali tak sengaja melihat ada yang berbeda dari tulisan itu.

Tak jarang, tulisan yang –kadang– dibuat berbulan-bulan, melewati kantuk yang datang menyerang di tengah malam – malam sunyi, atau kebosanan tak tertahankan, hingga menjadi beberapa baris tulisan atau puluhan lembaran buku, dijiplak mentah – mentah (baca : dicuri). Kusebut seperti itu karena, bahkan tak satu kata pun diubah kecuali menghilangkan namaku sebagai penulisnya dan atau menggantinya dengan nama yang bersangkutan. Pun, ejaan salah yang sempat tertuliskan pada kata dalam tulisan itupun masih sama dengan aslinya. Di lain waktu, ketika tulisan itu dipecah menjadi beberapa bagian (karena terlalu panjang), tak jarang juga yang bersangkutan lupa merubah semua nama penulisnya : pada bagian pertama nama penulis diubah menjadi nama yang bersangkutan, namun pada tulisan kedua tidak diubah.

Sempat aku meminta beberapa dari yang bersangkutan ini untuk mencantumkan nama penulis asli berikut daftar pustakanya. Khusus yang terakhir, –daftar pustaka– menurutku sangat penting, karena tulisan tersebut aku buat dengan mereferensi pemikiran orang lain. Namun, mungkin karena penjiplak ini, memang tidak mampu mengerti tentang konsep menghargai hasil karya dan intelektual, ia bukannya berterimakasih sudah diperbolehkan men-copy tulisan tersebut atau meminta izin untuk itu (walau cukup terlambat), namun balik marah dan berkata padaku “tuh, udah gue cantumin nama lu”

Membaca itu, aku hanya bisa berucap astaghfirullah. Perasaan kesal dan direndahkan pernah dan acap kali menyergap ketika hal ini berkali – kali kutemui. Memang membuat tulisan saat ini tidak -atau setidaknya belum- menjadi sumber pendapatan bagiku, sehingga hal – hal seperti itu (baca : dicurinya hasil karya) setidaknya tidak memberikan kerugian secara materil bagiku, walaupun ada secercah keinginan untuk membuat buku –yang sebenarnya– suatu saat nanti. Dan lagipula, bukankah setiap makhluk yang tercipta sudah dijaminkan rezki nya oleh Allah ?

Namun, menulis dan hasilnya, adalah sesuatu yang begitu berharga, karena tidak terjadi dan tercipta secara tiba – tiba. Proses transformasi gelombang dan materi pemikiran ini tidak begitu saja dengan mudahnya berubah menjadi sesuatu yang nyata terlihat, seperti tulisan. Tidak seperti proses ketika Prof. Dumbledore mengucapkan mantra ajaib, mengarahkan tongkat sihir pada pelipis kepalanya, dan tiba – tiba siluet putih perwujutan pemikiran dan ingatan yang diinginkannya keluar dan bisa disimpan dalam baskom Pensieve, dan dapat dilihat suatu saat nanti setiap kali diinginkan, cukup dengan menceburkan kepala kedalamnya.

Banyak penulis pernah menghadapi hal – hal seperti ini dan menyikapinya dengan cara berbeda – beda. Aku sebelumnya sempat menemui pengalaman serupa mas Imam Brotosenoseorang Sutradara hebat sekaligus penulis yang kukagumi karena keluwesan dan kelugasannya bercerita dengan apa adanya– mengenai tulisan beliau yang dibagikan pada blog pribadinya mengenai Bung Karno, yang diambil tanpa izin, tanpa menuliskan pemilik aslinya, dan dijadikan sebagian dari buku yang dipublikasikan secara masal (dan hit rilis pula di toko buku terkenal di negri ini).

Membaca itu, sempat aku turut kesal dan tak habis pikir pula, bahwa hal tercela dan sangat terhina seperti ini, dilakukan oleh orang – orang dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi yang harusnya juga melambangkan tingginya tingkat intelegensinya. Tidakkah mereka berpikir selama proses menuangkan pemikirannya itu? Namun, ternyata hukum keselarasan memang tidak selamanya berlaku dalam pribadi manusia, karena kadang tingkat intelegensi ini tidak selamanya berbanding lurus dengan penalaran, bahkan kadang berbanding terbalik.

Dan apakah hal – hal seperti itu akan membuat aku berhenti menulis ? Aku bertanya pada diriku. Berulang kali. Dan setiap kali itu juga, aku menjawab : tidak. Menulis terlalu dekat dengan hatiku, ibarat mendengar sebuah nada yang terlantun dalam imajinasi spektrum otak, maka menulis adalah not nya. Ia pasti ada, dan tak mungkin berbeda dari apa yang terdengar.

Aku teringat salah satu ucapan Rasullullah SAW tentang amalan apakah yang tidak akan pernah putus walaupun dipisahkan oleh kematian sekalipun, diriwayatkan pada HR. Muslim : “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka putuslah amalnya kecuali 3 : sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.

Aku memang bukan orang yang kaya seperti khalifah Abu Bakar al-Shiddiq dan Khadijah binti Khuwailid. Bukan pula orang yang begitu pintar dengan ingatan kuat dan pengetahuan yang banyak seperti Ibnu Sina atau Galileo Galilei atau pemikir hebat lainnya. Dan pastinya, belum punya anak. Aku juga bukan penulis hebat apalagi produktif, karena bagiku menulis masih begitu sulitnya dan adalah suatu perjuangan, melawan rasa malas, takut dan menunda – nunda apa yang ingin atau seharusnya kukerjakan, sekelompok insting negatif dasar yang semua manusia pernah dan terus rasakan dalam hidup, untuk dikendalikan dan dikalahkan. Begitu mengherankan bagiku, bagaimana insting serupa yang kualami dalam menulis ini jugalah, yang pasti ditemui dan harus terus dilawan oleh seorang survivor untuk bertahan hidup, keluar dari ketersesatan di tengah hutan belantara misalnya.

Aku menulis, sebagai perjuangan mengiringi rusak dan putusnya satu – satu persatu jaringan neuron otakku ini dari setiap waktu yang pasti selalu berlalu dalam hidup. Aku menulis untuk menyambut periode menakutkan dalam berpikir, menjadi lupa. Aku hanya orang biasa yang mencoba mengabadikan bunyi dalam pikiranku menjadi rangkaian not, agar nadanya tetap bisa bersenandung dalam ruang ilmu yang tak akan pernah bisa aku ketahui dimana batasnya. Agar kelak, ketika nada – nada itu sudah tak lagi terdengar dalam kepalaku, ia masih akan bisa kubaca dan kulihat.

Dan, ilmu yang sedikit ini, tentu bukan milikku, tapi hanya titipan, yang disela waktu luangku –yang juga diberikan oleh Yang Menguasainya-, sanggup aku tuangkan menjadi tulisan. Semua pengetahuan ini, entah yang tersembunyi dalam ratusan lembar – lembar buku tua atau mahal, dalam gelapnya perut bumi, dalam luasnya angkasa raya, dalam kecilnya sebuah sel makhluk mikro, atau yang ada dalam persembunyian otak manusia; ada yang memilikinya, hanya satu : Sang Pencipta.

Dan, setiap kali selesai aku menulis, hanya secercah harapan yang kutitipkan pada setiap huruf, kata dan kalimat didalamnya –seperti juga yang pernah mas imam tuliskan dalam blog nya- , agar ini mampu menjadi segelas air bagi oase pengetahuan, walaupun hanya seteguk. Semoga Allah meridhai apa yang telah kita lakukan, hidup kita ini, dan pengetahuan yang didapat didalamnya.

Jangan takut menulis, kawan..Selamat berkarya, dalam tanpa ruang batas.

Salam,
Al-Kahfi

* Seperti disuratkan dalam Al ‘Ashr (Masa) 1 – 2





Catatan – catatan terakhir

23 07 2009
Aku teringat, dulu sekali, dan..pun kembali saat ini, kita semua pernah sepakat, pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi rangkaian rutinitas yang tak syarat arti. Pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi retorika yang memuakan. Pendidikan kita harus menjadi momen untuk kita berbenah, menjadi saat untuk kita introspeksi diri.

Sebelum kita membantu untuk membuka pintu kesempatan bagi lebih banyak jiwa muda ini menjadi ASTACALA dan mengenalkan tentang hakekatnya, pada saat itulah selambat – lambatnya kita membuka pintu kesempatan untuk masing – masing diri ini, “sudahkah kita menjadi benar – benar seorang ASTACALA ?”

Sebelum kita berbagi pengetahuan dengan jiwa – jiwa yang membakar semangat ini tentang misteri tanpa batas alam, pada saat itulah saat yang tepat untuk kita bertanya – tanya pada diri ini, “Sudahkah kita cukup berendah hati untuk berkawan dengan alam ?”

Kawan, berhentilah berbicara tentang sesuatu yang absurd. Kemarilah, hiruplah secangkir kopi hangat yang ini bersamaku. coba kita dengarkan sesaat bunyi sayup suara malam kerimbunan hutan ini, mungkin diantara bisikan nya, ada suara hati yang bisa kita dengar. Tentang cerita yang tak ingin kau dan aku katakan dalam lisan. Taukah kau, betapa muaknya aku dengan semua retorika rutinitas ini ? yang membuat kita tak mampu berbicara lagi satu sama lain dengan bahasa hati.

Sahabat, duduklah disini bersamaku, didepan perapian ini yang tadi kita buat ditengah menggigilnya tubuh kita diterjang badai tadi. Mari, kita nikmati hangat yang akan segera berakhir ini. karena, sebentar lagi cakrawala segera menjemput kegelapan pekat malam dan menggantikannya dengan hangat mentari pagi.

Dan saudaraku, percayalah padaku, karena saat ini puncak dinginnya malam telah datang, yang menandakan sebentar lagi langit malam ini akan pergi. Mari kita nikmati kebersamaan untuk merenungi misteri hidup, karena tentu adalah suatu kepastian, jiwa kita tak akan selamanya miliki kesempatan.

Catatan terakhir sebelum aku beranjak, untuk ASTACALA.

Bandung, Desember 2008
-Enam Dua-





hey die Welt,das bin Ich

27 05 2008
Orang-orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan ketenangan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata. Karena itu jika anda dalam pergumulan yang sangat berat dan merasa ditinggalkan sendiri dalam hidup, angkatlah kepala ke atas karena kemungkinan anda sedang dipersiapkan untuk menjadi orang yang luar biasa. (anonimous)





Congratz yak…..!!!

3 12 2007
Adek..tadi kakak udah sidang. dia dapat A, kasih selamat gih….Adek gimana, kapan sidang?

Adek..Abang udh selesai ujian & presentasi. Hasilnya bagus ..Sekarang Inoe tinggal pengangkatan karyawan PT. Pertamina EP hari hari jum’at tgl 5..ama manajer HRD
————–

Dua pesan ini yang kuterima beberapa hari lalu..mengantarkan secercah senyum dalam hati kecilku. Ya, pesan tentang kakak – my twin yang baru saja ujian yudisium untuk kelulusan dari status mahasiwa kedokteran dan abang, calon DIRUT PERTAMINA kami…hahahah

Ah, aku teringat saat kecil dulu..ketika kami masih bermain bersama…berlarian kesana kemari..atau bertengkar tak ada habisnya. Dili, kota kecil tempat kami pernah tumbuh bersama..hampir 4 tahun lamanya.

Sekarang, semua menjadi kenangan indah.
Hidup ini akan berakhir, cepat atau lambat.
Waktu terus berjalan, mencoba membantu mendewasakan kita.
Mudah – mudahan Allah mempertemukan kita di jannah nya kelak.

Selamat ya abang…kakak…
jangan lupa makan – makan nya ntar klo kita udah pada ngumpul di Jakarta.
Btw, Doain adek juga ya..:D





Congratz yak…..!!!

3 12 2007

“Adek..tadi kakak udah sidang. dia dapat A, kasih selamat gih….Adek gimana, kapan sidang?”
“Adek..Abang udh selesai ujian & presentasi. Hasilnya bagus ..Sekarang Inoe tinggal pengangkatan karyawan PT. Pertamina EP hari hari jum’at tgl 5..ama manajer HRD “
————–

Dua pesan ini yang kuterima beberapa hari lalu..mengantarkan secercah senyum dalam hati kecilku. Ya, pesan tentang kakak – my twin yang baru saja ujian yudisium untuk kelulusan dari status mahasiwa kedokteran dan abang, calon DIRUT PERTAMINA kami…hahahah

Ah, aku teringat saat kecil dulu..ketika kami masih bermain bersama…berlarian kesana kemari..atau bertengkar tak ada habisnya. Dili, kota kecil tempat kami pernah tumbuh bersama..hampir 4 tahun lamanya.
Sekarang, semua menjadi kenangan indah.
Hidup ini akan berakhir, cepat atau lambat.
Waktu terus berjalan, mencoba membantu mendewasakan kita.
Mudah – mudahan Allah mempertemukan kita di jannah nya kelak.
Selamat ya abang…kakak…
jangan lupa makan – makan nya ntar klo kita udah pada ngumpul di Jakarta.
Btw, Doain adek juga ya..:D