Orang kecil itu Berjiwa Besar

18 01 2010

Tentu banyak yang tau kehebohan Rohut Sitompul saat meminta keterangan JK di pansus beberapa waktu lalu. Banyak yg tersinggung dengan cara rohut bertanya sambil menggunakan kata “daeng” yang dianggap bernada melecehkan.
Berikut tanggapan JK yang di posting langsung oleh beliau di kompasiana http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/16/hati-hati-memanggil-orang-bugis-dengan-daeng/
terima kasih untuk pesannya saya sudah baca tulisan anda…memang banyak yang mempersoalkan itu, tapi bagi saya pribadi, saya anggap secara kultural, panggilan “daeng” sama saja dengan panggilan “mas” di Jawa sana. meskipun kadang2 di makassar kita juga tidak suka dipanggil mas karena itu panggilan tukang bakso, sama halnya daeng boleh jadi, orang yang dipanggil tersebut akan tersinggung. Saat ini, memang panggilan daeng lebih banyak ditujukan pada profesi tukang becak, sopir angkutan, atau penjual ikan.. Tapi, situasinya berbeda dengan saat berada di Jakarta. Saat di Jakarta, saya merasakan bahwa panggilan daeng ini menjadi sapaan yang lazim di kalangan kita yang berasal dari Sulsel. Panggilan ini menjadi penanda, semacam penegasan bahwa kita berasal dari daerah yang sama, maka kita adalah saudara. Di Jakarta, seorang warga Sulsel yang memanggil sesamanya dengan panggilan daeng, dianggap sangat sopan dan menghargai sesamanya. Panggilan itu adalah pernyataan bahwa kita sesama saudara seperantauan yang saling menghormati. Jika kemudian warga etnis lain ikut-ikutan memanggil ”daeng”, maka itu dianggapnya sebagai panggilan kehormatan. saya memang sering disapa daeng oleh sesama di Jakarta. Daeng Ucu’ begitu teman2 menyapa saya. saya anggap tak ada yang salah dengan panggilan itu sebab merupakan bentuk penghormatan dan pernyataan bahwa kita sesama saudara. Jika belakangan panggilan Ruhut menimbulkan reaksi, mungkin itu dikarenakan karena intonasinya yang seakan melecehkan. Ia seolah sedang menginterogasi, dan beberapa kali mengulang kata Daeng Jusuf Kalla. Dengan intonasi seperti itu, sah-sah saja jika orang Sulsel menganggapnya pelecehan. tapi jangan berlebihan lah, memang kawan kita suka begitu… saya sendiri sampai saat ini masih merasa biasa biasa saja, dengan sudah terbiasa dengan Bung Ruhut…


<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:"Cambria Math";
panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Calibri;
panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}
@font-face
{font-family:Verdana;
panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:swiss;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-unhide:no;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
margin-top:0in;
margin-right:0in;
margin-bottom:10.0pt;
margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoChpDefault
{mso-style-type:export-only;
mso-default-props:yes;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
.MsoPapDefault
{mso-style-type:export-only;
margin-bottom:10.0pt;
line-height:115%;}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}

Bravo JK !!!

Advertisements




Berbahagia

13 01 2010

“Kebahagiaan adalah kualitas perasaan Anda, yang seharusnya berada dalam kekuasaan penuh Anda untuk membangunnya.  Jika Anda ikhlas, menguatkan diri – Anda akan mengubah apa pun menjadi pemungkin bagi pemenuhan hak Anda untuk menjadi pribadi yang berbahagia, maka putuskanlah.. Berbahagia!” Mario Teguh

Malam tadi aku bermimpi lagi. Bedanya, mimpi itu kuingat jelas hingga penghujung hari. Mungkin karena mimpi ini, adalah tentang mimpiku. Aku bergegas ke kantor dan memulai pagi dengan ingatan yang masih kuat atas itu. Tapi aku tidak sedang membicarakan itu saat ini. Hanya saja, tiba – tiba aku diingatkan apa yang harusnya tetap kusyukuri hingga detik ini. Dan tiba – tiba diantara demikiannya perasaan terbuang, jenuh dan tidak berdaya dalam diriku, aku diingatkan bahwa menjadi bahagia atau tidak itu adalah pilihan, perbedaan yang begitu jelas, tapi sering kali kita membuat itu semua berada di alam bawah sadar, hanya sekedar berlari dari fakta bahwa keputusan yang diambil adalah : tidak.

Sepulang bekerja dan berbenah, aku membuka – buka lagi lemari buku, diantaranya ada  majalah kusam yang hampir saja kuputuskan untuk dibuang. Tapi aku lalu membacanya, dan diantara hanyutnya aku membaca baris demi baris itu, aku teringat saat beberapa tahun lalu, ketika aku membuat keputusan untuk memilih salah satu jurusan paling diminati di perguruan tinggi terkemuka di negri ini. Saat itu, aku begitu gelisah hingga aku tak bisa tidur di hari ketika batas pengembalian formulir telah tiba. Tapi lalu akhirnya aku putusan untuk memilih, walaupun itu adalah pilihan yang paling kutakuti, dan walaupun pada akhirnya aku gagal. Tapi aku tidak menyesal, hingga saat ini. Aku yakin, kegagalan terbesar bukanlah kegagalan, tapi ketakutan untuk gagal itu sendiri.
Aku kembali pada tulisan ini, bahwa di dalam nya aku tidak saja diingatkan tentang apa yang harusnya tetap kusyukuri, tapi juga apa yang seharusnya tetap kuperjuangkan dalam hidupku. Bahwa siapapun yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik, harus menyadari bahwa kesulitan demi kesulitan hanyalah salah satu fase perjalanan dan kesempatan untuk menempa diri, agar siap menerima sesuatu yang lebih besar.
Tulisan itu adalah wawancara Dieter Lamle’ (Kepala Bagian Pers Kedubes Repubik Federasi Jerman di Jakarta) pada BJ Habibie, untuk SCALA edisi 1998, diantara masa singkat beliau ketika menjadi presiden republik ini. Berikut salah satu kutipannya..
DL : Apakah studi Bapak di jerman memberi keuntungan dalam profesi Bapak ? apakah ceritanya akan lain, seandainya Bapak studi di Amerika Serikat atau di Australia ?
Habibie :  
Saya tidak dapat membuat perbandingan dengan Amerika Serikat dan Australia, oleh karena saya tidak pernah tinggal di sana. Tapi satu hal saya tahu pasti : semangat dan pendidikan jerman telah memberi banyak hal pada saya, sehingga saya dapat seperti saya sekarang ini.
Pengertian hidup saya sebagai seorang cendekiawan, sikap saya terhadap keadilan dan demokrasi, nilai – nilai etis saya sangat dipengaruhi oleh semangat jerman. Saya seorang yang taat beragama, saya seorang muslim. Ada 25 Nabi, Nabi ang terakhir dari ke-25 Nabi itu adalah Muhammad, yang ke-24 adalah Jesus Kristus. Saya harus menghormati semua nabi dan menurut apa yang mereka katakan. Dan kalau saya membuat itu menjadi dasar piikiran, maka saya akan mempunyai penyebut yang sama dengan anda, artinya nilai – nilai saya untuk etika moral dan nilai-nilai lainnya yang penting untuk hidup. Oleh karena kita mempunya 24 penyebut yang sama yang tentu mirip, maka saya tidak pernah mempunyai masalah dengan orang – orang Eropa, dengan orang – orang Kristen.
Saya ingin bercerita kepada Anda : saya pergi ke Jerman ketika saya berumur 18. Saya dididik taat beragama. Saya sering merasa rindu pada orang tua dan keluarga, saya tidak pernah memperoleh beaiswa kecuali dari Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD), tapi baru pada tahun – tahun terakhir penulisan disertasi doktor, sehingga saya harus membiayai sendiri. Orang tua saya yang membiayai, saya bahkan tidak dapat menerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, yang waktu itu juga sudah ada.
Ada saat – saat sulit pada masa itu bagi saya dan kadang – kadang uang saya waktu itu tidak cukup menelepon ibu atau saudara – saudara saya. Bahkan kadang – kadang karena uang belanja saya tidak datang pada waktunya, saya harus sarapan pagi hanya dengan roti dan susu saja. Mensa (kantin mahasiswa) bagi saya waktu itu adalah suatu kemewahan. Saya mempunyai tempat kost yang sering disebut “Studentenbude” di jalan Frankenberger Str. 12, di Keluarga Neuwald. Di sana tidak ada pemanas ruangan, tidak ada kamar mandi, hanya ada wastafel. Sekarang keadaannya memang sudah jauh lebih baik. Tapi dulu pada tahun 50-an, Jerman masih belum begitu maju seperti sekarang. Oleh karena tidak adanya kamar mandi, maka saya hanya dua kali seminggu pergi mandi : ke kolam renang umum. Dan karena di kamar tidak ada pemanas ruangan, ada tahu tidak dimana saya belajar ? di perpustakaan, karena disana cukup panas.
Akan tetapi saya tidak pernah merasa sedih, saya tidak pernah merasa kurang senang, saya tidak pernah merasa iri; saya bersyukur kepada Allah SWT, bahwa saya masih boleh hidup dan dapat kuliah. kondisi kehidupan yang sulit itu telah menempa saya, seorang yang bersyukur kepada Allah SWT.
Dan ada tahu tidak apa yang saya alami ? Kadang – kadang saya rindu keluarga dan kampung halaman, padahal saya dalam kesulitan karena tidak punya uang lagi, sepatu sudah berlubang – lubang, sama sekali sudah tidak punya uang untuk memberli karcis kerta api atau trem. Dalam keadaan seperti itu, saya harus berjalan kaki pulang ke pondokan, saya hanya memegang sebuah apel di tangan untuk makan malam, saya sangat kurus waktu itu.
Anda tahu tidak, pada saat-saat seperti itu saya sangat mendambakan mendekatkan diri pada Allah SWt. Tapi disana tidak ada mesjid, sehingga sulit bagi saya. Tapi anda tahu apa yang saya lakukan ? saya lalu pergi ke sebuah gereja, saya duduk paling akhir dan saya berkata pada diri sendiri, hanya ada satu Allah, “Bolehkah saya berdoa kepadamu?”. Saya mencari jalan. Saya adalah seorang pemuda yang bahagia.
SCALA, 1998.




Meretas langkah perjuangan

9 09 2007

Kadang aku tak mengerti mengapa aku harus disini. melakukan hal – hal yang mereka jadikan sebagai amanah bagiku, menunaikan tanggung jawab yang terkadang menghimpit, menahan kemarahan yang serasa memecahkan dada, lalu mencoba diam seakan semua baik – baik saja dan tidak ada masalah.Aku teringat 4 tahun lalu, ketika itu aku, mas anug, dan seorang lain sedang menunggu angkutan untuk mengikuti sebuah seminar kepemimpinan di kampus ITB. waktu itu aku hanya kebetulan saja berada dalam situasi ini -sebagai wakil dari BEM STTTelkom- karena ajakan mas Anug ketika aku sedang asyik membaca koran di sekre kami. Saat itu, aku hanya mahasiswa tingkat pertama yang sedang dalam berada dalam kondisi yang begitu bersemangat dengan hidup baruku, dengan begitu banyak pertanyaan “mengapa” dan sedang mencari idealisme yang dapat kujadikan contoh bagi sikapku. Dalam penungguan itu, sempat aku terlibat percakapan menarik dengan Mas Anug. Dari keseluruhan sesi itu, ada satu yang begitu kuingat hingga saat ini.

Setiap kita memiliki hidup yang dipenuhi berbagai orang dengan kepentingan yang berbeda – beda bahkan bertentangan satu sama lain. Ada banyak saat yang akan sering kita temui dalam hidup, ketika kita merasa ditarik – tarik dari berbagai sisi, mencoba memenuhi keinginan banyak orang, menunaikan begitu banyak harapan -orang tua, kawan seperjuangan, pacar, saudara, bos, dll- Ada banyak momen dalam hidup ini, ketika kita dilanda semua tuntutan itu, amanah ini, suka atau tidak suka, sanggub atau tidak sanggub.

Tapi kita juga punya banyak momen untuk belajar dari itu semua. Menjadi “tong” tempat dunia disekitar kita membuang keluh kesah, meneriakan pemikiran, menuangkan kekesalan, menceritakan kegembiraan, mengisahkan heroik pengakuan diri. Karena semua manusia ingin didengarkan dan mendapat pengakuan. Inilah makanan bagi mental setiap kita. Bukankah Begitu banyak anomali dalam hidup ini ? yang bahkan hukum fisika maupun matematika pun tak akan mempu menterjemahkan apalagi memberi penjelasan. Kita kadang tak menyadari, bahwa pembicara yang baik itu tak lain adalah pendengar yang simpatik atau pemenang yang sesungguhnya adalah yang mengalah ketika kemarahan sudah diujung ubun – ubun.

Allah Maha Kuasa yang membuat kegala kerumitan hidup ini dilindungi dalam kesederhanaan.

Kadang aku limbung ketika memikirkan mengapa aku masih ada di sini. Meretas satu demi satu langkah perjuangan ini yang orang lainpun tak ingin menjalaninya, terpaksa menjadi pribadi yang tidak dikenal orang, mengatakan kebenaran yang menyakitkan yang bahakan tak ingin kukatakan, berada dalam posisi untuk mengambil keputusan yang tidak ingin diambil orang lain, menjadi tumbal bagi semua kesalahan – kesalahan. “Dipuncak itu sepi rasanya“, begitulah dulu yang pernah dikatakan John Maxwell. Dan saat ini, itulah yang kurasakan, suka atau tidak suka aku telah berada disini saat ini, disini, sekarang. Berdiri di puncak yang sepi ini, hanya ditemani sepoi angin dingin yang setiap saat bisa berubah menjadi badai yang mematikan.

Saat ini dan berjuta momen sebelumnya, kusadari aku telah ditinggalkan. Dari kawan – kawan yang saharusnya bersamaku menunaikan amanah ini. Tapi kata orang, dunia berputar karena kesenjangan fakta dan harapan. Dan inilah fakta yang harus dihadapi saat ini, tentang janji yang tidak ditunaikan, tentang kepercayaan yang ditinggalkan. “Tenang saja, klo udah sidang ntar kuselesaikan ini semua, gantian kita”, seribu ucapan seperti itu yang coba kupahami berjuta detik yuang lalu. Tapi manusia itu memang selalu sama dengan ucapannya, yang membedakannya hanya apa yang dia lakukan dengan ucapan itu. Itulah yang membedakan pecundang dengan pemenang. Dan mereka pergi, lari dari amahan ini dan meninggalkanku.

Ada begitu banyak keresahan yang ingin ditumpahkan, kemarahan yang ingin dilampiaskan hingga membuat seluruh tubuhku bergetar karena menahannya, sumpah serapah yang ingin diteriakan, kesedihan yang ingin kuwujudkan dalam tangis. Tapi untuk apa itu semua ? bukankah kita hidup untuk menantang kesulitan? dan belajar sebanyak – banyaknya dari itu semua? Sekarang yang ingin kulakukan hanya membersihkan diriku dari najis yang melekat, katanya air wudhu ini membasuh marah, keresahan atau kesedihan. Lalu aku pun menulis.

AKu teringat Mak dan Abah. Kedua orang tua yang kusayangi disini. aku teringat tubuh renta Mak yang selalu dengan semangat menawariku gorengan yang terlalu besar dengan tepung ketika aku dengan perut keroncongan datang ke warungnya yang telah reot dan meminta makan. Aku teringat Abah yang selalu tertawa lebar menampakan gigi ompongnya saat ku berjalan menyusuri tepian pematang sawahnya yang telah menguning dan akan panen sebentar lagi. Mendengar ia mengatakan sesuatu dalam bahasa negri ini dengan bunyi yang tak pernah kumengerti selain mengucapkan “nuhun..nuhun abah..”

Waktu itu aku terlelap di bawah kerindangan kebun sederhana ini. Dan tiba – tiba terdengar seperti suara gemuruh yang semakin mendekat. Sontak aku berlari keluar dan ah, ternyata hujan..sungguh sudah begitu lama tanah ini tidak dibasuh langit. Dan hujan ini seakan hanya menyapa, karena esoknya dan kesudahannya ia tak datang lagi. Menyisakan tanya, “Ada apa ya Allah ?“. Malam sesudahnya, Mak mendatangiku. Dengan irama kata yang kutau menahan sedih, ia mengatakan padaku “listrik mak mati, dek.” Masih limbung entah karena aura kasur yang memabukan atau mendengar berita itu, aku mendengarkan beliau. Mak..Orang tua ku yang renta, saat ini ada dihadapanku, menahan tangis yang ingin sebenarnya ingin ditumpahkannya.

Aku tak tau apa yang mampu kulakukan. Aku hanya orang biasa dengan gelombang demi gelombang amanah di bahuku. Yang dipaksa menahan marah yang membuncah, menepis kebencian walau ditinggalkan, mencoba ikhlas menerima kesulitan ini, melupakan masa lalu yang harus ditinggalkan, menatap saat ini dan menyongsong masa depan walau dengan merangkak sekalipun. Semua fakta ini harus kutelan dan tak boleh keluar dari rongga dadaku walaupun ia semakin sempit dengan sejuta pernyataan tak terjawab. Aku merasa sendiri, hanya mampu mendengar suara bising dunia disekitarku dengan sayup.

Aku ingin pulang. entah kemana. Bukankah Allah bersama orang – orang yang bersabar ?

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu? yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (Al-Insyiroh 1-8)





Meretas langkah perjuangan

9 09 2007

Kadang aku tak mengerti mengapa aku harus disini. melakukan hal – hal yang mereka jadikan sebagai amanah bagiku, menunaikan tanggung jawab yang terkadang menghimpit, menahan kemarahan yang serasa memecahkan dada, lalu mencoba diam seakan semua baik – baik saja dan tidak ada masalah.

Aku teringat 4 tahun lalu, ketika itu aku, mas anug, dan seorang lain sedang menunggu angkutan untuk mengikuti sebuah seminar kepemimpinan di kampus ITB. waktu itu aku hanya kebetulan saja berada dalam situasi ini -sebagai wakil dari BEM STTTelkom- karena ajakan mas Anug ketika aku sedang asyik membaca koran di sekre kami. Saat itu, aku hanya mahasiswa tingkat pertama yang sedang dalam berada dalam kondisi yang begitu bersemangat dengan hidup baruku, dengan begitu banyak pertanyaan “mengapa” dan sedang mencari idealisme yang dapat kujadikan contoh bagi sikapku. Dalam penungguan itu, sempat aku terlibat percakapan menarik dengan Mas Anug. Dari keseluruhan sesi itu, ada satu yang begitu kuingat hingga saat ini.

Setiap kita memiliki hidup yang dipenuhi berbagai orang dengan kepentingan yang berbeda – beda bahkan bertentangan satu sama lain. Ada banyak saat yang akan sering kita temui dalam hidup, ketika kita merasa ditarik – tarik dari berbagai sisi, mencoba memenuhi keinginan banyak orang, menunaikan begitu banyak harapan -orang tua, kawan seperjuangan, pacar, saudara, bos, dll- Ada banyak momen dalam hidup ini, ketika kita dilanda semua tuntutan itu, amanah ini, suka atau tidak suka, sanggub atau tidak sanggub.
Tapi kita juga punya banyak momen untuk belajar dari itu semua. Menjadi “tong” tempat dunia disekitar kita membuang keluh kesah, meneriakan pemikiran, menuangkan kekesalan, menceritakan kegembiraan, mengisahkan heroik pengakuan diri. Karena semua manusia ingin didengarkan dan mendapat pengakuan. Inilah makanan bagi mental setiap kita. Bukankah Begitu banyak anomali dalam hidup ini ? yang bahkan hukum fisika maupun matematika pun tak akan mempu menterjemahkan apalagi memberi penjelasan. Kita kadang tak menyadari, bahwa pembicara yang baik itu tak lain adalah pendengar yang simpatik atau pemenang yang sesungguhnya adalah yang mengalah ketika kemarahan sudah diujung ubun – ubun.

Allah Maha Kuasa yang membuat kegala kerumitan hidup ini dilindungi dalam kesederhanaan.
Kadang aku limbung ketika memikirkan mengapa aku masih ada di sini. Meretas satu demi satu langkah perjuangan ini yang orang lainpun tak ingin menjalaninya, terpaksa menjadi pribadi yang tidak dikenal orang, mengatakan kebenaran yang menyakitkan yang bahakan tak ingin kukatakan, berada dalam posisi untuk mengambil keputusan yang tidak ingin diambil orang lain, menjadi tumbal bagi semua kesalahan – kesalahan. “Dipuncak itu sepi rasanya“, begitulah dulu yang pernah dikatakan John Maxwell. Dan saat ini, itulah yang kurasakan, suka atau tidak suka aku telah berada disini saat ini, disini, sekarang. Berdiri di puncak yang sepi ini, hanya ditemani sepoi angin dingin yang setiap saat bisa berubah menjadi badai yang mematikan.
Saat ini dan berjuta momen sebelumnya, kusadari aku telah ditinggalkan. Dari kawan – kawan yang saharusnya bersamaku menunaikan amanah ini. Tapi kata orang, dunia berputar karena kesenjangan fakta dan harapan. Dan inilah fakta yang harus dihadapi saat ini, tentang janji yang tidak ditunaikan, tentang kepercayaan yang ditinggalkan. “Tenang saja, klo udah sidang ntar kuselesaikan ini semua, gantian kita”, seribu ucapan seperti itu yang coba kupahami berjuta detik yuang lalu. Tapi manusia itu memang selalu sama dengan ucapannya, yang membedakannya hanya apa yang dia lakukan dengan ucapan itu. Itulah yang membedakan pecundang dengan pemenang. Dan mereka pergi, lari dari amahan ini dan meninggalkanku.
Ada begitu banyak keresahan yang ingin ditumpahkan, kemarahan yang ingin dilampiaskan hingga membuat seluruh tubuhku bergetar karena menahannya, sumpah serapah yang ingin diteriakan, kesedihan yang ingin kuwujudkan dalam tangis. Tapi untuk apa itu semua ? bukankah kita hidup untuk menantang kesulitan? dan belajar sebanyak – banyaknya dari itu semua? Sekarang yang ingin kulakukan hanya membersihkan diriku dari najis yang melekat, katanya air wudhu ini membasuh marah, keresahan atau kesedihan. Lalu aku pun menulis.
AKu teringat Mak dan Abah. Kedua orang tua yang kusayangi disini. aku teringat tubuh renta Mak yang selalu dengan semangat menawariku gorengan yang terlalu besar dengan tepung ketika aku dengan perut keroncongan datang ke warungnya yang telah reot dan meminta makan. Aku teringat Abah yang selalu tertawa lebar menampakan gigi ompongnya saat ku berjalan menyusuri tepian pematang sawahnya yang telah menguning dan akan panen sebentar lagi. Mendengar ia mengatakan sesuatu dalam bahasa negri ini dengan bunyi yang tak pernah kumengerti selain mengucapkan “nuhun..nuhun abah..”
Waktu itu aku terlelap di bawah kerindangan kebun sederhana ini. Dan tiba – tiba terdengar seperti suara gemuruh yang semakin mendekat. Sontak aku berlari keluar dan ah, ternyata hujan..sungguh sudah begitu lama tanah ini tidak dibasuh langit. Dan hujan ini seakan hanya menyapa, karena esoknya dan kesudahannya ia tak datang lagi. Menyisakan tanya, “Ada apa ya Allah ?“. Malam sesudahnya, Mak mendatangiku. Dengan irama kata yang kutau menahan sedih, ia mengatakan padaku “listrik mak mati, dek.” Masih limbung entah karena aura kasur yang memabukan atau mendengar berita itu, aku mendengarkan beliau. Mak..Orang tua ku yang renta, saat ini ada dihadapanku, menahan tangis yang ingin sebenarnya ingin ditumpahkannya.
Aku tak tau apa yang mampu kulakukan. Aku hanya orang biasa dengan gelombang demi gelombang amanah di bahuku. Yang dipaksa menahan marah yang membuncah, menepis kebencian walau ditinggalkan, mencoba ikhlas menerima kesulitan ini, melupakan masa lalu yang harus ditinggalkan, menatap saat ini dan menyongsong masa depan walau dengan merangkak sekalipun. Semua fakta ini harus kutelan dan tak boleh keluar dari rongga dadaku walaupun ia semakin sempit dengan sejuta pernyataan tak terjawab. Aku merasa sendiri, hanya mampu mendengar suara bising dunia disekitarku dengan sayup.
Aku ingin pulang. entah kemana. Bukankah Allah bersama orang – orang yang bersabar ?
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu? yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.(Al-Insyiroh 1-8)





Mercedez-Benz*

24 05 2007

Ada kisah menarik dibalik kesuksesan merek Mercedes-Benz. Mobil asal Jerman yang kini identik sebagai mobil mewah dan berkelas itu ternyata merajut suksesnya dengan cerita-cerita yang sangat manusiawi. Mulai dari penemuan mesin berkecepatan tinggi, penggunaan simbol bintang, sampai dengan nama Mercedes itu sendiri. Di balik cerita itu, tersirat pula pesan yang terdengar klise namun terbukti benar, “Tak ada kesuksesan tanpa kerja keras!“. Sebagai sebuah legenda otomotif, kesuksesan Mercedes-Benz tak bisa dipisahkan dari lima tokoh yang meletakkan batu pondasi bagi kejayaan merek ini. Mereka adalah Gottlieb Daimler, Karl Benz, Mercedes Jellinek, Emil Jellinek dan Wilhem Maybach. Awalnya adalah penemuan mesin berkecepatan tinggi pada dekade 1880-an yang diikuti dengan penciptaan automobil oleh dua pengusaha cerdas, Gottlieb Daimler dan Karl Benz. Menyadari bahwa temuan automobil akan segera menjadi kunci penting bagi masa depan, dua sahabat itu kemudian membangun proyek bisnis pribadi mereka.
Pada Mannheim, mereka mendirikan firma Benz & Cie pada bulan Oktober 1883 dan dilanjutkan dengan pendirian Daimler Motoren Gesellschaft (DMG) di Cannstatt tujuh tahun kemudian. Sejak tahun 1902, seluruh produk yang dihasilkan kedua saha¬bat ini diberi nama ‘Benz‘ dan ‘Daimler‘ dengan lambang gearwheel sebagai simbolnya. Layaknya bisnis yang baru dirintis, perusahaan milik Benz dan Daimler ini juga mengalami masa-masa kritis. Salah satu penyebabnya ada¬lah promosi yang kurang.gencar. Hingga suatu hari, seorang pengusaha asal Aus¬tria, Emil Jellinek mengunjungi pabrik Daimler di Cann¬statt dan memesan mobil Daimler pertamanya, sebuah kendaraan berdaya enam tenaga kuda dan mesin dua silinder. Namun mobil yang selesai pada bulan Oktober 1897 itu dirasakan terlalu lambat bagi seorang Jellinek, karena hanya mampu mencapai kecepatan maksimum 24 km per jam.
Karena itulah, pengusaha kaya ini memesan kembali mobil yang dapat berlari lebih cepat. Tepatnya bulan Sep¬tember 1898, terciptalah dua unit mobil ‘Phoenix’ Daimler dengan mesin delapan hp front mounted. Mobil ini adalah kendaraan pertama di dunia yang menggunakan mesin empat silinder dan mencapai kecepatan maksimum 40 km per jam. Kecepatan yang luar biasa pada waktu itu!. Hubungan bisnis yang lancar akhirnya membawa hubungan produsen-konsumen berubah menjadi hubungan pertemanan. Emil Jellinek yang seorang pengusaha dan dekat dengan lembaga keuangan internasional dan aristokrasi mengusulkan kepada Benz dan Daimler agar mengganti nama produknya dengan nama seorang wanita. “Pada dasarnya mobil adalah kendaraan bagi pria, karena itu berilah nama wanita supaya mereka mencintainya,” kata Jellinek.
Merasa usul itu masuk akal, Benz dan Daimler ke¬mudian sepakat mengganti nama produknya. “Tapi nama apa yang pantas?” tanya kedua sahabat itu pada Jellinek. “Mercedes!“. Mercedes adalah nama seorang gadis Spanyol kelahiran 1889 yang tinggal di Baden dekat Vienna dan Nice. Mer¬cedes yang berarti ‘keanggunan’ tak lain merupakan putri kandung Emil Jellinek sendiri. Di atas telah disebutkan bahwa ada lima orang yang paling berjasa dalam membentuk image Mercedes sebagai mobil berkelas dunia. Empat nama pertama telah dise¬butkan, berarti hanya tinggal seorang, yaitu Wilhem Maybach. Wilhem Maybach adalah seorang kepala insinyur di Daimler Motoren Gesellschaft (DMG). Dialah yang menciptakan ‘Mercedes‘ pertama sekaligus yang menjadikan me¬rek ini sebagai pelopor automobil modern di dunia. Produk fenomenal Maybach memuat berbagai inovasi otomotif seperti a presses-steel frame, sebuah lampu, mesin dengan performa tinggi dan sebuah honey-comb radiator.
Inilah tonggak pertama kebangkitan merk Mercedes. Mobil yang kemudian diikutsertakan pada ajang balapan ‘Nice Week’ ini mulai menampakkan keperkasaannya. Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh dari arena balap itu menarik perhatian publik dan segeralah dimulai promosi yang paling efektif, promosi dari mulut ke mulut. Tepat tanggal 23 Juni 1902, Mercedes diakui sebagai se¬buah nama perdagangan dan secara legal didaftarkan pada tanggal 26 September 1902. Emil Jellinek, orang yang berjasa dalam pemberian na¬ma mobil mewah ini pada bulan Juni 1903 meminta persetujuan dari Benz dan Daimler untuk menyebut dirinya Jellinek-Mercedes. “Ini mungkin pertama kalinya seorang ayah mengguna¬kan nama anak perempuannya,” katanya.
*From My Bro Stuff-Dari berbagai Sumber





Blog nya Sang Presiden : Mahmud Ahmadinejad

23 09 2006

Ternyata yang punya blog bisa dari kalangan mana saja. check this out guys..


Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad membuat blog sendiri. Peluncurannya disiarkan oleh stasiun televisi nasional Iran, Minggu (13/8) dan mendorong publik Iran untuk menulis langsung pesan-pesan mereka pada Presiden lewat blognya.

Isi blog Ahmadinejad masih berupa kisah tentang masa kecilnya, revolusi Iran dan perang Iran-Irak. Blog tersebut juga dilengkapi dengan ruang polling online yang untuk kali ini mengangkat tema, apakah AS dan Israel “sedang menarik picu perang dunia lagi.”

Blog Presiden Ahmadinejadi disajikan dalam tiga bahas, Inggris, Perancis dan Arab dengan alamat http://www.ahmadinejad.ir/

Dalam blognya Ahmadinejad menulis, bagaimana pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khomeini mulai mempengaruhi pemikirannya ketika Ayatullah berada dalam pengasingan selama kurun waktu 1960-an sampai 1970-an.

Ahmadinejas menulis dalam blognya,”Makin saya mengenal pemikiran dan filosofinya, semakin saya mengaguminya dan pengasingan serta ketidakhadirannya, buat saya tidak bisa ditoleransi.”

Di blognya, Ahmadinejad juga menyampaikan kritik-kritik tajamnya pada AS dan pandangan-pandangannya terhadap Perang Iran-Irak di era 1980-1988, ketika Ahmadinejad masih menjadi anggota pasukan elit Revolutionary Guard.

Seperti di negara-negara lainnya, perkembangan dunia maya memungkinkan setiap orang untuk memiliki situs sendiri, tak terkecuali di Iran. Cuma, di Iran para blogger belum bisa bergerak bebas untuk menuangkan pemikirannya.

Kabarnya, pemerintah Ahmadinejad termasuk yang ketat mengawasi kemunculan blog dan para bloggernya, yang mulai marak sejak lima tahun lalu. Menurut Muhammad Ali Dadkhah, seorang praktisi hukum hak asasi manusia, diperkirakan ada 50 bloger yang ditangkap selama kurun waktu setahun ini.

Isa Saharkhiz, anggota Committe to Protect Journalist di Iran mengatakan,”Tindakan keras terhadap para blogger merupakan bagian dari meningkatnya kebijakan sensor oleh pemerintah.” (ln/aljz)





Blog nya Sang Presiden : Mahmud Ahmadinejad

23 09 2006

Ternyata yang punya blog bisa dari kalangan mana saja. check this out guys..
——
Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad membuat blog sendiri. Peluncurannya disiarkan oleh stasiun televisi nasional Iran, Minggu (13/8) dan mendorong publik Iran untuk menulis langsung pesan-pesan mereka pada Presiden lewat blognya.
Isi blog Ahmadinejad masih berupa kisah tentang masa kecilnya, revolusi Iran dan perang Iran-Irak. Blog tersebut juga dilengkapi dengan ruang polling online yang untuk kali ini mengangkat tema, apakah AS dan Israel “sedang menarik picu perang dunia lagi.”
Blog Presiden Ahmadinejadi disajikan dalam tiga bahas, Inggris, Perancis dan Arab dengan alamat http://www.ahmadinejad.ir/

Dalam blognya Ahmadinejad menulis, bagaimana pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khomeini mulai mempengaruhi pemikirannya ketika Ayatullah berada dalam pengasingan selama kurun waktu 1960-an sampai 1970-an.
Ahmadinejas menulis dalam blognya,“Makin saya mengenal pemikiran dan filosofinya, semakin saya mengaguminya dan pengasingan serta ketidakhadirannya, buat saya tidak bisa ditoleransi.”
Di blognya, Ahmadinejad juga menyampaikan kritik-kritik tajamnya pada AS dan pandangan-pandangannya terhadap Perang Iran-Irak di era 1980-1988, ketika Ahmadinejad masih menjadi anggota pasukan elit Revolutionary Guard.
Seperti di negara-negara lainnya, perkembangan dunia maya memungkinkan setiap orang untuk memiliki situs sendiri, tak terkecuali di Iran. Cuma, di Iran para blogger belum bisa bergerak bebas untuk menuangkan pemikirannya.
Kabarnya, pemerintah Ahmadinejad termasuk yang ketat mengawasi kemunculan blog dan para bloggernya, yang mulai marak sejak lima tahun lalu. Menurut Muhammad Ali Dadkhah, seorang praktisi hukum hak asasi manusia, diperkirakan ada 50 bloger yang ditangkap selama kurun waktu setahun ini.
Isa Saharkhiz, anggota Committe to Protect Journalist di Iran mengatakan,”Tindakan keras terhadap para blogger merupakan bagian dari meningkatnya kebijakan sensor oleh pemerintah.” (ln/aljz)