Menyusuri labirin renungan [1]

11 07 2007

29 Juni 2007. Dengan bismillah, aku bergantung pada sehelai tali putih tipis 10.5 mili ini..Sesaat yang lalu sebelum melepaskan semua pengaman terakhirku, sempat kutanyakan pada Ayis-Second Man kami pukul berapa saat itu “Sebelas lewat lima menit..“, jawabnya singkat. Entah mengapa kutanyakan itu…mungkin berharap angka yang disebutkan adalah urutan angka baik atau sekedar mengingatkan menit-menit terakhir nafasku berhembus –jika aku diijinkan mati saat itu-.
Entah seakan berkonspirasi dengan firasat tak menentu ini, angin dingin terus membelai dan jelas terasa sayup nada gemericik air dikedalaman sana. Gelap celah vertikal dibawah ini perlahan namun pasti mengantarkan denyut kesunyian yang tak terkatakan, bahkan melihat kebawahpun aku tak sanggup..entah mengapa juga lututku sekejab mengiggil dan terasa ringan, merasakan kekosongan gelap dimensi ruang dibawahku. Sebagai Rigging Man dalam penulusuran ini, aku berkewajiban untuk turun pertama kali memasuki lorong gelap ini..yang bahkan belum pernah kumasuki dan tak bisa rasakan kedalamannya.
Bandung, 1 Juli 2007. Minggu ini adalah sedikit dari saat melelahkan dalam perjalananku. bagaimana tidak, kami akan segera menyongsong petualangan di kedalam antah barantah perut bumi. Namun kami akan sangat ramai sekali saat itu..dan hampir sebagian besar dari mereka dipastikan akan sangat grogi -atau ketakutan- karena memang belum pernah memasuki gua sekalipun apalagi vertikal di malam sunyi gelap gulita. Tak heran, aku terus menerus khawatir menanti saat ini, bukan karena diriku saja tapi juga karena nyawa orang lain yang juga mungkin bergantung pada keputusan yang akan kami atau aku ambil nanti. inilah eksplorasi pertamaku tanpa rekan yang bisa dijadikan tempat bergantung..karena saat ini kami hanya mampu saling bergantung satu sama lain..saling menguatkan nyali yang mulai menciut.
Hanya selisih beberapa hari sebelumnya, kami baru saja menyelesaikan petualangan di tebing citatah selama 2 hari. Ya, 2 hari disiram teriknya mentari dan terpaan udara panas yang sedang berputar menyerbu angkasa. Sebelumnya bisa dikatakan kami tidak tidur, karena kawan – kawan anggota mudaku ini harus menyelesaikan sesi materi kelas rock climbing dulu sebelum melakukan praktek di tebing sesungguhnya.Baru jam 3 dini hari Sabtu tanggal 23 Juni 2007 itu kami bisa memejamkan mata..dan paginya harus kembali bangun menyiapkan perlengkapan yang harus kami bawa ke dalam beberapa carrier dan daypack, menuju Area Pusat Pendidikan dan Latihan Kopassus : Tebing 48 Citatah – purwakarta.
Lelah dan bau, kami akhirnya tiba lagi di Bandung minggu malam itu. Senin, tanggal 26 Juni 2007 diputuskan untuk beristirahat sejenak..fisik dan mental, dan tidak satupun alat – alat itu dicuci, karena akan digunakan lagi beberapa hari mendatang. Hari itu penuh hanya kuisi dengan tidur, baca buku dan menonton. Hari Selasa, 27 Juni 2007 pagi kami sudah ada di dasar Tower untuk berlatih SRT. Kami membuat 2 lintasan setinggi kira-kira 20 m waktu itu, dengan variasi intermediate dan simpul ditengah lintasan. Pagi itu aku dan kawan – kawan mentor mencoba memberikan materi mengenai teknik turun. Sorenya kutinggalkan sejenak sesi ini untukkeperluan masa depan, dan baru pulangnya aku tau kawan – kawan belum juga selesai berlatih hingga pukul 10 malam. Hari Rabu tanggal 28 Juni 2007 itu kawan – kawan sudah mulai menyiapkan perlengkapan dan membeli bekal untuk perjalanan selanjutnya minggu ini : penelusuran gua. Menurut rencana, kami akan berangkat Ju’mat paginya, sehingga paling tidak hari kamis kami sudah siap untuk On Action.
Oleh karena itu juga, kamis malam tanggal 29 Juni 2007 kami berlatih lagi atau lebih tepatnya tes. Onie dan Ayis sendiri sudah berangkat terlebih dahulu sebagai tim pendahulu, menyiapkan perijinan dan segala sesuatu nya disana. Sedangkan kawan – kawan anggota muda kali ini harus bisa menyiapkan peralatan SRT nya sendiri, melewati lintasan yang ditentukan dalam waktu terbatas berikut dengan peralatan lengkap penelusuran : Boot dan Helm. Ya ini adalah Tes Simulasi SRT, seperti biasa waktu yang telah ditentukan dilanggar..dan kembali aku harus begadang lagi..tak tanggung-tanggung hingga pukul 4 dini hari..”Ya Tuhan, berikan padaku kekuatan dan tambahan semangat“, pikirku waktu itu. Karena pukul 7 paginya kami sudah harus berangkat.
….

Sebenarnya tempat ini sudah pernah kudatangi sebelumnya, kawasan kars yang tersembunyi di bawah kerindangan hutan lindung pinus dan rimbunnya semak belukar kebun penduduk, Buni Ayu nama tempatnya. Sekitar 1-2 jam dari Kota Sukabumi. Saat itu tanggal 5-7 Mei 2007, kami hanya ber-4: Aku, nipon, Onie yang memimpin perjalanan survey ini dan acong, anggota muda yang juga turut kami ajak.

Sebenarnya tujuan perjalanan waktu itu bukanlah daerah ini. Tapi daerah kars yang lebih tersembunyi di pedalaman lagi..Sagaranten . Memang untuk mencapai daerah ini kita akan melewati daerah Buni Ayu dahuulu, yang tempatnya sudah menjadi area wisata yang dikelola perhutani dan berada sangat dekat dengan jalur transportasi. Namun lokasi komplek gua di Sagaranten sangat jauh dari keramaian. Nipon sendiri yang menjadi sumber informasi kami ketika itu, terakhir berkunjung pada tahun 2000 silam -7 tahun yang lalu-. Menurut informasi dari nya, kami tau bahwa daerah kars disana sangat perawan, dan terdiri dari berbagai gua vertikal – horizontal yang mayoritasnya berjenis fosil.
Berbekal data 7 tahun yang lalu itu juga, kami berempat akhirnya berangkat ke Sagaranten lengkap dengan perlengkapan camp, logisitik, bahan bakar, dan peralatan penelusuran vertikal. Sebelumnya aku tak pernah khawatir dan tidak sedikitpun firasat melintas dari benakku, bahwa telah banyak yang berubah selama 7 tahun terakhir di dunia ini…termasuk di daerah terpencil seperti Sagaranten.
Dan terjadilah sudah..seperti sudah ditakdirkan, kami saat itu tak berhasil melakukan penelusuran di Sagaranten…karena kami tak pernah ada disana. Ya, kami tidak mampu mencapai Sagaranten dalam perjalanan itu. Karena memang Sagaranten adalah suatu wilayah yang sangat luas..dan kami tidak punya kata kunci desa, kampung atau apapun yang mampu mengidentifikasi dimana tepatnya lokasi yang kami tuju : Rumah Pak Parmin, kuncen gua di Sagaranten. Pun tidak setelah bertanya dan dikerumuni orang-orang –tukang ojeg, preman, satpam,dll- di terminal, atau ketika meminta kawan untuk membawa mobil carteran untuk mengantar kami berkeliling mencari rumah kuncen Sagaranten tersebut hingga pukul 2 dini hari, atau ketika kami menumpang menginap di kantor polisi setempat : Polsek Nyalindung.
Ya, kami tidak pernah menelusuri gua – gua di Sagaranten dalam perjalanan itu. Esoknya tanggal 6 Juni 2007 setelah bangun dari tidur sejenak kami dan makan pagi seadanya di warung, kami berdiskusi mengenai rencana kami saat itu. Diputuskan bahwa kami menghentikan pencarian lokasi desa gua di Sagaranten itu dan langsung menuju Buni Ayu yang sudah jelas posisi nya dan dapat lansung dicapai dari tempat kami berada saat ini. Sebelumnya, ketika Pak Polisi yang sedang berjaga menanyakan tujuan kami, sempat kujawab Buni Ayu dan beliau menawarkan untuk mengantarkan kami dengan mobil patroli.
Dan akhirnya kami tiba juga di Buni Ayu hari Sabtu, tanggal 6 Mei 2007. Saat itu Pak Kakai, koordinator disana beserta Kang Ucok, salah satu guide yang menyambut. Kami menyampaikan niat kami untuk melakukan penelusuran dan mengatakan bahwa kami membawa perlengkapan yang lengkap sehigga tidak perlu meminjam alat. Saat itu yang kami perlukan adalah ijin berkemah dan guide untuk menunjukan gua yang bagus untuk dieksplorasi.
Dari hasil tawar menawar waktu itu, disepakati harga 60 ribu untuk menginap 1 hari di area camp, seorang guide, baju dan helm penelusuran. Waktu itu sudah siang, sekitar pukul 2 dan kami memutuskan untuk mengisi perut yang kosong dahulu. Tak lama hujan deras menemani makan siang sederhana kami itu, dan Pak Kakai menegaskan kembali bahwa kami tidak diijinkan untuk melakukan penelusuran gua yang melewati arus sungai karena dikhawatirkan terjadi banjir didalam..
Oleh karena hal tersebut dan keterbatasn waktu juga, hanya beberapa gua horizontal yang sempat kami masuki waktu itu -gua siluman dan buni ayu-, semuanya adalah entrance (mulut gua) horizontal. Lokasi ini menurut informasi yang kami dapat adalah tempat yang dikunjungi oleh Riani Jangkaru dengan timnya ditemani kawan – kawan MAPALA UI untuk syuting salah satu episode Jejak Petualang.
Selebihnya kami hanya melihat – lihat entrance lain dan mendokumentasikan posisi nya di permukaan bumi, Gua Landak, Domba yang kesemuanya adalah entrance horizontal dan terletak di dalam lebatnya hutan lindung pinus. Saat itu aku tak henti – henti nya kagum karena teringat dengan panasnya terik mentari di Gunung Sewu, Gunung Kidul…tempat yang dulu menjadi persinggahanku untuk mengenal petualangan ini. Saat itu, acong memutuskan untuk tidak ikut serta dengan kami, ”capek…sekalian aku jaga base camp”, katanya saat itu. Tapi aku melihat hal yang lain, shock? Ya untuk ukuran pemula, ia sudah cukub banyak mendapat hal baru yang sangat tak terduga dalam 24 jam terakhir : nyasar, nginap di kantor polisi, berada dalam lorong gelap horizontal dan merasakan bau serta kotoran yang kujamin tak pernah ditemuinya selama hidup di permukaan bumi.. Jadi kami tinggalkan acong di basecamp saat itu, karena memang perlu ada yang stand by untuk menjaga perlengkapan kami sekalian mempersiapkan makan malam.
Entrance Vertikal yang menjadi favorit yaitu Gua Kerek tak sempat untuk kami turuni. Ia adalah bentukan alam berupa sebuah lorong vertikal yang mulutnya terbentuk dari rekah longsoran batuan kapur beberapa ratus lalu. Waktu itu aku yang memegang GPS (alat untuk menentukan koordinat) dan merekam posisinya. Lensa kamera SLR Canon kami saat itu berembun, karena memang saat itu sudah sore dan tanah ini baru saja diguyur hujan begitu lebat nya siang tadi… hingga kami tak bisa merekam suasana yang ada saat itu. Pernahkah kamu membaca teori lubang hitam yang menarik segala sesuatu disekitranya? Seperti itulah yang kurasakan saat melihat dan berada di sekitar celah vertical ini : sunyi, gelap dan begitu kuat menariku..
Sama seperti yang kurasakan kelak, sayup terdengar suara aliran air didalamnya disertai angin dingin yang seakan menyembur dari bawah sana. “Ada sungai dibawah ya kang ? berapa kira-kira dalamnya ? “, tanyaku untuk sekedar melepas kesunyian pada guide kami hari itu. “Ya, ada sungai dibawah. Klo hujan bisa banjir hingga 2-3 meter..Dalamnya kira-kira 30 meter-anlah..“, jawab kang Ucok ringan. Mendengar keterangan singkatnya itu, aku mencoba menggambar kondisi dibawah sana di dalam pikiranku…turun kedalam lorong sempit sejauh 30 meter-an (bisa 39..35…32..) dan langsung disambut dingin nya air sungai.”anjrit…”, pikirku..
Klo musim hujan seperti ini, kami ga berani turun sore atau malam..karena biasanya hujan disore hari, sedangkan jika turun malam hari, tidak bisa dipantau kondisi langit dari kawan-kawan diatas. Gua ini bagian utama dari aliran sungai bawah tanah dibawah ini. Menurut perkiraan, sungai bawah tanahnya yang membentuk air terjun di depan entrance horizontal di bawah sana..walau belum ada yang membuktikan nya…beberapa tahun lalu memang ada peneliti dari prancis yang menelusuri sungai bawah tanah ini dengan perahu karet hingga ke entrance horizontal, tapi gagal. Klo waktu nya cukup, kita akan kesana.” katanya lagi dalam percakapan kami menelusuri hutan pinus ini, menuju pintu-pintu misteri lain yang bisa kami kunjungi sebelum matahari beranjak ke peraduannnya.

Dan memang benar, kami akhirnya tiba di air terjun setinggi 7 meter itu – Air Terjun Bibijilat. Sedikit kedalam kulihat ada entrance horizontal yang menjadi sumbernya..serasi dengan nama air terjun nya : Gua Bibijilat. Ya, Air terjun ini berasal dari sungai bawah tanah yang tiba – tiba muncul ke permukaan bumi dan langsung disambut bentukan bebatuan vertikal. Penduduk tampaknya memanfaatkan kekayaan alam ini dengan membangun undak-undak besar menyerupai gourdam dan 3 buah pompa air mekanik untuk menyuplai kebutuhan air bagi kampung mereka. Semak belukar diatas juga dipotong pendek sehingga menyerupai taman kecil sederhana yang rindang dibawah pepohonan besar diatasnya. Entah berapa kubik kecepatan air kapur ini mengalir…yang jelas bunyi gemuruhnya nya terdengar hingga jauh, dan aku tak mampu membayangkan kondisi sungai bawah tanah di gua sana…atau bagaimana rasanya terjebak didalam..
To be continued

Advertisements




Menyusuri labirin renungan [1]

11 07 2007

29 Juni 2007. Dengan bismillah, aku bergantung pada sehelai tali putih tipis 10.5 mili ini..Sesaat yang lalu sebelum melepaskan semua pengaman terakhirku, sempat kutanyakan pada Ayis-Second Man kami pukul berapa saat itu “Sebelas lewat lima menit..“, jawabnya singkat. Entah mengapa kutanyakan itu…mungkin berharap angka yang disebutkan adalah urutan angka baik atau sekedar mengingatkan menit-menit terakhir nafasku berhembus -jika aku diijinkan mati saat itu-.

Entah seakan berkonspirasi dengan firasat tak menentu ini, angin dingin terus membelai dan jelas terasa sayup nada gemericik air dikedalaman sana. Gelap celah vertikal dibawah ini perlahan namun pasti mengantarkan denyut kesunyian yang tak terkatakan, bahkan melihat kebawahpun aku tak sanggup..entah mengapa juga lututku sekejab mengiggil dan terasa ringan, merasakan kekosongan gelap dimensi ruang dibawahku. Sebagai Rigging Man dalam penulusuran ini, aku berkewajiban untuk turun pertama kali memasuki lorong gelap ini..yang bahkan belum pernah kumasuki dan tak bisa rasakan kedalamannya.

Bandung, 1 Juli 2007. Minggu ini adalah sedikit dari saat melelahkan dalam perjalananku. bagaimana tidak, kami akan segera menyongsong petualangan di kedalam antah barantah perut bumi. Namun kami akan sangat ramai sekali saat itu..dan hampir sebagian besar dari mereka dipastikan akan sangat grogi -atau ketakutan- karena memang belum pernah memasuki gua sekalipun apalagi vertikal di malam sunyi gelap gulita. Tak heran, aku terus menerus khawatir menanti saat ini, bukan karena diriku saja tapi juga karena nyawa orang lain yang juga mungkin bergantung pada keputusan yang akan kami atau aku ambil nanti. inilah eksplorasi pertamaku tanpa rekan yang bisa dijadikan tempat bergantung..karena saat ini kami hanya mampu saling bergantung satu sama lain..saling menguatkan nyali yang mulai menciut.

Hanya selisih beberapa hari sebelumnya, kami baru saja menyelesaikan petualangan di tebing citatah selama 2 hari. Ya, 2 hari disiram teriknya mentari dan terpaan udara panas yang sedang berputar menyerbu angkasa. Sebelumnya bisa dikatakan kami tidak tidur, karena kawan – kawan anggota mudaku ini harus menyelesaikan sesi materi kelas rock climbing dulu sebelum melakukan praktek di tebing sesungguhnya.Baru jam 3 dini hari Sabtu tanggal 23 Juni 2007 itu kami bisa memejamkan mata..dan paginya harus kembali bangun menyiapkan perlengkapan yang harus kami bawa ke dalam beberapa carrier dan daypack, menuju Area Pusat Pendidikan dan Latihan Kopassus : Tebing 48 Citatah – purwakarta.

Lelah dan bau, kami akhirnya tiba lagi di Bandung minggu malam itu. Senin, tanggal 26 Juni 2007 diputuskan untuk beristirahat sejenak..fisik dan mental, dan tidak satupun alat – alat itu dicuci, karena akan digunakan lagi beberapa hari mendatang. Hari itu penuh hanya kuisi dengan tidur, baca buku dan menonton. Hari Selasa, 27 Juni 2007 pagi kami sudah ada di dasar Tower untuk berlatih SRT. Kami membuat 2 lintasan setinggi kira-kira 20 m waktu itu, dengan variasi intermediate dan simpul ditengah lintasan. Pagi itu aku dan kawan – kawan mentor mencoba memberikan materi mengenai teknik turun. Sorenya kutinggalkan sejenak sesi ini untukkeperluan masa depan, dan baru pulangnya aku tau kawan – kawan belum juga selesai berlatih hingga pukul 10 malam. Hari Rabu tanggal 28 Juni 2007 itu kawan – kawan sudah mulai menyiapkan perlengkapan dan membeli bekal untuk perjalanan selanjutnya minggu ini : penelusuran gua. Menurut rencana, kami akan berangkat Ju’mat paginya, sehingga paling tidak hari kamis kami sudah siap untuk On Action.

Oleh karena itu juga, kamis malam tanggal 29 Juni 2007 kami berlatih lagi atau lebih tepatnya tes. Onie dan Ayis sendiri sudah berangkat terlebih dahulu sebagai tim pendahulu, menyiapkan perijinan dan segala sesuatu nya disana. Sedangkan kawan – kawan anggota muda kali ini harus bisa menyiapkan peralatan SRT nya sendiri, melewati lintasan yang ditentukan dalam waktu terbatas berikut dengan peralatan lengkap penelusuran : Boot dan Helm. Ya ini adalah Tes Simulasi SRT, seperti biasa waktu yang telah ditentukan dilanggar..dan kembali aku harus begadang lagi..tak tanggung-tanggung hingga pukul 4 dini hari..”Ya Tuhan, berikan padaku kekuatan dan tambahan semangat“, pikirku waktu itu. Karena pukul 7 paginya kami sudah harus berangkat.

….

Sebenarnya tempat ini sudah pernah kudatangi sebelumnya, kawasan kars yang tersembunyi di bawah kerindangan hutan lindung pinus dan rimbunnya semak belukar kebun penduduk, Buni Ayu nama tempatnya. Sekitar 1-2 jam dari Kota Sukabumi. Saat itu tanggal 5-7 Mei 2007, kami hanya ber-4: Aku, nipon, Onie yang memimpin perjalanan survey ini dan acong, anggota muda yang juga turut kami ajak.

Sebenarnya tujuan perjalanan waktu itu bukanlah daerah ini. Tapi daerah kars yang lebih tersembunyi di pedalaman lagi..Sagaranten . Memang untuk mencapai daerah ini kita akan melewati daerah Buni Ayu dahuulu, yang tempatnya sudah menjadi area wisata yang dikelola perhutani dan berada sangat dekat dengan jalur transportasi. Namun lokasi komplek gua di Sagaranten sangat jauh dari keramaian. Nipon sendiri yang menjadi sumber informasi kami ketika itu, terakhir berkunjung pada tahun 2000 silam -7 tahun yang lalu-. Menurut informasi dari nya, kami tau bahwa daerah kars disana sangat perawan, dan terdiri dari berbagai gua vertikal – horizontal yang mayoritasnya berjenis fosil.

Berbekal data 7 tahun yang lalu itu juga, kami berempat akhirnya berangkat ke Sagaranten lengkap dengan perlengkapan camp, logisitik, bahan bakar, dan peralatan penelusuran vertikal. Sebelumnya aku tak pernah khawatir dan tidak sedikitpun firasat melintas dari benakku, bahwa telah banyak yang berubah selama 7 tahun terakhir di dunia ini…termasuk di daerah terpencil seperti Sagaranten.

Dan terjadilah sudah..seperti sudah ditakdirkan, kami saat itu tak berhasil melakukan penelusuran di Sagaranten…karena kami tak pernah ada disana. Ya, kami tidak mampu mencapai Sagaranten dalam perjalanan itu. Karena memang Sagaranten adalah suatu wilayah yang sangat luas..dan kami tidak punya kata kunci desa, kampung atau apapun yang mampu mengidentifikasi dimana tepatnya lokasi yang kami tuju : Rumah Pak Parmin, kuncen gua di Sagaranten. Pun tidak setelah bertanya dan dikerumuni orang-orang –tukang ojeg, preman, satpam,dll- di terminal, atau ketika meminta kawan untuk membawa mobil carteran untuk mengantar kami berkeliling mencari rumah kuncen Sagaranten tersebut hingga pukul 2 dini hari, atau ketika kami menumpang menginap di kantor polisi setempat : Polsek Nyalindung.

Ya, kami tidak pernah menelusuri gua – gua di Sagaranten dalam perjalanan itu. Esoknya tanggal 6 Juni 2007 setelah bangun dari tidur sejenak kami dan makan pagi seadanya di warung, kami berdiskusi mengenai rencana kami saat itu. Diputuskan bahwa kami menghentikan pencarian lokasi desa gua di Sagaranten itu dan langsung menuju Buni Ayu yang sudah jelas posisi nya dan dapat lansung dicapai dari tempat kami berada saat ini. Sebelumnya, ketika Pak Polisi yang sedang berjaga menanyakan tujuan kami, sempat kujawab Buni Ayu dan beliau menawarkan untuk mengantarkan kami dengan mobil patroli.

Dan akhirnya kami tiba juga di Buni Ayu hari Sabtu, tanggal 6 Mei 2007. Saat itu Pak Kakai, koordinator disana beserta Kang Ucok, salah satu guide yang menyambut. Kami menyampaikan niat kami untuk melakukan penelusuran dan mengatakan bahwa kami membawa perlengkapan yang lengkap sehigga tidak perlu meminjam alat. Saat itu yang kami perlukan adalah ijin berkemah dan guide untuk menunjukan gua yang bagus untuk dieksplorasi.

Dari hasil tawar menawar waktu itu, disepakati harga 60 ribu untuk menginap 1 hari di area camp, seorang guide, baju dan helm penelusuran. Waktu itu sudah siang, sekitar pukul 2 dan kami memutuskan untuk mengisi perut yang kosong dahulu. Tak lama hujan deras menemani makan siang sederhana kami itu, dan Pak Kakai menegaskan kembali bahwa kami tidak diijinkan untuk melakukan penelusuran gua yang melewati arus sungai karena dikhawatirkan terjadi banjir didalam..

Oleh karena hal tersebut dan keterbatasn waktu juga, hanya beberapa gua horizontal yang sempat kami masuki waktu itu -gua siluman dan buni ayu-, semuanya adalah entrance (mulut gua) horizontal. Lokasi ini menurut informasi yang kami dapat adalah tempat yang dikunjungi oleh Riani Jangkaru dengan timnya ditemani kawan – kawan MAPALA UI untuk syuting salah satu episode Jejak Petualang.

Selebihnya kami hanya melihat – lihat entrance lain dan mendokumentasikan posisi nya di permukaan bumi, Gua Landak, Domba yang kesemuanya adalah entrance horizontal dan terletak di dalam lebatnya hutan lindung pinus. Saat itu aku tak henti – henti nya kagum karena teringat dengan panasnya terik mentari di Gunung Sewu, Gunung Kidul…tempat yang dulu menjadi persinggahanku untuk mengenal petualangan ini. Saat itu, acong memutuskan untuk tidak ikut serta dengan kami, ”capek…sekalian aku jaga base camp”, katanya saat itu. Tapi aku melihat hal yang lain, shock? Ya untuk ukuran pemula, ia sudah cukub banyak mendapat hal baru yang sangat tak terduga dalam 24 jam terakhir : nyasar, nginap di kantor polisi, berada dalam lorong gelap horizontal dan merasakan bau serta kotoran yang kujamin tak pernah ditemuinya selama hidup di permukaan bumi.. Jadi kami tinggalkan acong di basecamp saat itu, karena memang perlu ada yang stand by untuk menjaga perlengkapan kami sekalian mempersiapkan makan malam.

Entrance Vertikal yang menjadi favorit yaitu Gua Kerek tak sempat untuk kami turuni. Ia adalah bentukan alam berupa sebuah lorong vertikal yang mulutnya terbentuk dari rekah longsoran batuan kapur beberapa ratus lalu. Waktu itu aku yang memegang GPS (alat untuk menentukan koordinat) dan merekam posisinya. Lensa kamera SLR Canon kami saat itu berembun, karena memang saat itu sudah sore dan tanah ini baru saja diguyur hujan begitu lebat nya siang tadi… hingga kami tak bisa merekam suasana yang ada saat itu. Pernahkah kamu membaca teori lubang hitam yang menarik segala sesuatu disekitranya? Seperti itulah yang kurasakan saat melihat dan berada di sekitar celah vertical ini : sunyi, gelap dan begitu kuat menariku..

Sama seperti yang kurasakan kelak, sayup terdengar suara aliran air didalamnya disertai angin dingin yang seakan menyembur dari bawah sana. “Ada sungai dibawah ya kang ? berapa kira-kira dalamnya ? “, tanyaku untuk sekedar melepas kesunyian pada guide kami hari itu. “Ya, ada sungai dibawah. Klo hujan bisa banjir hingga 2-3 meter..Dalamnya kira-kira 30 meter-anlah..“, jawab kang Ucok ringan. Mendengar keterangan singkatnya itu, aku mencoba menggambar kondisi dibawah sana di dalam pikiranku…turun kedalam lorong sempit sejauh 30 meter-an (bisa 39..35…32..) dan langsung disambut dingin nya air sungai.”anjrit…”, pikirku..

Klo musim hujan seperti ini, kami ga berani turun sore atau malam..karena biasanya hujan disore hari, sedangkan jika turun malam hari, tidak bisa dipantau kondisi langit dari kawan-kawan diatas. Gua ini bagian utama dari aliran sungai bawah tanah dibawah ini. Menurut perkiraan, sungai bawah tanahnya yang membentuk air terjun di depan entrance horizontal di bawah sana..walau belum ada yang membuktikan nya…beberapa tahun lalu memang ada peneliti dari prancis yang menelusuri sungai bawah tanah ini dengan perahu karet hingga ke entrance horizontal, tapi gagal. Klo waktu nya cukup, kita akan kesana.” katanya lagi dalam percakapan kami menelusuri hutan pinus ini, menuju pintu-pintu misteri lain yang bisa kami kunjungi sebelum matahari beranjak ke peraduannnya.

Dan memang benar, kami akhirnya tiba di air terjun setinggi 7 meter itu – Air Terjun Bibijilat. Sedikit kedalam kulihat ada entrance horizontal yang menjadi sumbernya..serasi dengan nama air terjun nya : Gua Bibijilat. Ya, Air terjun ini berasal dari sungai bawah tanah yang tiba – tiba muncul ke permukaan bumi dan langsung disambut bentukan bebatuan vertikal. Penduduk tampaknya memanfaatkan kekayaan alam ini dengan membangun undak-undak besar menyerupai gourdam dan 3 buah pompa air mekanik untuk menyuplai kebutuhan air bagi kampung mereka. Semak belukar diatas juga dipotong pendek sehingga menyerupai taman kecil sederhana yang rindang dibawah pepohonan besar diatasnya. Entah berapa kubik kecepatan air kapur ini mengalir…yang jelas bunyi gemuruhnya nya terdengar hingga jauh, dan aku tak mampu membayangkan kondisi sungai bawah tanah di gua sana…atau bagaimana rasanya terjebak didalam..

To be continued





Pesona Goa Negeri Angso Duo (3)

24 09 2006

Catatan Perjalanan Caving TWKM XVII
Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Rabu, 14 Des 2005

Pagi ini kami sepakat untuk mencoba ascending – descending menggunakan SRT Set di pohon sekitar basecamp sebagai pemanasan. Aku, Onie dan datuak yang memang belum berkecimpung di dunia para caver, menggunakan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan kawan – kawan yang sudah expert. Bagaimana tidak, banyak diantaranya adalah Kadiv Caving di organisasinya. Kami berlatih hingga siang, kemudian makan dan sholat.

Sesuai dengan ROP, kami dibagi menjadi 2 team : Jefry, Catur, Onie, Mpok Sanni, Getol di Team 1 dan Abon, Datuak, Berry, Bebek, Aku di Team 2. Aku bersyukur dengan ini, karena memungkinkan kami untuk meminjam SRT Set kawan di team lain ketika melakukan penelusuran (bergantian vertikal dan horizontal).

Siang itu, kedua team mempersiapkan perlengkapan masing – masing. Jam 3 siang, kami serentak berangkat menuju lokasi. Perjalanan yang ditempuh cukup mengejutkan kawan – kawan. Karena memang lokasi goa yang berada di balik punggungan, sehingga kami harus mendaki dulu kira – kira 1 jam. Setibanya di depan entrance goa Mesjid, kami masih sempat mencuci muka dulu di sungai kecil yang juga digunakan petani walet – yang mendirikan pondok disekitar situ – untuk mandi dan mencuci. Team 1 mesti harus mendaki beberapa saat lagi sebelum tiba di entrance goa Kadir. Team 2 ditemani oleh 3 orang guide petani walet : jala, alwi dan rudini. Selama ekplorasi kami mengunjungi 4 dari 7 lorong yang ada. Sebenarnya kami ingin waktu eksplorasi lebih lama lagi, agar memberi kesempatan lebih lama untuk mempelajari goa ini. Namun karena sang guide mesti menjaga sarang walet di goa lain, maka kami mengakhiri eksplorasi sore itu juga dan tiba di basecamp tepat sebelum magrib. Kondisi goa yang kotor dan rusak itu cukup untuk membuat kecewa kawan – kawan. Bebek tampak cemberut sampai malam itu, walau tidak berkata apa – apa, aku tau dia berharap dapat melihat ornamen yang lebih bagus setelah jauh – jauh ke jambi.

Setibanya di basecamp kami bebersih sambil menunggu team 1 kembali. Menurut ROP, seharusnya mereka sudah tiba sebelum jam 9 malam itu. Jika tidak juga datang sebelum jam 10, maka kawan – kawan panitia dan peserta putra sepakat untuk menyusul. Aku, Bebek dan panitia putri tetap stand by di basecamp. Kami tertidur dan terbangun setelah mendengar keributan, ternyata team 1 sudah datang. Ketika itu waktu menunjukan kira – kira jam 12 malam. Aku bangun lagi, mengikuti evaluasi dan briefing hingga jam 3. Kawan – kawan putri lain – yang tampak sangat kelelahan – tidak ikut dan beristirahat.

Kamis, 15 Des 2005

Hari ini, gantian team 2 yang eksplorasi ke goa vertikal. Sesuai evaluasi malam sebelumnya, maka dipilih goa vertikal lain karena goa Kadir menurut kawan – kawan team 1 sungguh mengecewakan karena hanya berupa sumur, sehingga dianggap tak labih dari latihan SRT saja alias ga ada jalan – jalannya.

Kawan – kawan yang kurang tidur baru bisa bersiap dan berangkat jam 1 siang lewat. Team 1 menuju goa Mesjid, sedangkan kami menuju entrance goa Sentot. Perjalanan nya cukup advance juga, membuatku kembali bersemangat. Ternyata dugaanku tepat, dikejauhan bau guano sudah tercium yang menandakan ada goa tak jauh dari posisi kami saat itu. Entrance goa Kadir mengobati kepenatan setelah mendaki 1 jam lebih. Dengan diameter 5 meter lebih, kami mencoba menganalisa lokasi anchor yang tepat untuk rigging. Jala, yang menemani saat itu membantu kami membersihkan semak di sekitar mulu goa. Belum ada orang yang melewati entrance ini sebelumnya, begitulah kata Robi – panitia yang bersama kami -. “Gilaaaaa…bakal seru nih”, pikirku.

Kami membawa 2 tali karmantel super statis 50 m dengan kondisi yang kotor dan berbulu. Aku dan bebek sempat sikut – sikutan waktu melihat tali itu dan berdoa mudah – mudahan talinya cukup kuat untuk SRT 6 orang. Tak kurang dari 2 jam, instalasi jalur sudah selesai, dengan bentuk Y anchor dan 2 jalur (karena perkiraan jalur kurang dari 30 m vertikal). Jadi, akan turun 2 orang bersamaan : Jibrik (instruktur) – Robi (panitia), Bebek – Datuak, terakhir Abon – Adek.

Ketika Jibrik dan Robi decending, diketahui ternyata kedalaman jalur ini lebih dari 30 m sehingga tali tidak cukup. Mereka kemudian turun hingga teras pertama. Seluruh team diinstruksikan decending hingga teras ini dulu kemudian 1 tali dilepas dan disambung ke tali yang lain. Ketika aku dan Abon turun, sebuah bongkahan batu sebesar kardus supermi jatuh. “ROCK FAAAALLLLL !!!” teriak abon. kami berhenti sebentar dan sangat kawatir dengan kawan – kawan dibawah, karena tempat berpijak mereka saat itu sangat sempit ditambah salah seorang kawan tidak menggunakan helm. Setelah terdengar teriakan aman dari bawah, kami pun melanjutkan descending. Untuk menghilangkan ketegangan, aku dan abon mengisi decending dengan bercanda. Alhamdullilah kami selamat tiba di teras, kemudian bergabung dan mengamankan diri dengan cowstail.

Ben dan Bowo – yang stand by di atas – melepas tali ke 2. Jibrik dan Abon kemudian memasang kembali lintasan. Waktu itu sudah magrib sehingga kami mulai dikelilingi kegelapan. Dinding didepanku saat itu tampak seperti tengkorak karena bentukan tonjolannya. Setelah semua aman, jibrik diikuti abon, bebek, datuak, aku dan terakhir abon descending kembali. Saat itu kami membuat 1 deviasi untuk menghilangkan friksi dan 1 simpul butterfly pada lintasan ini. Menurut Abon, lintasan ini tidak begitu baik karena penuh dengan friksi. Jibrik yang tiba lebih dulu, berteriak bahwa dibawah sungguh menakjubkan. Dari atas kami sudah terdengar suara sungai bawah tanahnya. Kata Jibrik sungai ini lumayan besar..”akhirnyaaaa”, pikirku.

Kami mengunjungi semua lorong yang ada dan menemukan siphon di salah satu lorongnya. Saat itu semua orang sungguh ceria, yah..akhirnya terbayar sudah setelah jauh – jauh datang ke jambi. Bagiku ini adalah pengalaman sekaligus pembelajaran yang tak terlupakan. Tak pernah terbayang dalam benak ini, goa vertikal pertama yang akan kuturuni ada di jambi dan langsung 60 m lebih !!!

Eksplorasi saat itu berakhir hingga jam 10 malam lewat. Keluar melalui entrance horizontalnya pun sungguh penuh tantangan dimana kami harus sedikit chimneying, karena lorong yang sangat sempit (kurang dari 50 cm) dan dibawahnya mengalir sungai yang mungkin saja dalam. Diluar kami sempat menemukan air terjun seperti yang diceritakan jala. Saat instalasi tadi, jala memang sudah mengatakan bahwa menurut perkiraannya goa ini akan tembus ke entrance horizontal di dekat air terjun.

Perjalan ke basecamp aku isi dengan berlari, karena memang jalurnya turun. Sesampainya di basecamp, kami sudah ditunggu oleh kawan – kawan team 1 yang tak sabar menanti cerita kami. Setelah bebersih, kami pun bercerita tentang eksplorasi tadi. Saat itu waktu menunjukan jam setengah 11 malam lewat.

Jumat, 16 Des 2005

Karena penasaran dengan cerita kami, kawan – kawan Team 1 pun meminta pada panitia untuk diantar ke goa kadir juga. Sesuai kesepakatan team 1 akan berangkat sebelum waktu sholat jum’at dan team 2 akan menyusul dari entrance horizontal sambil membawa makan siang team 1.

Kami berangkat jam 1 siang lewat ditemani 3 panitia (fahmi, eka, sri) dan bertemu dengan team 2 jam 2 an. Saat itu, Yuda dan Getol sudah ada di dasar goa. Kami menunggu hampir 2 jam sebelum semua personil tiba. Eksplorasi ini tidak lebih dari 3 jam. Kami makan malam di entrance horizontal. Suasana saat itu sungguh membuatku akan selalu mengingat momen ini. aku merasa disinilah titik puncak rasa persaudaraan yang mulai tumbuh diantara kami.
Sabtu, 17 Desember 2005

Sesuai instruksi panitia, kami harus bersiap – siap dari pagi karena kemungkinan truk yang akan menjemput kami tiba jam 9. Kami sempat makan pagi dulu, membantu panitia untuk packing tenda pleton dan perlengkapan basecamp lain. Sambil tidur – tidur di hammock, main kartu atau sekedar ngobrol kami menunggu. Tapi hingga jam 1 siang, truk yang ditunggu tidak datang juga. Akhirnya kami makan siang dan panitia meminta peserta jalan dulu ke desa terdekat yang –katanya- tidak lebih dari 2 km.
 

Aku sedikit sangsi jarak yang kami tempuh dulu itu kurang dari 2 km, paling tidak 5 km lah. Ternyata benar. AKu, Catur dan Yuda saat itu berjalan cepat di depan. Kami tiba di Dusun Dalam –desa terdekat- jam 6 sore atau 5 jam jalan kaki!!! “Buseeeet….lengkap semua : dari offroad, gunung hutan, berenang di goa, panjat tebing sampai long march !!! ”, pikirku.

Alhamdullilah truk yang kami tunggu sedang parkir di sana. Ternyata beliau memang tidak bisa menjemput ke lokasi dan Robi yang kemarin mencari kendaraan akhirnya ke Merangin mencari alternative lain. Pak Sahar bersedia mengantar hingga kantor Polsek Sungai Manau. Dari sana kami akan melanjutkan dengan bus antar kota ke Jambi.

Bebersih dan makan malam, kami menunggu lagi hingga jam setengah 12 malam. Waktu yang ada kami isi dengan menonton tv dan bermain teka – teki konyol. Ketika bus yang ditunggu datang, kami langsung berangkat. Perjalanan ke jambi memakan waktu 6 jam lebih. Hingga kami tiba di kampus Unja Telanaipura jam setengah 6 pagi.

Aku bertemu dengan Sapi dan Petong yang datang setelah kami. Aku tidak menemukan Ayis di kumpulan team RC yang tiba lebih dulu. Sementara itu team GH baru tiba siang hari nya. Aku bertemu Jabek di aula siang itu dan menanyakan ROP ke bandung. Menurut komandan, tiket pesawat sudah di booking untuk penerbangan besok jam 5 sore.


Pak Kebo dan pasukan dari bandung pagi itu juga sempat mampir dan mentraktir kami makan pagi di warung padang terdekat. Ternyata benar, di jambi biaya makan sungguh mahal. Pak Kebo yang tidak bisa lama – lama di jambi langsung berangkat ke bangko setelah sarapan itu.


Siang itu team Caving sempat jalan – jalan keliling jambi dan sorenya kami mengantarkan Berry ke bandara karena harus sudah tiba di Bandung besok untuk UAS. Malamnya kami mengikuti penutupan TWKM XVII di rumah dinas Walikota Jambi. Acara berakhir jam 11 malam dan NO DRUGS. Tapi sesampainya di aula Unja Telanaipura dini hari itu, aku melihat kawan – kawan lain sudah pada mabok. Karena sudah capek langsung saja aku dan yang lain instalasi tempat tidur dan bobok..

Minggu, 18 Desember 2005

Hari ini hanya diisi dengan menunggu. Aku bertemu dengan seorang kenalan dari Padang yang sudah jadi jendral nya Proklamator. Beliau saat ini aktif di MAPALA dan mendirikan salah satu KPA di Bangko. Dari percakapan itu, aku mengetahui bahwa kawan – kawan di Jambi cukup kecewa dengan pelaksanaan TWKM. Hal ini antara lain karena masalah koordinasi yang tidak jelas. Namun, aKu yakin panitia pun telah memberikan yang terbaik dari yang ada. Mudah – mudahan evaluasi ini memberi pelajaran berharga bagi kita semua tentang arti penting sebuah kesiapan dalam melaksanakan kegiatan.

Aku kemudian meminta diantarkan untuk mencari jajanan khas Jambi untuk oleh – oleh. Aku diajak ke MAKOPLA DIMITRI dulu dan sempat ngobrol dengan kawan – kawan disana. Ternyata mencari jajanan khas Jambi tidak perlu jauh – jauh, cukup di supermarket saja…ya elahhh.


Kami berangkat jam 4 siang dengan mobil Fahmi. Aku tidak sempat berpamitan dengan kawan – kawan Caving lain, karena mereka sedang bergerilya mencari transportasi pulang. Di rombongan kami juga ada team MAPA GUNDAR dan PALAWA. Kebetulan kami dengan penerbangan yang sama.Jam 6 sore kami sudah tiba di Sukarno Hatta.

Kami langsung pulang hari itu juga ke bandung, tidak mampir ke warnet Macan dulu. Kami tiba di Bandung tengah malam. Membeli nasi goreng dulu di palasari, kami lalu pulang. Di sekre saat itu sedang stand by Pak Ketua. Setelah nongkrong sebentar dan cerita tentang hal konyol di jambi, aku langsung ke goa tidur. Karena lelapnya, kenangan Jambi saat itu tidak terlintas dalam mimpiku. Mudah – mudahan ilmu yang didapat bukan hanya jadi mimpi kesiangan, karena harapan untuk jalan – jalan dengan Dream Team Caving ASTACALA jadi bagian obsesi ku sejak saat itu. Amien


*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom
Tulisan ini tersedia di Kisah Perjalanan website http://www.astacala.org





Pesona Goa Negeri Angso Duo (3)

24 09 2006

Catatan Perjalanan Caving TWKM XVII

Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Rabu, 14 Des 2005

Pagi ini kami sepakat untuk mencoba ascending – descending menggunakan SRT Set di pohon sekitar basecamp sebagai pemanasan. Aku, Onie dan datuak yang memang belum berkecimpung di dunia para caver, menggunakan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan kawan – kawan yang sudah expert. Bagaimana tidak, banyak diantaranya adalah Kadiv Caving di organisasinya. Kami berlatih hingga siang, kemudian makan dan sholat.

Sesuai dengan ROP, kami dibagi menjadi 2 team : Jefry, Catur, Onie, Mpok Sanni, Getol di Team 1 dan Abon, Datuak, Berry, Bebek, Aku di Team 2. Aku bersyukur dengan ini, karena memungkinkan kami untuk meminjam SRT Set kawan di team lain ketika melakukan penelusuran (bergantian vertikal dan horizontal).

Siang itu, kedua team mempersiapkan perlengkapan masing – masing. Jam 3 siang, kami serentak berangkat menuju lokasi. Perjalanan yang ditempuh cukup mengejutkan kawan – kawan. Karena memang lokasi goa yang berada di balik punggungan, sehingga kami harus mendaki dulu kira – kira 1 jam. Setibanya di depan entrance goa Mesjid, kami masih sempat mencuci muka dulu di sungai kecil yang juga digunakan petani walet – yang mendirikan pondok disekitar situ – untuk mandi dan mencuci. Team 1 mesti harus mendaki beberapa saat lagi sebelum tiba di entrance goa Kadir. Team 2 ditemani oleh 3 orang guide petani walet : jala, alwi dan rudini. Selama ekplorasi kami mengunjungi 4 dari 7 lorong yang ada. Sebenarnya kami ingin waktu eksplorasi lebih lama lagi, agar memberi kesempatan lebih lama untuk mempelajari goa ini. Namun karena sang guide mesti menjaga sarang walet di goa lain, maka kami mengakhiri eksplorasi sore itu juga dan tiba di basecamp tepat sebelum magrib. Kondisi goa yang kotor dan rusak itu cukup untuk membuat kecewa kawan – kawan. Bebek tampak cemberut sampai malam itu, walau tidak berkata apa – apa, aku tau dia berharap dapat melihat ornamen yang lebih bagus setelah jauh – jauh ke jambi.

Setibanya di basecamp kami bebersih sambil menunggu team 1 kembali. Menurut ROP, seharusnya mereka sudah tiba sebelum jam 9 malam itu. Jika tidak juga datang sebelum jam 10, maka kawan – kawan panitia dan peserta putra sepakat untuk menyusul. Aku, Bebek dan panitia putri tetap stand by di basecamp. Kami tertidur dan terbangun setelah mendengar keributan, ternyata team 1 sudah datang. Ketika itu waktu menunjukan kira – kira jam 12 malam. Aku bangun lagi, mengikuti evaluasi dan briefing hingga jam 3. Kawan – kawan putri lain – yang tampak sangat kelelahan – tidak ikut dan beristirahat.

Kamis, 15 Des 2005

Hari ini, gantian team 2 yang eksplorasi ke goa vertikal. Sesuai evaluasi malam sebelumnya, maka dipilih goa vertikal lain karena goa Kadir menurut kawan – kawan team 1 sungguh mengecewakan karena hanya berupa sumur, sehingga dianggap tak labih dari latihan SRT saja alias ga ada jalan – jalannya.

Kawan – kawan yang kurang tidur baru bisa bersiap dan berangkat jam 1 siang lewat. Team 1 menuju goa Mesjid, sedangkan kami menuju entrance goa Sentot. Perjalanan nya cukup advance juga, membuatku kembali bersemangat. Ternyata dugaanku tepat, dikejauhan bau guano sudah tercium yang menandakan ada goa tak jauh dari posisi kami saat itu. Entrance goa Kadir mengobati kepenatan setelah mendaki 1 jam lebih. Dengan diameter 5 meter lebih, kami mencoba menganalisa lokasi anchor yang tepat untuk rigging. Jala, yang menemani saat itu membantu kami membersihkan semak di sekitar mulu goa. Belum ada orang yang melewati entrance ini sebelumnya, begitulah kata Robi – panitia yang bersama kami -. “Gilaaaaa…bakal seru nih”, pikirku.

Kami membawa 2 tali karmantel super statis 50 m dengan kondisi yang kotor dan berbulu. Aku dan bebek sempat sikut – sikutan waktu melihat tali itu dan berdoa mudah – mudahan talinya cukup kuat untuk SRT 6 orang. Tak kurang dari 2 jam, instalasi jalur sudah selesai, dengan bentuk Y anchor dan 2 jalur (karena perkiraan jalur kurang dari 30 m vertikal). Jadi, akan turun 2 orang bersamaan : Jibrik (instruktur) – Robi (panitia), Bebek – Datuak, terakhir Abon – Adek.

Ketika Jibrik dan Robi decending, diketahui ternyata kedalaman jalur ini lebih dari 30 m sehingga tali tidak cukup. Mereka kemudian turun hingga teras pertama. Seluruh team diinstruksikan decending hingga teras ini dulu kemudian 1 tali dilepas dan disambung ke tali yang lain. Ketika aku dan Abon turun, sebuah bongkahan batu sebesar kardus supermi jatuh. “ROCK FAAAALLLLL !!!” teriak abon. kami berhenti sebentar dan sangat kawatir dengan kawan – kawan dibawah, karena tempat berpijak mereka saat itu sangat sempit ditambah salah seorang kawan tidak menggunakan helm. Setelah terdengar teriakan aman dari bawah, kami pun melanjutkan descending. Untuk menghilangkan ketegangan, aku dan abon mengisi decending dengan bercanda. Alhamdullilah kami selamat tiba di teras, kemudian bergabung dan mengamankan diri dengan cowstail.

Ben dan Bowo – yang stand by di atas – melepas tali ke 2. Jibrik dan Abon kemudian memasang kembali lintasan. Waktu itu sudah magrib sehingga kami mulai dikelilingi kegelapan. Dinding didepanku saat itu tampak seperti tengkorak karena bentukan tonjolannya. Setelah semua aman, jibrik diikuti abon, bebek, datuak, aku dan terakhir abon descending kembali. Saat itu kami membuat 1 deviasi untuk menghilangkan friksi dan 1 simpul butterfly pada lintasan ini. Menurut Abon, lintasan ini tidak begitu baik karena penuh dengan friksi. Jibrik yang tiba lebih dulu, berteriak bahwa dibawah sungguh menakjubkan. Dari atas kami sudah terdengar suara sungai bawah tanahnya. Kata Jibrik sungai ini lumayan besar..”akhirnyaaaa”, pikirku.

Kami mengunjungi semua lorong yang ada dan menemukan siphon di salah satu lorongnya. Saat itu semua orang sungguh ceria, yah..akhirnya terbayar sudah setelah jauh – jauh datang ke jambi. Bagiku ini adalah pengalaman sekaligus pembelajaran yang tak terlupakan. Tak pernah terbayang dalam benak ini, goa vertikal pertama yang akan kuturuni ada di jambi dan langsung 60 m lebih !!!

Eksplorasi saat itu berakhir hingga jam 10 malam lewat. Keluar melalui entrance horizontalnya pun sungguh penuh tantangan dimana kami harus sedikit chimneying, karena lorong yang sangat sempit (kurang dari 50 cm) dan dibawahnya mengalir sungai yang mungkin saja dalam. Diluar kami sempat menemukan air terjun seperti yang diceritakan jala. Saat instalasi tadi, jala memang sudah mengatakan bahwa menurut perkiraannya goa ini akan tembus ke entrance horizontal di dekat air terjun.

Perjalan ke basecamp aku isi dengan berlari, karena memang jalurnya turun. Sesampainya di basecamp, kami sudah ditunggu oleh kawan – kawan team 1 yang tak sabar menanti cerita kami. Setelah bebersih, kami pun bercerita tentang eksplorasi tadi. Saat itu waktu menunjukan jam setengah 11 malam lewat.

Jumat, 16 Des 2005

Karena penasaran dengan cerita kami, kawan – kawan Team 1 pun meminta pada panitia untuk diantar ke goa kadir juga. Sesuai kesepakatan team 1 akan berangkat sebelum waktu sholat jum’at dan team 2 akan menyusul dari entrance horizontal sambil membawa makan siang team 1.

Kami berangkat jam 1 siang lewat ditemani 3 panitia (fahmi, eka, sri) dan bertemu dengan team 2 jam 2 an. Saat itu, Yuda dan Getol sudah ada di dasar goa. Kami menunggu hampir 2 jam sebelum semua personil tiba. Eksplorasi ini tidak lebih dari 3 jam. Kami makan malam di entrance horizontal. Suasana saat itu sungguh membuatku akan selalu mengingat momen ini. aku merasa disinilah titik puncak rasa persaudaraan yang mulai tumbuh diantara kami.

Sabtu, 17 Desember 2005

Sesuai instruksi panitia, kami harus bersiap – siap dari pagi karena kemungkinan truk yang akan menjemput kami tiba jam 9. Kami sempat makan pagi dulu, membantu panitia untuk packing tenda pleton dan perlengkapan basecamp lain. Sambil tidur – tidur di hammock, main kartu atau sekedar ngobrol kami menunggu. Tapi hingga jam 1 siang, truk yang ditunggu tidak datang juga. Akhirnya kami makan siang dan panitia meminta peserta jalan dulu ke desa terdekat yang –katanya- tidak lebih dari 2 km.


Aku sedikit sangsi jarak yang kami tempuh dulu itu kurang dari 2 km, paling tidak 5 km lah. Ternyata benar. AKu, Catur dan Yuda saat itu berjalan cepat di depan. Kami tiba di Dusun Dalam –desa terdekat- jam 6 sore atau 5 jam jalan kaki!!! “Buseeeet….lengkap semua : dari offroad, gunung hutan, berenang di goa, panjat tebing sampai long march !!! ”, pikirku.

Alhamdullilah truk yang kami tunggu sedang parkir di sana. Ternyata beliau memang tidak bisa menjemput ke lokasi dan Robi yang kemarin mencari kendaraan akhirnya ke Merangin mencari alternative lain. Pak Sahar bersedia mengantar hingga kantor Polsek Sungai Manau. Dari sana kami akan melanjutkan dengan bus antar kota ke Jambi.

Bebersih dan makan malam, kami menunggu lagi hingga jam setengah 12 malam. Waktu yang ada kami isi dengan menonton tv dan bermain teka – teki konyol. Ketika bus yang ditunggu datang, kami langsung berangkat. Perjalanan ke jambi memakan waktu 6 jam lebih. Hingga kami tiba di kampus Unja Telanaipura jam setengah 6 pagi.

Aku bertemu dengan Sapi dan Petong yang datang setelah kami. Aku tidak menemukan Ayis di kumpulan team RC yang tiba lebih dulu. Sementara itu team GH baru tiba siang hari nya. Aku bertemu Jabek di aula siang itu dan menanyakan ROP ke bandung. Menurut komandan, tiket pesawat sudah di booking untuk penerbangan besok jam 5 sore.

Pak Kebo dan pasukan dari bandung pagi itu juga sempat mampir dan mentraktir kami makan pagi di warung padang terdekat. Ternyata benar, di jambi biaya makan sungguh mahal. Pak Kebo yang tidak bisa lama – lama di jambi langsung berangkat ke bangko setelah sarapan itu.

Siang itu team Caving sempat jalan – jalan keliling jambi dan sorenya kami mengantarkan Berry ke bandara karena harus sudah tiba di Bandung besok untuk UAS. Malamnya kami mengikuti penutupan TWKM XVII di rumah dinas Walikota Jambi. Acara berakhir jam 11 malam dan NO DRUGS. Tapi sesampainya di aula Unja Telanaipura dini hari itu, aku melihat kawan – kawan lain sudah pada mabok. Karena sudah capek langsung saja aku dan yang lain instalasi tempat tidur dan bobok..

Minggu, 18 Desember 2005

Hari ini hanya diisi dengan menunggu. Aku bertemu dengan seorang kenalan dari Padang yang sudah jadi jendral nya Proklamator. Beliau saat ini aktif di MAPALA dan mendirikan salah satu KPA di Bangko. Dari percakapan itu, aku mengetahui bahwa kawan – kawan di Jambi cukup kecewa dengan pelaksanaan TWKM. Hal ini antara lain karena masalah koordinasi yang tidak jelas. Namun, aKu yakin panitia pun telah memberikan yang terbaik dari yang ada. Mudah – mudahan evaluasi ini memberi pelajaran berharga bagi kita semua tentang arti penting sebuah kesiapan dalam melaksanakan kegiatan.

Aku kemudian meminta diantarkan untuk mencari jajanan khas Jambi untuk oleh – oleh. Aku diajak ke MAKOPLA DIMITRI dulu dan sempat ngobrol dengan kawan – kawan disana. Ternyata mencari jajanan khas Jambi tidak perlu jauh – jauh, cukup di supermarket saja…ya elahhh.

Kami berangkat jam 4 siang dengan mobil Fahmi. Aku tidak sempat berpamitan dengan kawan – kawan Caving lain, karena mereka sedang bergerilya mencari transportasi pulang. Di rombongan kami juga ada team MAPA GUNDAR dan PALAWA. Kebetulan kami dengan penerbangan yang sama.Jam 6 sore kami sudah tiba di Sukarno Hatta.

Kami langsung pulang hari itu juga ke bandung, tidak mampir ke warnet Macan dulu. Kami tiba di Bandung tengah malam. Membeli nasi goreng dulu di palasari, kami lalu pulang. Di sekre saat itu sedang stand by Pak Ketua. Setelah nongkrong sebentar dan cerita tentang hal konyol di jambi, aku langsung ke goa tidur. Karena lelapnya, kenangan Jambi saat itu tidak terlintas dalam mimpiku. Mudah – mudahan ilmu yang didapat bukan hanya jadi mimpi kesiangan, karena harapan untuk jalan – jalan dengan Dream Team Caving ASTACALA jadi bagian obsesi ku sejak saat itu. Amien


*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom

Tulisan ini tersedia di Kisah Perjalanan website www.astacala.org





Pesona Goa Negeri Angso Duo (2)

24 09 2006

Catatan perjalanan Caving TWKM XVII

Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Persiapan Teknis

Secara umum, persiapan teknis yang kami lakukan adalah persiapan perlengkapan masing-masing divisi. Sapi dan Petong sebagai delegasi Kenal Medan Divisi Rafting, melakukan peminjaman perlengkapan melaui sponsorship (Boogie) dan organisasi independen (YCR / You Can Raft). Pihak Boogie meminjamkan beberapa pelampung dan tak lupa memberikan kaos CREW http://www.boogieadvindo.com (yang kemudian oleh kawan – kawan disablonkan kata ASTACALA tepat diatas kata CREW nya). Sementara itu, YCR bersedia meminjamkan beberapa paddle dan helm. Terima kasih Boogie dan YCR…

Ayis – yang ikut di Kenal Medan Divisi Rock Climbing- dapat segera melakukan inventarisasi perlengkapan yang dibawa. Dalam hal ini, tidak dilakukan peminjaan dari pihak eksternal karena ASTACALA memiliki inventaris perlengkapan climbing yang cukup.

Berbeda nasib dengan cerita diatas, aku dan Onie yang ikut Kenal Medan Divisi Caving tidak dapat banyak mempersiapkan alat – alat penelusuran goa, karena ASTACALA sendiri belum memiliki inventaris untuk perlengkapan penelusuran goa (terutama SRT Set), juga perlengkapan tersebut masih sulit dicari di bandung (melalui peminjaman). Hal ini karena masih sedikitnya organisasi MAPALA / Pecinta Alam di Bandung yang berkegiatan dan memiliki peralatan penelusuran goa. Untuk langsung membeli sangat tidak mungkin karena minimnya waktu dan kondisi keuangan kami atau organisasi. Oleh karena itu, kami hanya membawa beberapa perlengkapan yang sekiranya bermanfaat. Aku juga sempat meminjam head lamp milik Astaka dan mengamankan sepatu boot hijau Jimbo yang sebelumnya digunakan untuk berkebun (terima kasih banyak bantuan nya…. : )

Jabek, yang ikut Temu Wicara juga sempat melakukan persiapan teknis. Perwakilan ASTACALA (jabek, onie, sapi, petong) hadir pada pertemuan konsolidasi akhir antara MAPALA se JAWA BARAT di Kampus UPI yang dikoordinasikan oleh MAHACITA. Dalam pertemuan dibahas rencana pencalonan PIN ataupun tuan rumah TWKM XVIII oleh MAPALA yang ada di JAWA BARAT. ASTACALA sempat masuk dalam bursa pencalonan tuan rumah TWKM XVIII. Namun, setelah berkoordinasi degan barudak yang ada di sekre hal ini untuk sementara di tolak dulu, mengingat kondisi ASTACALA yang perlu melakukan pembenahan internalisasi sebelum merambah keluar. Selain itu, petong juga sempat mempersiapkan makalah untuk dipresentasikan pada sidang TWKM XVII, namun karena berbagai hal makalah ini tidak sempat diselesaikan sehingga tidak dapat dipresentasikan.

Dalam hal ini, penulis berpendapat ASTACALA mulai dikenal dan dipercayai oleh MAPALA lain khususnya Bandung untuk mendapat amanah. Selain adanya wacana tuan rumah TWKM XVIII tadi, juga terbukti dengan terpilihnya ASTACALA untuk menjadi PID JAWA BARAT pada TWKM XVII tersebut.

Mudah – mudahan hal ini dapat menjadi dexter yang menambah kekuatan fisik dan mental kawan – kawan ASTACALA dalam menempuh perjalan panjang menundukan puncak – puncak kejayaan kepetualangan. Apapun bentuk nya.

Perjalanan

Minggu, 11 Des 2005

Hari itu akan selalu ku kenang sebagai salah satu hari paling kocak yang pernah ku alami dalam hidup. Bagaimana tidak, pagi itu kami team ASTACALA yang akan ikut TWKM XVII sedang terburu – buru untuk packing kebutuhan kami selama berkegiatan. Mulai dari kolor sampai carabiner screw dan helm menunggu untuk dimasukan dalam tasku yang hanya day pack itu. Bagi ku, day pack ini sedang berada dalam fase test drive , maklum baru beli coy…di counter boogie yang ada di sekre sendiri, lumayan discount 20 %.

Ditengah kesibukan kegiatan itu, aku teringat belum mengambil uang kontan untuk saweran kami dan kiriman dari salah satu jendral yang mesti segera di setor ke komandan Jabek. Belum lagi harus ke kos seorang teman untuk menitipkan surat ijin tidak ikut presentasi tugas besar sabtu depan. Segera saja, aku dan Petong -yang kebetulan bernasip sama- meminjam motor mbak Uuth untuk pergi ke ATM di buah batu. Waktu itu waktu menunjukan jam 09.30 lewat artinya waktu yang ada sangat sedikit, karena jam 10 kami harus sudah berangkat ke pool di leuwi panjang. Packingan ku yang yang hampir selesai segera kutinggalkan dan langsung cabut. Sesampainya di sekre yang saat itu rame –kayak kandang– aku langsung menghampiri day pack untuk menyelesaikan packing an yang belum kelar. Beruntung insting ini masih tetap jalan, aku melihat susunan packing – an sudah berubah bentuk, dan -benar saja– didalamnya penuh dengan benda – benda aneh semacam patung budha, payung, dll. Bangsat…pikirku, ini pasti ulah jacky ato kebo ato makhluk usil lainnya yang sekarang membunyikan pluit dan memukul – mukul meja untuk membuat kami panik.

Akhirnya, kami semua sudah selesai dan siap untuk berangkat. Tak lupa berfose dulu di kebun belakang sekre. Saat itu waktu menunjukan jam 10 lewat. Petong -yang menemukan patung budha di carriernya- kembali membuka packing an sambil menyumpahi pelaku…(heheheh…sapa tuh?). Jacky dan Kebo bersedia mengantarkanku dan ayis. Sementara kawan – kawan yang lain naik angkot / ojeg. Sesampainya di pool, ternyata ada juga penumpang yang lain yang belum datang. Aku menghampiri seorang bapak yang sedang duduk dimeja kerja menyampaikan klo teman ku yang lain sedang di jalan. Duduk menunggu, aku membuka buku catatan, mencoba memikirkan apakah ada yang masih belum kelar. Tak lama kemudian datang ayis, petong, sapi dan terakhir onie – jabek.

Di pool itu kami menunggu cukup lama juga. Petong –sekali lagi- menemukan patung budha di carier nya. Akhirnya, patung itu kami tinggalkan saja di pool. Jam 11 lewat, bus itu pun siap berangkat. Kami diberi kue yang langsung saja kami lahap, maklum belum sarapan..Berjalan cukup kencang, bus itu akhirnya berbalik lagi setelah masuk tol. Saat itu hingga bus kembali ke pool, aku tidak berfiirasat apa – apa. Hingga kami menunggu sampai jam 3 siang, aku mulai menghampiri bapak tadi menanyakan bagaimana nasip kami. Akhirnya, dengan raut menyesal beliau mengatakan tidak ada ada harapan lagi dan kami harus mencari alternative angkutan lain. Siaaaal…aku -sambil berusaha menjaga emosi ini- menyampaikan sesalku kenapa hal ini tidak dikatakan dari tadi, karena kami mungkin bisa naik bus ekonomi yang berangkat sekitar jam 2.30 siang. Akhirnya setelah negosiasi, uang kami dikembalikan 100%. Kami diberi info bahwa kami bisa menanti bus ke merak dipintu tol.

Duduk di trotar, kami beberapa kali melewatkan bus ekonomi ke merak. Kami sepakat naik eksekutif karena lewat cipularang, sehingga lebih cepat sampai ke merak. Tapi kemudian lewat juga bus ekonomi yang juga lewat cipularang. Kami pun naik bus ini.

Di dalam bus, aku sempat mengirim sms singkat ke Jimbo dan Oelil menanyakan bagaimana kondisinya di merak kalau kami mau nyebrang. Keduanya langsung reply. memberikan saran yang berbeda. Jabek – yang saat itu menghubungi pak kebo – di sarankan untuk turun dijakarta, nginap di warnet macan kemudian naik pesawat senin pagi. Usul itulah yang akhirnya kami lakukan, karena selain cemas bercampur was – was bagimana starategi kami di merak nanti, kami juga harus tiba di jambi sebelum sore – yang tidak akan mungkin terjadi klo nyambung – nyambung…- , karena lokasi Kenal Medan yang katanya sangaaaaat jauh.

Kejadian ini sungguh mengajarkan kami untuk bereaksi cepat. Bagaimana tidak, waktu itu rencana menggunakan pesawat tidak ada sama sekali di benakku. Artinya, hitung – hitungannya adalah naik ekonomi atau nyambung – nyambung. Alternatif pertama langsung gugur, karena pada saat negosiasi dengan agen agar duit kembali penuh, waktu sudah menunjukan pukul 3 siang lebih. Artinya lagi, bus ekonomi manapun sudah berangkat beberapa saat yang lalu. Alternatif kedua yang bernasip sama akhirnya mengantarkan kami pada the last chance.

Sesampainya di Jakarta, kami turun di depan RS Harapan Kita. Naik mobil ke Kampung Rambutan kemudian ke Lebak bulus –sebelumnya sempat nyasar dulu– akhirnya kami tiba di warnet macan. Saat itu, orang yang dicari sedang tidak ditempat. Setelah meletakan barang bawaan, kami kemudian menuju warung nasi terdekat, memesan makanan yang ada tanpa berpiir tentang harga. Saat itu jam 11 malam lewat, perut ini sudah menjerit minta diisi karena memang belum makan seharian. Akhirnya terjadilah : tagihan kami menunjukan angka 80 ribu lebih..sudahlah, toh ini jatah 3 kali makan… Kembali ke warnet macan, kami langsung saja bebersih dan istirahat karena besoknya harus sudah siap dijemput Bos Otong jam 5 pagi karena kami berencana naik pesawat jam 7.

Senin, 12 Des 2005

Jam 4 pagi itu, aku dan jabek sudah siap tempur. Sambil menunggu Bos Otong dan tak lupa membangunkan anak – anak, aku sempat membuka astacala.org dan login dengan account jabek, menyampaikan kabar terbaru kami di fordis. Sedikit cemas juga, karena Bos Otong yang dari tadi di miss call ga ngangkat telp nya. AKhirnya, jam 6 kurang kami di jemput si Bos dengan mobil vioz baru nya itu…..cieeeee.

Tiba di sukarno Hatta jam 7 lewat, kami membagi tugas : Petong ke Mandala, Sapi dan aku ke Sriwijaya Air, Jabek – Ayis ke ATM untuk ambil uang cash. Saat itu penerbangan terdekat hanya jam 13.30 dengan sriwijaya Air (yang jam 7 baru saja take off..). Harga tiket sewaktu aku tanyakan adalah 330 ribu. Kami kemudian berembuk dulu, karena asumsi awal kami harganya kurang dari 250 ribu. Setelah deal –10 menit kemudian- aku memesan dan kaget, harga tiket tadi sudah menjadi 350 ribu..siaaaaal. Menurut mbak nya, harga ini naik tiap detik sesuai perkembangan pemesanan. Akhirnya kami pun pasrah dan memesaan 6 seat..hik hik hik

Karena jadwal penerbangan yang masih lama, kamipun di ajak ke grogol untuk sarapan oleh si bos, sementara beliau sendiri harus ke kantor sebentar untuk meeting…..Setelah sarapan, kami menunggu di trotoar sambil terbahak – bahak memikirkan kisah kami hingga hari ini. Jam 11.30 lewat yang ditunggu belum juga datang, padahal kami harus boarding pass maksimal jam 12.30. Sms pun dikirimkan..dan tak lama si bos pun nongol.

Di area parkir dan di dalam pesawat kami masih sempat berfose, mengabadikan momen langka ini…kapan – kapannya anak ASTACALA jalan naik pesawat???. Kami tiba di Bandara Sutan Taha jam 14.30. Oh ya, dari Sukarno Hatta kami bareng dengan Cholish, anak UPN Veteran Jogja yang akan ikut Temu Wicara. Dari bandara kami naik 2 kali angkot – style musiknya khas alias keras ngujubileh coy…- kemudian langsung menuju kampus Unja Telanaipura, karena menurut teman jabek kami kumpul di sana dulu. Ternyata disana kami disambut suasana sepi. Kami menuju sekretariat SIGINJAI, dan benar saja : kami hanya menemui 3 orang panitia. Setelah berkenalan sebentar, kami diberi tahu bahwa kami harusnya ke kampus Mendalau. Disanalah kami harus mendaftar kemudian diberangkat ke lokasi. Beruntung ada mobil pick up panitia yang memang berniat ke mendalau untuk mengantar beberapa barang. Akhirnya kami melaju dan tiba 10 menit kemudian kemudian langsung mengurus administrasi dll.

Karena keterlambatan ini, kami melewati pembukaan dan stadium general. Sambil menunggu keberangkatan ke lokasi masing –masing, kami makan dengan nasi bungkus yang diberi panitia. Kami berkenalan dengan kawan – kawan lain yang juga nongkrong di depan aula itu : dari Padang, Makassar, Jakarta, Lampung, dll. Kawan – kawan ITB saat itu juga sedang menunggu seorang teman yang berangkat dengan penerbangan jam 15.30.

Sore itu, peserta setiap divisi sempat briefing dengan panitia. Kami (divisi arum jeram, caving dan panjat tebing) diberitahu untuk sudah bersiap – siap ba’da magrib ini untuk berangkat – dengan bus carter ekonomi – ke Merangin, sementara itu divisi gunung hutan (yang jumlah nya 40 orang lebih / sejumlah 3 divisi lain) di bus terpisah (AC coy…..bikin sirik deeeh).

Kami tiba di Merangin jam 2.30 pagi. Lelah dan mengantuk, kami segera bebersih dan instalasi tempat bobok di aula dinas pariwisata Kabupaten Mendalau itu. Beberapa kawan juga tampak memasang hammock. Sial bagi petong, ketika membuka carrier nya ia menemukan sebuah kipas angin kecil putih ter packing dengan rapi di dalamnya. Sempat shock sebentar, ia akhirnya hati – hati memindahkan barang – barang itu ke carrier sapi supaya tidak terlihat yang lain sewaktu mengambil perlengkapan tidur. AKu teringat pesan Momesh sebelum berangkat ke pool (sebelumnya aku ga ngerti maksudnya), “Dek, jagain Petong ya…nanti mungkin mentalnya kena di sana. Pokoknya kamu jagain yah..”…gilaaaaaaaa

Selasa, 13 Des 2005

Setelah terobati tidur cukup nyenyak, kami segera mandi atau sekedar cuci muka. Pagi ini akan dilakukan upacara pelepasan dengan Bupati Merangin. Gladi bersih yang dipimpin oleh staf pemda cukup kacau, karena anak – anak ogah – ogahan untuk nyanyi lagu Indonesia Raya (kebayang false nya gimana?????). Dengan frustasi, si bapak berkata “Klo di cina nyanyi lagu kebangsaan sambil main – main bisa dihukum gantung..”. Tak lama kemudian, terdengar celetukan kawan dibelakang “Klo di cina, ngomong sambil kumis goyang – goyang bisa dihukum gantung pak…!!! ”. Si Bapak yang memang punya kumis style Hitler itu langsung pergi dengan muka merah. Lama juga menunggu pimpinan upacara kita, yang oleh kawan – kawan dipanggil Bupati Cina. Kami sempat sarapan dan akhirnya jam 10.30 datang juga Wakil Bupati menggantikan, upacara pun dilangsungkan. Dengan serius, kawan – kawan bernyanyi lagu Indonesia Raya (beda banget dengan gladi bersihnya!!!! anak MAPALA getoo lho….). Upacara tidak berlangsung lama dan diakhiri dengan foto bersama.

Sambil menunggu angkutan datang, kami berfose dulu di tepi sungai batang merangin yang ada di depan aula itu. Setelah mobil jeep team Caving datang, kami pun berpamitan dengan kawan – kawan tebing dan sungai. Di mobil yang ukurannya mirip Rover nya Gapoeng itu, kami berhimpit – himpitan 13 orang bersama bahan makanan. Kami memutuskan untuk makan siang nanti, karena baru saja menyantap sarapan yang terlambat datang.

Jalan menuju Sengayau sungguh menakjubkan. Bagaimana tidak, tiap saat kami diguncang oleh lubang yang menganga hingga salah seorang kawan dari jogja sempat nyeletuk “Klo nih jalan disamaain kayak sungai, mungkin udah sama kayak Colorado neh….”. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 6 jam (ditambah aksi dorong mobil juga…..). Mobil yang kami tumpangi ini adalah mobil Departemen Kehutanan, dan sopirnya yang juga Ranger Taman Nasional Gunung Kerinci itu terlihat sudah sangat mengenal mobil yang digunakan. Namun, karena memang medan yang terlalu sulit akhirnya sang sopir menyerah (setelah melewati Dusun Dalam) dan kami pun pindah ke truk pak Sahar yang kebetulan dibelakang rombongan kami. Truk ini mengangkut batu sungai untuk menutup lobang di jalan. Dari yang penulis lihat, didalam truk dijumpai beberapa mesin pemotong kayu, sehingga kemungkinan juga digunakan untuk mengangkut kayu tebangan dari hutan.

Di tengah perjalanan kami berhenti, karena pemiliki truk ingin mengambil batu di sungai. Kami pun menggunakan kesempatan ini untuk makan siang di tepi sungai (jalan yang kami lalui memang sejajar dengan sungai). Waktu itu hari menunjukan jam 3 siang lebih. Selama perjalanan, kami menggunakan kesempatan ini untuk saling mengenal. Di rombongan kami ada 10 peserta (5 putri, 5 putra….pas banget yaaa) : Abon (Mapa Gundar); Jeffry yang kuliah di UNSOED (ASTADECA); Datuak – anak gunung gutan yang pengen nyoba Caving (PAKSI ARGA); Catur yang kami panggil babie romeo, karena memang mirip (Wanapala UNAIR); Berry (KMPA Ganesha); Sanny yang kami pangil “Mpok” karena mirip mpok nya Alhm. Benjamin (MAPAGAMA); Getol (JAYAGIRI); Bebek – seorang kawan yang setahun lalu sempat ngajarin aku, jabek dan kupret latihan SRT di jogja (MAPALA UNISI), terakhir aku dan onie. Sedangkan panitia yang mengiringi : Robi (Koordinator), Rika (Sekretaris) dan Sri (Bendahara).

Oh ya, di desa kami sempat diberi jajanan khas oleh penduduk yang bentuknya seperti dodol namun lebih keras dan pecah dimulut. Setiba nya di jambi kelak, aku baru mengetahui bahwa makanan ini hanya ada di Sengayau saja. Aku menyesal juga tidak sempat membawa nya. Kami tiba di basecamp jam 6 sore lebih (lokasi tepat setelah melewati jembatan permanen ke 3). Sesampainya di sana, aku bergegas sholat zuhur- ashar dulu walaupun ga yakin belum magrib. Sesudahnya kami instalasi dan bebersih.

Di basecamp sudah ada team pendarat : Eka (KPA Elang Gunung), Fahmi (SWAT Stikom), Bowo (KPA Pamalayu), Pahlevi (Siginjai) dan instruktur kami : Jibrik dan Ben (MAKOPALA Budi Luhur). Malam itu hanya diisi ngariung dengan instruktur yang berasal dari Jakarta (Ben dan Jibrik). Kedua nya cukup asyik karena lucu, dan cerita kami berlanjut ke kisah eksplorasi yang diselingi pertanyaan – pertanyaan ringan seputar alat / kasus yang ditemui.

*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom

To be continue..





Pesona Goa Negeri Angso Duo (2)

24 09 2006

Catatan perjalanan Caving TWKM XVII
Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Persiapan Teknis
Secara umum, persiapan teknis yang kami lakukan adalah persiapan perlengkapan masing-masing divisi. Sapi dan Petong sebagai delegasi Kenal Medan Divisi Rafting, melakukan peminjaman perlengkapan melaui sponsorship (Boogie) dan organisasi independen (YCR / You Can Raft). Pihak Boogie meminjamkan beberapa pelampung dan tak lupa memberikan kaos CREW http://www.boogieadvindo.com (yang kemudian oleh kawan – kawan disablonkan kata ASTACALA tepat diatas kata CREW nya). Sementara itu, YCR bersedia meminjamkan beberapa paddle dan helm. Terima kasih Boogie dan YCR…

Ayis – yang ikut di Kenal Medan Divisi Rock Climbing- dapat segera melakukan inventarisasi perlengkapan yang dibawa. Dalam hal ini, tidak dilakukan peminjaan dari pihak eksternal karena ASTACALA memiliki inventaris perlengkapan climbing yang cukup.

Berbeda nasib dengan cerita diatas, aku dan Onie yang ikut Kenal Medan Divisi Caving tidak dapat banyak mempersiapkan alat – alat penelusuran goa, karena ASTACALA sendiri belum memiliki inventaris untuk perlengkapan penelusuran goa (terutama SRT Set), juga perlengkapan tersebut masih sulit dicari di bandung (melalui peminjaman). Hal ini karena masih sedikitnya organisasi MAPALA / Pecinta Alam di Bandung yang berkegiatan dan memiliki peralatan penelusuran goa. Untuk langsung membeli sangat tidak mungkin karena minimnya waktu dan kondisi keuangan kami atau organisasi. Oleh karena itu, kami hanya membawa beberapa perlengkapan yang sekiranya bermanfaat. Aku juga sempat meminjam head lamp milik Astaka dan mengamankan sepatu boot hijau Jimbo yang sebelumnya digunakan untuk berkebun (terima kasih banyak bantuan nya…. : )

Jabek, yang ikut Temu Wicara juga sempat melakukan persiapan teknis. Perwakilan ASTACALA (jabek, onie, sapi, petong) hadir pada pertemuan konsolidasi akhir antara MAPALA se JAWA BARAT di Kampus UPI yang dikoordinasikan oleh MAHACITA. Dalam pertemuan dibahas rencana pencalonan PIN ataupun tuan rumah TWKM XVIII oleh MAPALA yang ada di JAWA BARAT. ASTACALA sempat masuk dalam bursa pencalonan tuan rumah TWKM XVIII. Namun, setelah berkoordinasi degan barudak yang ada di sekre hal ini untuk sementara di tolak dulu, mengingat kondisi ASTACALA yang perlu melakukan pembenahan internalisasi sebelum merambah keluar. Selain itu, petong juga sempat mempersiapkan makalah untuk dipresentasikan pada sidang TWKM XVII, namun karena berbagai hal makalah ini tidak sempat diselesaikan sehingga tidak dapat dipresentasikan.

Dalam hal ini, penulis berpendapat ASTACALA mulai dikenal dan dipercayai oleh MAPALA lain khususnya Bandung untuk mendapat amanah. Selain adanya wacana tuan rumah TWKM XVIII tadi, juga terbukti dengan terpilihnya ASTACALA untuk menjadi PID JAWA BARAT pada TWKM XVII tersebut.

Mudah – mudahan hal ini dapat menjadi dexter yang menambah kekuatan fisik dan mental kawan – kawan ASTACALA dalam menempuh perjalan panjang menundukan puncak – puncak kejayaan kepetualangan. Apapun bentuk nya.

Perjalanan

Minggu, 11 Des 2005


Hari itu akan selalu ku kenang sebagai salah satu hari paling kocak yang pernah ku alami dalam hidup. Bagaimana tidak, pagi itu kami team ASTACALA yang akan ikut TWKM XVII sedang terburu – buru untuk packing kebutuhan kami selama berkegiatan. Mulai dari kolor sampai carabiner screw dan helm menunggu untuk dimasukan dalam tasku yang hanya day pack itu. Bagi ku, day pack ini sedang berada dalam fase test drive , maklum baru beli coy…di counter boogie yang ada di sekre sendiri, lumayan discount 20 %.

Ditengah kesibukan kegiatan itu, aku teringat belum mengambil uang kontan untuk saweran kami dan kiriman dari salah satu jendral yang mesti segera di setor ke komandan Jabek. Belum lagi harus ke kos seorang teman untuk menitipkan surat ijin tidak ikut presentasi tugas besar sabtu depan. Segera saja, aku dan Petong -yang kebetulan bernasip sama- meminjam motor mbak Uuth untuk pergi ke ATM di buah batu. Waktu itu waktu menunjukan jam 09.30 lewat artinya waktu yang ada sangat sedikit, karena jam 10 kami harus sudah berangkat ke pool di leuwi panjang. Packingan ku yang yang hampir selesai segera kutinggalkan dan langsung cabut. Sesampainya di sekre yang saat itu rame –kayak kandang– aku langsung menghampiri day pack untuk menyelesaikan packing an yang belum kelar. Beruntung insting ini masih tetap jalan, aku melihat susunan packing – an sudah berubah bentuk, dan -benar saja– didalamnya penuh dengan benda – benda aneh semacam patung budha, payung, dll. Bangsat…pikirku, ini pasti ulah jacky ato kebo ato makhluk usil lainnya yang sekarang membunyikan pluit dan memukul – mukul meja untuk membuat kami panik.

Akhirnya, kami semua sudah selesai dan siap untuk berangkat. Tak lupa berfose dulu di kebun belakang sekre. Saat itu waktu menunjukan jam 10 lewat. Petong -yang menemukan patung budha di carriernya- kembali membuka packing an sambil menyumpahi pelaku…(heheheh…sapa tuh?). Jacky dan Kebo bersedia mengantarkanku dan ayis. Sementara kawan – kawan yang lain naik angkot / ojeg. Sesampainya di pool, ternyata ada juga penumpang yang lain yang belum datang. Aku menghampiri seorang bapak yang sedang duduk dimeja kerja menyampaikan klo teman ku yang lain sedang di jalan. Duduk menunggu, aku membuka buku catatan, mencoba memikirkan apakah ada yang masih belum kelar. Tak lama kemudian datang ayis, petong, sapi dan terakhir onie – jabek.

Di pool itu kami menunggu cukup lama juga. Petong –sekali lagi- menemukan patung budha di carier nya. Akhirnya, patung itu kami tinggalkan saja di pool. Jam 11 lewat, bus itu pun siap berangkat. Kami diberi kue yang langsung saja kami lahap, maklum belum sarapan..Berjalan cukup kencang, bus itu akhirnya berbalik lagi setelah masuk tol. Saat itu hingga bus kembali ke pool, aku tidak berfiirasat apa – apa. Hingga kami menunggu sampai jam 3 siang, aku mulai menghampiri bapak tadi menanyakan bagaimana nasip kami. Akhirnya, dengan raut menyesal beliau mengatakan tidak ada ada harapan lagi dan kami harus mencari alternative angkutan lain. Siaaaal…aku -sambil berusaha menjaga emosi ini- menyampaikan sesalku kenapa hal ini tidak dikatakan dari tadi, karena kami mungkin bisa naik bus ekonomi yang berangkat sekitar jam 2.30 siang. Akhirnya setelah negosiasi, uang kami dikembalikan 100%. Kami diberi info bahwa kami bisa menanti bus ke merak dipintu tol.

Duduk di trotar, kami beberapa kali melewatkan bus ekonomi ke merak. Kami sepakat naik eksekutif karena lewat cipularang, sehingga lebih cepat sampai ke merak. Tapi kemudian lewat juga bus ekonomi yang juga lewat cipularang. Kami pun naik bus ini.

Di dalam bus, aku sempat mengirim sms singkat ke Jimbo dan Oelil menanyakan bagaimana kondisinya di merak kalau kami mau nyebrang. Keduanya langsung reply. memberikan saran yang berbeda. Jabek – yang saat itu menghubungi pak kebo – di sarankan untuk turun dijakarta, nginap di warnet macan kemudian naik pesawat senin pagi. Usul itulah yang akhirnya kami lakukan, karena selain cemas bercampur was – was bagimana starategi kami di merak nanti, kami juga harus tiba di jambi sebelum sore – yang tidak akan mungkin terjadi klo nyambung – nyambung…- , karena lokasi Kenal Medan yang katanya sangaaaaat jauh.

Kejadian ini sungguh mengajarkan kami untuk bereaksi cepat. Bagaimana tidak, waktu itu rencana menggunakan pesawat tidak ada sama sekali di benakku. Artinya, hitung – hitungannya adalah naik ekonomi atau nyambung – nyambung. Alternatif pertama langsung gugur, karena pada saat negosiasi dengan agen agar duit kembali penuh, waktu sudah menunjukan pukul 3 siang lebih. Artinya lagi, bus ekonomi manapun sudah berangkat beberapa saat yang lalu. Alternatif kedua yang bernasip sama akhirnya mengantarkan kami pada the last chance.


Sesampainya di Jakarta, kami turun di depan RS Harapan Kita. Naik mobil ke Kampung Rambutan kemudian ke Lebak bulus –sebelumnya sempat nyasar dulu– akhirnya kami tiba di warnet macan. Saat itu, orang yang dicari sedang tidak ditempat. Setelah meletakan barang bawaan, kami kemudian menuju warung nasi terdekat, memesan makanan yang ada tanpa berpiir tentang harga. Saat itu jam 11 malam lewat, perut ini sudah menjerit minta diisi karena memang belum makan seharian. Akhirnya terjadilah : tagihan kami menunjukan angka 80 ribu lebih..sudahlah, toh ini jatah 3 kali makan… Kembali ke warnet macan, kami langsung saja bebersih dan istirahat karena besoknya harus sudah siap dijemput Bos Otong jam 5 pagi karena kami berencana naik pesawat jam 7.

Senin, 12 Des 2005

Jam 4 pagi itu, aku dan jabek sudah siap tempur. Sambil menunggu Bos Otong dan tak lupa membangunkan anak – anak, aku sempat membuka astacala.org dan login dengan account jabek, menyampaikan kabar terbaru kami di fordis. Sedikit cemas juga, karena Bos Otong yang dari tadi di miss call ga ngangkat telp nya. AKhirnya, jam 6 kurang kami di jemput si Bos dengan mobil vioz baru nya itu…..cieeeee.

Tiba di sukarno Hatta jam 7 lewat, kami membagi tugas : Petong ke Mandala, Sapi dan aku ke Sriwijaya Air, Jabek – Ayis ke ATM untuk ambil uang cash. Saat itu penerbangan terdekat hanya jam 13.30 dengan sriwijaya Air (yang jam 7 baru saja take off..). Harga tiket sewaktu aku tanyakan adalah 330 ribu. Kami kemudian berembuk dulu, karena asumsi awal kami harganya kurang dari 250 ribu. Setelah deal –10 menit kemudian- aku memesan dan kaget, harga tiket tadi sudah menjadi 350 ribu..siaaaaal. Menurut mbak nya, harga ini naik tiap detik sesuai perkembangan pemesanan. Akhirnya kami pun pasrah dan memesaan 6 seat..hik hik hik

Karena jadwal penerbangan yang masih lama, kamipun di ajak ke grogol untuk sarapan oleh si bos, sementara beliau sendiri harus ke kantor sebentar untuk meeting…..Setelah sarapan, kami menunggu di trotoar sambil terbahak – bahak memikirkan kisah kami hingga hari ini. Jam 11.30 lewat yang ditunggu belum juga datang, padahal kami harus boarding pass maksimal jam 12.30. Sms pun dikirimkan..dan tak lama si bos pun nongol.


Di area parkir dan di dalam pesawat kami masih sempat berfose, mengabadikan momen langka ini…kapan – kapannya anak ASTACALA jalan naik pesawat???. Kami tiba di Bandara Sutan Taha jam 14.30. Oh ya, dari Sukarno Hatta kami bareng dengan Cholish, anak UPN Veteran Jogja yang akan ikut Temu Wicara. Dari bandara kami naik 2 kali angkot – style musiknya khas alias keras ngujubileh coy…- kemudian langsung menuju kampus Unja Telanaipura, karena menurut teman jabek kami kumpul di sana dulu. Ternyata disana kami disambut suasana sepi. Kami menuju sekretariat SIGINJAI, dan benar saja : kami hanya menemui 3 orang panitia. Setelah berkenalan sebentar, kami diberi tahu bahwa kami harusnya ke kampus Mendalau. Disanalah kami harus mendaftar kemudian diberangkat ke lokasi. Beruntung ada mobil pick up panitia yang memang berniat ke mendalau untuk mengantar beberapa barang. Akhirnya kami melaju dan tiba 10 menit kemudian kemudian langsung mengurus administrasi dll.
Karena keterlambatan ini, kami melewati pembukaan dan stadium general. Sambil menunggu keberangkatan ke lokasi masing –masing, kami makan dengan nasi bungkus yang diberi panitia. Kami berkenalan dengan kawan – kawan lain yang juga nongkrong di depan aula itu : dari Padang, Makassar, Jakarta, Lampung, dll. Kawan – kawan ITB saat itu juga sedang menunggu seorang teman yang berangkat dengan penerbangan jam 15.30.
Sore itu, peserta setiap divisi sempat briefing dengan panitia. Kami (divisi arum jeram, caving dan panjat tebing) diberitahu untuk sudah bersiap – siap ba’da magrib ini untuk berangkat – dengan bus carter ekonomi – ke Merangin, sementara itu divisi gunung hutan (yang jumlah nya 40 orang lebih / sejumlah 3 divisi lain) di bus terpisah (AC coy…..bikin sirik deeeh).
Kami tiba di Merangin jam 2.30 pagi. Lelah dan mengantuk, kami segera bebersih dan instalasi tempat bobok di aula dinas pariwisata Kabupaten Mendalau itu. Beberapa kawan juga tampak memasang hammock. Sial bagi petong, ketika membuka carrier nya ia menemukan sebuah kipas angin kecil putih ter packing dengan rapi di dalamnya. Sempat shock sebentar, ia akhirnya hati – hati memindahkan barang – barang itu ke carrier sapi supaya tidak terlihat yang lain sewaktu mengambil perlengkapan tidur. AKu teringat pesan Momesh sebelum berangkat ke pool (sebelumnya aku ga ngerti maksudnya), “Dek, jagain Petong ya…nanti mungkin mentalnya kena di sana. Pokoknya kamu jagain yah..”…gilaaaaaaaa
Selasa, 13 Des 2005
Setelah terobati tidur cukup nyenyak, kami segera mandi atau sekedar cuci muka. Pagi ini akan dilakukan upacara pelepasan dengan Bupati Merangin. Gladi bersih yang dipimpin oleh staf pemda cukup kacau, karena anak – anak ogah – ogahan untuk nyanyi lagu Indonesia Raya (kebayang false nya gimana?????). Dengan frustasi, si bapak berkata “Klo di cina nyanyi lagu kebangsaan sambil main – main bisa dihukum gantung..”. Tak lama kemudian, terdengar celetukan kawan dibelakang “Klo di cina, ngomong sambil kumis goyang – goyang bisa dihukum gantung pak…!!! ”. Si Bapak yang memang punya kumis style Hitler itu langsung pergi dengan muka merah. Lama juga menunggu pimpinan upacara kita, yang oleh kawan – kawan dipanggil Bupati Cina. Kami sempat sarapan dan akhirnya jam 10.30 datang juga Wakil Bupati menggantikan, upacara pun dilangsungkan. Dengan serius, kawan – kawan bernyanyi lagu Indonesia Raya (beda banget dengan gladi bersihnya!!!! anak MAPALA getoo lho….). Upacara tidak berlangsung lama dan diakhiri dengan foto bersama.

Sambil menunggu angkutan datang, kami berfose dulu di tepi sungai batang merangin yang ada di depan aula itu. Setelah mobil jeep team Caving datang, kami pun berpamitan dengan kawan – kawan tebing dan sungai. Di mobil yang ukurannya mirip Rover nya Gapoeng itu, kami berhimpit – himpitan 13 orang bersama bahan makanan. Kami memutuskan untuk makan siang nanti, karena baru saja menyantap sarapan yang terlambat datang.
Jalan menuju Sengayau sungguh menakjubkan. Bagaimana tidak, tiap saat kami diguncang oleh lubang yang menganga hingga salah seorang kawan dari jogja sempat nyeletuk “Klo nih jalan disamaain kayak sungai, mungkin udah sama kayak Colorado neh….”. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 6 jam (ditambah aksi dorong mobil juga…..). Mobil yang kami tumpangi ini adalah mobil Departemen Kehutanan, dan sopirnya yang juga Ranger Taman Nasional Gunung Kerinci itu terlihat sudah sangat mengenal mobil yang digunakan. Namun, karena memang medan yang terlalu sulit akhirnya sang sopir menyerah (setelah melewati Dusun Dalam) dan kami pun pindah ke truk pak Sahar yang kebetulan dibelakang rombongan kami. Truk ini mengangkut batu sungai untuk menutup lobang di jalan. Dari yang penulis lihat, didalam truk dijumpai beberapa mesin pemotong kayu, sehingga kemungkinan juga digunakan untuk mengangkut kayu tebangan dari hutan.

Di tengah perjalanan kami berhenti, karena pemiliki truk ingin mengambil batu di sungai. Kami pun menggunakan kesempatan ini untuk makan siang di tepi sungai (jalan yang kami lalui memang sejajar dengan sungai). Waktu itu hari menunjukan jam 3 siang lebih. Selama perjalanan, kami menggunakan kesempatan ini untuk saling mengenal. Di rombongan kami ada 10 peserta (5 putri, 5 putra….pas banget yaaa) : Abon (Mapa Gundar); Jeffry yang kuliah di UNSOED (ASTADECA); Datuak – anak gunung gutan yang pengen nyoba Caving (PAKSI ARGA); Catur yang kami panggil babie romeo, karena memang mirip (Wanapala UNAIR); Berry (KMPA Ganesha); Sanny yang kami pangil “Mpok” karena mirip mpok nya Alhm. Benjamin (MAPAGAMA); Getol (JAYAGIRI); Bebek – seorang kawan yang setahun lalu sempat ngajarin aku, jabek dan kupret latihan SRT di jogja (MAPALA UNISI), terakhir aku dan onie. Sedangkan panitia yang mengiringi : Robi (Koordinator), Rika (Sekretaris) dan Sri (Bendahara).


Oh ya, di desa kami sempat diberi jajanan khas oleh penduduk yang bentuknya seperti dodol namun lebih keras dan pecah dimulut. Setiba nya di jambi kelak, aku baru mengetahui bahwa makanan ini hanya ada di Sengayau saja. Aku menyesal juga tidak sempat membawa nya. Kami tiba di basecamp jam 6 sore lebih (lokasi tepat setelah melewati jembatan permanen ke 3). Sesampainya di sana, aku bergegas sholat zuhur- ashar dulu walaupun ga yakin belum magrib. Sesudahnya kami instalasi dan bebersih.

Di basecamp sudah ada team pendarat : Eka (KPA Elang Gunung), Fahmi (SWAT Stikom), Bowo (KPA Pamalayu), Pahlevi (Siginjai) dan instruktur kami : Jibrik dan Ben (MAKOPALA Budi Luhur). Malam itu hanya diisi ngariung dengan instruktur yang berasal dari Jakarta (Ben dan Jibrik). Kedua nya cukup asyik karena lucu, dan cerita kami berlanjut ke kisah eksplorasi yang diselingi pertanyaan – pertanyaan ringan seputar alat / kasus yang ditemui.

*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom

To be continue..





Pesona Goa Negeri Angso Duo (1)

24 09 2006

Catatan perjalanan Caving TWKM XVII
Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Gua selalu merupakan sesuatu yang mampu membuat manusia takjub, tidak hanya karena bentukan bumi ini menunjukan dengan jelas fakta kekuasaan Tuhan YME tapi juga karena misterinya yang menanti untuk disingkap. Begitu banyak hal dalam gua yang akan membuat setiap caver (sebutan untuk penggiat caving) bertanya – tanya apakah gerangan yang ada dan ditemui di dalam nya. Caver berada dalam keadaan gelap yang terkadang mencekam, hingga untuk melihat tangan sendiri pun tak akan bisa. Bau nya guano, suara gemericik air, kepakan sayap kelelawar atau semilir angin berhembus mungkin akan menemani langkah para caver saat menelusuri gua.

Oleh karena itu, dari jaman purba hingga saat ini gua masih merupakan objek menarik untuk di eksplorasi. Namun, gua juga merupakan bentukan alam yang mampu mengantarkan setiap caver pada maut. Hingga lahirnlah speleologi dan teknologi peralatan penelusuran gua yang kain hari samakin berkembang, semua bertujuan untuk mengamankan dan menyamankan caver dalam melakukan kegiatan penelusuran gua.


Speleologi di Indonesia masih terbilang baru dibandingkan kegiatan kepetualangan lain yang sudah lebih dahulu dikembangkan. Sejak tahun 1980 an, mulai berdiri berbagai klub speleologi dan kemudian merambah ke organisasi pecinta alam di lingkungan kampus (MAPALA). ASTACALA – di umurnya yang ke 13 – hingga saat ini memang belum berkecimpung dalam kegiatan caving ini. Namun tercatat beberapa anggota ASTACALA pernah mengikuti kegiatan pelatihan resmi / tidak resmi semacam TWKM atau sekedar latihan bersama dengan beberapa kawan anggota MAPALA di jogjakarta (yang memang gudangnya caving red).

Temu Wicara dan Kenal Medan pada mulanya disepakati sebagai agenda tahunan pertemuan dan forum komunikasi tertinggi MAPALA se – Indonesia. Mulai tahun 1989 (TWKM II, MAHACITA UPI Bandung ) dilaksanakan kegiatan latihan bersama kepetualangan seperti Mounteneering, Climbing, Caving, Rafting, dll sesuai dengan potensi daerah tempat diselenggarakannya TWKM.

Secara rutin TWKM telah dilaksanakan sebanyak 16 kali dengan penyelengara dan tempat yang berbeda. Pada tahun 2005, sesuai dengan keputusan TWKM XVI maka tuan rumah TWKM XVII dipegang oleh MAPALA SIGINJAI, Universitas Jambi.

Pada TWKM XVII ini juga dilaksanakan kegiatan Kenal Medan Divisi Caving sebagai salah satu materi. Sebagai medan operasi dipilih beberapa gua pada komplek Gua Sengayau di Kabupaten Sarolangun. Kegiatan Kenal Medan Divisi Caving yang diikuti oleh 10 organisasi MAPALA dilaksanakan selama 5 hari. Pada kegiatan ini peserta dikenalkan peralatan dan teknik penelusuran gua khususnya gua vertikal. Hal ini tidak bertujuan untuk menyamakan prinsip dan mekanisme yang digunakan (karena terdapat beberapa perbedaan penggunaan alat) namun lebih kepada sharing ilmu.

ASTACALA yang juga mengirimkan anggotanya untuk mengikuti Kenal Medan Divisi Caving menggunakan kesempatan ini sebagai ajang untuk mendapatkan informasi sebanyak – banyaknya baik dalam hal pengetahuan maupun informasi lain untuk membantu dalam mengembangkan kegiatan penelusuran gua di ASTACALA di masa mendatang.

Fakta ini menurut penulis adalah salah satu bentuk ketertarikan kawan – kawan untuk merambah ilmu speleologi ataupun sekedar melakukan penelusuran gua. Mudah – mudahan dengan ikut sertanya ASTACALA dalam divisi ini dapat menambah referensi kegiatan caving yang sudah ada dan membantu dalam mengembangkan cabang ilmu ini di ASTACALA. Amien


Mengenal Medan Komplek Gua Sengayau

Kegiatan eksplorasi pada Kenal Medan Divisi Caving dilaksanakan dari Senin – Minggu / 12 – 18 Desember 2005, dengan medan operasi di Komplek Gua Sengayau. Daerah administrativ yang menaungi komplek gua Sengayau memiliki kawasan bukit yang terdiri dari batuan karst. Daerah ini memang kaya dengan potensi gua, baik untuk kepentingan penelitian, wisata maupun sarang walet.

Hal ini dibuktikan dengan telah dibangunnya jalan dan jembatan beton permanen menuju lokasi yang memang cukup jauh dari pusat kota jambi. Namun – mungkin – karena perubahan orientasi daerah, akhirnya pemeliharaan dan pengembangan fasilitas yang telah dibangun tidak dilanjutkan lagi dan saat ini berada pada kondisi tidak terawat.

Basecamp rombongan didirikan tepat di tepi jembatan ke 3 yang menghubungkan dengan dusun terdekat. Untuk sampai ke lokasi gua tempat dilakukan nya eksplorasi, kita harus mendaki bukit dahulu (kurang dari 1 jam dari basecamp). Komplek ini sejak dulu merupakan arena berlatih caving bagi MAPALA SIGINJAI, sehingga panitia telah cukup mengenal penduduk dan medan sekitar. Namun karena keterbatasan peralatan, belum semua gua yang bisa ditelusuri, hanya melalui entrance horizontal saja.


Namun mayoritas gua ini justru sudah dimasuki oleh penduduk sekitar yang memang memanen serta menjaga sarang walet. Biasanya sarang wallet ini dipanen setiap 2 bulan sekali. Sewaktu diadakannya kegiatan ini, petani – petani walet ini sedang bersiap melakukan panen 2 minggu lagi.

Kondisi gua tersebut juga tercemari, antara lain dengan ditemukannya berbagai bentuk vandalisme dan perusakan ornamen gua. Hal ini, menurut penulis karena kurangnya pengetahuan penduduk tentang pentingnya menjaga kondisi gua. Para petani walet ini juga tidak jarang kehilangan nyawa mereka, terutama karena terjatuh dari ketinggian saat melakukan penelusuran gua untuk memanen / menjaga sarang walet di gua tersebut. Petani ini hanya menggunakan peralatan seadanya seperti tonggak dari kayu yang ditebang dan tali tambang kapal. Dari percakapan singkat penulis dengan salah seorang petani yang bernama Jala, ada seseorang yang tewas saat mencoba mencuri sarang walet dan mencoba menuruni entrance gua vertikal setinggi 15 m. Kejadian ini kurang dari 1 bulan lalu dan almarhum ditemukan 1 minggu setelahnya. Rescue kemudian dilakukan dengan peralatan seadanya semacam tali tambang kapal.

Gua yang sempat dieksplorasi berjumlah 3 gua yaitu Gua Sentot, Gua Kadir serta Gua Mesjid. Nama Gua sentot dan Kadir diambil dari nama penduduk yang pertama kali menemukan gua tersebut. Kedua gua ini memiliki entrance vertikal, Sentot sedalam 60 m lebih dan Kadir sedalam 30 meter lebih. Gua Sentot memiliki siphon sehingga kemungkinan bisa dijadikan lokasi cave diving. Pintu horizontalnya tembus ke dekat lokasi air terjun, dimana ketika memasuki melalui pintu ini dari lokasi basecamp kita akan menemukan banyak entrance gua yang lain. Gua Kadir dengan entrance vertikal yang sempit dan miring tidak memiliki pintu horizontal, karena setelah tiba didasar gua akan ditemui pangkal gua sekitar 3 meter didepan. Nama Mesjid adalah salah satu lorong entrance, nama ini berasal dari salah satu ornamen yang mirip dengan posisi orang sedang melakukan sholat (ruku’). Menurut guide, di gua ini setiap lorong diberi nama dan mayoritas semua pintu berhubungan (berlabirin / bercabang). Sewaktu penelusuran, team kami hanya sempat memasuki 4 dari 7 lorong yaitu lorong Mesjid, Batang, Jongkok dan Pulau.

Di komplek ini juga terdapat gua yang disebut dengan Gua Putih dimana tebingnya terlihat dari kejauhan berwarna putih. Hal yang menarik adalah gua ini belum pernah dimasuki, baik oleh penduduk untuk mengambil sarang walet atau penelusur gua. Karena, walau pintu nya terlihat dari kejauhan namun setelah didekati pintu ini tidak akan ditemukan. berdasarkan cerita penduduk setempat, didalamnya terdapat istana. Walahuallam…

*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom

To be Continue..