Tentang kebesaran jiwa

27 07 2009
Hmm..cuma ingin sharing pesan pak Mario Teguh yang sempat aku ikuti beberapa minggu lalu, tentang kualitas ‘kebesaran’ manusia. Ini dia kira – kira cukilan makna dari pembicaraan beliau itu, mudah – mudahan bermanfaat.

Orang yang ‘besar’ jika mendapat masalah akan bereaksi seperti orang ‘besar’. Hanya orang “kecil” yang merasa sakit ketika disakiti hal – hal kecil. Ambillah contoh dari orang ‘besar’, dan ketika mendapat masalah tanyakan pada diri sendiri, “jika orang ‘besar’ mendapat masalah seperti ini, apa yang akan dilakukannya ?”

Apapun masalah yang kita temui, cari yang baik, syukuri halangan itu dan bereaksilah dengan baik seperti layaknya orang ‘besar’. Karena, kualitas ‘kebesaran’ seseorang itu tidak dilihat dari reaksinya atas hal – hal yang telah ia duga atau rencanakan, tapi oleh hal – hal yang tak terduga atau bahkan yang tak pernah diharapkan.

Advertisements




hey die Welt,das bin Ich

27 05 2008
Orang-orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan ketenangan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata. Karena itu jika anda dalam pergumulan yang sangat berat dan merasa ditinggalkan sendiri dalam hidup, angkatlah kepala ke atas karena kemungkinan anda sedang dipersiapkan untuk menjadi orang yang luar biasa. (anonimous)





Mengapa Al – Kahfi

26 11 2007
Tulisan ini sebenarnya sudah ingin direalisasikan beberapa minggu yang lalu. Namun seperti yang dibilang pak Budi Rahardjo dalam yang satu itu, sungguh banyak elemen yang menghambat kita untuk merealisasikan ide ke dalam tulisan. Entah malas, media saat itu meruntuhkan mood, faktor lingkungan, dan lain sebagainya.

Namun setelah membaca tulisan mas Artja, aku sempat tertegun sejenak dan sekejab segera ingin merealisasikan. Dan sejujurnya dalam hati jadi bertanya – tanya juga, mengapa mas Artja menuliskan tentang iitu.

Mengapa Al – Kahfi ?
Mungkin ada pertanyaan seperti itu yang terbersit ketika blogger mengunjungi beranda ini. Terutama diawal – awal ketika kucoba menjadikan media ini sebagai curahan kegelisahan dan baru berkorespondensi dengan blogger lain. Sebab memang tak ada sedikitpun penjelasan yang pernah kutulis, mengapa saya mencantumkan Al-Kahfi.

Sebagian mungkin akan ada yang berpikir “sedang sok ke arab – araban saja“, atau “pengen keren cari icon“, atau “memang lagi inget kata itu aja“. Tapi terus terang disaat awal itu, aku malah tidak berniat orang lain tau tentang tempat ini. Bahkan ia sempat dijadikan sebagai “secreat place..just betwen me and my self (halah..). Tidak perlu ada link, tidak perlu komentar, tidak perlu sapaan di shoutbox, dll. Karena ya itu tadi…hanya sebagai media untuk mencurahkan kegelisahan. Dan sejujurnya, aku cukup terganggu ketika ada yang mengetok pintu di beranda ini. Tanda – tandanya, ya..kemampuan menulis ku (atau keinginan..?) drastis menghilang. Aneh bukan ?

klo ga mau dibaca orang lain, ya jangan letakan kontennya di internet…aneh banget“, mungkin begitu kalimat seperti itu yang awalnya tak akan mampu kutangapi. Namun kemudian aku teringat sesuatu. Dulu, orang bahkan memasang kunci khusus di buku hariannya agar orang lain tak bisa membaca isi didalamnya tanpa izin. Namun sekarang lihatlah, blog justur menjadi media favorit untuk menuliskan segala sesuatu (kisah cinta, argumen, kritik, puisi…?) untuk dibaca orang lain, bahkan mengharapkan komentar sebanyak mungkin.

Terlepas dari perubahan paradigma dan esensi lainnya, bukankah hal ini juga cukup aneh ?

Seiring berjalannya waktu juga, momen mengunjungi beranda tetangga, menyelami pemikiran dan memahmi rasa yang menyertai tulisan disana (dan kadang menuliskan komentar beserta link balik…), juga akhirnya menjadi hal yang menarik untukku. Silaturahim ini, walaupun di dunia maya dan dengan orang – orang yang bahkan tak dikenal ternyata mampu memberikan rasa yang beda dan perlahan mengantarkan benih inspirasi untuk menambah area beranda ini. Membuatku mencoba menggali lagi sisi lain area otak dan hati ini.

Berubah haluan…mabuk blog…atau apapun namanya, yang jelas aku sudah jatuh hati. Mulai dari sikap terhadap blog itu sendiri dan isinya, serta dunia didalamnya.

Mengapa Al – Kahfi ?
Pertanyaan ini belum kujawab juga.
Blog ini ada di awal tahun 2006 lalu, itupun baru mulai diisi dengan tulisan beberapa bulan kemudian. Aku teringat, saat itu adalah periode ketika dunia petualangan penelusuran gua dan konservasinya sangat menarik perhatiankua..walaupun hingga saat ini, belum banyak kontribusi yang dapat kuberikan, malah membawa lebih banyak orang lagi untuk memasuki gua.

Namun setidaknya, ini menjadi rangkaian usaha kecil untuk membuat petualang muda ini setidaknya mengenal, ada lingkungan jauh di bawah kaki ini berpijak, yang sangat indah dan peka serta pasti membutuhkan perhatian…tidak hanya sekedar untuk dikunjungi, potret – potret sana sini, lalu pulang. Ada harapan yang membuncah, bahkan hingga saat ini..Caver – caver baru ini menjadi intelektual muda yang peka dan cerdas dengan “tempat bermainnya”.

Al-Kahfi sendiri, sepengetahuanku adalah kata dalam bahasa arab untuk “gua” dan sekaligus yang menjadikannya istimewa, menjadi salah satu nama ayat dalam Al – Qur’an, segala sumber pengetahuan. Jelas blog ini, tidak akan sanggup membahas seluk beluk makna yang terkandung dalam surat tersebut (yang sudah dibahas dengan sangat menarik di pantai keempat).

Al – Kahfi bagiku, hanyalah tempat perlindungan sementara dan beristirahat atau mungkin mencari setitik ketenangan, dari morat – marit kebisingan dunia dan realita hidup yang terkadang membutuhkan waktu untuk dipahami.

Al-Kahfi, insya Allah hanya akan menjadi beranda sederhana saja, yang menemaniku disela – sela pelarian; dari kekuasaan kegelisahan atau gejolak kemarahan.





Mengapa Al – Kahfi

26 11 2007

Tulisan ini sebenarnya sudah ingin direalisasikan beberapa minggu yang lalu. Namun seperti yang dibilang pak Budi Rahardjo dalam yang satu itu, sungguh banyak elemen yang menghambat kita untuk merealisasikan ide ke dalam tulisan. Entah malas, media saat itu meruntuhkan mood, faktor lingkungan, dan lain sebagainya.

Namun setelah membaca tulisan mas Artja, aku sempat tertegun sejenak dan sekejab segera ingin merealisasikan. Dan sejujurnya dalam hati jadi bertanya – tanya juga, mengapa mas Artja menuliskan tentang iitu.

Mengapa Al – Kahfi ?
Mungkin ada pertanyaan seperti itu yang terbersit ketika blogger mengunjungi beranda ini. Terutama diawal – awal ketika kucoba menjadikan media ini sebagai curahan kegelisahan dan baru berkorespondensi dengan blogger lain. Sebab memang tak ada sedikitpun penjelasan yang pernah kutulis, mengapa saya mencantumkan Al-Kahfi.
Sebagian mungkin akan ada yang berpikir “sedang sok ke arab – araban saja“, atau “pengen keren cari icon“, atau “memang lagi inget kata itu aja“. Tapi terus terang disaat awal itu, aku malah tidak berniat orang lain tau tentang tempat ini. Bahkan ia sempat dijadikan sebagai “secreat place..just betwen me and my self (halah..). Tidak perlu ada link, tidak perlu komentar, tidak perlu sapaan di shoutbox, dll. Karena ya itu tadi…hanya sebagai media untuk mencurahkan kegelisahan. Dan sejujurnya, aku cukup terganggu ketika ada yang mengetok pintu di beranda ini. Tanda – tandanya, ya..kemampuan menulis ku (atau keinginan..?) drastis menghilang. Aneh bukan ?

klo ga mau dibaca orang lain, ya jangan letakan kontennya di internet…aneh banget“, mungkin begitu kalimat seperti itu yang awalnya tak akan mampu kutangapi. Namun kemudian aku teringat sesuatu. Dulu, orang bahkan memasang kunci khusus di buku hariannya agar orang lain tak bisa membaca isi didalamnya tanpa izin. Namun sekarang lihatlah, blog justur menjadi media favorit untuk menuliskan segala sesuatu (kisah cinta, argumen, kritik, puisi…?) untuk dibaca orang lain, bahkan mengharapkan komentar sebanyak mungkin.

Terlepas dari perubahan paradigma dan esensi lainnya, bukankah hal ini juga cukup aneh ?

Seiring berjalannya waktu juga, momen mengunjungi beranda tetangga, menyelami pemikiran dan memahmi rasa yang menyertai tulisan disana (dan kadang menuliskan komentar beserta link balik…), juga akhirnya menjadi hal yang menarik untukku. Silaturahim ini, walaupun di dunia maya dan dengan orang – orang yang bahkan tak dikenal ternyata mampu memberikan rasa yang beda dan perlahan mengantarkan benih inspirasi untuk menambah area beranda ini. Membuatku mencoba menggali lagi sisi lain area otak dan hati ini.

Berubah haluan…mabuk blog…atau apapun namanya, yang jelas aku sudah jatuh hati. Mulai dari sikap terhadap blog itu sendiri dan isinya, serta dunia didalamnya.

Mengapa Al – Kahfi ?
Pertanyaan ini belum kujawab juga. Blog ini ada di awal tahun 2006 lalu, itupun baru mulai diisi dengan tulisan beberapa bulan kemudian. Aku teringat, saat itu adalah periode ketika dunia petualangan penelusuran gua dan konservasinya sangat menarik perhatiankua..walaupun hingga saat ini, belum banyak kontribusi yang dapat kuberikan, malah membawa lebih banyak orang lagi untuk memasuki gua.

Namun setidaknya, ini menjadi rangkaian usaha kecil untuk membuat petualang muda ini setidaknya mengenal, ada lingkungan jauh di bawah kaki ini berpijak, yang sangat indah dan peka serta pasti membutuhkan perhatian…tidak hanya sekedar untuk dikunjungi, potret – potret sana sini, lalu pulang. Ada harapan yang membuncah, bahkan hingga saat ini..Caver – caver baru ini menjadi intelektual muda yang peka dan cerdas dengan “tempat bermainnya”.

Al-Kahfi sendiri, sepengetahuanku adalah kata dalam bahasa arab untuk “gua” dan sekaligus yang menjadikannya istimewa, menjadi salah satu nama ayat dalam Al – Qur’an, segala sumber pengetahuan. Jelas blog ini, tidak akan sanggup membahas seluk beluk makna yang terkandung dalam surat tersebut (yang sudah dibahas dengan sangat menarik di pantai keempat).

Al – Kahfi bagiku, hanyalah tempat perlindungan sementara dan beristirahat atau mungkin mencari setitik ketenangan, dari morat – marit kebisingan dunia dan realita hidup yang terkadang membutuhkan waktu untuk dipahami.

Al-Kahfi, insya Allah hanya akan menjadi beranda sederhana saja, yang menemaniku disela – sela pelarian; dari kekuasaan kegelisahan atau gejolak kemarahan.





Hmm

3 06 2007

Aku membaca kalimatmu ini..

…..
ich habe meine leiche gesieht…
es ist aus.
wenn du mich lieben würdest,dann wärest du bei mir.

……
lagi..lagi dan lagi..
……

masih belum mengerti juga ding..

nb :
oh ya, aku ingat kamu dulu suka Ode To My Family – nya The Cranberries.
Aku tau itu waktu kita lewatkan waktu berdiskusi hingga larut.
Sudah lama ya ? tapi itu tidak begitu penting..
karena aku sedang mendengarkannya sekarang
sambil mengingat itu semua walau kenangan wajahmu sudah buram dalam ingatanku





[ …………. ]

8 12 2006
Mungkin tak ada yang perlu dituliskan lagi
Karena tak ada kata yang patut terucap
Dan wajahmu masih memenuhi ingatan ku

………….

Coz i still in love with you

Al – Kahfi





[ …………. ]

8 12 2006

Mungkin tak ada yang perlu dituliskan lagi
Karena tak ada kata yang patut terucap
Dan wajahmu masih memenuhi ingatan ku

………….

Coz i still in love with you

Al – Kahfi