Catatan – catatan terakhir

23 07 2009
Aku teringat, dulu sekali, dan..pun kembali saat ini, kita semua pernah sepakat, pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi rangkaian rutinitas yang tak syarat arti. Pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi retorika yang memuakan. Pendidikan kita harus menjadi momen untuk kita berbenah, menjadi saat untuk kita introspeksi diri.

Sebelum kita membantu untuk membuka pintu kesempatan bagi lebih banyak jiwa muda ini menjadi ASTACALA dan mengenalkan tentang hakekatnya, pada saat itulah selambat – lambatnya kita membuka pintu kesempatan untuk masing – masing diri ini, “sudahkah kita menjadi benar – benar seorang ASTACALA ?”

Sebelum kita berbagi pengetahuan dengan jiwa – jiwa yang membakar semangat ini tentang misteri tanpa batas alam, pada saat itulah saat yang tepat untuk kita bertanya – tanya pada diri ini, “Sudahkah kita cukup berendah hati untuk berkawan dengan alam ?”

Kawan, berhentilah berbicara tentang sesuatu yang absurd. Kemarilah, hiruplah secangkir kopi hangat yang ini bersamaku. coba kita dengarkan sesaat bunyi sayup suara malam kerimbunan hutan ini, mungkin diantara bisikan nya, ada suara hati yang bisa kita dengar. Tentang cerita yang tak ingin kau dan aku katakan dalam lisan. Taukah kau, betapa muaknya aku dengan semua retorika rutinitas ini ? yang membuat kita tak mampu berbicara lagi satu sama lain dengan bahasa hati.

Sahabat, duduklah disini bersamaku, didepan perapian ini yang tadi kita buat ditengah menggigilnya tubuh kita diterjang badai tadi. Mari, kita nikmati hangat yang akan segera berakhir ini. karena, sebentar lagi cakrawala segera menjemput kegelapan pekat malam dan menggantikannya dengan hangat mentari pagi.

Dan saudaraku, percayalah padaku, karena saat ini puncak dinginnya malam telah datang, yang menandakan sebentar lagi langit malam ini akan pergi. Mari kita nikmati kebersamaan untuk merenungi misteri hidup, karena tentu adalah suatu kepastian, jiwa kita tak akan selamanya miliki kesempatan.

Catatan terakhir sebelum aku beranjak, untuk ASTACALA.

Bandung, Desember 2008
-Enam Dua-

Advertisements




gute Fahrt

3 12 2007
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa..Redalah reda …
Waktu terus bergulir..Semuanya mesti terjadi..
Daun-daun berguguran. Tunas-tunas muda bersemi
-iwan fals, satu-satu-

siapa yang berhak menentukan seseorang benar – benar ASTACALA atau bukan ?
PR kah ?
Badan diklat kah ?
sidang anggota muda kah ?
pendidikan dasar kah ?
….
atau tanda tangan ketua ASTACALA ?
….
karena pertanyaan ini yang sontak memukul ketika selembar surat pengunduran diri ada ditanganku.

——————-
Kak, sibuk ga?“, begitu sapaan yang mengejutkanku di kamar samping yang kita sebut gua selarong ini. pertanyaan ini juga yang sering kudapatkan sejak maret lalu, entah bagaimana caranya orang yang bukan siapa – siapa tiba- tiba jadi tampak begitu sibuk hanya karena selembar surat keputusan pengangkatan ketua ASTACALA disahkan. entahlah. yang jelas saat itu pasti aku tak begitu sibuk kecuali menikmati kepala yang nyut – nyutan sejak siang tadi.

haa ya, Ada apa?“, jawabku sekenanya, ternyata adikku yang membangunkan saat itu.

Ini“, lalu diserahkannya amplop putih itu, yang sebelumnya sudah kubaca isinya dan kukembalikan lagi pada yang memberikan, seraya kuminta yang bersangkutan memberikannya langsung. mungkin sejak saat pagi itu migrain ku kambuh.

Lalu kubuka saja amplob itu, mencoba membaca isi yang sudah kuhafal apa kalimatnya , memcoba untuk tampak membaca meski mataku menolaknya. Lalu kutarik saja nafas panjang, mungkin mencoba untuk melepaskan energi kekecewaan yang teramat sangat sudah kutahankankan entah berapa lama, atau menahan sisa pertanyaan ” mengapa” yang tak akan terjawab hingga sang waktu menginginkannya.

hmm..apa ini maksudnya?“, ucapku
aku mau mengundurkan diri”, jawabnya.
lalu episode lain percakapan tak ada arti menyapa kami, meninggalkan buih yang akan hilang digulung ombak waktu.

begini, surat ini kukembalikan. tolong dipikirkan dulu, paling tidak semiggu ini. Kepalaku sedang sakit banget sekarang, lagi banyak masalah juga, benar – benar ga bisa mikir apa – apa. LEbih baik kita tenangkan hati dulu, nti ko udah agak dingin baru ngobrol lagi. bagaimana ?“, ucapku mencoba menawarkan tawaran yang pasti hambar untuk nya.

besok kan sudah pembukaan pendas. aku ga bisa membuka sesuatu yang ga bisa aku selesaikan“, jawabnya.

“siapa bilang kamu belum membuka atau memulai?“, jawabku.
……………..
“hmm..ok maaf, ga usah dilanjutkan. surat ini kuterima dulu, nti kukabari lagi”

lalu dia pergi meninggalkan ku dan sebuah ingatan, “ah, aku blum ashar. pantas saja”, ucapku dalam hati.

——-

Dan malam ini, jam dinding yang terbalik diruang ini menunjukan waktu 23.55, 1 desember 2007. Kami sudah berdiskusi hampir 4 jam lebih, ya..tapi tetap saja ia tak ada arti. Dan kutandatangani juga lembar putih ini, yang dihiasi baris tinta merah ASTACALA dan deretan kata berbunyi SURAT KEPUTUSAN Tentang PENGUNDURAN DIRI ANGGOTA.

tak pernah ku sanggka akhirnya akan kutandatangai juga surat macam ini. Pun tak pernah terpikirkan menerima bet nomor anggota , lambang dan slayer merah ASTACALA.

akh..bahkan warnya nya pun belum lagi pudar adik ku.. mengapa ?” ucapku dalam hati.

tapi memang sebenarnya kita tidak punya hak mempertanyakan fakta yang sudah terjadi, toh memang bumi ini berputar diatas kesenjangan fakta dan harapan.

Aku terlempar sejenak pada saat – saat di beberapa tahun lalu, teringat mushaf kecil yang sempat kutitipkan padanya, diantara kesunyian malam gelap PENDIDIKAN DASAR ASTACALA 14. mushaf kecil yang sebelumnya menemaniku dalam setiap perjalanan diwaktu yang lalu dan memberiku kekuatan untuk kembali berjalan esok hari. Waktu itu, kuharapkan ia mampu menjadi penawar sepi dan keraguan, seperti yang juga kurasakan.

jadikan sebagai penawar hati“, ucapku malam itu.

Tapi lalu ia kau tinggalkan hampir basah dalam carrier penuh lumpur ini, hingga akhirnya kutemukan. “ah, tidak apa – apa“, ucapku mencoba meredam dalam hati.

Tapi siapa sangka,bertahun – tahun sesudahnya kau lakukan ini dengan ASTACALA ? dan memang, kalimat “ah, tidak apa – apa” itu tak sanggub lagi kuucapkan, karena memang ASTACALA bukan milikku saja, tidak seperti mushaf itu.

aku seharusnya patah hati, tapi bahkan rasa sakit ini tak terasa sedikitpun. mungkin memang karena ia sudah kebas.

Mungkin aku terlalu lama merenung dalam dinginnya gelap malam.
Kini saat nya untuk menyalakan lagi api didepan bivak ini.

Dan, mulai saat ini kau memang bukan saudara ASTACALA ku lagi.
Mudah-mudahan Allah meridhoi semua ini .

Dan tak pernah memutus tali silaturahim kita.
Selamat tinggal adikku, AM – 001 – MP.


ASTACALA !!!!




gute Fahrt

3 12 2007

Tak terdengar tangis tak terdengar tawa..Redalah reda …
Waktu terus bergulir..Semuanya mesti terjadi..
Daun-daun berguguran. Tunas-tunas muda bersemi
-iwan fals, satu-satu-

siapa yang berhak menentukan seseorang benar – benar ASTACALA atau bukan ? PR kah ? Badan diklat kah ? sidang anggota muda kah ? pendidikan dasar kah ? atau tanda tangan ketua ASTACALA ….? karena pertanyaan ini yang sontak memukul ketika selembar surat pengunduran diri ada ditanganku.

——-
Kak, sibuk ga?“, begitu sapaan yang mengejutkanku di kamar samping yang kita sebut gua selarong ini. pertanyaan ini juga yang sering kudapatkan sejak maret lalu, entah bagaimana caranya orang yang bukan siapa – siapa tiba- tiba jadi tampak begitu sibuk hanya karena selembar surat keputusan pengangkatan ketua ASTACALA disahkan. entahlah. yang jelas saat itu pasti aku tak begitu sibuk kecuali menikmati kepala yang nyut – nyutan sejak siang tadi.

haa ya, Ada apa?“, jawabku sekenanya, ternyata adikku yang membangunkan saat itu. “Ini“, lalu diserahkannya amplop putih itu, yang sebelumnya sudah kubaca isinya dan kukembalikan lagi pada yang memberikan, seraya kuminta yang bersangkutan memberikannya langsung. mungkin sejak saat pagi itu migrain ku kambuh.

Lalu kubuka saja amplob itu, mencoba membaca isi yang sudah kuhafal apa kalimatnya, mencoba untuk tampak membaca meski mataku menolaknya. Lalu kutarik saja nafas panjang, mungkin mencoba untuk melepaskan energi kekecewaan yang teramat sangat sudah kutahankankan entah berapa lama, atau menahan sisa pertanyaan ” mengapa” yang tak akan terjawab hingga sang waktu menginginkannya.

hmm..apa ini maksudnya?“, ucapku. “aku mau mengundurkan diri”, jawabnya. lalu episode lain percakapan tak ada arti menyapa kami, meninggalkan buih yang akan hilang digulung ombak waktu.

begini, surat ini kukembalikan. tolong dipikirkan dulu, paling tidak semiggu ini. Kepalaku sedang sakit banget sekarang, lagi banyak masalah juga, benar – benar ga bisa mikir apa – apa. LEbih baik kita tenangkan hati dulu, nti ko udah agak dingin baru ngobrol lagi. bagaimana ?“, ucapku mencoba menawarkan tawaran yang pasti hambar untuk nya.

besok kan sudah pembukaan pendas. aku ga bisa membuka sesuatu yang ga bisa aku selesaikan“, jawabnya.

“siapa bilang kamu belum membuka atau memulai?“, jawabku.
….
….
hmm..ok maaf, ga usah dilanjutkan. surat ini kuterima dulu, nti kukabari lagi”. Lalu dia pergi meninggalkan ku dan sebuah ingatan, “ah, aku blum ashar. pantas saja“, ucapku dalam hati.
——-

Dan malam ini, jam dinding yang terbalik diruang ini menunjukan waktu 23.55, 1 desember 2007. Kami sudah berdiskusi hampir 4 jam lebih, ya..tapi tetap saja ia tak ada arti. Dan kutandatangani juga lembar putih ini, yang dihiasi baris tinta merah ASTACALA dan deretan kata berbunyi SURAT KEPUTUSAN Tentang PENGUNDURAN DIRI ANGGOTA. Tak pernah ku sanggka akhirnya akan kutandatangai juga surat macam ini. Pun tak pernah terpikirkan menerima bet nomor anggota , lambang dan slayer merah ASTACALA.

akh..bahkan warnya nya pun belum lagi pudar adik ku.. mengapa ?” ucapku dalam hati. Tapi memang sebenarnya kita tidak punya hak mempertanyakan fakta yang sudah terjadi, toh memang bumi ini berputar diatas kesenjangan fakta dan harapan.

Aku terlempar sejenak pada saat – saat di beberapa tahun lalu, teringat mushaf kecil yang sempat kutitipkan padanya, diantara kesunyian malam gelap PENDIDIKAN DASAR ASTACALA 14. Mushaf kecil yang sebelumnya menemaniku dalam setiap perjalanan diwaktu yang lalu dan memberiku kekuatan untuk kembali berjalan esok hari. Waktu itu, kuharapkan ia mampu menjadi penawar sepi dan keraguan, seperti yang juga kurasakan.

jadikan sebagai penawar hati“, ucapku malam itu. Tapi lalu ia kau tinggalkan hampir basah dalam carrier penuh lumpur ini, hingga akhirnya kutemukan. “ah, tidak apa – apa“, ucapku mencoba meredam dalam hati.

Tapi siapa sangka,bertahun – tahun sesudahnya kau lakukan ini dengan ASTACALA ? dan memang, kalimat “ah, tidak apa – apa” itu tak sanggup lagi kuucapkan, karena memang ASTACALA bukan milikku saja, tidak seperti mushaf itu.

Aku seharusnya patah hati, tapi bahkan rasa sakit ini tak terasa sedikitpun. mungkin memang karena ia sudah kebas. Mungkin aku terlalu lama merenung dalam dinginnya gelap malam. Kini saat nya untuk menyalakan lagi api didepan bivak ini.

Dan, mulai saat ini kau memang bukan saudara ASTACALA ku lagi. Mudah-mudahan Allah meridhoi semua ini .. Dan tak pernah memutus tali silaturahim kita.

Selamat tinggal adikku, AM – 001 – MP.
ASTACALA !!!!





Pertanyaan

15 05 2007

hari ini ku buka lagi bulir – bulir kenangan kita
“waktu terus berlalu..”,jelas itu yang diteriakannya padaku
setiap kali kuamati goresan lukisan ini
“adakah yang kau rahasiakan sahabat?” tanyaku pada nya
“waktu terus berlalu…”, sekali lagi jawaban ini yang kudapat

apakah yang kita lakukan ini hanya fatamorgana saja?
untuk lalu perlahan tapi pasti menjadi suatu yang bias
memang sekilas ia tampak begitu bermakna
tapi jangan – jangan yang ada hanya kehampaan

setiap saat…ketika periode ini kembali lagi
segala sesuatunya berputar ke titik awal
selalu seperti itu..

jika pun kita habiskan waktu ini bersama
untuk membicarakan apa yang salah, mana yang kurang, dan sebagainya
mungkinkah ini hanya fatamorgana saja ?

lalu bisakah kau berikan jawaban sederhana padaku saat ini..?
tidak usah kau teriakan..cukup ucapkan saja dalam hatimu…
untuk apa kita disini ?

* coretan ini dibuat saat teringat pertanyaan seorang sahabat “untuk apa ada diklan ?”. Mungkin bukan jawaban memuaskan, tapi aku hanya ingin menulis.Mudah – mudahan jawaban itu akan terjawab seiring perjalanan kita bersama waktu..bukan lagi untuk pertanyaan mu tentang “untuk apa diklan?” tapi “untuk apa saya ada disini?”karena tidak ada seorang pun yang layak menjawab pertanyaan ini selain diri kita sendiri.





Ramuan Ajaib Getafix

26 12 2006

Besar kemungkinan kita semua pernah membaca atau setidak nya mendengar kisah asterix dan obelix, jagoan dari negri Gaul…Tapi kisah yang akan saya ceritakan ini sudah pasti bukan tentang mereka, karena nti bisa gawat klo saya sampai digerebek disekre A dengan tuduhan melanggar hak paten….hehehehe
Singkat kata begini bung…waktu itu sempat ada pembicaraan antara saya, gejor n taka. Sebenarnya ini rapat internal badan diklat, tapi berhubung hal yang perlu untk dirapatkan sudah kelar semua sedangkan energi untuk bertukar pikiran masih banyak maka akhirnya kami membicarakan fenomena dilematis sistem kaderisasi kita…halaaahhh ribet banget yak, maksudnya : gimana metode terbaik menghasilkan A setangguh ewok, gepeng, kebo, kopet, momesh, dll tapi melalui format yang dapat menyesuaikan dengan ekonomi yang semakin wah, biaya kuliah yang semakin tinggi, masa studi yang makin pendek dan semakin-semakin lainnya…
Hmm….hmm…jadi gimana coy sebaiknya nih?” celetuk salah seorang diantara kami..
Hmm..Hmmm”, terdengar dari sudut..
“kita harus berubah..sesuaikan dengan jaman, kebutuhan pasarnya udah beda
Hmm..Hmm..“, siapa tuh?
Ok lah, format pendidikan harus reformasi, di zip klo perlu…banyakin jalan – jalan yang terarah, ekspedisi..toh tanpa latihan, materi kelas n teori itu ga akan ada artinya….emang kita mo bikin anak orang harus hafal semua teori tapi kagak ada yang bisa dilakuin ?“, nah lo….
“Gimana klo begini aja, pendas kan udah mulai di geser dikit – dikit nih paradigma nya….diklan harus menyesuaikan. kagak usah bikin diklan yang smp kelar berbulan – bulan….2 bulan aja cukup, tapi habis itu langsung banyakin kegiatan di luar…”
Ok langsung di petakan aja..”
Dan dari sinilah berlanjut semua…
Di papan white board sekre segera digambar time line..mulai dari bulan agustus alias tahun ajaran baru..lalu diusulkan agar pendas pada bulan september saja. Tidak perlu lama – lama, materikelas + praktek lapangan digabung jadikan 4 – 7 hari, sudah cukup. Pastikan semua siswa dikenalkan materi dasar kepecinta-alaman, disamakan persepsinya tentang ASTACALA, difasilitasi untuk mengenal rekan seperjuangannya, dll. Tidak perlu muluk – muluk sampai mengerti bener peta – kompas segala….tidak perlu bantai – bantaian, klo masalah karakter tak akan mampu ASTACALA merubahnya dalam 3-5 tahun..karena karakter itu sudah terbentuk sejak 20 tahun hidupnya, jadi ASTACALA hanya mengarahkan untuk membina mental, bukan membentuk apalagi merubah karakter !!
Pendidikan Lanjut…selesaikan dalam 2 bulan = november – desember karena oktober masa UTS.
sama seperti pendas, di zip kan, jika perlu 2 bidang ilmu digabung waktu pelaksanaannya dalam 2-3 hari. Misal Fotografi & Jurnalistik, Gunung Hutan & SAR (ini udah pernah kita lakukan), Climbing dengan Caving, klo perlu langsung nyambung dengan Rafting

Bagaimana dengan bobot materi ? Nah, untuk kasus pemberian materi / pendidikan cukup diberikan di kampus, bukan langsung sewaktu pendidikan lanjutnya. Sehingga bagi AM akan terasa tidak terlalu lama, kaku, dan sangat menuntut waktu. Ingat bung, ada TP di akhir minggu, itu masih jadi musuh nomor 1 kita…apa anak A menyusup jadi aslab semua, biar di hack tuh sistem lab nya and dibikin kagak ada TP-TPan lagi???huahahaha..ntar dulu deh, klo udah ada orang-orangnya baru bicara kayak gini
Kita lanjutkan lagi, misal untuk kasus pendidikan lanjut Rock Climbing & Caving. Materi kelas bisa diberikan seminggu sebelumnyakan? bisa di sekre sambil lesehan and nyerut teh hangat…santai tapi tetap serius, AM ga tertekan and seneng dengan apa yang dia lakukan. Pemateri juga ga terbebani dengan mesti serius – serius banget…

Nah setelah itu, dalam 1-2 minggu jadwalkan latihan rutin di Wall atau Tower….bouldering, leading, rapelling dll untuk climbing dan SRT, riging untuk caving…bereskan?? yang belum memenuhi syarat latihan rutin belum boleh mengajukan untuk mengikuti pendidikan lanjut , jadi konsepnya : SIAPA YANG MAU BELAJAR YANG AKAN DIAJAR. Jum’at-Minggu langsung berangkat ke citatah, target nge-TOP tebing 48 atau 125 untuk climbing and masuk ke gua horizontal-vertikal untuk caving.

Trus ntar materinya ga dalam dungs? siapa bilang coy..lihat aja konsepnya, yang ga memenuhi target latihan pra pendidikan lanjut ga boleh ikut pendidikan lanjut..ini sama aja dengan konsep latihan fisik di pendas, tapi bedanya ini termasuk materi teori dan praktek. peserta / AM dikondisikan untuk mengikuti latihan rutin sesuai dengan jadwal yang dia bisa ikuti..toh wall climbing masih dibelakang SC ini, apa sulitnya? Dari pada semua diborong di lapangan, rugi waktu, rugi duit…dan ga menjamin AM langsung bisa….pada konsep lama, setelah pendidikan lanjut juga belum tentu ia akan mengulang materi ini kecuali mau maju sidang…bener kagak ??
Nah, tambahan perbedaan lagi di sistem ini adalah metode evaluasi nya. ini adalah bagian dari sidang AM. kita semua yang udah sidang pasti tau bahwa sidang itu terdiri dari 2 bagian : 1. materi 2. keorganisasian. singkat kata, semua diborong di akhir smp AM nya jadi bodoh klo ditanyain detail2 waktu sidang. Yang maju sidang, stress..yang lain ga maju, karena males kelamaan klo ga takut. 
Nah, di sistem ini diubah semua. Bagian 1 dilakukan setelah AM menyelesaikan tiap pendidikan lanjut, jadi ada sidang kecil setiap selesai pendidikan lanjut. Ini memang sudah kita lakukan tapi bedanya tidak ada follow up nya. Dengan sistem ini, klo perlu AM ditemani oleh 2-3 A ketika presentasi paska pendidikan lanjut. Ia dinilai dan dievaluasi kekurangan dan kelebihannya. Selanjutnya ini di tindak lanjuti oleh badan diklat, yang terus memonitor perkembangan AM ini setelah selesai diklan ttg penguasaanya atas materi tsb. Klo perlu, jika ia belum memenuhi syarat penguasaan minimum dari badik, maka belum boleh sidang. Nah, nanti di sidang ga perlu smp berhari – hari bahas materi lagi karena itu sudah dibahas ketika setelah pendidikan lanjut …jadi langsung ke bagian 2 saja : keorganisasian….sok dah di evaluasi semua, loyalitas, solidaritas, dan tas..tas…lainnya. jadi waktu yang kita habiskan untuk sidang ga terlalu banyak n AM nya ga terlalu stress krn proses lain sudah dicicil jauh hari sebelumnya..
Perjalanan wajib..bisa dilakukan di akhir bulan januari – februari…sok dah mo pada jalan kemana…mo ke kalimantan, irian, sumatra…silahkan. Langsung bikin perjalanan AM itu yang bergengsi, ga cuma jalan ke gunung x tok..kagak ada hasilnya kecuali AM bisa me manage perjalanan sendiri. Menurut saya sungguh sayang momen seperti itu hanya untuk mencapai target itu saja, karena potensi SDM dan waktu yang sangat berharga ini bisa kita manfaatkan untuk membuat konsep perjalanan yang lebih bermakna..misal ada penelitian atau menambah referensi ASTACALA akan daerah baru..bukan gunung yang itu – itu saja..dari tahun ke tahun…sejak jaman gepeng masih pakai baju putih biru….upppsss…Boseeeenn coy..bener kagak??
Trus bulan maret sampai agustusnya lagi ngapain ?? Jalan – jalan lagi lah…ngapain nongkrong di sekre terus, tidur ga jelas… bikin ekspedisi gede sekalian…..ke cartens….ke tebing arau di payakumbuh….ke sini …ke situ…
waktu nya panjang, jadi memberi kita kesempatan untuk berkreasi n menyiapkan segala kebutuhanya. klo perlu cari sponsor yang gede..eiger, gubernur jabar sekalian, dll
semua itu bisa di manage lebih baik dengan sistem yang baik juga. karena sebenarnya begitu banyak waktu dan kesempatan untuk belajar. tanpa harus mengorbankan kuliah yang nota bene amanah utama dari orang tua
Ingat lagi bung, sebelum kita meminta loyalitas buta dari AM.. Ingat lagi, klo kita semua pertama datang ke bandung…kuliah di STTTELEPON pasti bukan untuk masuk ASTACALA tapi untuk selesaikan pendidikan kita and menggapai hidup labih baik agar orang tua kita bahagia.

Busyet..ngomong apa lagi nih gw….ah udah ding..ntar dibilang banyak omong lagi…
Sekian saja dah paparan saya tentang pembicaraan kami dini hari itu… Omong – omong….saya ingatkan lagi klo ini sama sekali ga ada hubungannya sama ramuan getafix yang bisa bikin asterix kuat lho…apalagi ajaib… Ini cuma obrolan antara kawan yang pernah bersama menikmati hangatnya api unggun yang kami buat dengam menggigilnya tubuh yang kedinginan cieee…udah ah, jadi melankolik gini gw..ca caw..
ASTACALA !!!!!
EnamDuaKabutFajar
[hanya orang biasa yang masih belajar berpikir agar dapat hidup lebih baik]





Ramuan Ajaib Getafix

26 12 2006
Besar kemungkinan kita semua pernah membaca atau setidak nya mendengar kisah asterix dan obelix, jagoan dari negri Gaul…Tapi kisah yang akan saya ceritakan ini sudah pasti bukan tentang mereka, karena nti bisa gawat klo saya sampai digerebek disekre A dengan tuduhan melanggar hak paten….hehehehe

Singkat kata begini bung…waktu itu sempat ada pembicaraan antara saya, gejor n taka. Sebenarnya ini rapat internal badan diklat, tapi berhubung hal yang perlu untk dirapatkan sudah kelar semua sedangkan energi untuk bertukar pikiran masih banyak maka akhirnya kami membicarakan fenomena dilematis sistem kaderisasi kita…halaaahhh ribet banget yak, maksudnya : gimana metode terbaik menghasilkan A setangguh ewok, gepeng, kebo, kopet, momesh, dll tapi melalui format yang dapat menyesuaikan dengan ekonomi yang semakin wah, biaya kuliah yang semakin tinggi, masa studi yang makin pendek dan semakin-semakin lainnya…

Hmm….hmm…jadi gimana coy sebaiknya nih?” celetuk salah seorang diantara kami..
Hmm..Hmmm”, terdengar dari sudut..
“kita harus berubah..sesuaikan dengan jaman, kebutuhan pasarnya udah beda
Hmm..Hmm..“, siapa tuh?
Ok lah, format pendidikan harus reformasi, di zip klo perlu…banyakin jalan – jalan yang terarah, ekspedisi..toh tanpa latihan, materi kelas n teori itu ga akan ada artinya….emang kita mo bikin anak orang harus hafal semua teori tapi kagak ada yang bisa dilakuin ?“, nah lo….
“Gimana klo begini aja, pendas kan udah mulai di geser dikit – dikit nih paradigma nya….diklan harus menyesuaikan. kagak usah bikin diklan yang smp kelar berbulan – bulan….2 bulan aja cukup, tapi habis itu langsung banyakin kegiatan di luar…”
Ok langsung di petakan aja..”

Dan dari sinilah berlanjut semua…
Di papan white board sekre segera digambar time line..mulai dari bulan agustus alias tahun ajaran baru..lalu diusulkan agar pendas pada bulan september saja. Tidak perlu lama – lama, materikelas + praktek lapangan digabung jadikan 4 – 7 hari, sudah cukup. Pastikan semua siswa dikenalkan materi dasar kepecinta-alaman, disamakan persepsinya tentang ASTACALA, difasilitasi untuk mengenal rekan seperjuangannya, dll. Tidak perlu muluk – muluk sampai mengerti bener peta – kompas segala….tidak perlu bantai – bantaian, klo masalah karakter tak akan mampu ASTACALA merubahnya dalam 3-5 tahun..karena karakter itu sudah terbentuk sejak 20 tahun hidupnya, jadi ASTACALA hanya mengarahkan untuk membina mental, bukan membentuk apalagi merubah karakter !!

Pendidikan Lanjut…selesaikan dalam 2 bulan = november – desember karena oktober masa UTS.
sama seperti pendas, di zip kan, jika perlu 2 bidang ilmu digabung waktu pelaksanaannya dalam 2-3 hari. Misal Fotografi & Jurnalistik, Gunung Hutan & SAR (ini udah pernah kita lakukan), Climbing dengan Caving, klo perlu langsung nyambung dengan Rafting

Bagaimana dengan bobot materi?
Nah, untuk kasus pemberian materi / pendidikan cukup diberikan di kampus, bukan langsung sewaktu pendidikan lanjutnya. Sehingga bagi AM akan terasa tidak terlalu lama, kaku, dan sangat menuntut waktu. Ingat bung, ada TP di akhir minggu, itu masih jadi musuh nomor 1 kita…apa anak A menyusup jadi aslab semua, biar di hack tuh sistem lab nya and dibikin kagak ada TP-TPan lagi???huahahaha..ntar dulu deh, klo udah ada orang-orangnya baru bicara kayak gini

Kita lanjutkan lagi, misal untuk kasus pendidikan lanjut Rock Climbing & Caving. Materi kelas bisa diberikan seminggu sebelumnyakan? bisa di sekre sambil lesehan and nyerut teh hangat…santai tapi tetap serius, AM ga tertekan and seneng dengan apa yang dia lakukan. Pemateri juga ga terbebani dengan mesti serius – serius banget…

Nah setelah itu, dalam 1-2 minggu jadwalkan latihan rutin di Wall atau Tower….bouldering, leading, rapelling dll untuk climbing dan SRT, riging untuk caving…bereskan?? yang belum memenuhi syarat latihan rutin belum boleh mengajukan untuk mengikuti pendidikan lanjut , jadi konsepnya : SIAPA YANG MAU BELAJAR YANG AKAN DIAJAR. Jum’at-Minggu langsung berangkat ke citatah, target nge-TOP tebing 48 atau 125 untuk climbing and masuk ke gua horizontal-vertikal untuk caving.

Trus ntar materinya ga dalam dungs? siapa bilang coy..lihat aja konsepnya, yang ga memenuhi target latihan pra pendidikan lanjut ga boleh ikut pendidikan lanjut..ini sama aja dengan konsep latihan fisik di pendas, tapi bedanya ini termasuk materi teori dan praktek. peserta / AM dikondisikan untuk mengikuti latihan rutin sesuai dengan jadwal yang dia bisa ikuti..toh wall climbing masih dibelakang SC ini, apa sulitnya? Dari pada semua diborong di lapangan, rugi waktu, rugi duit…dan ga menjamin AM langsung bisa….pada konsep lama, setelah pendidikan lanjut juga belum tentu ia akan mengulang materi ini kecuali mau maju sidang…bener kagak??

Nah, tambahan perbedaan lagi di sistem ini adalah metode evaluasi nya. ini adalah bagian dari sidang AM. kita semua yang udah sidang pasti tau bahwa sidang itu terdiri dari 2 bagian : 1. materi 2. keorganisasian. singkat kata, semua diborong di akhir smp AM nya jadi bodoh klo ditanyain detail2 waktu sidang. Yang maju sidang, stress..yang lain ga maju, karena males kelamaan klo ga takut.

Nah, di sistem ini diubah semua. Bagian 1 dilakukan setelah AM menyelesaikan tiap pendidikan lanjut, jadi ada sidang kecil setiap selesai pendidikan lanjut. Ini memang sudah kita lakukan tapi bedanya tidak ada follow up nya. Dengan sistem ini, klo perlu AM ditemani oleh 2-3 A ketika presentasi paska pendidikan lanjut. Ia dinilai dan dievaluasi kekurangan dan kelebihannya. Selanjutnya ini di tindak lanjuti oleh badan diklat, yang terus memonitor perkembangan AM ini setelah selesai diklan ttg penguasaanya atas materi tsb. Klo perlu, jika ia belum memenuhi syarat penguasaan minimum dari badik, maka belum boleh sidang. Nah, nanti di sidang ga perlu smp berhari – hari bahas materi lagi karena itu sudah dibahas ketika setelah pendidikan lanjut …jadi langsung ke bagian 2 saja : keorganisasian….sok dah di evaluasi semua, loyalitas, solidaritas, dan tas..tas…lainnya. jadi waktu yang kita habiskan untuk sidang ga terlalu banyak n AM nya ga terlalu stress krn proses lain sudah dicicil jauh hari sebelumnya..

Perjalanan wajib..bisa dilakukan di akhir bulan januari – februari…sok dah mo pada jalan kemana…mo ke kalimantan, irian, sumatra…silahkan. Langsung bikin perjalanan AM itu yang bergengsi, ga cuma jalan ke gunung x tok..kagak ada hasilnya kecuali AM bisa me manage perjalanan sendiri. Menurut saya sungguh sayang momen seperti itu hanya untuk mencapai target itu saja, karena potensi SDM dan waktu yang sangat berharga ini bisa kita manfaatkan untuk membuat konsep perjalanan yang lebih bermakna..misal ada penelitian atau menambah referensi ASTACALA akan daerah baru..bukan gunung yang itu – itu saja..dari tahun ke tahun…sejak jaman gepeng masih pakai baju putih biru….upppsss…Boseeeenn coy..bener kagak??

Trus bulan maret sampai agustusnya lagi ngapain ??
Jalan – jalan lagi lah…ngapain nongkrong di sekre terus, tidur ga jelas…
bikin ekspedisi gede sekalian…..ke cartens….ke tebing arau di payakumbuh….ke sini …ke situ…
waktu nya panjang, jadi memberi kita kesempatan untuk berkreasi n menyiapkan segala kebutuhanya
klo perlu cari sponsor yang gede..eiger, gubernur jabar sekalian, dll
semua itu bisa di manage lebih baik dengan sistem yang baik juga
karena sebenarnya begitu banyak waktu dan kesempatan untuk belajar
tanpa harus mengorbankan kuliah yang nota bene amanah utama dari orang tua

Ingat lagi bung, sebelum kita meminta loyalitas buta dari AM..
Ingat lagi, klo kita semua pertama datang ke bandung…kuliah di STTTELEPON pasti bukan untuk masuk ASTACALA tapi untuk selesaikan pendidikan kita and menggapai hidup labih baik agar orang tua kita bahagia.
Busyet..ngomong apa lagi nih gw….ah udah ding..ntar dibilang banyak omong lagi…
Sekian saja dah paparan saya tentang pembicaraan kami dini hari itu…

Omong – omong….saya ingatkan lagi klo ini sama sekali ga ada hubungannya sama ramuan getafix yang bisa bikin asterix kuat lho…apalagi ajaib… Ini cuma obrolan antara kawan yang pernah bersama menikmati hangatnya api unggun yang kami buat dengam menggigilnya tubuh yang kedinginan cieee…udah ah, jadi melankolik gini gw..ca caw..

ASTACALA !!!!!

EnamDuaKabutFajar
[hanya orang biasa yang masih belajar berpikir agar dapat hidup lebih baik]





Pesona Goa Negeri Angso Duo (3)

24 09 2006

Catatan Perjalanan Caving TWKM XVII
Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Rabu, 14 Des 2005

Pagi ini kami sepakat untuk mencoba ascending – descending menggunakan SRT Set di pohon sekitar basecamp sebagai pemanasan. Aku, Onie dan datuak yang memang belum berkecimpung di dunia para caver, menggunakan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan kawan – kawan yang sudah expert. Bagaimana tidak, banyak diantaranya adalah Kadiv Caving di organisasinya. Kami berlatih hingga siang, kemudian makan dan sholat.

Sesuai dengan ROP, kami dibagi menjadi 2 team : Jefry, Catur, Onie, Mpok Sanni, Getol di Team 1 dan Abon, Datuak, Berry, Bebek, Aku di Team 2. Aku bersyukur dengan ini, karena memungkinkan kami untuk meminjam SRT Set kawan di team lain ketika melakukan penelusuran (bergantian vertikal dan horizontal).

Siang itu, kedua team mempersiapkan perlengkapan masing – masing. Jam 3 siang, kami serentak berangkat menuju lokasi. Perjalanan yang ditempuh cukup mengejutkan kawan – kawan. Karena memang lokasi goa yang berada di balik punggungan, sehingga kami harus mendaki dulu kira – kira 1 jam. Setibanya di depan entrance goa Mesjid, kami masih sempat mencuci muka dulu di sungai kecil yang juga digunakan petani walet – yang mendirikan pondok disekitar situ – untuk mandi dan mencuci. Team 1 mesti harus mendaki beberapa saat lagi sebelum tiba di entrance goa Kadir. Team 2 ditemani oleh 3 orang guide petani walet : jala, alwi dan rudini. Selama ekplorasi kami mengunjungi 4 dari 7 lorong yang ada. Sebenarnya kami ingin waktu eksplorasi lebih lama lagi, agar memberi kesempatan lebih lama untuk mempelajari goa ini. Namun karena sang guide mesti menjaga sarang walet di goa lain, maka kami mengakhiri eksplorasi sore itu juga dan tiba di basecamp tepat sebelum magrib. Kondisi goa yang kotor dan rusak itu cukup untuk membuat kecewa kawan – kawan. Bebek tampak cemberut sampai malam itu, walau tidak berkata apa – apa, aku tau dia berharap dapat melihat ornamen yang lebih bagus setelah jauh – jauh ke jambi.

Setibanya di basecamp kami bebersih sambil menunggu team 1 kembali. Menurut ROP, seharusnya mereka sudah tiba sebelum jam 9 malam itu. Jika tidak juga datang sebelum jam 10, maka kawan – kawan panitia dan peserta putra sepakat untuk menyusul. Aku, Bebek dan panitia putri tetap stand by di basecamp. Kami tertidur dan terbangun setelah mendengar keributan, ternyata team 1 sudah datang. Ketika itu waktu menunjukan kira – kira jam 12 malam. Aku bangun lagi, mengikuti evaluasi dan briefing hingga jam 3. Kawan – kawan putri lain – yang tampak sangat kelelahan – tidak ikut dan beristirahat.

Kamis, 15 Des 2005

Hari ini, gantian team 2 yang eksplorasi ke goa vertikal. Sesuai evaluasi malam sebelumnya, maka dipilih goa vertikal lain karena goa Kadir menurut kawan – kawan team 1 sungguh mengecewakan karena hanya berupa sumur, sehingga dianggap tak labih dari latihan SRT saja alias ga ada jalan – jalannya.

Kawan – kawan yang kurang tidur baru bisa bersiap dan berangkat jam 1 siang lewat. Team 1 menuju goa Mesjid, sedangkan kami menuju entrance goa Sentot. Perjalanan nya cukup advance juga, membuatku kembali bersemangat. Ternyata dugaanku tepat, dikejauhan bau guano sudah tercium yang menandakan ada goa tak jauh dari posisi kami saat itu. Entrance goa Kadir mengobati kepenatan setelah mendaki 1 jam lebih. Dengan diameter 5 meter lebih, kami mencoba menganalisa lokasi anchor yang tepat untuk rigging. Jala, yang menemani saat itu membantu kami membersihkan semak di sekitar mulu goa. Belum ada orang yang melewati entrance ini sebelumnya, begitulah kata Robi – panitia yang bersama kami -. “Gilaaaaa…bakal seru nih”, pikirku.

Kami membawa 2 tali karmantel super statis 50 m dengan kondisi yang kotor dan berbulu. Aku dan bebek sempat sikut – sikutan waktu melihat tali itu dan berdoa mudah – mudahan talinya cukup kuat untuk SRT 6 orang. Tak kurang dari 2 jam, instalasi jalur sudah selesai, dengan bentuk Y anchor dan 2 jalur (karena perkiraan jalur kurang dari 30 m vertikal). Jadi, akan turun 2 orang bersamaan : Jibrik (instruktur) – Robi (panitia), Bebek – Datuak, terakhir Abon – Adek.

Ketika Jibrik dan Robi decending, diketahui ternyata kedalaman jalur ini lebih dari 30 m sehingga tali tidak cukup. Mereka kemudian turun hingga teras pertama. Seluruh team diinstruksikan decending hingga teras ini dulu kemudian 1 tali dilepas dan disambung ke tali yang lain. Ketika aku dan Abon turun, sebuah bongkahan batu sebesar kardus supermi jatuh. “ROCK FAAAALLLLL !!!” teriak abon. kami berhenti sebentar dan sangat kawatir dengan kawan – kawan dibawah, karena tempat berpijak mereka saat itu sangat sempit ditambah salah seorang kawan tidak menggunakan helm. Setelah terdengar teriakan aman dari bawah, kami pun melanjutkan descending. Untuk menghilangkan ketegangan, aku dan abon mengisi decending dengan bercanda. Alhamdullilah kami selamat tiba di teras, kemudian bergabung dan mengamankan diri dengan cowstail.

Ben dan Bowo – yang stand by di atas – melepas tali ke 2. Jibrik dan Abon kemudian memasang kembali lintasan. Waktu itu sudah magrib sehingga kami mulai dikelilingi kegelapan. Dinding didepanku saat itu tampak seperti tengkorak karena bentukan tonjolannya. Setelah semua aman, jibrik diikuti abon, bebek, datuak, aku dan terakhir abon descending kembali. Saat itu kami membuat 1 deviasi untuk menghilangkan friksi dan 1 simpul butterfly pada lintasan ini. Menurut Abon, lintasan ini tidak begitu baik karena penuh dengan friksi. Jibrik yang tiba lebih dulu, berteriak bahwa dibawah sungguh menakjubkan. Dari atas kami sudah terdengar suara sungai bawah tanahnya. Kata Jibrik sungai ini lumayan besar..”akhirnyaaaa”, pikirku.

Kami mengunjungi semua lorong yang ada dan menemukan siphon di salah satu lorongnya. Saat itu semua orang sungguh ceria, yah..akhirnya terbayar sudah setelah jauh – jauh datang ke jambi. Bagiku ini adalah pengalaman sekaligus pembelajaran yang tak terlupakan. Tak pernah terbayang dalam benak ini, goa vertikal pertama yang akan kuturuni ada di jambi dan langsung 60 m lebih !!!

Eksplorasi saat itu berakhir hingga jam 10 malam lewat. Keluar melalui entrance horizontalnya pun sungguh penuh tantangan dimana kami harus sedikit chimneying, karena lorong yang sangat sempit (kurang dari 50 cm) dan dibawahnya mengalir sungai yang mungkin saja dalam. Diluar kami sempat menemukan air terjun seperti yang diceritakan jala. Saat instalasi tadi, jala memang sudah mengatakan bahwa menurut perkiraannya goa ini akan tembus ke entrance horizontal di dekat air terjun.

Perjalan ke basecamp aku isi dengan berlari, karena memang jalurnya turun. Sesampainya di basecamp, kami sudah ditunggu oleh kawan – kawan team 1 yang tak sabar menanti cerita kami. Setelah bebersih, kami pun bercerita tentang eksplorasi tadi. Saat itu waktu menunjukan jam setengah 11 malam lewat.

Jumat, 16 Des 2005

Karena penasaran dengan cerita kami, kawan – kawan Team 1 pun meminta pada panitia untuk diantar ke goa kadir juga. Sesuai kesepakatan team 1 akan berangkat sebelum waktu sholat jum’at dan team 2 akan menyusul dari entrance horizontal sambil membawa makan siang team 1.

Kami berangkat jam 1 siang lewat ditemani 3 panitia (fahmi, eka, sri) dan bertemu dengan team 2 jam 2 an. Saat itu, Yuda dan Getol sudah ada di dasar goa. Kami menunggu hampir 2 jam sebelum semua personil tiba. Eksplorasi ini tidak lebih dari 3 jam. Kami makan malam di entrance horizontal. Suasana saat itu sungguh membuatku akan selalu mengingat momen ini. aku merasa disinilah titik puncak rasa persaudaraan yang mulai tumbuh diantara kami.
Sabtu, 17 Desember 2005

Sesuai instruksi panitia, kami harus bersiap – siap dari pagi karena kemungkinan truk yang akan menjemput kami tiba jam 9. Kami sempat makan pagi dulu, membantu panitia untuk packing tenda pleton dan perlengkapan basecamp lain. Sambil tidur – tidur di hammock, main kartu atau sekedar ngobrol kami menunggu. Tapi hingga jam 1 siang, truk yang ditunggu tidak datang juga. Akhirnya kami makan siang dan panitia meminta peserta jalan dulu ke desa terdekat yang –katanya- tidak lebih dari 2 km.
 

Aku sedikit sangsi jarak yang kami tempuh dulu itu kurang dari 2 km, paling tidak 5 km lah. Ternyata benar. AKu, Catur dan Yuda saat itu berjalan cepat di depan. Kami tiba di Dusun Dalam –desa terdekat- jam 6 sore atau 5 jam jalan kaki!!! “Buseeeet….lengkap semua : dari offroad, gunung hutan, berenang di goa, panjat tebing sampai long march !!! ”, pikirku.

Alhamdullilah truk yang kami tunggu sedang parkir di sana. Ternyata beliau memang tidak bisa menjemput ke lokasi dan Robi yang kemarin mencari kendaraan akhirnya ke Merangin mencari alternative lain. Pak Sahar bersedia mengantar hingga kantor Polsek Sungai Manau. Dari sana kami akan melanjutkan dengan bus antar kota ke Jambi.

Bebersih dan makan malam, kami menunggu lagi hingga jam setengah 12 malam. Waktu yang ada kami isi dengan menonton tv dan bermain teka – teki konyol. Ketika bus yang ditunggu datang, kami langsung berangkat. Perjalanan ke jambi memakan waktu 6 jam lebih. Hingga kami tiba di kampus Unja Telanaipura jam setengah 6 pagi.

Aku bertemu dengan Sapi dan Petong yang datang setelah kami. Aku tidak menemukan Ayis di kumpulan team RC yang tiba lebih dulu. Sementara itu team GH baru tiba siang hari nya. Aku bertemu Jabek di aula siang itu dan menanyakan ROP ke bandung. Menurut komandan, tiket pesawat sudah di booking untuk penerbangan besok jam 5 sore.


Pak Kebo dan pasukan dari bandung pagi itu juga sempat mampir dan mentraktir kami makan pagi di warung padang terdekat. Ternyata benar, di jambi biaya makan sungguh mahal. Pak Kebo yang tidak bisa lama – lama di jambi langsung berangkat ke bangko setelah sarapan itu.


Siang itu team Caving sempat jalan – jalan keliling jambi dan sorenya kami mengantarkan Berry ke bandara karena harus sudah tiba di Bandung besok untuk UAS. Malamnya kami mengikuti penutupan TWKM XVII di rumah dinas Walikota Jambi. Acara berakhir jam 11 malam dan NO DRUGS. Tapi sesampainya di aula Unja Telanaipura dini hari itu, aku melihat kawan – kawan lain sudah pada mabok. Karena sudah capek langsung saja aku dan yang lain instalasi tempat tidur dan bobok..

Minggu, 18 Desember 2005

Hari ini hanya diisi dengan menunggu. Aku bertemu dengan seorang kenalan dari Padang yang sudah jadi jendral nya Proklamator. Beliau saat ini aktif di MAPALA dan mendirikan salah satu KPA di Bangko. Dari percakapan itu, aku mengetahui bahwa kawan – kawan di Jambi cukup kecewa dengan pelaksanaan TWKM. Hal ini antara lain karena masalah koordinasi yang tidak jelas. Namun, aKu yakin panitia pun telah memberikan yang terbaik dari yang ada. Mudah – mudahan evaluasi ini memberi pelajaran berharga bagi kita semua tentang arti penting sebuah kesiapan dalam melaksanakan kegiatan.

Aku kemudian meminta diantarkan untuk mencari jajanan khas Jambi untuk oleh – oleh. Aku diajak ke MAKOPLA DIMITRI dulu dan sempat ngobrol dengan kawan – kawan disana. Ternyata mencari jajanan khas Jambi tidak perlu jauh – jauh, cukup di supermarket saja…ya elahhh.


Kami berangkat jam 4 siang dengan mobil Fahmi. Aku tidak sempat berpamitan dengan kawan – kawan Caving lain, karena mereka sedang bergerilya mencari transportasi pulang. Di rombongan kami juga ada team MAPA GUNDAR dan PALAWA. Kebetulan kami dengan penerbangan yang sama.Jam 6 sore kami sudah tiba di Sukarno Hatta.

Kami langsung pulang hari itu juga ke bandung, tidak mampir ke warnet Macan dulu. Kami tiba di Bandung tengah malam. Membeli nasi goreng dulu di palasari, kami lalu pulang. Di sekre saat itu sedang stand by Pak Ketua. Setelah nongkrong sebentar dan cerita tentang hal konyol di jambi, aku langsung ke goa tidur. Karena lelapnya, kenangan Jambi saat itu tidak terlintas dalam mimpiku. Mudah – mudahan ilmu yang didapat bukan hanya jadi mimpi kesiangan, karena harapan untuk jalan – jalan dengan Dream Team Caving ASTACALA jadi bagian obsesi ku sejak saat itu. Amien


*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom
Tulisan ini tersedia di Kisah Perjalanan website http://www.astacala.org