Pengenalan Dasar Navigasi Darat

2 06 2009
Copyright : Diperbolehkan mengutip keseluruhan atau sebahagian dari isi dokumen ini dengan atau tanpa  ijin penulis dengan tetap menyajikan kredit penulis.

Advertisements




Mountain Bike -In my newbie side-

1 06 2008

Bicycle… bicycle….I want to ride my bicycle…. I want to ride my bike.I want to ride my bicycle. I want to ride it where I like (Queen: Bicycle Race)

Well, lagu ini dipopulerkan oleh Queen, merupakan tribute Freddie Mercury untuk salah seorang atlet Tour de France di tahun 1980-an. Rasanya lagu itu memang pas untuk menggambarkan serunya main sepeda.

Pernahkah Anda mencoba membayangkan bagaimana rasanya menuruni pebukitan dengan mengendarai sepeda. Agak mendebarkan dan dibutuhkan keberanian serta perlengkapan lumayan lengkap memang. Namun, jika Anda penggemar adrenalin yang meninggi hingga ke ubun-ubun, olahraga ekstrim ini patut Anda coba.

Dengan kecepatan yang bisa mencapai 80 km per jam, turunan tanpa aspal sejauh 800 meter dilibas dalam waktu kurang dari satu menit. Penikmat hobi yang satu ini tentu akan berteriak menyelaraskan diri dengan adrenalin yang berpacu di jantungnya. Mereka umumnya menggemari ini hingga tak bisa lepas pandangan untuk mencoba berbagai pebukitan yang ditemui.

Untuk pehobi kelas berat, mungkin dalam satu minggu bisa diluangkan waktu hingga dua hari untuk melintasi pebukitan dengan kecepatan dan kesigapan tangan mengendalikan laju roda sepeda gunung.

Sejarah

Hikayat menyebutkan, sepeda dahulu kala dibuat pertama kali bukan untuk sarana rekreasi apalagi olahraga namun murni sebagai bentuk transportasi yang lebih efisien dan tak menguras tenaga ketimbang jalan kaki. Di zaman Mesir Kuno, sepeda hanyalah sebuah balok melintang dengan dua roda kayu di bawahnya. Kala itu tak dikenal pengayuh atau pedal.

Sejarah sepeda bermula di Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibangun di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes. Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Bisa dibayangkan, betapa canggung dan besar tampilan kedua sepeda tadi. Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang – pada masa itu – untuk berjalan.

Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais. Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman berhasil melakukan terobosan penting, yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya. Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat saat berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama, Draisienne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada 1817.

Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan. Pada tahun 1839, ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada.

Yang mempopulerkan pedal dan rantai penggerak roda belakang adalah James Starley. Sehingga pada tahun 1900 di Amerika Serikat tercatat ada 70 ribu buruh untuk membuat 4 juta unit sepeda. James Starley mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. Ia memproduksi sepeda dengan roda depan yang sangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil.

Klasifikasi Sepeda

Bersepeda merupakan salah satu olahraga yang menyenangkan. Namun untuk olahraga yang satu ini kita harus memilih spsefikasi dari berbagai jenis sepeda yang akan kita gunakan, karena itu yang akan menentukan permainan sepeda apa yang akan kita lakukan. Sepeda sendiri ada berbagai ragam mulai dari sepeda BMX untuk freestyle maupun untuk Downhill dan Roadbike yang lebih dikenal ‘sepeda Balap’ ataupun Mountain Bike (MTB) yang sering disebut ‘Sepeda Gunung’.

Dari jenis olahraganya, bersepeda bisa dibagi dua, yaitu on road dan off road. Pada tipe on road atau road bike,trek yang ditempuh biasanya di jalan – jalan dalam kota. Sedangkan pada tipe off road atau extreme bike, trek yang digunakan adalah pada medan jalan tanah dan bergunung. Karena medan yang dilalui relatif lebih sulit, tak heran jenis sepeda ini lebih lengkap.

Berdasarkan suspensi atau peredam kejut, design sepeda dapat dikategorikan menjadi empat jenis:

Fully Rigid : Jenis ini memiliki rangka yang kaku, tanpa ada suspensi baik depan maupun belakang.

Softtail : Frame-nya menggunakan suspensi yang disebut dengan “elastomer“, fungsinya adalah untuk menggerakkan frame melewati medan yang tidak rata.

Hardtail : Jenis ini memiliki bagian depan yang bersuspensi, sedangkan frame dengan bagian chain stay kaku tanpa ada suspensi. Tipe hard tail biasanya dipakai di medan yang bervariasi. Tipe hard tail sendiri bisa dicirikan dari adanya satu shockbreaker di garpu depan. Kalau tipe ini lebih cepat mendapatkan momentum ketika digenjot sehingga untuk mendapat kecepatan maksimum jadi lebih gampang. Tipe ini cocok buat yang senang cross country atau main di daerah pedesaan. Untuk yang suka modifikasi, kita bisa menambah shockbreaker, rem cakram, menambah gir, dan lain-lain

Dual/Full Suspension : Sepeda jenis ini memiliki suspensi untuk bagian garpu depan dan bagian chain stay. Mekanisme kerja peredam kejut di bagian chain stay menggunakan penggerak (Pivot) yang menghubungkan lower dan upper chain stay, sehingga membuat ban belakang dapat naik-turun mengikuti kontur medan yang dilalui. Untuk full suspention biasanya dipakai buat penggemar turunan atau downhill. Hal ini penting karena getaran sepeda saat turun bisa diredam oleh shockbreaker di garpu depan dan belakang sepeda. Sepeda jenis ini biasanya fork (garpu) depannya lebih tinggi ketimbang belakang. Soalnya ketika di turunan, sudut kemiringan sepeda enggak akan terlalu ekstrem. Alhasil sepeda jadi lebih mudah dikontrol.

Mountain bike (MTB) menurut data, lahir tahun 1976. Dia tercipta oleh beberapa kelompok orang California yang awalnya dijuluki clunker atau cruiser di kawasan Marin County. Orang-orang ini sebelumnya ‘gila berat’ dengan sepeda jenis bicycle motor cross (BMX). Mereka jika lomba dengan BMX, gayanya itu khas sekali. Yakni, lompat-lompat di atas balok kayu (log jump), batu dan sebagainya.

Tapi kenapa mereka pindah ke MTB dan menciptakan sepeda jenis itu? Menurut mereka, BMX kurang mampu menempuh jarak jauh sambil mendaki atau pun menuruni bukit. Selain itu, frame geometrical-nya (kerangka) amat beda sehingga teknis pengendaliannya juga berbeda. Pada log jump, MTB tak mampu melakukan manuver seperti itu tapi BMX begitu mudah dan tangkas.

Berdasarkan cara mengendarai dan jenis medan Setidaknya ada 5 jenis Mountain Bike berdasarkan fungsinya, yaitu:

Cross country (XC). Dirancang untuk lintas alam ringan hingga sedang. Didesain agar efisien dan optimal pada saat mengayuh dan menanjak di jalan aspal hingga jalan tanah pedesaan. Sepeda jenis ini dapat digunakan untk melibas segala jenis trek yang bervariasi seperti tanjakan, turunan, aspal maupun kubangan lumpur. Namun, sepeda ini memang tidak dirancang untuk turunan yang sulit, khusus untuk turunan yang sulit lebih pas kalo kita gunakan sepeda jenis Downhill (DH). Sepeda jenis ini biasanya menggunakan bahan logam yang ringan. Di Indonesia banyak dipertandingkan kelas cross country dan downhill. Karena dilihat dari jumlah peminat dan penggemar sepeda lintas alam yang jauh lebih banyak serta dari segi risiko dan biaya perlengkapan yang jauh lebih rendah.

Enduro / All mountain (AM). Dirancang untuk lintas alam berat seperti naik turun bukit, masuk hutan, melintasi medan berbatu, dan menjelajah medan offroad jarak jauh. Keunggulan all mountain ada pada ketahanan dan kenyamanannya untuk dikendarai. Hampir semua sepeda AM bertipe full-suspension. Sepeda ini memiliki karakteristik yang hampir sama dengan jenis XC, perbedaan utamanya adalah pada bobot. Sepeda AM lebih berat dibandingkan dengan XC. Bobot yang lebih berat ini dimaksudkan untuk mengantisipasi medan yang lebih ekstrim dan ukuran rangka biasanya lebih besar dari XC.

Freeride (FR). Dirancang untuk mampu bertahan menghadapi drop off (lompatan) tinggi dan kondisi ekstrim sejenisnya. Bodinya kuat namun tidak secepat dan selincah all mountain karena bobotnya yang lebih berat. Kurang cocok untuk dipakai jarak jauh. Julukan freeride ini mengikuti jenis aliran yang ingin mendobrak keteraturan yang hanya melewati jalur atau medan yang dilewati. Bagi penikmat sepeda ini, freeride adalah “No Way End for My Bike“. Berat sepeda jenis ini bisa lebih berat dari jenis AM dan XC.

Downhill (DH). Dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung. Mampu menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi dan selalu dilengkapi suspensi belakang untuk meredam benturan yang sering terjadi. Sepeda DH tidak mengutamakan kenyaman mengayuh karena hanya dipakai untuk turun gunung. Sepeda downhill juga lebih mengacu pada lomba, sehingga selain kekuatan, yang menjadi titik tekan dalam perancangannya adalah bagaimana agar dapat melaju dengan cepat. Untuk menuju ke lokasi, para downhiller tidak mengayuh sepeda mereka namun diangkut dengan mobil. Tidak efisien dipergunakan di dalam kota maupun di jalur cross country.

Sepeda jenis ini memang dirancang untuk dapat digunakan pada jalur yang penuh dengan turunan. Sepeda jenis ini juga memiliki berat yang lumayan dan biasanya terbuat dari logam yang cukup tebal dan berat (Berat sepeda sangat berguna untuk meluncur mengikuti gravitasi bumi..). Ciri yang kasat mata lainnya selain bentuknya yang menyerupai motor trail tanpa mesin, adalah jumlah gear depan dan belakang yang biasanya lebih sedikit. Suspensi depan biasanya memiliki travel berkisar antara 150 mm sampai dengan 200 mm, hal ini dimaksudkan agar getaran yang timbul dapat teredam dengan baik. Sedangkan suspensi belakang menggunakan travel berkisar antara 7 sampai 8 inchi.

Biasanya, berjenis full supension bike, yang mempunyai peredam kejut di bagian depan dan belakang. Fungsi kedua peredam kejut itu untuk lebih menjaga kemampuan kontrol, kekuatan menahan beban dan traksinya. Itu sebabnya, daya travel peredam kejut ini mencapai 7 inci. Yang tidak boleh terlewatkan adalah soal sistem pengereman. Melihat risiko dan medan yang dijelajahi, sepeda downhill memakai rem cakram. Di bagian crank, yaitu lengan ayun untuk mengayuh sepeda terpasang pada botom bracket dan di ujung satunya lagi terpasang pedal, punya spesifikasi khusus. Sepeda downhill hanya memiliki satu piringan chainwheel (piringan bergerigi yang berada pada chainset/komponen crank). Sepeda ini tidak bisa dipakai di medan menanjak. Dengan tuntutan spesifikasi yang khusus itu komponen sepeda downhill menjadi mahal. Bila dihitung-hitung, harga satu set sepeda yang siap bisa dipakai bermain, harganya mulai dari Rp 16 juta.

Seorang pemain sepeda downhill harus melengkapi dirinya dengan alat-alat keamanan. Karena risiko yang ditimbulkan lebih ekstrem dan berbahaya. Helm full face, pelindung dada dan tulang belakang wajib dikenakan. Kemudian masih ditambah pelindung siku, pergelangan dan tulang kering. Sepatunya juga khusus. Bila sudah siap berlaga, jangan lupa pakai kacamata (google) dan sarung tangan. Biaya pembelian perlengkapan keselamatan juga tidak murah. Helm full face biasanya berkisar Rp 1 juta, body protector komplet (Rp 1 – 2 juta), sepatu (sekitar Rp 500 ribu), kacamata (tak lebih dari Rp 1 juta) dan sarung tangan (sekitar Rp 200 ribu). Nah, sekarang anda bisa memperkirakan biaya yang akan anda keluarkan saat ingin mencoba hobi menarik yang satu ini.

Dirtjump (DJ)/ Urban and Street (DJ). Nama lainnya adalah urban MTB. Penggemar jenis ini awalnya adalah anak muda perkotaan yang menggunakan sepeda gunung selain sebagai alat transportasi, ngebut di jalanan kota, juga digunakan untuk melakukan atraksi lompatan tinggi dan ekstrim. Fungsinya mirip BMX namun dengan bentuk yang diperbesar. Umumnya sepeda DJ memiliki frame yang hampir sama dengan jenis sepeda BMX (singkatan dari B=Bicycle M=Moto X=Cross), tetapi memiliki diameter yang lebih besar antara 30% – 40%. Jika BMX memiliki diameter ban 20 inchi, sepeda DJ menggunakan diameter 24″. Jenis sepda DJ ini digunakan untuk dapat melewati segala kontur yang sudah dibuat (biasanya diwilayah perkotaan) seperti trotoar, tangga, tembok dan sebagainya.

Get your new Stuff !!

– Beli jadi atau rakitan ?

Jangan anggap enteng masalah ini. Memilih sepeda, khususnya mountain bike bukan hal sepele. Begitu memasuki toko sepeda ada beragam pilihan yang membingungkan. Tanpa pengetahuan memadai tentang sepeda bisa-bisa kita membeli sepeda yang tidak sesuai dengan fungsinya. Bagi yang berkantong tebal salah membeli sepeda tentu bukan problem serius. Tapi bagi mereka yang harus menabung sedikit demi sedikit untuk membeli sepeda, salah memilih adalah perkara besar.

Jangan sekali-kali membeli sepeda hanya karena senang pada bentuknya, tapi prioritaskan pada fungsi sepeda dan kebutuhan kita. Tentukan dulu penggunaannya untuk apa. Jangan sampai salah setting. Misalnya, ingin bike to work dengan jarak rumah ke kantor 40 km tapi yang dibeli sepeda BMX, atau mau ke gunung tapi yang dibeli city bike. Lebih sempit lagi, dalam dunia MTB misalnya, sepeda cross country dipakai untuk downhill, atau sepeda downhill dipakai dirtjump.

Mountain Bike dapat dibeli dalam bentuk sepeda jadi (full-bike) maupun rakitan yang komponennya kita tentukan sendiri. Sebagai pemula mana yang harus dipilih?

Pilihan pertama, membeli full-bike, berarti tinggal datang ke toko, pilih, bayar dan langsung pakai. Mudah sekali. Jika Anda tak mau repot, atau bersepeda bagi anda sekadar untuk berolah-raga dan sarana transportasi alternatif, maka membeli sepeda full-bike sangat cocok. Namun membeli full-bike juga membuat sepeda kita kurang memiliki nilai personal, karena pasti tidak sedikit orang lain yang memiliki sepeda sama dengan kita.

Pilihan kedua, sepeda rakitan, berarti kita memilih komponen dan membangun sepeda sendiri. Memang lebih merepotkan. Tapi kelebihannya, sepeda rakitan memiliki nilai kepuasan tersendiri bagi pemiliknya karena sesuai dengan keinginan dan gaya pribadi. Faktor yang harus diperhatikan dalam merakit adalah kita harus faham kecocokan dari masing-masing komponen. Membeli sepeda secara rakitan karenanya kurang disarankan bagi pemula. Para pemula yang ingin merakit sepeda sendiri sangat disarankan mengajak pesepeda yang lebih senior. Proses perakitannya juga sebaiknya diserahkan kepada tokonya, kita hanya sekadar memilih komponennya saja.

Untuk masalah kualitas, sebetulnya sama saja antara beli jadi dengan rakitan. Tetapi untuk masalah harga, dengan tingkat komponen setara, biasanya sepeda full-bike lebih murah. Kenapa? Karena sepeda full-bike diproduksi secara masal, sehingga bisa menekan biaya produksi. Kecuali bila kita merakit sepeda dengan memakai frame bajakan (generik), maka harga sepeda rakitan jelas lebih murah. Frame bajakan adalah frame sepeda gunung dengan merk terkenal (misalnya Specialized, Schwinn, Kona, dll.) tapi sebenarnya bukan buatan pabrik tersebut. Harga frame bajakan bisa 1/10 frame aslinya.

– Hardtail atau full-suspension ?

Lalu bagaimana memilih MTB yang baik dan mampu mengatasi medan berat? Menurut para pakar, sebaiknya belilah sesuai kebutuhan dan keperluan. Jika cuma untuk dipakai dalam jarak pendek, tentu tak perlu yang mahal. Namun jika suatu hari kita punya minat untuk membeli yang ternama, pastikan belilah yang top branded. Sebab, lazimnya produk ternama memberi jaminan kualitas yang pasti.

Ketika menanyakan hal ini biasanya para pemula akan disarankan memulai dengan hardtail. Alasannya antara lain agar para pemula terlebih dulu membiasakan diri dengan sepeda yang lebih ringan, efisien dalam mengayuh, mudah dalam pengendalian dan sederhana dalam perawatan. Baru setelah jam terbangnya dengan hardtail cukup banyak dapat beralih ke fulsus.

Saran ini sekarang mungkin sudah kurang relevan lagi, meskipun juga tidak salah. Mengapa? Karena, saat ini telah banyak sepeda fulsus yang memiliki performa dan efisiensi mendekati hardtail. Terutama pada sepeda ‘kelas atas’. Jadi, bila bujetnya memang sudah tersedia, tidak ada salahnya langsung mencoba fulsus. Begitu pula bagi orang-orang yang baru memulai bersepeda di usia 30-an ke atas, memilih fulsus akan membuat bersepeda menjadi lebih nyaman. Tentunya, yang dipilih bukan fulsus ‘asal jadi’ dengan efek bobbing besar (biasanya produk Cina), karena justru akan menyengsarakan dan jangan-jangan malah akan membuat kapok bersepeda. Efek bobbing adalah rantai mengendor dan mengencang akibat gerakan suspensi belakang, membuat kayuhan menjadi berat dan energi kita terbuang percuma.

Tetapi satu hal yang pasti, untuk pemula yang baru pertama kali membeli MTB, belilah sepeda cross country terlebih dahulu. Baik hardtail maupun fulsus. Jangan membeli sepeda freeride, apalagi downhill.

Yang jadi masalah sekarang adalah harganya. Untuk bisa serius dan fokus di olahraga ini, punya sepeda yang baik dan bagus wajib hukumnya. Agar tidak salah dalam menentukan pilihan, sebaiknya tentukan dulu berapa bujet, baru kemudian cari sepeda yang sesuai dengan anggaran kita itu. Jika bujetnya cuma 800 ribu rupiah, carilah sepeda seharga itu. Jangan mudah tergiur dan kebablasan membeli sepeda di atas bujet yang disiapkan..

-Harga

Memang, semakin mahal harga sebuah sepeda semakin baik pula kualitasnya. Pepatah ‘harga tidak akan menipu’ dan ‘ada harga ada rupa’ berlaku dalam membeli sepeda. Lantas apakah kegiatan ini hanya ditujukan bagi mereka yang berkantong tebal? “Tidak juga. Banyak dari mereka yang berasal dan kalangan bawah yang suka olahraga ini. Mahal itu relatif dan tidak bisa diukur. Banyak sepeda yang harganya murah. Tapi memang standarnya sepeda yang untuk bertanding sekitar Rp 5 juta. Sedangkan untuk championship itu sekitar Rp 20 juta-an. Sekarang tinggal kita yang memilih sendiri. Apakah sepeda itu untuk bertanding demi negara, atau hanya untuk having fun saja,” kata Suwandra.

Daripada mempersoalkan gengsi, lebih penting untuk membuktikan bahwa meski dengan sepeda murah tapi lebih jago di tanjakan, lebih piawai di medan offroad, dan lebih kuat endurance-nya. Sambil, tentu saja, sisihkan sebagian penghasilan anda agar ke depannya dapat mengupgrade sepeda anda atau membeli sepeda yang lebih sesuai dengan keinginan.

Bahkan, beberapa merek sepeda gunung harganya bisa melangit hingga di atas Rp 50 juta. Biasanya, kerangka sepeda itu terbuat dari karbon fiber. Beratnya pun begitu ringan dan bisa diangkat dengan satu tangan. Desainnya pun semakin berkembang mengikuti kebutuhan si pengguna. Kini, banyak sepeda yang menggunakan rem cakram. Ini merupakan adaptasi teknologi kendaraan bermotor. Artinya, tingkat keamanan pun semakin tinggi pula. Guna meredakan kejutan atau goncangan, umumnya sepeda gunung dilengkapi dengan shockbreaker, entah di depan, tengah, atau bagian belakang, dilengkapi dengan sensor komputer yang akan mengatur kerja shockbreaker. Jadi begitu dijalanin dan merasakan kontur jalan, sepeda akan mengatur seberapa banyak getaran yang akan diserap.

Sepeda gunung bisa dibeli mulai dari harga 700 ribu hingga puluhan juta rupiah. Kualitas bahan, fitur dan desainnya lah yang membedakan. Sepeda gunung seharga 700 ribu framenya masih terbuat dari besi, sedangkan yang puluhan juta berbahan serat karbon, bahan yang sama dengan pesawat terbang. Bagi kebanyakan orang, frame berbahan aluminium sudah mencukupi. Tetapi sekadar saran, jika bujet Anda mencukupi, jangan membeli sepeda gunung dengan harga di bawah 1 juta rupiah. Untuk pemula yang sekadar ingin bicycling for fun, sepeda berharga 1,5 – 3 juta rupiah sudah sangat mumpuni. Kecuali jika Anda sudah mulai serius menekuni hobi ini dan menjadi kecanduan berat, sepeda seharga 10 juta rupiah pun masih dirasa kurang.

Richard Cunningham yang mendesain sepeda gunung dengan merek Nishiki dan Mantis menyarankan pada mereka yang serius tapi punya dana pas-pasan, agar membeli frame (terbaik) lebih dulu ketimbang membeli sepeda komplit yang mahal sekali. Bagian atau komponen lain bisa dibeli satu per satu yang sesuai dengan komponen sehingga tak perlu berkali-kali melakukan perbaikan.

Yang juga tak kalah penting adalah di saat kita berhadapan dengan pedagang sepeda. Pertama kali mintalah brosur (katalog) yang berisi spesifikasi. Sesuaikan geometri sepeda yang akan dibeli dengan geometri sepeda yang harganya lebih tinggi. Kalau kita menemukan kesamaan geometri dengan sepeda yang akan kita pilih, antara lain head angle (sudut kepala stang), seat angle (sudut pipa sadel dengan pipa atas), top tube length (panjang pipa atas) dan chainstay length (panjang pipa kedudukan rantai) maka sepeda Anda sudah mirip sepeda yang harganya lebih mahal.

-Merek ?

Sepeda seperti halnya mobil. Industri sepeda juga mengeluarkan model-model baru dengan sentuhan inovasi-inovasi terkini sehingga nyaman dikendarai. Bahan kerangkanya tidak hanya terbuat dari besi atau campuran baja seperti zaman dulu. Sekarang kerangka sepeda berasal dari bahan-bahan yang eksotis, seperti titanium, aluminium, dan serat karbon. Beratnya lebih ringan, tetapi lebih kuat dibandingkan dengan sepeda-sepeda dulu.

Yang jadi pertanyaan bagaimana mengetahui sepeda itu mereknya ternama, sementara kita sama sekali belum tahu apa-apa tentang sepeda? Ini gampang, tanyakan pada dealer atau toko sepeda tentang spesifikasi sepeda yang bakal dibeli. Merek sepeda yang beken biasanya spesifikasi dan ukurannya jelas dan tak berubah-ubah. Atau lihat majalah sepeda untuk mengetahui lebih jauh tentang itu.

Sekarang ini ada sepeda yang harganya mencapai Rp 60 juta. Sepeda mahal itu menggunakan kerangka terbuat dari karbon fiber. Beratnya pasti ringan, sekitar 10 kg. Bisa ditenteng dengan satu tangan. Sepeda gunung berkelas ini antara lain bermerek Canondale buatan Cannondale Bicycle Corp. Terakhir, perusahaan pembuat mobil Audi juga memproduksi sepeda yang diberi nama Audi Bicycle, Mountain Bike Cross Pro. Audi mematok harga sepeda per unit Rp 33 juta.

Frame sepeda gunung yang ditawarkan Audi terbuat dari aluminium dengan desain khusus untuk cross country yang full suspensi. Remnya menggunakan rem cakram, disk brake Magura Marta yang kuat mencengkeram. Cocok untuk digunakan dalam kota yang banyak sepeda motor dan mobil yang kadang-kadang berhenti mendadak.

Dan jangan lupa cek pipa kerangka sepeda (frame tubes). Material kerangka MTB terbuat dari macam-macam bahan. Ada yang dari besi sehingga kuat dan keras, namun akhirnya sepeda jadi berat. Juga ada bahan yang terbuat dari besi campuran yang disebut High Tension atau sering disingkat Hi-Ten yang lebih ringan dari besi. Kemudian lahir penemuan baru lagi yakni Chromoly. Tujuannya sama agar sepeda menjadi lebih ringan dari sebelumnya. Tapi belum lama Chromoly hadir, lahir konsep tubing baru yang disebut Tange. Yang disusul lagi oleh Alumunium, Carbon, dan Titanium. Sepeda pun menjadi semakin ringan namun tetap kuat.

Sepeda gunung umumnya menggunakan shokbreker, baik di bagian depan, tengah, maupun belakang. Sepeda buatan Audi juga demikian. Namun, Audi membuatnya sangat terbatas, hanya 200 unit. Perusahaan otomotif ini tampaknya tahu bahwa konsumen sepeda yang dibuatnya hanya untuk kalangan tertentu, yaitu kalangan menengah ke atas, orang yang tidak sayang membeli sebuah sepeda dengan harga puluhan juta rupiah.

Sumber :
http://diditho.net/
http://bayuwahyudi.multiply.com/
http://www.kompas.com/
http://www.sinarharapan.co.id/
http://poinmascyclingclub.wordpress.com/route-this-week/
http://genjotyuk.blogspot.com/
http://freemagz.com/index.php





mahasisiwa ideal ala ASTACALA

24 09 2007
– Effective n efficient,
Seorang bijak pernah mengatakan “Sebagian besar hal yang besar terjadi didunia ini dilakukan oleh orang – orang yang sangat sibuk atau sangat sakit. Sangat jarang lingkungan yang santai mampu membentuk seorang untuk menjadi sukses atau bertumbuh.” So, jadilah mahasiswa aktiv, ikuti program / organisasi yang menurutmu baik dan sesuai dengan minat. Di ASTACALA, kita dikondisikan untuk efektiv dan efisien memanfaatkan waktu. Terkadang, organisasi atau diperkuliahan memang menyita waktu dan perhatian kita. So, manfaatkanlah kesempatan yang tersisa untuk menyelesaikan amanah yang masih tertinggal.

– Nature,
Percaya atau tidak, alam akan selalu mampu memberikan ketenangan. Dengan mengenyampingkan sejenak urusan yang kadang membuat mumet (TP, tugas besar, Quiz, utang, dll), menikmati keindahan lingkungan sekitar, mengunjungi tempat-tempat terpencil, bertemu dengan orang – orang asing, kebudayaan atau bahasa berbeda di seluruh penjuru negri akan mampu merefresh otak kita, mencoba untuk hidup sederhana dan lepas dari rutinitas atau prolem hidup, serta mungkin dapat memberi sedikit contoh kearifan.

-Jointly,
Menjadi “makhluk sosial”, bergabunglah bersama komunitas yang berbeda – beda, cari informasi sebanyak mungkin, berdiskusilah dengan berbagai macam orang…Jangan biarkan dirimu perlahan-lahan menjadi mahasiswa kuper atau autis, yang tidak peduli dengan dunia luar. Bergaulah, dengan begitu hidup ini akan terasa lebih indah, karena kegembiraan itu salah satunya akan datang dari persahabatan.

– Organize
Diantara seabrek tugas kuliah yang bikin pusing, Te-Pe yang bikin sensi, rapat organisasi yang bikin cape dech, dll..kamu mesti bisa me-manage jadwal dengan baik. Aturlah segala sesuatu sesuai prioritasnya, karna setiap kita hanya diberi waktu 24 jam sehari dan kita tak akan pernah duduk di dua kursi sekaligus..terkadang memang kita harus meninggalkan amanah yang satu untuk membuat amanah yang lain berjalan, tapi ketika kesempatan untuk kembali datang, kejarlah ketertinggalan dan berikan yang terbaik. Jadilah orang yang berkompeten !!

-Yummy
inilah asiknya, anggaplah semua aktivitas yang kamu lakukan selezat makanan kesukaan kamu…Hmmm…nyak…enyak…enyak..enyak…Majulah jika kesempatan untuk memegang amanah datang padamu, belajar sebanyak – banyak nya dari orang lain dan lingkungan, dan jangan lupa enjoy your -only one- Life guys !!

Banyak anggapan yang berkembang, bahwa MAPALA itu hanyalah kumpulan orng-orang urakan, dekil, kuliah ga bener, doyan berantem, dsb..dsb…
Tapi taukah anda Soe Hok Gie -aktivis mahasiswa dijaman orde lama yang mulai tekenal lagi ketika kisah hidupnya difilmkan dan dibintangi Nicolas Saputra- adalah salah satu pendiri MAPALA UI ?
DIkalangan pecinta alam sendiri, banyak dikenal tokoh – tokoh besar. Yang tidak saja adalah orang – orang yang menghargai hidup, tapi juga pribadi yang berintegritas, menghargai waktu, serta memiliki komitmen yang besar dengan target – targetnya. “Kita adalah apa yang kita pikirkan tentang diri kita”, begitulah dulu Soe Hok Gie pernah berucap…
Jadi, ga semua anak MAPALA itu jelek, jadilah apapun yang kamu inginkan dan berprestasilah dimanapun..

by ASTACALA team
take from BEWARA ASTACALA.





mahasisiwa ideal ala ASTACALA

24 09 2007

– Effective n efficient,
Seorang bijak pernah mengatakan “Sebagian besar hal yang besar terjadi didunia ini dilakukan oleh orang – orang yang sangat sibuk atau sangat sakit. Sangat jarang lingkungan yang santai mampu membentuk seorang untuk menjadi sukses atau bertumbuh.” So, jadilah mahasiswa aktiv, ikuti program / organisasi yang menurutmu baik dan sesuai dengan minat. Di ASTACALA, kita dikondisikan untuk efektiv dan efisien memanfaatkan waktu. Terkadang, organisasi atau diperkuliahan memang menyita waktu dan perhatian kita. So, manfaatkanlah kesempatan yang tersisa untuk menyelesaikan amanah yang masih tertinggal.
– Nature,
Percaya atau tidak, alam akan selalu mampu memberikan ketenangan. Dengan mengenyampingkan sejenak urusan yang kadang membuat mumet (TP, tugas besar, Quiz, utang, dll), menikmati keindahan lingkungan sekitar, mengunjungi tempat-tempat terpencil, bertemu dengan orang – orang asing, kebudayaan atau bahasa berbeda di seluruh penjuru negri akan mampu merefresh otak kita, mencoba untuk hidup sederhana dan lepas dari rutinitas atau prolem hidup, serta mungkin dapat memberi sedikit contoh kearifan.
-Jointly,
Menjadi “makhluk sosial”, bergabunglah bersama komunitas yang berbeda – beda, cari informasi sebanyak mungkin, berdiskusilah dengan berbagai macam orang…Jangan biarkan dirimu perlahan-lahan menjadi mahasiswa kuper atau autis, yang tidak peduli dengan dunia luar. Bergaulah, dengan begitu hidup ini akan terasa lebih indah, karena kegembiraan itu salah satunya akan datang dari persahabatan.
– Organize
Diantara seabrek tugas kuliah yang bikin pusing, Te-Pe yang bikin sensi, rapat organisasi yang bikin cape dech, dll..kamu mesti bisa me-manage jadwal dengan baik. Aturlah segala sesuatu sesuai prioritasnya, karna setiap kita hanya diberi waktu 24 jam sehari dan kita tak akan pernah duduk di dua kursi sekaligus..terkadang memang kita harus meninggalkan amanah yang satu untuk membuat amanah yang lain berjalan, tapi ketika kesempatan untuk kembali datang, kejarlah ketertinggalan dan berikan yang terbaik. Jadilah orang yang berkompeten !!
-Yummy
inilah asiknya, anggaplah semua aktivitas yang kamu lakukan selezat makanan kesukaan kamu…Hmmm…nyak…enyak…enyak..enyak…Majulah jika kesempatan untuk memegang amanah datang padamu, belajar sebanyak – banyak nya dari orang lain dan lingkungan, dan jangan lupa enjoy your -only one- Life guys !!
Banyak anggapan yang berkembang, bahwa MAPALA itu hanyalah kumpulan orng-orang urakan, dekil, kuliah ga bener, doyan berantem, dsb..dsb…Tapi taukah anda Soe Hok Gie -aktivis mahasiswa dijaman orde lama yang mulai tekenal lagi ketika kisah hidupnya difilmkan dan dibintangi Nicolas Saputra- adalah salah satu pendiri MAPALA UI ?
Dikalangan pecinta alam sendiri, banyak dikenal tokoh – tokoh besar. Yang tidak saja adalah orang – orang yang menghargai hidup, tapi juga pribadi yang berintegritas, menghargai waktu, serta memiliki komitmen yang besar dengan target – targetnya. “Kita adalah apa yang kita pikirkan tentang diri kita”, begitulah dulu Soe Hok Gie pernah berucap…
Jadi, ga semua anak MAPALA itu jelek, jadilah apapun yang kamu inginkan dan berprestasilah dimanapun..

by ASTACALA team
take from BEWARA ASTACALA.





Menyusuri labirin renungan [1]

11 07 2007

29 Juni 2007. Dengan bismillah, aku bergantung pada sehelai tali putih tipis 10.5 mili ini..Sesaat yang lalu sebelum melepaskan semua pengaman terakhirku, sempat kutanyakan pada Ayis-Second Man kami pukul berapa saat itu “Sebelas lewat lima menit..“, jawabnya singkat. Entah mengapa kutanyakan itu…mungkin berharap angka yang disebutkan adalah urutan angka baik atau sekedar mengingatkan menit-menit terakhir nafasku berhembus –jika aku diijinkan mati saat itu-.
Entah seakan berkonspirasi dengan firasat tak menentu ini, angin dingin terus membelai dan jelas terasa sayup nada gemericik air dikedalaman sana. Gelap celah vertikal dibawah ini perlahan namun pasti mengantarkan denyut kesunyian yang tak terkatakan, bahkan melihat kebawahpun aku tak sanggup..entah mengapa juga lututku sekejab mengiggil dan terasa ringan, merasakan kekosongan gelap dimensi ruang dibawahku. Sebagai Rigging Man dalam penulusuran ini, aku berkewajiban untuk turun pertama kali memasuki lorong gelap ini..yang bahkan belum pernah kumasuki dan tak bisa rasakan kedalamannya.
Bandung, 1 Juli 2007. Minggu ini adalah sedikit dari saat melelahkan dalam perjalananku. bagaimana tidak, kami akan segera menyongsong petualangan di kedalam antah barantah perut bumi. Namun kami akan sangat ramai sekali saat itu..dan hampir sebagian besar dari mereka dipastikan akan sangat grogi -atau ketakutan- karena memang belum pernah memasuki gua sekalipun apalagi vertikal di malam sunyi gelap gulita. Tak heran, aku terus menerus khawatir menanti saat ini, bukan karena diriku saja tapi juga karena nyawa orang lain yang juga mungkin bergantung pada keputusan yang akan kami atau aku ambil nanti. inilah eksplorasi pertamaku tanpa rekan yang bisa dijadikan tempat bergantung..karena saat ini kami hanya mampu saling bergantung satu sama lain..saling menguatkan nyali yang mulai menciut.
Hanya selisih beberapa hari sebelumnya, kami baru saja menyelesaikan petualangan di tebing citatah selama 2 hari. Ya, 2 hari disiram teriknya mentari dan terpaan udara panas yang sedang berputar menyerbu angkasa. Sebelumnya bisa dikatakan kami tidak tidur, karena kawan – kawan anggota mudaku ini harus menyelesaikan sesi materi kelas rock climbing dulu sebelum melakukan praktek di tebing sesungguhnya.Baru jam 3 dini hari Sabtu tanggal 23 Juni 2007 itu kami bisa memejamkan mata..dan paginya harus kembali bangun menyiapkan perlengkapan yang harus kami bawa ke dalam beberapa carrier dan daypack, menuju Area Pusat Pendidikan dan Latihan Kopassus : Tebing 48 Citatah – purwakarta.
Lelah dan bau, kami akhirnya tiba lagi di Bandung minggu malam itu. Senin, tanggal 26 Juni 2007 diputuskan untuk beristirahat sejenak..fisik dan mental, dan tidak satupun alat – alat itu dicuci, karena akan digunakan lagi beberapa hari mendatang. Hari itu penuh hanya kuisi dengan tidur, baca buku dan menonton. Hari Selasa, 27 Juni 2007 pagi kami sudah ada di dasar Tower untuk berlatih SRT. Kami membuat 2 lintasan setinggi kira-kira 20 m waktu itu, dengan variasi intermediate dan simpul ditengah lintasan. Pagi itu aku dan kawan – kawan mentor mencoba memberikan materi mengenai teknik turun. Sorenya kutinggalkan sejenak sesi ini untukkeperluan masa depan, dan baru pulangnya aku tau kawan – kawan belum juga selesai berlatih hingga pukul 10 malam. Hari Rabu tanggal 28 Juni 2007 itu kawan – kawan sudah mulai menyiapkan perlengkapan dan membeli bekal untuk perjalanan selanjutnya minggu ini : penelusuran gua. Menurut rencana, kami akan berangkat Ju’mat paginya, sehingga paling tidak hari kamis kami sudah siap untuk On Action.
Oleh karena itu juga, kamis malam tanggal 29 Juni 2007 kami berlatih lagi atau lebih tepatnya tes. Onie dan Ayis sendiri sudah berangkat terlebih dahulu sebagai tim pendahulu, menyiapkan perijinan dan segala sesuatu nya disana. Sedangkan kawan – kawan anggota muda kali ini harus bisa menyiapkan peralatan SRT nya sendiri, melewati lintasan yang ditentukan dalam waktu terbatas berikut dengan peralatan lengkap penelusuran : Boot dan Helm. Ya ini adalah Tes Simulasi SRT, seperti biasa waktu yang telah ditentukan dilanggar..dan kembali aku harus begadang lagi..tak tanggung-tanggung hingga pukul 4 dini hari..”Ya Tuhan, berikan padaku kekuatan dan tambahan semangat“, pikirku waktu itu. Karena pukul 7 paginya kami sudah harus berangkat.
….

Sebenarnya tempat ini sudah pernah kudatangi sebelumnya, kawasan kars yang tersembunyi di bawah kerindangan hutan lindung pinus dan rimbunnya semak belukar kebun penduduk, Buni Ayu nama tempatnya. Sekitar 1-2 jam dari Kota Sukabumi. Saat itu tanggal 5-7 Mei 2007, kami hanya ber-4: Aku, nipon, Onie yang memimpin perjalanan survey ini dan acong, anggota muda yang juga turut kami ajak.

Sebenarnya tujuan perjalanan waktu itu bukanlah daerah ini. Tapi daerah kars yang lebih tersembunyi di pedalaman lagi..Sagaranten . Memang untuk mencapai daerah ini kita akan melewati daerah Buni Ayu dahuulu, yang tempatnya sudah menjadi area wisata yang dikelola perhutani dan berada sangat dekat dengan jalur transportasi. Namun lokasi komplek gua di Sagaranten sangat jauh dari keramaian. Nipon sendiri yang menjadi sumber informasi kami ketika itu, terakhir berkunjung pada tahun 2000 silam -7 tahun yang lalu-. Menurut informasi dari nya, kami tau bahwa daerah kars disana sangat perawan, dan terdiri dari berbagai gua vertikal – horizontal yang mayoritasnya berjenis fosil.
Berbekal data 7 tahun yang lalu itu juga, kami berempat akhirnya berangkat ke Sagaranten lengkap dengan perlengkapan camp, logisitik, bahan bakar, dan peralatan penelusuran vertikal. Sebelumnya aku tak pernah khawatir dan tidak sedikitpun firasat melintas dari benakku, bahwa telah banyak yang berubah selama 7 tahun terakhir di dunia ini…termasuk di daerah terpencil seperti Sagaranten.
Dan terjadilah sudah..seperti sudah ditakdirkan, kami saat itu tak berhasil melakukan penelusuran di Sagaranten…karena kami tak pernah ada disana. Ya, kami tidak mampu mencapai Sagaranten dalam perjalanan itu. Karena memang Sagaranten adalah suatu wilayah yang sangat luas..dan kami tidak punya kata kunci desa, kampung atau apapun yang mampu mengidentifikasi dimana tepatnya lokasi yang kami tuju : Rumah Pak Parmin, kuncen gua di Sagaranten. Pun tidak setelah bertanya dan dikerumuni orang-orang –tukang ojeg, preman, satpam,dll- di terminal, atau ketika meminta kawan untuk membawa mobil carteran untuk mengantar kami berkeliling mencari rumah kuncen Sagaranten tersebut hingga pukul 2 dini hari, atau ketika kami menumpang menginap di kantor polisi setempat : Polsek Nyalindung.
Ya, kami tidak pernah menelusuri gua – gua di Sagaranten dalam perjalanan itu. Esoknya tanggal 6 Juni 2007 setelah bangun dari tidur sejenak kami dan makan pagi seadanya di warung, kami berdiskusi mengenai rencana kami saat itu. Diputuskan bahwa kami menghentikan pencarian lokasi desa gua di Sagaranten itu dan langsung menuju Buni Ayu yang sudah jelas posisi nya dan dapat lansung dicapai dari tempat kami berada saat ini. Sebelumnya, ketika Pak Polisi yang sedang berjaga menanyakan tujuan kami, sempat kujawab Buni Ayu dan beliau menawarkan untuk mengantarkan kami dengan mobil patroli.
Dan akhirnya kami tiba juga di Buni Ayu hari Sabtu, tanggal 6 Mei 2007. Saat itu Pak Kakai, koordinator disana beserta Kang Ucok, salah satu guide yang menyambut. Kami menyampaikan niat kami untuk melakukan penelusuran dan mengatakan bahwa kami membawa perlengkapan yang lengkap sehigga tidak perlu meminjam alat. Saat itu yang kami perlukan adalah ijin berkemah dan guide untuk menunjukan gua yang bagus untuk dieksplorasi.
Dari hasil tawar menawar waktu itu, disepakati harga 60 ribu untuk menginap 1 hari di area camp, seorang guide, baju dan helm penelusuran. Waktu itu sudah siang, sekitar pukul 2 dan kami memutuskan untuk mengisi perut yang kosong dahulu. Tak lama hujan deras menemani makan siang sederhana kami itu, dan Pak Kakai menegaskan kembali bahwa kami tidak diijinkan untuk melakukan penelusuran gua yang melewati arus sungai karena dikhawatirkan terjadi banjir didalam..
Oleh karena hal tersebut dan keterbatasn waktu juga, hanya beberapa gua horizontal yang sempat kami masuki waktu itu -gua siluman dan buni ayu-, semuanya adalah entrance (mulut gua) horizontal. Lokasi ini menurut informasi yang kami dapat adalah tempat yang dikunjungi oleh Riani Jangkaru dengan timnya ditemani kawan – kawan MAPALA UI untuk syuting salah satu episode Jejak Petualang.
Selebihnya kami hanya melihat – lihat entrance lain dan mendokumentasikan posisi nya di permukaan bumi, Gua Landak, Domba yang kesemuanya adalah entrance horizontal dan terletak di dalam lebatnya hutan lindung pinus. Saat itu aku tak henti – henti nya kagum karena teringat dengan panasnya terik mentari di Gunung Sewu, Gunung Kidul…tempat yang dulu menjadi persinggahanku untuk mengenal petualangan ini. Saat itu, acong memutuskan untuk tidak ikut serta dengan kami, ”capek…sekalian aku jaga base camp”, katanya saat itu. Tapi aku melihat hal yang lain, shock? Ya untuk ukuran pemula, ia sudah cukub banyak mendapat hal baru yang sangat tak terduga dalam 24 jam terakhir : nyasar, nginap di kantor polisi, berada dalam lorong gelap horizontal dan merasakan bau serta kotoran yang kujamin tak pernah ditemuinya selama hidup di permukaan bumi.. Jadi kami tinggalkan acong di basecamp saat itu, karena memang perlu ada yang stand by untuk menjaga perlengkapan kami sekalian mempersiapkan makan malam.
Entrance Vertikal yang menjadi favorit yaitu Gua Kerek tak sempat untuk kami turuni. Ia adalah bentukan alam berupa sebuah lorong vertikal yang mulutnya terbentuk dari rekah longsoran batuan kapur beberapa ratus lalu. Waktu itu aku yang memegang GPS (alat untuk menentukan koordinat) dan merekam posisinya. Lensa kamera SLR Canon kami saat itu berembun, karena memang saat itu sudah sore dan tanah ini baru saja diguyur hujan begitu lebat nya siang tadi… hingga kami tak bisa merekam suasana yang ada saat itu. Pernahkah kamu membaca teori lubang hitam yang menarik segala sesuatu disekitranya? Seperti itulah yang kurasakan saat melihat dan berada di sekitar celah vertical ini : sunyi, gelap dan begitu kuat menariku..
Sama seperti yang kurasakan kelak, sayup terdengar suara aliran air didalamnya disertai angin dingin yang seakan menyembur dari bawah sana. “Ada sungai dibawah ya kang ? berapa kira-kira dalamnya ? “, tanyaku untuk sekedar melepas kesunyian pada guide kami hari itu. “Ya, ada sungai dibawah. Klo hujan bisa banjir hingga 2-3 meter..Dalamnya kira-kira 30 meter-anlah..“, jawab kang Ucok ringan. Mendengar keterangan singkatnya itu, aku mencoba menggambar kondisi dibawah sana di dalam pikiranku…turun kedalam lorong sempit sejauh 30 meter-an (bisa 39..35…32..) dan langsung disambut dingin nya air sungai.”anjrit…”, pikirku..
Klo musim hujan seperti ini, kami ga berani turun sore atau malam..karena biasanya hujan disore hari, sedangkan jika turun malam hari, tidak bisa dipantau kondisi langit dari kawan-kawan diatas. Gua ini bagian utama dari aliran sungai bawah tanah dibawah ini. Menurut perkiraan, sungai bawah tanahnya yang membentuk air terjun di depan entrance horizontal di bawah sana..walau belum ada yang membuktikan nya…beberapa tahun lalu memang ada peneliti dari prancis yang menelusuri sungai bawah tanah ini dengan perahu karet hingga ke entrance horizontal, tapi gagal. Klo waktu nya cukup, kita akan kesana.” katanya lagi dalam percakapan kami menelusuri hutan pinus ini, menuju pintu-pintu misteri lain yang bisa kami kunjungi sebelum matahari beranjak ke peraduannnya.

Dan memang benar, kami akhirnya tiba di air terjun setinggi 7 meter itu – Air Terjun Bibijilat. Sedikit kedalam kulihat ada entrance horizontal yang menjadi sumbernya..serasi dengan nama air terjun nya : Gua Bibijilat. Ya, Air terjun ini berasal dari sungai bawah tanah yang tiba – tiba muncul ke permukaan bumi dan langsung disambut bentukan bebatuan vertikal. Penduduk tampaknya memanfaatkan kekayaan alam ini dengan membangun undak-undak besar menyerupai gourdam dan 3 buah pompa air mekanik untuk menyuplai kebutuhan air bagi kampung mereka. Semak belukar diatas juga dipotong pendek sehingga menyerupai taman kecil sederhana yang rindang dibawah pepohonan besar diatasnya. Entah berapa kubik kecepatan air kapur ini mengalir…yang jelas bunyi gemuruhnya nya terdengar hingga jauh, dan aku tak mampu membayangkan kondisi sungai bawah tanah di gua sana…atau bagaimana rasanya terjebak didalam..
To be continued





Menyusuri labirin renungan [1]

11 07 2007

29 Juni 2007. Dengan bismillah, aku bergantung pada sehelai tali putih tipis 10.5 mili ini..Sesaat yang lalu sebelum melepaskan semua pengaman terakhirku, sempat kutanyakan pada Ayis-Second Man kami pukul berapa saat itu “Sebelas lewat lima menit..“, jawabnya singkat. Entah mengapa kutanyakan itu…mungkin berharap angka yang disebutkan adalah urutan angka baik atau sekedar mengingatkan menit-menit terakhir nafasku berhembus -jika aku diijinkan mati saat itu-.

Entah seakan berkonspirasi dengan firasat tak menentu ini, angin dingin terus membelai dan jelas terasa sayup nada gemericik air dikedalaman sana. Gelap celah vertikal dibawah ini perlahan namun pasti mengantarkan denyut kesunyian yang tak terkatakan, bahkan melihat kebawahpun aku tak sanggup..entah mengapa juga lututku sekejab mengiggil dan terasa ringan, merasakan kekosongan gelap dimensi ruang dibawahku. Sebagai Rigging Man dalam penulusuran ini, aku berkewajiban untuk turun pertama kali memasuki lorong gelap ini..yang bahkan belum pernah kumasuki dan tak bisa rasakan kedalamannya.

Bandung, 1 Juli 2007. Minggu ini adalah sedikit dari saat melelahkan dalam perjalananku. bagaimana tidak, kami akan segera menyongsong petualangan di kedalam antah barantah perut bumi. Namun kami akan sangat ramai sekali saat itu..dan hampir sebagian besar dari mereka dipastikan akan sangat grogi -atau ketakutan- karena memang belum pernah memasuki gua sekalipun apalagi vertikal di malam sunyi gelap gulita. Tak heran, aku terus menerus khawatir menanti saat ini, bukan karena diriku saja tapi juga karena nyawa orang lain yang juga mungkin bergantung pada keputusan yang akan kami atau aku ambil nanti. inilah eksplorasi pertamaku tanpa rekan yang bisa dijadikan tempat bergantung..karena saat ini kami hanya mampu saling bergantung satu sama lain..saling menguatkan nyali yang mulai menciut.

Hanya selisih beberapa hari sebelumnya, kami baru saja menyelesaikan petualangan di tebing citatah selama 2 hari. Ya, 2 hari disiram teriknya mentari dan terpaan udara panas yang sedang berputar menyerbu angkasa. Sebelumnya bisa dikatakan kami tidak tidur, karena kawan – kawan anggota mudaku ini harus menyelesaikan sesi materi kelas rock climbing dulu sebelum melakukan praktek di tebing sesungguhnya.Baru jam 3 dini hari Sabtu tanggal 23 Juni 2007 itu kami bisa memejamkan mata..dan paginya harus kembali bangun menyiapkan perlengkapan yang harus kami bawa ke dalam beberapa carrier dan daypack, menuju Area Pusat Pendidikan dan Latihan Kopassus : Tebing 48 Citatah – purwakarta.

Lelah dan bau, kami akhirnya tiba lagi di Bandung minggu malam itu. Senin, tanggal 26 Juni 2007 diputuskan untuk beristirahat sejenak..fisik dan mental, dan tidak satupun alat – alat itu dicuci, karena akan digunakan lagi beberapa hari mendatang. Hari itu penuh hanya kuisi dengan tidur, baca buku dan menonton. Hari Selasa, 27 Juni 2007 pagi kami sudah ada di dasar Tower untuk berlatih SRT. Kami membuat 2 lintasan setinggi kira-kira 20 m waktu itu, dengan variasi intermediate dan simpul ditengah lintasan. Pagi itu aku dan kawan – kawan mentor mencoba memberikan materi mengenai teknik turun. Sorenya kutinggalkan sejenak sesi ini untukkeperluan masa depan, dan baru pulangnya aku tau kawan – kawan belum juga selesai berlatih hingga pukul 10 malam. Hari Rabu tanggal 28 Juni 2007 itu kawan – kawan sudah mulai menyiapkan perlengkapan dan membeli bekal untuk perjalanan selanjutnya minggu ini : penelusuran gua. Menurut rencana, kami akan berangkat Ju’mat paginya, sehingga paling tidak hari kamis kami sudah siap untuk On Action.

Oleh karena itu juga, kamis malam tanggal 29 Juni 2007 kami berlatih lagi atau lebih tepatnya tes. Onie dan Ayis sendiri sudah berangkat terlebih dahulu sebagai tim pendahulu, menyiapkan perijinan dan segala sesuatu nya disana. Sedangkan kawan – kawan anggota muda kali ini harus bisa menyiapkan peralatan SRT nya sendiri, melewati lintasan yang ditentukan dalam waktu terbatas berikut dengan peralatan lengkap penelusuran : Boot dan Helm. Ya ini adalah Tes Simulasi SRT, seperti biasa waktu yang telah ditentukan dilanggar..dan kembali aku harus begadang lagi..tak tanggung-tanggung hingga pukul 4 dini hari..”Ya Tuhan, berikan padaku kekuatan dan tambahan semangat“, pikirku waktu itu. Karena pukul 7 paginya kami sudah harus berangkat.

….

Sebenarnya tempat ini sudah pernah kudatangi sebelumnya, kawasan kars yang tersembunyi di bawah kerindangan hutan lindung pinus dan rimbunnya semak belukar kebun penduduk, Buni Ayu nama tempatnya. Sekitar 1-2 jam dari Kota Sukabumi. Saat itu tanggal 5-7 Mei 2007, kami hanya ber-4: Aku, nipon, Onie yang memimpin perjalanan survey ini dan acong, anggota muda yang juga turut kami ajak.

Sebenarnya tujuan perjalanan waktu itu bukanlah daerah ini. Tapi daerah kars yang lebih tersembunyi di pedalaman lagi..Sagaranten . Memang untuk mencapai daerah ini kita akan melewati daerah Buni Ayu dahuulu, yang tempatnya sudah menjadi area wisata yang dikelola perhutani dan berada sangat dekat dengan jalur transportasi. Namun lokasi komplek gua di Sagaranten sangat jauh dari keramaian. Nipon sendiri yang menjadi sumber informasi kami ketika itu, terakhir berkunjung pada tahun 2000 silam -7 tahun yang lalu-. Menurut informasi dari nya, kami tau bahwa daerah kars disana sangat perawan, dan terdiri dari berbagai gua vertikal – horizontal yang mayoritasnya berjenis fosil.

Berbekal data 7 tahun yang lalu itu juga, kami berempat akhirnya berangkat ke Sagaranten lengkap dengan perlengkapan camp, logisitik, bahan bakar, dan peralatan penelusuran vertikal. Sebelumnya aku tak pernah khawatir dan tidak sedikitpun firasat melintas dari benakku, bahwa telah banyak yang berubah selama 7 tahun terakhir di dunia ini…termasuk di daerah terpencil seperti Sagaranten.

Dan terjadilah sudah..seperti sudah ditakdirkan, kami saat itu tak berhasil melakukan penelusuran di Sagaranten…karena kami tak pernah ada disana. Ya, kami tidak mampu mencapai Sagaranten dalam perjalanan itu. Karena memang Sagaranten adalah suatu wilayah yang sangat luas..dan kami tidak punya kata kunci desa, kampung atau apapun yang mampu mengidentifikasi dimana tepatnya lokasi yang kami tuju : Rumah Pak Parmin, kuncen gua di Sagaranten. Pun tidak setelah bertanya dan dikerumuni orang-orang –tukang ojeg, preman, satpam,dll- di terminal, atau ketika meminta kawan untuk membawa mobil carteran untuk mengantar kami berkeliling mencari rumah kuncen Sagaranten tersebut hingga pukul 2 dini hari, atau ketika kami menumpang menginap di kantor polisi setempat : Polsek Nyalindung.

Ya, kami tidak pernah menelusuri gua – gua di Sagaranten dalam perjalanan itu. Esoknya tanggal 6 Juni 2007 setelah bangun dari tidur sejenak kami dan makan pagi seadanya di warung, kami berdiskusi mengenai rencana kami saat itu. Diputuskan bahwa kami menghentikan pencarian lokasi desa gua di Sagaranten itu dan langsung menuju Buni Ayu yang sudah jelas posisi nya dan dapat lansung dicapai dari tempat kami berada saat ini. Sebelumnya, ketika Pak Polisi yang sedang berjaga menanyakan tujuan kami, sempat kujawab Buni Ayu dan beliau menawarkan untuk mengantarkan kami dengan mobil patroli.

Dan akhirnya kami tiba juga di Buni Ayu hari Sabtu, tanggal 6 Mei 2007. Saat itu Pak Kakai, koordinator disana beserta Kang Ucok, salah satu guide yang menyambut. Kami menyampaikan niat kami untuk melakukan penelusuran dan mengatakan bahwa kami membawa perlengkapan yang lengkap sehigga tidak perlu meminjam alat. Saat itu yang kami perlukan adalah ijin berkemah dan guide untuk menunjukan gua yang bagus untuk dieksplorasi.

Dari hasil tawar menawar waktu itu, disepakati harga 60 ribu untuk menginap 1 hari di area camp, seorang guide, baju dan helm penelusuran. Waktu itu sudah siang, sekitar pukul 2 dan kami memutuskan untuk mengisi perut yang kosong dahulu. Tak lama hujan deras menemani makan siang sederhana kami itu, dan Pak Kakai menegaskan kembali bahwa kami tidak diijinkan untuk melakukan penelusuran gua yang melewati arus sungai karena dikhawatirkan terjadi banjir didalam..

Oleh karena hal tersebut dan keterbatasn waktu juga, hanya beberapa gua horizontal yang sempat kami masuki waktu itu -gua siluman dan buni ayu-, semuanya adalah entrance (mulut gua) horizontal. Lokasi ini menurut informasi yang kami dapat adalah tempat yang dikunjungi oleh Riani Jangkaru dengan timnya ditemani kawan – kawan MAPALA UI untuk syuting salah satu episode Jejak Petualang.

Selebihnya kami hanya melihat – lihat entrance lain dan mendokumentasikan posisi nya di permukaan bumi, Gua Landak, Domba yang kesemuanya adalah entrance horizontal dan terletak di dalam lebatnya hutan lindung pinus. Saat itu aku tak henti – henti nya kagum karena teringat dengan panasnya terik mentari di Gunung Sewu, Gunung Kidul…tempat yang dulu menjadi persinggahanku untuk mengenal petualangan ini. Saat itu, acong memutuskan untuk tidak ikut serta dengan kami, ”capek…sekalian aku jaga base camp”, katanya saat itu. Tapi aku melihat hal yang lain, shock? Ya untuk ukuran pemula, ia sudah cukub banyak mendapat hal baru yang sangat tak terduga dalam 24 jam terakhir : nyasar, nginap di kantor polisi, berada dalam lorong gelap horizontal dan merasakan bau serta kotoran yang kujamin tak pernah ditemuinya selama hidup di permukaan bumi.. Jadi kami tinggalkan acong di basecamp saat itu, karena memang perlu ada yang stand by untuk menjaga perlengkapan kami sekalian mempersiapkan makan malam.

Entrance Vertikal yang menjadi favorit yaitu Gua Kerek tak sempat untuk kami turuni. Ia adalah bentukan alam berupa sebuah lorong vertikal yang mulutnya terbentuk dari rekah longsoran batuan kapur beberapa ratus lalu. Waktu itu aku yang memegang GPS (alat untuk menentukan koordinat) dan merekam posisinya. Lensa kamera SLR Canon kami saat itu berembun, karena memang saat itu sudah sore dan tanah ini baru saja diguyur hujan begitu lebat nya siang tadi… hingga kami tak bisa merekam suasana yang ada saat itu. Pernahkah kamu membaca teori lubang hitam yang menarik segala sesuatu disekitranya? Seperti itulah yang kurasakan saat melihat dan berada di sekitar celah vertical ini : sunyi, gelap dan begitu kuat menariku..

Sama seperti yang kurasakan kelak, sayup terdengar suara aliran air didalamnya disertai angin dingin yang seakan menyembur dari bawah sana. “Ada sungai dibawah ya kang ? berapa kira-kira dalamnya ? “, tanyaku untuk sekedar melepas kesunyian pada guide kami hari itu. “Ya, ada sungai dibawah. Klo hujan bisa banjir hingga 2-3 meter..Dalamnya kira-kira 30 meter-anlah..“, jawab kang Ucok ringan. Mendengar keterangan singkatnya itu, aku mencoba menggambar kondisi dibawah sana di dalam pikiranku…turun kedalam lorong sempit sejauh 30 meter-an (bisa 39..35…32..) dan langsung disambut dingin nya air sungai.”anjrit…”, pikirku..

Klo musim hujan seperti ini, kami ga berani turun sore atau malam..karena biasanya hujan disore hari, sedangkan jika turun malam hari, tidak bisa dipantau kondisi langit dari kawan-kawan diatas. Gua ini bagian utama dari aliran sungai bawah tanah dibawah ini. Menurut perkiraan, sungai bawah tanahnya yang membentuk air terjun di depan entrance horizontal di bawah sana..walau belum ada yang membuktikan nya…beberapa tahun lalu memang ada peneliti dari prancis yang menelusuri sungai bawah tanah ini dengan perahu karet hingga ke entrance horizontal, tapi gagal. Klo waktu nya cukup, kita akan kesana.” katanya lagi dalam percakapan kami menelusuri hutan pinus ini, menuju pintu-pintu misteri lain yang bisa kami kunjungi sebelum matahari beranjak ke peraduannnya.

Dan memang benar, kami akhirnya tiba di air terjun setinggi 7 meter itu – Air Terjun Bibijilat. Sedikit kedalam kulihat ada entrance horizontal yang menjadi sumbernya..serasi dengan nama air terjun nya : Gua Bibijilat. Ya, Air terjun ini berasal dari sungai bawah tanah yang tiba – tiba muncul ke permukaan bumi dan langsung disambut bentukan bebatuan vertikal. Penduduk tampaknya memanfaatkan kekayaan alam ini dengan membangun undak-undak besar menyerupai gourdam dan 3 buah pompa air mekanik untuk menyuplai kebutuhan air bagi kampung mereka. Semak belukar diatas juga dipotong pendek sehingga menyerupai taman kecil sederhana yang rindang dibawah pepohonan besar diatasnya. Entah berapa kubik kecepatan air kapur ini mengalir…yang jelas bunyi gemuruhnya nya terdengar hingga jauh, dan aku tak mampu membayangkan kondisi sungai bawah tanah di gua sana…atau bagaimana rasanya terjebak didalam..

To be continued





Edensor….

20 06 2007

Aku ingin hidup dengan puncak tantangan, terjal, halangan, batu granit kesulitan, dan marabahaya yang melesatkan andrenalin.
Aku ingin menghirup berupa – rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.
Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti molekul uranium : meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai dan berpencar ke arah yang mengejutkan.
Aku ingin ketempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing.
Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang.
Aku ingin mengarungi padang dan gurun – gurun, menciut dicengkram dingin.
Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan
Aku ingin hidup!
Ingin merasakan sari pati hidup!

Adera Hirata – Edensor