On The Amazing Way

18 11 2006

Hari ini aku sakit. Sebenarnya dari malam lalu. Diare, inilah salah satu musuh terbesarku. Sunguh tak nyaman. Beda nya sekarang sangat parah, aku muntah – muntah ga karuan dan pusing bukan main especially klo berdiri. Alhasil waktu muntah di kamar mandi sambil duduk !!!
Diantara berkunang nya mataku, kucoba untuk kabari papa. Bukan apa – apa, badan ku menggigil. Entah karena memang pagi ini sangat dingin atau memang tubuhku mulai panas. Ya, Allah…saat ini aku sungguh merintih kesakitan menerima cobaan mu.
Papa lalu memaksa supaya aku ke rumah sakit, karena beliau khawatir kalau – kalau tipus ku kambuh lagi. Alhasil, siang ini aku turun dari lembang ke bandung walau acara gathering ASTACALA yang kuikuti baru kelar besok.
Perjalanan pulang itu kunikmati dengan pandangan berkunang – kunang. Walau akhirnya berhasil menemui dokter, sampai saat ini tetap saja masih berkunang – kunang dan dari perutku terdengar bunyi kereta api…
Allahumma rabban naasi adzhibil ba’sa asyfi antasy syaafii laa syifaa’a illaa syifaa’uka syifaa’an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba’sa rabban naasi biyadikasy syifaa’u, laa aasyifa lahu illaa anta, as’alullaahal ‘azhiima, rabbal ‘ arsyil ‘azhiimi an-yasfiyaka.
Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah penyakit itu dan sembuhkanlah ia. Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan lah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya padamulah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya ‘arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkan anda. (HR. Bukhari dan Muslim)

Advertisements




On The Amazing Way

18 11 2006
Hari ini aku sakit. Sebenarnya dari malam lalu. Diare, inilah salah satu musuh terbesarku. Sunguh tak nyaman. Beda nya sekarang sangat parah, aku muntah – muntah ga karuan dan pusing bukan main especially klo berdiri. Alhasil waktu muntah di kamar mandi sambil duduk !!!

Diantara berkunang nya mataku, kucoba untuk kabari papa. Bukan apa – apa, badan ku menggigil. Entah karena memang pagi ini sangat dingin atau memang tubuhku mulai panas. Ya, Allah…saat ini aku sungguh merintih kesakitan menerima cobaan mu.

Papa lalu memaksa supaya aku ke rumah sakit, karena beliau khawatir kalau – kalau tipus ku kambuh lagi. Alhasil, siang ini aku turun dari lembang ke bandung walau acara gathering ASTACALA yang kuikuti baru kelar besok.

Perjalanan pulang itu kunikmati dengan pandangan berkunang – kunang. Walau akhirnya berhasil menemui dokter, sampai saat ini tetap saja masih berkunang – kunang dan dari perutku terdengar bunyi kereta api…

Allahumma rabban naasi adzhibil ba’sa asyfi antasy syaafii laa syifaa’a illaa syifaa’uka syifaa’an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba’sa rabban naasi biyadikasy syifaa’u, laa aasyifa lahu illaa anta, as’alullaahal ‘azhiima, rabbal ‘ arsyil ‘azhiimi an-yasfiyaka.

Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah penyakit itu dan sembuhkanlah ia. Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan lah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya padamulah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya ‘arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkan anda. (HR. Bukhari dan Muslim)





Me..Five Years From Now

16 11 2006

Hmm…apa yang akan kamu pikirkan tentang hidup mu beberapa tahun mendatang ? Mungkin kata yang terucap pertama : apa ya?

Hanya 5 menit yang lalu, aku baru saja selesaikan agenda ku untuk berdiskusi dengan calon pembimbing TA ku…awalnya kutanyakan salah satu topik yang ingin ku oprek dalam 2 semester ini, lalu dari dia mengusulkan topik lain yang memang lebih menarik dan jelas domain masalahnya.

Beberapa saat yang lalu itu aku duduk dan mendengarkan idenya..dan Hei , i like it !! I wanna do that n fight with that !! Ha…jadilah saat ini ku rasakan hawa optimis mendekap langkahku. Ciee, entahlah aku jadi begitu kolerik saat ini.. i will get what i wanna have !!

Saat ini, kuingin menulis tentang apa yang kupikirkan untuk terjadi pada hidupku 5 tahun mendatang. Mengapa harus angka 5 ? kenapa ga 10 ato 3 ato berapa pun ? entahlah, yang jelas angka 5 terlintas diotak ku saat ini. Jadi inilah yang akan kutulis.

Ok, lets we start..5 tahun lagi, kalau aku belum menemui Sang Khalik maka itu berarti aku berada di 16 November 2011. Wow…jauh banget ya..Jika saat itu ingatan ku mereview tahun – tahun sebelumnya, maka Insya Allah akan ada kenangan saat aku kuliah di jerman tahun 2008 – 2010 untuk program S2..Hahaha, long dream of mine..

Dulu, kakak dan aku sering berbagi cerita tentang target kami. Waktu itu kakak cerita dia ingin bisa ke Cairo karena begitu tertariknya dengan sejarah Mesir kuno…Terus terang aku juga memang tertarik dengan objek itu, tapi keinginan untuk mengecap gemerlap dunia pengetahuan teknologi tinggi membawaku ke Jerman. Terus terang, kisah heroik tentang Pak Habibie memang mengisi lamunan menjelang tidur masa kecil ku. Jadilah Jerman saat itu menjadi bagian dari mimpi yang ingin ku gapai.

Jika segala sesuatu sesuai rencana ditambah keberuntungan yang di berikan Sang Rahman, maka studi S1 ku selesai di penghujung Agustus tahun depan, tapatnya 2007. Jika semua ok, aku ikuti beberapa persiapan dulu di indonesia khususnya tentang bahasa jerman dan kebudayaannya, serta target perguruan tinggi. Insya Allah 2008 adalah tahun rahmat bagiku menginjakan kaki pertama kali di tanah Fuhrer pernah berkuasa.

Aku tak membayangkan hidup saat itu akan lebih indah dari saat ini. Aku tak ingin berharap untuk itu. Aku hanya berusaha untuk siapkan pikiran dan hatiku untuk menempuh saat – saat itu kelak, apapun kondisinya. Aku ingat, saat pertama menjadi sendiri di bandung papa pernah katakan ‘Jangan menangis nak‘. Sejak dulu, aku belajar untuk tidak mengeluh dengan kekurangan ku. Karena ku yakin saat itu nanti yang akan mendewasakan jiwaku kelak. Aku tak ingin mengeluh atau menjadi pengeluh.

Aku teringat, aku dan kakak pernah saling menceritakan target kami. Saat itu, kupikir itu hanya percakapan penuh hawa persaingan diantara 2 anak kembar. Tapi hari ini, kuingat saat itu sebagai celoteh tentang mimpi 2 jiwa yang pernah bersama di dalam rahim seorang mama. Dulu, kami pernah bercita – cita yang sama untuk menjadi duta besar. Kakak ingin jadi duta besar untuk Mesir, sedangkan aku duta besar untuk Jerman. Lalu kami berteriak dari kursi belakang mobil papa ‘Pa, klo mo jadi duta besar mesti sekolah dimana ? ‘

Hahaha…
Cerita ini dan segala yang telah berlalu bersamanya kan kuingat sebagai kenangan indah masa kecil yang akan selalu temani perjalanan hidupku. Cerita ini dan segala kepedihan yang menyertainya yang akan selalu membuatku bangkit dan kembali berlari mencoba meraih masa depan yang semakin dekat. Cerita ini yang pasti akan membuat ku selalu kembali percaya bahwa jarak antara mimpi dan kenyataan itu hanya sepanjang hembusan nafas keyakinan, yang akan terjadi seiring dengan Rahmat Allah.

Kembali ke cerita 5 tahun mendatang, 2010 aku selesaikan pendidikan S2. Kuingin negri itu menjadi bagian hidup ku. 2011, akan menjadi welcome home Minangkabau…Btw, hanya itu bayangan ku untuk hal ini. Yang kutau setiap langkah perjuangan itu ada maknanya. Karena arti seuah perjuangan itu bukan pada hasil nya.

Ya Allah, semua ini kuserahkan padamu 

seperti kuserahkan hidup mati serta duka gembiraku pada Mu.
Ampuni kesombongan dan kebodohan ku.
Dan hanya pada Mu sajalah jiwaku bersandar. Amien





Me..Five Years From Now

16 11 2006
Hmm…apa yang akan kamu pikirkan tentang hidup mu beberapa tahun mendatang ? Mungkin kata yang terucap pertama : apa ya?

Hanya 5 menit yang lalu, aku baru saja selesaikan agenda ku untuk berdiskusi dengan calon pembimbing TA ku…awalnya kutanyakan salah satu topik yang ingin ku oprek dalam 2 semester ini, lalu dari dia mengusulkan topik lain yang memang lebih menarik dan jelas domain masalahnya.

Beberapa saat yang lalu itu aku duduk dan mendengarkan idenya..dan Hei , i like it !! I wanna do that n fight with that !! Ha…jadilah saat ini ku rasakan hawa optimis mendekap langkahku. Ciee, entahlah aku jadi begitu kolerik saat ini.. i will get what i wanna have !!

Saat ini, kuingin menulis tentang apa yang kupikirkan untuk terjadi pada hidupku 5 tahun mendatang. Mengapa harus angka 5 ? kenapa ga 10 ato 3 ato berapa pun ? entahlah, yang jelas angka 5 terlintas diotak ku saat ini. Jadi inilah yang akan kutulis.

Ok, lets we start..5 tahun lagi, kalau aku belum menemui Sang Khalik maka itu berarti aku berada di 16 November 2011. Wow…jauh banget ya..Jika saat itu ingatan ku mereview tahun – tahun sebelumnya, maka Insya Allah akan ada kenangan saat aku kuliah di jerman tahun 2008 – 2010 untuk program S2..Hahaha, long dream of mine..

Dulu, kakak dan aku sering berbagi cerita tentang target kami. Waktu itu kakak cerita dia ingin bisa ke Cairo karena begitu tertariknya dengan sejarah Mesir kuno…Terus terang aku juga memang tertarik dengan objek itu, tapi keinginan untuk mengecap gemerlap dunia pengetahuan teknologi tinggi membawaku ke Jerman. Terus terang, kisah heroik tentang Pak Habibie memang mengisi lamunan menjelang tidur masa kecil ku. Jadilah Jerman saat itu menjadi bagian dari mimpi yang ingin ku gapai.

Jika segala sesuatu sesuai rencana ditambah keberuntungan yang di berikan Sang Rahman, maka studi S1 ku selesai di penghujung Agustus tahun depan, tapatnya 2007. Jika semua ok, aku ikuti beberapa persiapan dulu di indonesia khususnya tentang bahasa jerman dan kebudayaannya, serta target perguruan tinggi. Insya Allah 2008 adalah tahun rahmat bagiku menginjakan kaki pertama kali di tanah Fuhrer pernah berkuasa.

Aku tak membayangkan hidup saat itu akan lebih indah dari saat ini. Aku tak ingin berharap untuk itu. Aku hanya berusaha untuk siapkan pikiran dan hatiku untuk menempuh saat – saat itu kelak, apapun kondisinya. Aku ingat, saat pertama menjadi sendiri di bandung papa pernah katakan ‘Jangan menangis nak‘. Sejak dulu, aku belajar untuk tidak mengeluh dengan kekurangan ku. Karena ku yakin saat itu nanti yang akan mendewasakan jiwaku kelak. Aku tak ingin mengeluh atau menjadi pengeluh.

Aku teringat, aku dan kakak pernah saling menceritakan target kami. Saat itu, kupikir itu hanya percakapan penuh hawa persaingan diantara 2 anak kembar. Tapi hari ini, kuingat saat itu sebagai celoteh tentang mimpi 2 jiwa yang pernah bersama di dalam rahim seorang mama. Dulu, kami pernah bercita – cita yang sama untuk menjadi duta besar. Kakak ingin jadi duta besar untuk Mesir, sedangkan aku duta besar untuk Jerman. Lalu kami berteriak dari kursi belakang mobil papa ‘Pa, klo mo jadi duta besar mesti sekolah dimana ? ‘

Hahaha…Cerita ini dan segala yang telah berlalu bersamanya kan kuingat sebagai kenangan indah masa kecil yang akan selalu temani perjalanan hidupku. Cerita ini dan segala kepedihan yang menyertainya yang akan selalu membuatku bangkit dan kembali berlari mencoba meraih masa depan yang semakin dekat. Cerita ini yang pasti akan membuat ku selalu kembali percaya bahwa jarak antara mimpi dan kenyataan itu hanya sepanjang hembusan nafas keyakinan, yang akan terjadi seiring dengan Rahmat Allah.

Kembali ke cerita 5 tahun mendatang, 2010 aku selesaikan pendidikan S2. Kuingin negri itu menjadi bagian hidup ku. 2011, akan menjadi welcome home Minangkabau…Btw, hanya itu bayangan ku untuk hal ini. Yang kutau setiap langkah perjuangan itu ada maknanya. Karena arti seuah perjuangan itu bukan pada hasil nya.

Ya Allah, semua ini kuserahkan padamu seperti kuserahkan hidup mati serta duka gembiraku pada Mu. Ampuni kesombongan dan kebodohan ku. Dan hanya pada Mu sajalah jiwaku bersandar. Amien





Menunggu

16 11 2006

Menunggu. Kata itu bagiku adalah salah satu musibah dalam hidup. Oleh karena nya, kucoba untuk hindarkan diriku dari kondisi ini dan juga coba untuk tidak membuat orang lain berada dalam kondisi ini juga karena diriku.
Menunggu. Bagiku menjadi suatu rentang waktu yang harus dilalui untuk terjadi atau datangnya sesuatu. Kadang kita menunggu karena kita dipaksa ada dalam kondisi tersebut, atau memang kita butuh untuk ada dalam kondisi itu. Lho? entahlah aku juga bingung. Yang jelas bagiku, menunggu adalah musibah.
Menunggu. Aku berusaha untuk hindarkan diri ku dari kondisi yang disebabakan oleh nya. Karena itu juga, ku selalu memabawa buku atau sekadar catatan kecil untuk mengisi waktu ku ketika ku sedang menunggu tadi. Kadang tidak segala sesuatu dapat kita atur. Aku percaya itu, karena itulah prinsip idealistik ku coba kuredam dengan pengertian ini.
Menunggu. Seperti saat ini, aku menunggu sebuah SMS dari seseorang, hanya jawaban “Ok, saya sudah disini..datang saja“. Memang berbeda ceritanya ketika kita membutuhkan orang lain, dan dipaksa untuk mengikuti schedulle mereka. Syukurlah (??) beberapa bulan ini aku tak terlalu idealis dengan waktu. Memang sebenarnya ini tidak ideal, tapi entahlah aku coba untuk biarkan semua berjalan apa adanya.
Menunggu. Seperti masa ini, aku menunggu untuk sesuatu yang pasti tak akan datang kecuali kematian menjemput ku. Pernahkah kamu percaya dengan sesuatu yang tak mungkin terjadi dalam rentang perjalanan waktu? aku percaya..dan kupikir ini tidak termasuk dalam defenisi “menunggu”. Karena, ketika kita bicara itu maka harus ada rentang waktu yang terlibat didalamnya. Tapi dalam permasalahanku, aku menunggu waktu itu tidak berjalan lagi.

Menunggu…WTF ?!?!?!?!





Menunggu

16 11 2006
Menunggu. Kata itu bagiku adalah salah satu musibah dalam hidup. Oleh karena nya, kucoba untuk hindarkan diriku dari kondisi ini dan juga coba untuk tidak membuat orang lain berada dalam kondisi ini juga karena diriku.

Menunggu. Bagiku menjadi suatu rentang waktu yang harus dilalui untuk terjadi atau datangnya sesuatu. Kadang kita menunggu karena kita dipaksa ada dalam kondisi tersebut, atau memang kita butuh untuk ada dalam kondisi itu. Lho? entahlah aku juga bingung. Yang jelas bagiku, menunggu adalah musibah.

Menunggu. Aku berusaha untuk hindarkan diri ku dari kondisi yang disebabakan oleh nya. Karena itu juga, ku selalu memabawa buku atau sekadar catatan kecil untuk mengisi waktu ku ketika ku sedang menunggu tadi. Kadang tidak segala sesuatu dapat kita atur. Aku percaya itu, karena itulah prinsip idealistik ku coba kuredam dengan pengertian ini.

Menunggu. Seperti saat ini, aku menunggu sebuah SMS dari seseorang, hanya jawaban “Ok, saya sudah disini..datang saja“. Memang berbeda ceritanya ketika kita membutuhkan orang lain, dan dipaksa untuk mengikuti schedulle mereka. Syukurlah (??) beberapa bulan ini aku tak terlalu idealis dengan waktu. Memang sebenarnya ini tidak ideal, tapi entahlah aku coba untuk biarkan semua berjalan apa adanya.

Menunggu. Seperti masa ini, aku menunggu untuk sesuatu yang pasti tak akan datang kecuali kematian menjemput ku. Pernahkah kamu percaya dengan sesuatu yang tak mungkin terjadi dalam rentang perjalanan waktu? aku percaya..dan kupikir ini tidak termasuk dalam defenisi “menunggu”. Karena, ketika kita bicara itu maka harus ada rentang waktu yang terlibat didalamnya. Tapi dalam permasalahanku, aku menunggu waktu itu tidak berjalan lagi.

Menunggu…WTF ?!?!?!?!





Menunggu

16 11 2006
Menunggu. Kata itu bagiku adalah salah satu musibah dalam hidup. Oleh karena nya, kucoba untuk hindarkan diriku dari kondisi ini dan juga coba untuk tidak membuat orang lain berada dalam kondisi ini juga karena diriku.

Menunggu. Bagiku menjadi suatu rentang waktu yang harus dilalui untuk terjadi atau datangnya sesuatu. Kadang kita menunggu karena kita dipaksa ada dalam kondisi tersebut, atau memang kita butuh untuk ada dalam kondisi itu. Lho? entahlah aku juga bingung. Yang jelas bagiku, menunggu adalah musibah.

Menunggu. Aku berusaha untuk hindarkan diri ku dari kondisi yang disebabakan oleh nya. Karena itu juga, ku selalu memabawa buku atau sekadar catatan kecil untuk mengisi waktu ku ketika ku sedang menunggu tadi. Kadang tidak segala sesuatu dapat kita atur. Aku percaya itu, karena itulah prinsip idealistik ku coba kuredam dengan pengertian ini.

Menunggu. Seperti saat ini, aku menunggu sebuah SMS dari seseorang, hanya jawaban “Ok, saya sudah disini..datang saja“. Memang berbeda ceritanya ketika kita membutuhkan orang lain, dan dipaksa untuk mengikuti schedulle mereka. Syukurlah (??) beberapa bulan ini aku tak terlalu idealis dengan waktu. Memang sebenarnya ini tidak ideal, tapi entahlah aku coba untuk biarkan semua berjalan apa adanya.

Menunggu. Seperti masa ini, aku menunggu untuk sesuatu yang pasti tak akan datang kecuali kematian menjemput ku. Pernahkah kamu percaya dengan sesuatu yang tak mungkin terjadi dalam rentang perjalanan waktu? aku percaya..dan kupikir ini tidak termasuk dalam defenisi “menunggu”. Karena, ketika kita bicara itu maka harus ada rentang waktu yang terlibat didalamnya. Tapi dalam permasalahanku, aku menunggu waktu itu tidak berjalan lagi.

Menunggu…WTF ?!?!?!?!