Collection..

8 10 2006

Ini stok lama waktu jalan ke jogja dulu, klo ga salah penghujung april lalu. Cuma bawa kamera digital temen, trus lagi iseng buka picture gallery and langsung tanganku kegatelan buka PS 2…ya udin, gini deh jadinya…

-The first one..-
Moment
waktu sedang bercengkrama dengan mbah dihalaman Keraton Pakualaman,

aku minta ijin untuk ambil beberapa foto beliau..
I hope she is Ok..

-The second one..-

-Give me that please..-
Advertisements




Collection..

8 10 2006

Ini stok lama waktu jalan ke jogja dulu, klo ga salah penghujung april lalu. Cuma bawa kamera digital temen, trus lagi iseng buka picture gallery and langsung tanganku kegatelan buka PS 2…ya udin, gini deh jadinya…

-The first one..-
Moment
waktu sedang bercengkrama dengan mbah dihalaman Keraton Pakualaman,

aku minta ijin untuk ambil beberapa foto beliau..
I hope she is Ok..

-The second one..-

-Give me that please..-




Dokter ku…

7 10 2006
Hmm..lagi kangen rumah..kangen suasananya..kangen pedesnya sambel buatan bunda…trus kangen berantem sama my twin lagi…kakak. Ga ada mirip – mirip nya sama aku..klo kakak tipe anak ideal buat orang tua : juara kelas, dapat beasiswa ke Amerika, cantik, rapi, bersih, dst..dst…maka aku kebalikannya, tipe nakal..hahaha udah pemalas, kerjanya dulu main gitar terus, kamar berantakan, klo ada tugas sukanya nunggu kakak selesai dulu baru abis itu nyontek….

Belajar yang rajin ya bu dokter …


Si Centil Laila Aidi

And narsis juga..





Dokter ku…

7 10 2006
Hmm..lagi kangen rumah..kangen suasananya..kangen pedesnya sambel buatan bunda…trus kangen berantem sama my twin lagi…kakak. Ga ada mirip – mirip nya sama aku..klo kakak tipe anak ideal buat orang tua : juara kelas, dapat beasiswa ke Amerika, cantik, rapi, bersih, dst..dst…maka aku kebalikannya, tipe nakal..hahaha udah pemalas, kerjanya dulu main gitar terus, kamar berantakan, klo ada tugas sukanya nunggu kakak selesai dulu baru abis itu nyontek….

Belajar yang rajin ya bu dokter …


Si Centil Laila Aidi

And narsis juga..





Jangan menangis lagi

5 10 2006

Aku rasakan bahwa aku begitu membencimu. Hingga ingin ku membunuhmu saja agar tak ada yang bisa memilikimu kecuali hatiku yang kamu bawa bersama angin. Melebur dalam sunyinya malam ini. Kehancuran yang ada ketika merasakan kamu dengan nya begitu tak bisa untuk kugambarkan. Bahkan jejak yang ditinggalkannya masih akan tersisa disini, puing – puing berserakan. Entahlah.

Kadang aku juga rasakan, bahwa aku begitu mencintaimu. Layaknya embun yang memuja rumput yang mencoba untuk tumbuh di pangkuan bumi. ketika ku berjalan pulang sore itu menuju rumah yang ku tak tau ada dimana, aku rasakan kesejukan dalam rindu untuk menemuimu. Semilir angin saat itu juga berendah hati untuk menyapa ku, menemani perjalanan yang panjang.

Kegelisahan ini mungkin akan berakhir sekejab. Seketika, seperti waktu aku sadari rasa ini telah datang menerpa jiwaku. Mungkin ia tak akan pernah berakhir hingga aku pulang ke rumah masa depan. Menunggumu dalam pesona rasa sepi dan sendiri. Karena kesunyian ini begitu memabukan seperti anggur yang dikecap lidah – lidah yang haus.

Aku ingin menemuimu seperti apa adanya. Tanpa kata – kata yang dirangkul kemunafikan dalam kebohongan demi kebohongan. Tanpa suara yang menyunting riak kebisingan yang memekakan telinga. Aku hanya akan menjumpaimu dalam rangkulan kesedihan jiwaku, menanti hati yang kamu bawa serta bersama bayanganmu.

Apakah yang sedang terjadi dengan ku ? Membiarkan jiwaku mabuk dalam rasa tak menentu. Selalu mencoba bangkitkan sisa kenangan wajahmu. Jika benar ini akan berakhir kelak, lalu mengapa aku begitu bersedih saat ini ? Tak tertahankan, hingga sudah tak mampu lagi kurasakan sakit yang lain selain rasa yang kamu tinggalkan.

Jangan lagi bicara tentang cinta atau benci. Semua itu absurd dalam kesenjangan bumi yang berjalan diatas fakta – fakta tak ideal. Karena kita tak akan pernah mampu mendefenisikan nya sebagai layaknya ia tercipta untuk dirasakan. Biarlah ia hanya cukup didalam hati saja, jangan pernah dibawa serta menemui kemunafikan hidup.

Aku sedang duduk didalam kereta yang berjalan melintas bumi. Melihat siluet hamparan tumbuhan berjalan di sampingku. Ada langit biru gelap diterangi cahaya bulan yang sedikit malu diantara awan – awan malam. Ada rangkaian bintangku diatas sana, menunjuk pada timur. Ingin ku ceritakan tentang meraka padamu, suatu saat nanti ketika kita bicara dalam bahasa yang sama. Ketika kesombongan dan ego tak lagi mendekap jiwa yang lelah. Ketika rasa sakit atau rindu telah begitu menguasai hingga membuncah diantara tingginya gunung – gunung ingatan masa lalu.

Aku hanya akan melihatmu disini. Diam dalam sudut yang tak akan kamu kenali apalagi datangi. Aku berjalan di samping jalanmu, diatas pematang yang kecil dan tak akan pernah kamu jejaki. Jangan menuju padaku, karena ia berlawanan arah dengan mimpi – mimpi mu. Itulah sebabnya kita berpisah saja, sampai disana disaat yang lalu.

Tertawalah bersama angin yang menerpa bumi. Bergembiralah selagi langit masih begitu cerah. Tersenyumlah, hidupmu demikian berarti untukku karena ia mampu membuatku berlari ketika kelelahan menghampiri. Jangan bersedih lagi, karena itu mampu menghancurkan setiap rindu yang kukorbankan untuk kebahagiaan yang ku ingin untuk kamu miliki.

Aku memaafkan setiap dirimu yang menguasaiku. Aku mencoba ikhlaskan setiap rasa yang kamu tinggalkan dan hatiku yang kamu bawa serta. Mungkin memang inilah yang digariskan untuk tak kumiliki. Aku berharap untuk keindahan hidupmu dan kebahagiaan yang menyertainya. Maafkan jugalah jiwaku yang rapuh, ketika ia tak kuasa menahan keinginan untuk menyapamu. Dan ikhlaskanlah setiap kenanganmu yang tak akan kuserahkan pada waktu yang mencoba membawanya pergi. Biarkanlah semua ini tetap disampingku, menemani dalam kesendirian dan kesedihan yang selalu menyertai.





Jangan menangis lagi

5 10 2006
Aku rasakan bahwa aku begitu membencimu. Hingga ingin ku membunuhmu saja agar tak ada yang bisa memilikimu kecuali hatiku yang kamu bawa bersama angin. Melebur dalam sunyinya malam ini. Kehancuran yang ada ketika merasakan kamu dengan nya begitu tak bisa untuk kugambarkan. Bahkan jejak yang ditinggalkannya masih akan tersisa disini, puing – puing berserakan. Entahlah.

Kadang aku juga rasakan, bahwa aku begitu mencintaimu. Layaknya embun yang memuja rumput yang mencoba untuk tumbuh di pangkuan bumi. ketika ku berjalan pulang sore itu menuju rumah yang ku tak tau ada dimana, aku rasakan kesejukan dalam rindu untuk menemuimu. Semilir angin saat itu juga berendah hati untuk menyapa ku, menemani perjalanan yang panjang.

Kegelisahan ini mungkin akan berakhir sekejab. Seketika, seperti waktu aku sadari rasa ini telah datang menerpa jiwaku. Mungkin ia tak akan pernah berakhir hingga aku pulang ke rumah masa depan. Menunggumu dalam pesona rasa sepi dan sendiri. Karena kesunyian ini begitu memabukan seperti anggur yang dikecap lidah – lidah yang haus.

Aku ingin menemuimu seperti apa adanya. Tanpa kata – kata yang dirangkul kemunafikan dalam kebohongan demi kebohongan. Tanpa suara yang menyunting riak kebisingan yang memekakan telinga. Aku hanya akan menjumpaimu dalam rangkulan kesedihan jiwaku, menanti hati yang kamu bawa serta bersama bayanganmu.

Apakah yang sedang terjadi dengan ku ? Membiarkan jiwaku mabuk dalam rasa tak menentu. Selalu mencoba bangkitkan sisa kenangan wajahmu. Jika benar ini akan berakhir kelak, lalu mengapa aku begitu bersedih saat ini ? Tak tertahankan, hingga sudah tak mampu lagi kurasakan sakit yang lain selain rasa yang kamu tinggalkan.

Jangan lagi bicara tentang cinta atau benci. Semua itu absurd dalam kesenjangan bumi yang berjalan diatas fakta – fakta tak ideal. Karena kita tak akan pernah mampu mendefenisikan nya sebagai layaknya ia tercipta untuk dirasakan. Biarlah ia hanya cukup didalam hati saja, jangan pernah dibawa serta menemui kemunafikan hidup.

Aku sedang duduk didalam kereta yang berjalan melintas bumi. Melihat siluet hamparan tumbuhan berjalan di sampingku. Ada langit biru gelap diterangi cahaya bulan yang sedikit malu diantara awan – awan malam. Ada rangkaian bintangku diatas sana, menunjuk pada timur. Ingin ku ceritakan tentang meraka padamu, suatu saat nanti ketika kita bicara dalam bahasa yang sama. Ketika kesombongan dan ego tak lagi mendekap jiwa yang lelah. Ketika rasa sakit atau rindu telah begitu menguasai hingga membuncah diantara tingginya gunung – gunung ingatan masa lalu.

Aku hanya akan melihatmu disini. Diam dalam sudut yang tak akan kamu kenali apalagi datangi. Aku berjalan di samping jalanmu, diatas pematang yang kecil dan tak akan pernah kamu jejaki. Jangan menuju padaku, karena ia berlawanan arah dengan mimpi – mimpi mu. Itulah sebabnya kita berpisah saja, sampai disana disaat yang lalu.

Tertawalah bersama angin yang menerpa bumi. Bergembiralah selagi langit masih begitu cerah. Tersenyumlah, hidupmu demikian berarti untukku karena ia mampu membuatku berlari ketika kelelahan menghampiri. Jangan bersedih lagi, karena itu mampu menghancurkan setiap rindu yang kukorbankan untuk kebahagiaan yang ku ingin untuk kamu miliki.

Aku memaafkan setiap dirimu yang menguasaiku. Aku mencoba ikhlaskan setiap rasa yang kamu tinggalkan dan hatiku yang kamu bawa serta. Mungkin memang inilah yang digariskan untuk tak kumiliki. Aku berharap untuk keindahan hidupmu dan kebahagiaan yang menyertainya. Maafkan jugalah jiwaku yang rapuh, ketika ia tak kuasa menahan keinginan untuk menyapamu. Dan ikhlaskanlah setiap kenanganmu yang tak akan kuserahkan pada waktu yang mencoba membawanya pergi. Biarkanlah semua ini tetap disampingku, menemani dalam kesendirian dan kesedihan yang selalu menyertai.





What kind of feeling is this?

3 10 2006

I feel like a song without the words, a man without a soul, a bird without its wings, a heart without a home. I feel like a knight without a sword, a sky without the sun, cause you are the one.

I feel like a ship beneath the waves, a child who’s lost its way, a door without a key, a face without a name.I feel like a breath without the air, and everyday’s the same, since you’ve gone away.

They tell me that a man can lose his mind, living in the pain. Recallin’ times gone by, I’m crying in the rain.You know I’ve wasted half the time and I’m on my knees again.’Til you come to me.

I gotta have a reason to wake up in the morning. You used to be the one that put a smile on my face. There are no words that could describe how I miss you; I miss you, everyday.

And I’m never gonna leave your side. And I’m never gonna leave your side, again. Still holding on, I won’t let you go. Cause when I’m lying in your arms I know I’m home.

I hope u’r ok. Always take care your self cause I need to see you again.