Karena yang ingin ku gapai hanya ridho Mu

29 08 2006

Jangan takut berjalan sendirian,
Ada aku turut menuntun jalan.
Saat hatimu di serang kesepian,
aku datang….
Redam badai lakukan dengan tenang.
Hujan ini akan engkau kalahkan.
Kalau hatimu percaya padaku,
Aku datang….
Kau jadi samudera aku langitnya.
Memeluk dunia kita berdua.
Menyelamatkanmu..
Though There’s so many tigers,
knights in shinning armour
Tetap di sampingmu..
From the former winter to another summer.
Aku datang… untukmu..
Jangan takut kehilangan pegangan,
ada aku berimu kekuatan.
Agar dirimu mampu untuk bertahan,
aku datang..
Redam badai lakukan dengan tenang.
Hujan ini akan engkau kalahkan.
Kalau hatimu percaya padaku,
aku datang….
If you are the ocean, then I’ll be the sea.
Forever we’ll make it, that’s where i’ll be.
If You are the ocean, then i’ll be the sea.

Memeluk dunia kita berdua,
that’s where i’ll be..
-Aku Datang Untukmu, Jikustik feat Lea –

Malam ini, kubuka lagi lembar ini, sambil mendengar lagu diatas. Tak tau mengapa, malam ini begitu ingin kumerasakan lagi nada dan bait puisi didalamnya. Entah untuk membangkitkan rasa yang dulu pernah ditemani lantunan nada nya atau karena teringat dengan seseorang yang pernah terkesan bai ini atau memang aku begitu ingin temukan lagi samudra untuk menemaniku memeluk dunia.

Entahlah..mungkin memang karena semuanya. Mungkin untuk mengingat saat ketika bekerja hingga dini hari menyelesaikan baris demi baris tulisan ku ditemani lagu ini, merindukan jiwa yang pergi dari hidupku dan mencari samudra yang mengering di bawah langitku.

Dan, hari ini semester baru telah dimulai. Ku jalani satu fase lagi dari beberapa bagian ruang perjuanganku menggapai mimpi. Kelalaian yang tak ingin kukuasai membuat pencapaian ku disaat yang lalu tak terlalu memuaskan. Ah, semua sudah terjadi.. berlalulah sudah. Saat ini kutatap masa depan setajam seperti yang seharusnya kulakukan.

Memang kuakui ada sedikit rasa tak percaya bahwa aku mampu melalui ini sesuai dengan yang seharusnya. Hampir saja kelalaian berikutnya menjebak hingga membuat aku tak mengambil pilihan yang seharusnya : “ambil TA 1 atau ga ?” pertanyaan yang selalu terngiang – ngiang di telingaku. Saat ini ada kesempatan menata kembali strategi perang untuk menghadapi semester 3 alias PRS. Sangat perlu bagiku untuk memikirkan ulang keputusan mengenai TA ini, karena terus terang sewaktu registrasi hal ini tak terlalu kupikirkan, “ Pokoknya asal registrasi dulu dah….” pikirku saat itu.

Jika dipandang dari sisi SKS, memang ia tak seberapa hanya 2 SKS. Tapi, justru disinilah gregetnya, karena hanya dengan 2 SKS ini bisa membuatku menunda masa di depan yang sudah kurencanakan dan membuat orang tuaku membayar 1 juta atau lebih lagi tahun mendatang. Karena jika tak diambil semester ini, maka sudah pasti baru tahun 2008 aku bisa wisuda. Itupun jika aku beruntung atau tak ada setan yang mampu merayuku untuk tidak main – main. Kesimpulannya, jiika tak diambil saat ini, maka sudah dipastikan aku tak akan lulus dalam 4 semester, waktu yang seharusnya bisa kucapai untuk lewati S1 Ekstensi ini.

Selama di jalan ke kampus hari ini, aku berpikir “Ada celah ga…ada cara ga ya Allah…? “ Sesampainya di sana, sedikit linglung mo ngapain, akhirnya ku tulis saja rangkaian baris jadwal kuliah yang ada semester ini, serta tak lupa membaca pesan mata kuliah yang dibatalkan untuk diadakan, dan benar saja karena waktu registrasi lalu aku sempat memasukan mata kuliah itu dalam daftar ku…hampir saja…huuufff. Di sela – sela kebingungan itu, masih sempat ku titipkan berkas lamaran untuk asisten di lab komputasi dan membaca baris recruitment for J2ME / J2EE programmer di perusahaan di Bandung…” Wah, coba ah..” pikirku saat itu.

Akhirnya, saat kembali ke ruang kerja siang itu, ku coba kalkulasi dan pikirkan ulang apa yang harus menjadi prioritas dan mana yang bisa ditolerir. Tak kupungkiri semester ini aku sungguh ngawur, tak terlalu fokus pada urusan akademik, sehingga wajar banyak pula hasil yang ngawur. Mengenai penyebabnya, tak akan kuberikan pada apapun. Karena semua yang telah terjadi atas waktu ku adalah didalam sadarku. Jadi ini bukan salah siapa – siapa, hanya masalah keputusan.

Setelah kuhitung – hitung dengan akal sehat, akhirnya kutemukan juga bug itu. mata kuliah yang kukira wajib padahal pilihan, dan mata kuliah yang kukira diadakan semester genap padahal ada di semester ganjil. “Pantas saja, untuk urusan 2 SKS ku amburadul tak karuan !!!” , pikirku saat itu. Dalam hati aku bersyukur juga, diberi petunjuk oleh Allah…Alhamdulliah ya Rabb…

Jadi, saat ini biar ku ungkapkan hasil penemuaku untuk ku realisasikan dalam 6 bulan ke depan :
No Kode Mata Kuliah SKS
1 CS4002 Tugas Akhir I dan Seminar 2
2 CS3204 Grafika dan Citra 4
3 SE3414 RPL Teknik Orientasi Objek 4
4 CS4593 Embedded System 3
5 CS4313 Sistem Informasi Lanjut 3
6 CS4633 Keamanan Sistem 3
TOTAL 19

Inilah medan perang ku semester ini. Dari sisi angka memang tak terlalu banyak, masih kurang 1 angka dari 20. Namun aku tak mau lagi menganggab remeh hal ini seperti kesalahan tolol waktu lalu. Sebab, jadwal kuliah yang sore hingga malam hari sungguh menuntut perencanaan waktu yang baik. Bagaimana tidak, jika tidak berkerja pada pagi – siang harinya, maka si pelaku (aku-red) cenderung untuk begadang hingga dini hari karena jet lag sehingga membuatku merasakan waktu untuk on line masih panjang, seperti sewaktu kuliah reguler dulu. Nah, ketika pelaku baru tertidur dini hari, maka bisa dipastikan ia akan cenderung menghabiskan waktu pagi nya dengan pekerjaan tak efektif contoh : tidur. Siangnya, jelas harus ada kontak sosial, maka di pastikan lagi pelaku akan menghabiskan waktu siangnya untuk bercengkrama dengan kawan – kawan atau melakukan hobi lain. Sore harinya, kuliah lagi dan seperti itu setiap hari. Jadi kapan belajarnya coy ?

Saat ini, kuputuskan untuk membuat strategi yang kondusif untuk medan perangku nanti. Ok begini rencananya, setiap hari dimulai dari jam 5 ditandai dengan sholat subuh, lalu dilanjutkan dengan baca buku ilmiah hingga jam 6. Tapi jika mata sangat mengantuk, diperbolehkan untuk tidur kembali, tapi INGAT jangan terlalu sering. Setelah itu, mandi biar lebih segar, bersihkan kamar and sarapan or baca koran. Jam 8 nya, habiskan waktu hingga siang dengan buku kuliah, diutamakan topik mata kuliah hari tersebut. Jam 11 hingga pukul 1, diperbolehkan untuk kontak sosial dan hobi : ASTACALA atau ngobrol dengan anak – anak atau baca buku fiksi atau lihat berita siang. Selesai sholat dan makan siang, langsung ke perpustakaan hingga jam 3 sore. Jika hari itu tak ada quis, dilanjutkan dengan tidur atau nyiram rumput atau apapun hingga waktu kuliah tiba : jam 5, Jika ada quis maka baca and belajar lagi. Sepulang kuliah, boleh nongkrong di ASTACALA lalu balik ke kos. Sebagai catatan : WAJIB TIDUR MINIMAL JAM 00.00 – 03.00.

Nah, yang mungkin sedikit susah adalah bagian ketika : Sepulang kuliah, boleh nogkrong di ASTACALA lalu balik ke kos. Karena dari pengalaman ku, setelah di sekre ASTACALA biasanya aku malas untuk kembali ke kos, karena alasan gelap lah, capek lah, dan masih banyak lah lah yang lain ditambah lagi fasilitas nge net gratis yang bisa kugunakan hingga subuh !! Sedangkan orang tuaku membayar cukup mahal agar aku bisa tinggal di tempat yang layak seperti di rumah ini, jadi harus ku manfaatkan dengan sebaik – baiknya. Jadi kucoba berkompromi dengan diriku : minimal 4 hari dalam 7 hari alias seminggu, adek harus tidur di Sagita House.

Anyway, itulah strategi perang yang tealh berhasil kususun. Tak taulah aku sedasyat apa lagi yang bisa terjadi di medan perang semester ini, yang jelas aku berserah diri pada Nya atas nafsuku, kebodohanku dan kelalaianku. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.


Kali ini, ijinkan aku mengutip kalimat sederhana dari seorang mentor yang sangat kukagumi : “ Manusia, adalah apa yang dipikirkannya. Jika anda adalah seorang yang berani dan jujur, dan itu yang anda pikirkan, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya.” Soe Hok Gie – Zaman Peralihan

Ya Allah, mudahkan dan lapangkanlah jalanku, serta menangkan lah perjuanganku. Karena yang ingin ku gapai hanya ridho Mu, maka kuserahkan semua ini pada Mu. Amien

Bandung, 29 Agus 2006 – 00.27 AM
My Home, Sagita House
Al – Kahfi

Advertisements




Karena yang ingin ku gapai hanya ridho Mu

29 08 2006
Jangan takut berjalan sendirian,
Ada aku turut menuntun jalan.
Saat hatimu di serang kesepian,
aku datang….
Redam badai lakukan dengan tenang.
Hujan ini akan engkau kalahkan.
Kalau hatimu percaya padaku,
Aku datang….
Kau jadi samudera aku langitnya.
Memeluk dunia kita berdua.
Menyelamatkanmu..
Though There’s so many tigers,
knights in shinning armour
Tetap di sampingmu..
From the former winter to another summer.
Aku datang… untukmu..
Jangan takut kehilangan pegangan,
ada aku berimu kekuatan.
Agar dirimu mampu untuk bertahan,
aku datang..
Redam badai lakukan dengan tenang.
Hujan ini akan engkau kalahkan.
Kalau hatimu percaya padaku,
aku datang….
If you are the ocean, then I’ll be the sea.
Forever we’ll make it, that’s where i’ll be.
If You are the ocean, then i’ll be the sea.
Memeluk dunia kita berdua,
that’s where i’ll be..
-Aku Datang Untukmu, Jikustik feat Lea –

Malam ini, kubuka lagi lembar ini, sambil mendengar lagu diatas. Tak tau mengapa, malam ini begitu ingin kumerasakan lagi nada dan bait puisi didalamnya. Entah untuk membangkitkan rasa yang dulu pernah ditemani lantunan nada nya atau karena teringat dengan seseorang yang pernah terkesan bai ini atau memang aku begitu ingin temukan lagi samudra untuk menemaniku memeluk dunia.

Entahlah..mungkin memang karena semuanya. Mungkin untuk mengingat saat ketika bekerja hingga dini hari menyelesaikan baris demi baris tulisan ku ditemani lagu ini, merindukan jiwa yang pergi dari hidupku dan mencari samudra yang mengering di bawah langitku.

Dan, hari ini semester baru telah dimulai. Ku jalani satu fase lagi dari beberapa bagian ruang perjuanganku menggapai mimpi. Kelalaian yang tak ingin kukuasai membuat pencapaian ku disaat yang lalu tak terlalu memuaskan. Ah, semua sudah terjadi.. berlalulah sudah. Saat ini kutatap masa depan setajam seperti yang seharusnya kulakukan.

Memang kuakui ada sedikit rasa tak percaya bahwa aku mampu melalui ini sesuai dengan yang seharusnya. Hampir saja kelalaian berikutnya menjebak hingga membuat aku tak mengambil pilihan yang seharusnya : “ambil TA 1 atau ga ?” pertanyaan yang selalu terngiang – ngiang di telingaku. Saat ini ada kesempatan menata kembali strategi perang untuk menghadapi semester 3 alias PRS. Sangat perlu bagiku untuk memikirkan ulang keputusan mengenai TA ini, karena terus terang sewaktu registrasi hal ini tak terlalu kupikirkan, “ Pokoknya asal registrasi dulu dah….” pikirku saat itu.

Jika dipandang dari sisi SKS, memang ia tak seberapa hanya 2 SKS. Tapi, justru disinilah gregetnya, karena hanya dengan 2 SKS ini bisa membuatku menunda masa di depan yang sudah kurencanakan dan membuat orang tuaku membayar 1 juta atau lebih lagi tahun mendatang. Karena jika tak diambil semester ini, maka sudah pasti baru tahun 2008 aku bisa wisuda. Itupun jika aku beruntung atau tak ada setan yang mampu merayuku untuk tidak main – main. Kesimpulannya, jiika tak diambil saat ini, maka sudah dipastikan aku tak akan lulus dalam 4 semester, waktu yang seharusnya bisa kucapai untuk lewati S1 Ekstensi ini.

Selama di jalan ke kampus hari ini, aku berpikir “Ada celah ga…ada cara ga ya Allah…? “ Sesampainya di sana, sedikit linglung mo ngapain, akhirnya ku tulis saja rangkaian baris jadwal kuliah yang ada semester ini, serta tak lupa membaca pesan mata kuliah yang dibatalkan untuk diadakan, dan benar saja karena waktu registrasi lalu aku sempat memasukan mata kuliah itu dalam daftar ku…hampir saja…huuufff. Di sela – sela kebingungan itu, masih sempat ku titipkan berkas lamaran untuk asisten di lab komputasi dan membaca baris recruitment for J2ME / J2EE programmer di perusahaan di Bandung…” Wah, coba ah..” pikirku saat itu.

Akhirnya, saat kembali ke ruang kerja siang itu, ku coba kalkulasi dan pikirkan ulang apa yang harus menjadi prioritas dan mana yang bisa ditolerir. Tak kupungkiri semester ini aku sungguh ngawur, tak terlalu fokus pada urusan akademik, sehingga wajar banyak pula hasil yang ngawur. Mengenai penyebabnya, tak akan kuberikan pada apapun. Karena semua yang telah terjadi atas waktu ku adalah didalam sadarku. Jadi ini bukan salah siapa – siapa, hanya masalah keputusan.

Setelah kuhitung – hitung dengan akal sehat, akhirnya kutemukan juga bug itu. mata kuliah yang kukira wajib padahal pilihan, dan mata kuliah yang kukira diadakan semester genap padahal ada di semester ganjil. “Pantas saja, untuk urusan 2 SKS ku amburadul tak karuan !!!” , pikirku saat itu. Dalam hati aku bersyukur juga, diberi petunjuk oleh Allah…Alhamdulliah ya Rabb…

Jadi, saat ini biar ku ungkapkan hasil penemuaku untuk ku realisasikan dalam 6 bulan ke depan :

No Kode Mata Kuliah SKS
1 CS4002 Tugas Akhir I dan Seminar 2
2 CS3204 Grafika dan Citra 4
3 SE3414 RPL Teknik Orientasi Objek 4
4 CS4593 Embedded System 3
5 CS4313 Sistem Informasi Lanjut 3
6 CS4633 Keamanan Sistem 3
TOTAL 19

Inilah medan perang ku semester ini. Dari sisi angka memang tak terlalu banyak, masih kurang 1 angka dari 20. Namun aku tak mau lagi menganggab remeh hal ini seperti kesalahan tolol waktu lalu. Sebab, jadwal kuliah yang sore hingga malam hari sungguh menuntut perencanaan waktu yang baik. Bagaimana tidak, jika tidak berkerja pada pagi – siang harinya, maka si pelaku (aku-red) cenderung untuk begadang hingga dini hari karena jet lag sehingga membuatku merasakan waktu untuk on line masih panjang, seperti sewaktu kuliah reguler dulu. Nah, ketika pelaku baru tertidur dini hari, maka bisa dipastikan ia akan cenderung menghabiskan waktu pagi nya dengan pekerjaan tak efektif contoh : tidur. Siangnya, jelas harus ada kontak sosial, maka di pastikan lagi pelaku akan menghabiskan waktu siangnya untuk bercengkrama dengan kawan – kawan atau melakukan hobi lain. Sore harinya, kuliah lagi dan seperti itu setiap hari. Jadi kapan belajarnya coy ?

Saat ini, kuputuskan untuk membuat strategi yang kondusif untuk medan perangku nanti. Ok begini rencananya, setiap hari dimulai dari jam 5 ditandai dengan sholat subuh, lalu dilanjutkan dengan baca buku ilmiah hingga jam 6. Tapi jika mata sangat mengantuk, diperbolehkan untuk tidur kembali, tapi INGAT jangan terlalu sering. Setelah itu, mandi biar lebih segar, bersihkan kamar and sarapan or baca koran. Jam 8 nya, habiskan waktu hingga siang dengan buku kuliah, diutamakan topik mata kuliah hari tersebut. Jam 11 hingga pukul 1, diperbolehkan untuk kontak sosial dan hobi : ASTACALA atau ngobrol dengan anak – anak atau baca buku fiksi atau lihat berita siang. Selesai sholat dan makan siang, langsung ke perpustakaan hingga jam 3 sore. Jika hari itu tak ada quis, dilanjutkan dengan tidur atau nyiram rumput atau apapun hingga waktu kuliah tiba : jam 5, Jika ada quis maka baca and belajar lagi. Sepulang kuliah, boleh nongkrong di ASTACALA lalu balik ke kos. Sebagai catatan : WAJIB TIDUR MINIMAL JAM 00.00 – 03.00.

Nah, yang mungkin sedikit susah adalah bagian ketika : Sepulang kuliah, boleh nogkrong di ASTACALA lalu balik ke kos. Karena dari pengalaman ku, setelah di sekre ASTACALA biasanya aku malas untuk kembali ke kos, karena alasan gelap lah, capek lah, dan masih banyak lah lah yang lain ditambah lagi fasilitas nge net gratis yang bisa kugunakan hingga subuh !! Sedangkan orang tuaku membayar cukup mahal agar aku bisa tinggal di tempat yang layak seperti di rumah ini, jadi harus ku manfaatkan dengan sebaik – baiknya. Jadi kucoba berkompromi dengan diriku : minimal 4 hari dalam 7 hari alias seminggu, adek harus tidur di Sagita House.

Anyway, itulah strategi perang yang tealh berhasil kususun. Tak taulah aku sedasyat apa lagi yang bisa terjadi di medan perang semester ini, yang jelas aku berserah diri pada Nya atas nafsuku, kebodohanku dan kelalaianku. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.

Kali ini, ijinkan aku mengutip kalimat sederhana dari seorang mentor yang sangat kukagumi : “ Manusia, adalah apa yang dipikirkannya. Jika anda adalah seorang yang berani dan jujur, dan itu yang anda pikirkan, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya.
Soe Hok Gie – Zaman Peralihan

Ya Allah, mudahkan dan lapangkanlah jalanku, serta menangkan lah perjuanganku. Karena yang ingin ku gapai hanya ridho Mu, maka kuserahkan semua ini pada Mu. amien

Bandung, 29 Agus 2006 – 00.27 AM
My Home, Sagita House
Al – Kahfi





Apakah nasib terbaik adalah tidak dilahirkan?

23 08 2006

Apa kabarmu jiwa? hari ini entah mengapa aku begitu merindukan mu. Tanpa kusadari, hidup yang tanpa rasa menyapa waktu ku. Hanya letihku ternyata masih cukup kuat untuk melawan, atas frustasi yang tak kuijinkan mendekap ku, atau lelahnya langkah yang mulai gontai menyusuri jalan ini. Beberapa saat yang lalu ku tau engkau gelisah. Ku tanya “mengapa?”, “ada apa kawan?” begitulah kira – kira hatiku berucap pada mu. Namun kamu memberi ku seribu ucapan diam, namun jutaan kalimat tak berujung dan potongan – potongan kata tetap terurai terus menerus dalam kepala ku. Dan kusadari, aku harus menulis.

Kawan, ku tau kamu tak akan meningggalkan ku. Setelah jalan panjang yang kita lalui bersama. Ku teringat saat – saat ketika haus menyambut dahaga ini, atau sewaktu terik mentari menyapa kulit, atau ketika letih mendekap tubuh yang telah lemah. Dan hanya perjalanan panjang yang menemaniku, bersama kesetiaan mu yang tak mampu kugambarkan. Jiwa, ku tau kau tak kan meninggalkan ku. Tak akan pernah, hingga satuaan waktu tak mampu menyapa hidup ku.

Aku menyadari beberapa hal beberapa di saat yang lalu. Yang membuatku membuka halaman ini lagi saat ini. Tentang hakekat menulis dan membaca. Bahwa syarat mutlak untuk memimpin adalah menjadi penulis. Dan untuk menulis, butuh konsep untuk analisanya layaknya tinta untuk pena yang ingin menggores kertas. Dan sebuah analisa butuh kesungguhan dalam berpikir. Dan dalam berpikir butuh keiklasan untuk membaca, melihat, mendengar. Sekali lagi sebuah kesempurnaan siklus hidup di suguhkan di hadapan ku. Allah yang Maha Sempurna membuat semua yang begitu rumit dilindungi oleh kesederhanaan.

Aku mengetahui Soe, sebuah nama panggilan yang diberikan untuk Soe Hok Gie, satu dari beberapa sosok idolaku. Aku menyukai banyak hal dari nya, tentang jalan hidup yang dipilih, tentang arti sebuah konsistensi, makna kejujuran, hakekat idealisme dan hakikinya sebuah perjuangan. Aku membaca sedikit riwayat yang tersisa tentang kesendiriaanya. Aku menyukai kesendiriaan itu. Aku tak tau pasti, tapi ku coba menerka kepribadiaanya. Menurutku ia begitu kolerik melankolik murni, seorang idealis yang mencintai kesendirianya, seperti ku. Entahlah benar atau tidak, yang kutau hanya seorang kolerik melankolik akan mengenai kolerik melankolik lain. Dan aku ingin merasakan keheningan yang dipilihnya, diantara dingin angin yang diberikan alam, semilir bunyi rumput di tanah dan dibawah langit yang menjadi atap bumi. Dan yang terpenting adalah fakta bahwa Soe sering menulis, untuk coba abadikan tentang segala sesuatu yang dilihat, didengar, dirasakan dan dibacanya dalam lantunan irama kata.

Jiwa, apakah kau masih disini? masih ada yang ingin ku ceritakan padamu. Tentang sumber kegelisahan dan ketenangan hatiku. Sudah beberapa minggu sejak aku tak menemuinya lagi atau bahkan tak bicara lagi dengan nya tentang hidupku. Kau tau, dulu aku acap kali tuliskan tentang ceritaku, tentang waktu yang menemaniku jalani hidup, tentang kesedihan dan kegembiraanku. Saat itu kuputuskan untuk tak mengacuhkan keinginannya melupakan kenangan ku. Sedikit angkuh dalam pikiranku memang selalu melintas, bahwa sedih yang ia rasa tak akan sedalam milikku. Karena aku yang putuskan untuk meninggalkannya diantara sejuta keinginanku untuk selalu bersama dengannya. Karena ku relakan untuk menanggung rasa salah atas semua kejujuran sederhana ini. Hingga kuputuskan untuk membuat mu percaya bahwa pedih ini tak setinggi miliknya. Mungkin aku salah, tapi kebenaran pun tak ada artinya lagi saat ini. Yang pasti hanyalah fakta tentang rasa perih yang selalu menyertai jalan panjang dan berliku ini.


Aku berharap dapat melupakan nya. Tapi aku suka menulis, dan menulis bagiku adalah sebuah perjuangan melawan luka, dan lupa. Tak mungkin ingin-ku ini dan perjuangan-ku ku lawankan. Jadi ku coba berjalan bersama alam yang masih menemani bumi. Mencoba titipkan kenangan yang tersisa tentang nya. Syukurlah ada dedaunan, air, pasir dan angin yang masih mau menerima ku dan segengam kisah yang kubawa serta. Hingga kuceritakan lah dalam ucapan suara hati tentang sejumput lagu hidupku dengan nya, dalam lembutnya puisi di kegelapan malam ditemani kehangatan api di sisa bara ku. Tak hanya itu saja, tapi juga tentang kencangnya lintasan kehidupan di sampingku. Yang tertata rapi layaknya layar teather..ya, teather kehidupan. Dan hingga saat kuberjalan pulang sore itu, aku berharap kenangan dan keresahan itu dapat kutinggalkan. Tapi kita lupa tentang semilir angin yang membawa suara getar dedaunan, tentang gemericik air yang dibawa gelombang dan dihantam batu sungai, tentang butiran pasir yang diterbangkan badai. Ternyata membawa semua yang coba kutinggalkan kembali padaku, kali ini ia disertai hangatnya rasa rindu.

Bila ku menjadi gila dengan kau tinggalkan jiwa, apakah mungkin semua ini terasa lebih baik? Mungkin kita akan tau ini kelak, mungkin kita tak kan pernah tau, entahlah. Hanya kutetap yakini, bahwa yang dihadapanku saat ini adalah yang terbaik dari apa yang bisa terjadi. Karena Allah yang mengatur semua nya, tak ada yang terlewat, semuanya terencana seperti layaknya daun yang jatuh kepelukan ibunya, bumi. K u percaya, saat – saat ini akan menjadi waktu yang mendewasakan mu jiwa, di suatu saat nanti ketika masa depan yang misterius menjemput kita.

Aku teringat kata – kata Soe :

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa – rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda. Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip – prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.

Jiwa, biar ku katakan padamu, bahwa aku menyukai hidup ini dan kematian yang akan menjemputnya. Dan kegembiraan serta tangis yang kelak menggantikannya. Dan Kejujuran yang ditantang kemunafikan dalam kebohongan. Jiwa, karena itulah aku cinta kebebasan.


Al – Kahfi
Bandung 24 Agustus 2006





Apakah nasib terbaik adalah tidak dilahirkan?

23 08 2006
Apa kabarmu jiwa? hari ini entah mengapa aku begitu merindukan mu. Tanpa kusadari, hidup yang tanpa rasa menyapa waktu ku. Hanya letihku ternyata masih cukup kuat untuk melawan, atas frustasi yang tak kuijinkan mendekap ku, atau lelahnya langkah yang mulai gontai menyusuri jalan ini. Beberapa saat yang lalu ku tau engkau gelisah. Ku tanya “mengapa?”, “ada apa kawan?” begitulah kira – kira hatiku berucap pada mu. Namun kamu memberi ku seribu ucapan diam, namun jutaan kalimat tak berujung dan potongan – potongan kata tetap terurai terus menerus dalam kepala ku. Dan kusadari, aku harus menulis.

Kawan, ku tau kamu tak akan meningggalkan ku. Setelah jalan panjang yang kita lalui bersama. Ku teringat saat – saat ketika haus menyambut dahaga ini, atau sewaktu terik mentari menyapa kulit, atau ketika letih mendekap tubuh yang telah lemah. Dan hanya perjalanan panjang yang menemaniku, bersama kesetiaan mu yang tak mampu kugambarkan. Jiwa, ku tau kau tak kan meninggalkan ku. Tak akan pernah, hingga satuaan waktu tak mampu menyapa hidup ku.

Aku menyadari beberapa hal beberapa di saat yang lalu. Yang membuatku membuka halaman ini lagi saat ini. Tentang hakekat menulis dan membaca. Bahwa syarat mutlak untuk memimpin adalah menjadi penulis. Dan untuk menulis, butuh konsep untuk analisanya layaknya tinta untuk pena yang ingin menggores kertas. Dan sebuah analisa butuh kesungguhan dalam berpikir. Dan dalam berpikir butuh keiklasan untuk membaca, melihat, mendengar. Sekali lagi sebuah kesempurnaan siklus hidup di suguhkan di hadapan ku. Allah yang Maha Sempurna membuat semua yang begitu rumit dilindungi oleh kesederhanaan.

Aku mengetahui Soe, sebuah nama panggilan yang diberikan untuk Soe Hok Gie, satu dari beberapa sosok idolaku. Aku menyukai banyak hal dari nya, tentang jalan hidup yang dipilih, tentang arti sebuah konsistensi, makna kejujuran, hakekat idealisme dan hakikinya sebuah perjuangan. Aku membaca sedikit riwayat yang tersisa tentang kesendiriaanya. Aku menyukai kesendiriaan itu. Aku tak tau pasti, tapi ku coba menerka kepribadiaanya. Menurutku ia begitu kolerik melankolik murni, seorang idealis yang mencintai kesendirianya, seperti ku. Entahlah benar atau tidak, yang kutau hanya seorang kolerik melankolik akan mengenai kolerik melankolik lain. Dan aku ingin merasakan keheningan yang dipilihnya, diantara dingin angin yang diberikan alam, semilir bunyi rumput di tanah dan dibawah langit yang menjadi atap bumi. Dan yang terpenting adalah fakta bahwa Soe sering menulis, untuk coba abadikan tentang segala sesuatu yang dilihat, didengar, dirasakan dan dibacanya dalam lantunan irama kata.

Jiwa, apakah kau masih disini? masih ada yang ingin ku ceritakan padamu. Tentang sumber kegelisahan dan ketenangan hatiku. Sudah beberapa minggu sejak aku tak menemuinya lagi atau bahkan tak bicara lagi dengan nya tentang hidupku. Kau tau, dulu aku acap kali tuliskan tentang ceritaku, tentang waktu yang menemaniku jalani hidup, tentang kesedihan dan kegembiraanku. Saat itu kuputuskan untuk tak mengacuhkan keinginannya melupakan kenangan ku. Sedikit angkuh dalam pikiranku memang selalu melintas, bahwa sedih yang ia rasa tak akan sedalam milikku. Karena aku yang putuskan untuk meninggalkannya diantara sejuta keinginanku untuk selalu bersama dengannya. Karena ku relakan untuk menanggung rasa salah atas semua kejujuran sederhana ini. Hingga kuputuskan untuk membuat mu percaya bahwa pedih ini tak setinggi miliknya. Mungkin aku salah, tapi kebenaran pun tak ada artinya lagi saat ini. Yang pasti hanyalah fakta tentang rasa perih yang selalu menyertai jalan panjang dan berliku ini.

Aku berharap dapat melupakan nya. Tapi aku suka menulis, dan menulis bagiku adalah sebuah perjuangan melawan luka, dan lupa. Tak mungkin ingin-ku ini dan perjuangan-ku ku lawankan. Jadi ku coba berjalan bersama alam yang masih menemani bumi. Mencoba titipkan kenangan yang tersisa tentang nya. Syukurlah ada dedaunan, air, pasir dan angin yang masih mau menerima ku dan segengam kisah yang kubawa serta. Hingga kuceritakan lah dalam ucapan suara hati tentang sejumput lagu hidupku dengan nya, dalam lembutnya puisi di kegelapan malam ditemani kehangatan api di sisa bara ku. Tak hanya itu saja, tapi juga tentang kencangnya lintasan kehidupan di sampingku. Yang tertata rapi layaknya layar teather..ya, teather kehidupan. Dan hingga saat kuberjalan pulang sore itu, aku berharap kenangan dan keresahan itu dapat kutinggalkan. Tapi kita lupa tentang semilir angin yang membawa suara getar dedaunan, tentang gemericik air yang dibawa gelombang dan dihantam batu sungai, tentang butiran pasir yang diterbangkan badai. Ternyata membawa semua yang coba kutinggalkan kembali padaku, kali ini ia disertai hangatnya rasa rindu.

Bila ku menjadi gila dengan kau tinggalkan jiwa, apakah mungkin semua ini terasa lebih baik? Mungkin kita akan tau ini kelak, mungkin kita tak kan pernah tau, entahlah. Hanya kutetap yakini, bahwa yang dihadapanku saat ini adalah yang terbaik dari apa yang bisa terjadi. Karena Allah yang mengatur semua nya, tak ada yang terlewat, semuanya terencana seperti layaknya daun yang jatuh kepelukan ibunya, bumi. K u percaya, saat – saat ini akan menjadi waktu yang mendewasakan mu jiwa, di suatu saat nanti ketika masa depan yang misterius menjemput kita.

Aku teringat kata – kata Soe :
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa – rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda. Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip – prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.

Jiwa, biar ku katakan padamu, bahwa aku menyukai hidup ini dan kematian yang akan menjemputnya. Dan kegembiraan serta tangis yang kelak menggantikannya. Dan Kejujuran yang ditantang kemunafikan dalam kebohongan. Jiwa, karena itulah aku cinta kebebasan.

Al – Kahfi
Bandung 24 Agustus 2006





Kenangan Kepada Seorang Demonstran : Soe Hok Gie

18 08 2006

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.
Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.
Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran“, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.
Kasih batu dan cemara
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.
Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.
Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.
Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.
Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.
Mengapa naik gunung
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.
Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.
Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.
Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.
Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.
Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya“, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.
Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.
Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.
Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.
Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: “Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!”

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.

Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.
Monyet tua yang dikurung
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”

Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil“, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti“.
Arief pun menulis kenangannya lagi:” … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, ‘Gie kamu tidak sendirian’. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.”
Mimpi seorang mahasiswa tua
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.
Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: “…Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.
Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: “... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.
Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!
Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”
Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: “… Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.
Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.
Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: “... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.
Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa“. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.
Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”
Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.
Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.
Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.
Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.
Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?





Kenangan Kepada Seorang Demonstran : Soe Hok Gie

18 08 2006
Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran“, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya“, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: “Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!”

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.

Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”


Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil“, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti“.

Arief pun menulis kenangannya lagi:” … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, ‘Gie kamu tidak sendirian’. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.”

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: “…Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: “... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: “… Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: “... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa“. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Take from http://www.indomedia.com/intisari/1999/desember/sohokgi.htm





Kenangan Kepada Seorang Demonstran : Soe Hok Gie

18 08 2006
Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran“, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya“, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: “Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!”

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.

Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”


Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil“, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti“.

Arief pun menulis kenangannya lagi:” … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, ‘Gie kamu tidak sendirian’. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.”

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: “…Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: “... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: “… Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: “... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa“. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Take from http://www.indomedia.com/intisari/1999/desember/sohokgi.htm