Selamat datang retorika, mampuslah budaya diskusi.

31 07 2006

Saat ini, pasti aku merasakan menjadi orang paling aneh di tempat ini. Tempat yang kuanggap sebagai rumah tempat ku memberikan waktu dan pikiran ku untuk tinggal sedikit lebih lama dari rumah lain. Tempat yang ku kira menjadi ruang penyejuk hati ketik resah.
Pagi ini, ku berdiri di depan papan yang dengan perlahan namun pasti menjadi satu – satu nya gantungan ku untuk berkomunikasi di tempat yang miskin komunikasi ini. karena kita semua memutuskan untuk tak bebicara, pun dengan hati kita. Mungkin karena takut menghadapi kebenaran, bahwa sistem yang kita kira sempurna ternyata di gulung oleh waktu.
Hari ini kutulis sedikit pesan berisi rasa frustasi atas sistem yang tak mampu ku mengerti. Atas mekanisme yang tak pernah bisa ku terima. Pagi ini, ku ucapkan sedikit kesedihan tentang ke tidak jelasan yang menyelimuti rumah ini.
Entah mengapa, pagi ini sejuta kemuakan atas kondisi yang diluar jangkauan ku menguasai pikiran dan hati ini. Entah berapa lama lagi ku mampu bertahan. Aku pernah menghadapi situasi ini, tidak sekali tapi berualang kali. Tidak hanya di rumah ini. Dan aku masih disini, saat ini tetap memandang masa depan.
Seorang kawan pernah berkata “ketika kamu tak cocok dengan sistem yang dijalankan atas mu, maka bergeraklah dan ubahlah itu semua atau ketika kamu tak mampu untuk merubahnya maka lebih baik kamu keluar dari sistem itu dari pada bergerak dalam kemunafikan”. Tapi seorang pemenang tentu tak akan lari dari masalah atau kenyataan. Namun aku pun tak punya kuasa untuk merubah sedikit saja dari sistem ini.
Ketika telinga – telinga menjadi tuli, dan mulut – mulut menjadi bisu, dan mata menjadi buta…ah, tempat ini dilanda kekeringan seperti kebun belakang yang dihampiri maut. Ya, tempat ini mati dari komunikasi, kehilangan inisiatif dan miskin dengan inovasi. Kita sibuk dengan retorika yang tak pernah habis.
Pagi ini kutuliskan sedikit kesedihan tak tertahankan yang sekejab berubah ditimpa kata – kata : SIDANG ANGGOTA MUDA KAMIS – SENIN, 17 – 21 AGUSTUS 2006. PESERTA : xxxx. TEMPAT MENYUSUl.
Selamat datang retorika, mampuslah budaya diskusi.
ASTACALA ku
30 juli 2006

Advertisements




Selamat datang retorika, mampuslah budaya diskusi.

31 07 2006
Saat ini, pasti aku merasakan menjadi orang paling aneh di tempat ini. Tempat yang kuanggap sebagai rumah tempat ku memberikan waktu dan pikiran ku untuk tinggal sedikit lebih lama dari rumah lain. Tempat yang ku kira menjadi ruang penyejuk hati ketik resah.

Pagi ini, ku berdiri di depan papan yang dengan perlahan namun pasti menjadi satu – satu nya gantungan ku untuk berkomunikasi di tempat yang miskin komunikasi ini. karena kita semua memutuskan untuk tak bebicara, pun dengan hati kita. Mungkin karena takut menghadapi kebenaran, bahwa sistem yang kita kira sempurna ternyata di gulung oleh waktu.

Hari ini kutulis sedikit pesan berisi rasa frustasi atas sistem yang tak mampu ku mengerti. Atas mekanisme yang tak pernah bisa ku terima. Pagi ini, ku ucapkan sedikit kesedihan tentang ke tidak jelasan yang menyelimuti rumah ini.

Entah mengapa, pagi ini sejuta kemuakan atas kondisi yang diluar jangkauan ku menguasai pikiran dan hati ini. Entah berapa lama lagi ku mampu bertahan. Aku pernah menghadapi situasi ini, tidak sekali tapi berualang kali. Tidak hanya di rumah ini. Dan aku masih disini, saat ini tetap memandang masa depan.

Aeorang kawan pernah berkata “ketika kamu tak cocok dengan sistem yang dijalankan atas mu, maka bergeraklah dan ubahlah itu semua atau ketika kamu tak mampu untuk merubahnya maka lebih baik kamu keluar dari sistem itu dari pada bergerak dalam kemunafikan”. Tapi seorang pemenang tentu tak akan lari dari masalah atau kenyataan. Namun aku pun tak punya kuasa untuk merubah sedikit saja dari sistem ini.

Ketika telinga – telinga menjadi tuli, dan mulut – mulut menjadi bisu, dan mata menjadi buta…ah, tempat ini dilanda kekeringan seperti kebun belakang yang dihampiri maut. Ya, tempat ini mati dari komunikasi, kehilangan inisiatif dan miskin dengan inovasi. Kita sibuk dengan retorika yang tak pernah habis.

Pagi ini kutuliskan sedikit kesedihan tak tertahankan yang sekejab berubah ditimpa kata – kata : SIDANG ANGGOTA MUDA KAMIS – SENIN, 17 – 21 AGUSTUS 2006. PESERTA : xxxx. TEMPAT MENYUSUl. ” Selamat datang retorika, mampuslah budaya diskusi.

ASTACALA ku
30 juli 2006




Hanya ceritaku hari ini

18 07 2006

Hari ini, dibangunkan adik kos ku dengan Miss Call tak kurang dari 3 kali ditambah SMS bertuliskan : “Kak, Bangun…bantuin Vivin!!”. Ya..kumulai hari ini dengan bergegas ke Sagita house, my lovely Home ini Bandung setelah sebelumnya predikat ini dipegang…apalagi klo bukan ASTRI STTTelkom…
Setelah mandi dan mencomot selembar roti yang 1 hari lagi pasti bakal basi klo ga segera dihabiskan, aku mencoba memahami lagi baris demi baris perintah yang masih banyak error nya itu. Sempat kesel bercampur marah, karena hal yang kusangka begitu mudah sebelumnya ternyata tak berjalan sesuai perkiraan ku. Akhirnya ku putuskan untuk mendinginkan kepala yang sudah agak panas ini, ke sekre ASTACALA…tempat utama ku untuk berekspresi saat ini.
Mengendalikan 90 % atas 10 % hal yang tak bisa kukendalikan, hari ini aku bertekad untuk tak akan di kendalikan oleh hanya masalah MOOD. “Tidak, tidak hari ini atau esok”, tekadku saat berjalan ke Gd SC saat itu. Di Sekre, sempat aku mengobrol dengan kawan – kawan bantu Mas Emo mengasah Golok ASTACALA yang sungguh sudah ga tajam dan bahkan karatan (!!!!), aku sedikit menyesal, kenapa inisiatif ini ga sedari dulu ku kerjakan…padahal hanya masalah keinginan saja. Karena memang sudah seharusnya ku kerjakan !!
Akh, apa daya waktu berjalan tanpa belas kasihan, yang berlalu biarlah berlalu, apa yang salah jadikan perlajaran…memang tak ada yang sempurna. Kembali ke masalah ngobrol tadi, Sapi lalu dipanggil untuk “mengolah” beberapa kayu untuk dijadikan gagang golok yang sudah hilang. Lumayan melihat kemauan nya, walalupun hasilnya mungkin jauh dari bagus…(semangat pi !!!)
Tak terasa malam menjemput. Aku teringat kata yang ku ucapkan pada adik ku, “Tenang aja…program nya pasti jadi”, dan kira – kira 24 jam mulai saat ini sudah waktunya Sidang Proyek Akhirnya.”Busyet….!!!, harus kelar nih program anak orang….”, pikirku saat itu sontak membuatku menarik gas motor beber F1ZR milik Om JQ yang dititipkan di sekre sejak keberangkatannnnya ke Jakarta beberapa hari yang lalu
Tak lama, setelah sedikit berbenah dan melepas lelah serta tentu bau matahari hari ini, kulanjutkan menghadapi baris coding itu lagi. Ah, seperti biasa yang mambuat ku selalu kembali setelah kekesalan ku menghadapi program….hanya kesalahan kecil terkadang begitu ingini membuat otak ini tak stabil dan sedikit frustasi. “Tapi, tidak hari ini..aku akan menang dan engkau akan segera running”, kataku dalam hati pada komputer ini. Dan harapanku terjadi sudah, selesai juga program itu. Entahlah bagaimana penilai dosen pnguji nya esok, yang pasti aku bekerja semampuku dan seikhlas hati ini.
“Mudah – mudah besok engkau adik ku dimudahkah Allah dalam melewati Sidang Proyek AKhir mu. Apapun hasilnya, yakinilah proses itu jauh lebih berharga dari pada hasil nya. Semoga saat – saat ini yang akan mendewasakan mu dan melapangkan hatimu kelak, seperti harapan ku saat melintasi waktu ini dulu.Amien.”
Kembali ke ruang kerja, malam ini setelah sejenak melepas bosan, kucoba membuka halaman yang dapat ku baca dengan bantuan teknologi internet kampus, blog. Tak seperti sebelumnya, ku coba membuka lembaran demi lembaran blog orang – orang yang pernah mengisi hari – hari ku, mentor – mentor, senior – senior di organisasi, asisten yang diantaranya sudah jadi dosenku, dan dosen ku yang menikah dengan asisten ku…. Bingung? tak perlu bingung, memang inilah hidup..indah, banyak lika – liku nya, karena Allah melakukan sesuatu dengan cara Nya.
Aku membaca salah satu blog dari senior sewaktu masih di ASTRI, melihat foto – foto nya. yang paling menarik adalah saat – saat ketika beliau di Jerman, bersama suami dan teman – teman. Saat ini beliau sedang mengambil S2 kelas internasional di salah satu perguruan tinggi di sana.
Kusadari, perlahan rasa kagum dan mimpi yang pernah menghinggapi dulu kembali terbayang, untuk bersekolah di Jerman, dengan beasiswa atau hasil usahaku sendiri. Jauh dari orang tua yang bangga dan penuh harap teriring doa.
Itulah kado terindah yang ku anggankan untuk papa. Entahlah apa yang beliau harapkan padaku, tak pernah ku tanyakan. yang kutau pasti setiap ayah tentulah ingin anaknya bahagia dan sukses dengan apa yang diusahakannya.
Aku mensyukuri hidup yang sudah kujalani dan saat ini yang membawaku kepada masa depan yang pasti sudah direncanakan oleh Allah.
Malam ini kubuka kembali pesan singkat papa, yang kuterima tak lama setelah gempa dan tsunami melanda bumi pesisi pantai Jawa 17 juli lalu : “papa khawatir, semoga adek baik – baik saja”
“Ya Allah, lindungi orang tua ku dari kemarahan Mu, ampuni atas dosa dan kekhilafan nya, serta berilah ia ke selamatan atas hidupnya saat ini ataupun sesudah nya. “
Al-Kahfi
Just in My Place july 19, 2006 – 1:21 AM





Hanya ceritaku hari ini

18 07 2006

Hari ini, dibangunkan adik kos ku dengan Miss Call tak kurang dari 3 kali ditambah SMS bertuliskan : “Kak, Bangun…bantuin Vivin!!”. Ya..kumulai hari ini dengan bergegas ke Sagita house, my lovely Home ini Bandung setelah sebelumnya predikat ini dipegang…apalagi klo bukan ASTRI STTTelkom…

Setelah mandi dan mencomot selembar roti yang 1 hari lagi pasti bakal basi klo ga segera dihabiskan, aku mencoba memahami lagi baris demi baris perintah yang masih banyak error nya itu. Sempat kesel bercampur marah, karena hal yang kusangka begitu mudah sebelumnya ternyata tak berjalan sesuai perkiraan ku. Akhirnya ku putuskan untuk mendinginkan kepala yang sudah agak panas ini, ke sekre ASTACALA…tempat utama ku untuk berekspresi saat ini.

Mengendalikan 90 % atas 10 % hal yang tak bisa kukendalikan, hari ini aku bertekad untuk tak akan di kendalikan oleh hanya masalah MOOD. “Tidak, tidak hari ini atau esok”, tekadku saat berjalan ke Gd SC saat itu. Di Sekre, sempat aku mengobrol dengan kawan – kawan bantu Mas Emo mengasah Golok ASTACALA yang sungguh sudah ga tajam dan bahkan karatan (!!!!), aku sedikit menyesal, kenapa inisiatif ini ga sedari dulu ku kerjakan…padahal hanya masalah keinginan saja. Karena memang sudah seharusnya ku kerjakan !!

Akh, apa daya waktu berjalan tanpa belas kasihan, yang berlalu biarlah berlalu, apa yang salah jadikan perlajaran…memang tak ada yang sempurna. Kembali ke masalah ngobrol tadi, Sapi lalu dipanggil untuk “mengolah” beberapa kayu untuk dijadikan gagang golok yang sudah hilang. Lumayan melihat kemauan nya, walalupun hasilnya mungkin jauh dari bagus…(semangat pi !!!)

Tak terasa malam menjemput. Aku teringat kata yang ku ucapkan pada adik ku, “Tenang aja…program nya pasti jadi”, dan kira – kira 24 jam mulai saat ini sudah waktunya Sidang Proyek Akhirnya.”Busyet….!!!, harus kelar nih program anak orang….”, pikirku saat itu sontak membuatku menarik gas motor beber F1ZR milik Om JQ yang dititipkan di sekre sejak keberangkatannnnya ke Jakarta beberapa hari yang lalu

Tak lama, setelah sedikit berbenah dan melepas lelah serta tentu bau matahari hari ini, kulanjutkan menghadapi baris coding itu lagi. Ah, seperti biasa yang mambuat ku selalu kembali setelah kekesalan ku menghadapi program….hanya kesalahan kecil terkadang begitu ingini membuat otak ini tak stabil dan sedikit frustasi. “Tapi, tidak hari ini..aku akan menang dan engkau akan segera running”, kataku dalam hati pada komputer ini. Dan harapanku terjadi sudah, selesai juga program itu. Entahlah bagaimana penilai dosen pnguji nya esok, yang pasti aku bekerja semampuku dan seikhlas hati ini.

“Mudah – mudah besok engkau adik ku dimudahkah Allah dalam melewati Sidang Proyek AKhir mu. Apapun hasilnya, yakinilah proses itu jauh lebih berharga dari pada hasil nya. Semoga saat – saat ini yang akan mendewasakan mu dan melapangkan hatimu kelak, seperti harapan ku saat melintasi waktu ini dulu.Amien.”

Kembali ke ruang kerja, malam ini setelah sejenak melepas bosan, kucoba membuka halaman yang dapat ku baca dengan bantuan teknologi internet kampus, blog. Tak seperti sebelumnya, ku coba membuka lembaran demi lembaran blog orang – orang yang pernah mengisi hari – hari ku, mentor – mentor, senior – senior di organisasi, asisten yang diantaranya sudah jadi dosenku, dan dosen ku yang menikah dengan asisten ku…. Bingung? tak perlu bingung, memang inilah hidup..indah, banyak lika – liku nya, karena Allah melakukan sesuatu dengan cara Nya.

Aku membaca salah satu blog dari senior sewaktu masih di ASTRI, melihat foto – foto nya. yang paling menarik adalah saat – saat ketika beliau di Jerman, bersama suami dan teman – teman. Saat ini beliau sedang mengambil S2 kelas internasional di salah satu perguruan tinggi di sana.

Kusadari, perlahan rasa kagum dan mimpi yang pernah menghinggapi dulu kembali terbayang, untuk bersekolah di Jerman, dengan beasiswa atau hasil usahaku sendiri. Jauh dari orang tua yang bangga dan penuh harap teriring doa.

Itulah kado terindah yang ku anggankan untuk papa. Entahlah apa yang beliau harapkan padaku, tak pernah ku tanyakan. yang kutau pasti setiap ayah tentulah ingin anaknya bahagia dan sukses dengan apa yang diusahakannya.

Aku mensyukuri hidup yang sudah kujalani dan saat ini yang membawaku kepada masa depan yang pasti sudah direncanakan oleh Allah.

Malam ini kubuka kembali pesan singkat papa, yang kuterima tak lama setelah gempa dan tsunami melanda bumi pesisi pantai Jawa 17 juli lalu : “papa khawatir, semoga adek baik – baik saja”

“Ya Allah, lindungi orang tua ku dari kemarahan Mu, ampuni atas dosa dan kekhilafan nya, serta berilah ia ke selamatan atas hidupnya saat ini ataupun sesudah nya. “

Al-Kahfi

Just in My Place july 19, 2006 – 1:21 AM





Try To Ask My Self, But No Answer

18 07 2006

Hidup telah menyisakan kepada kita sejuta ketidakjelasan untuk di jawab. Kegalauan dalam hati bukan suatu kutukan. Kebebasan bukanlah sebuah aib yang di wariskan. Nilai tanpa batasan yang jelas itu telah direduksi ke dalam bentuk hitam dan putih,padahal tidak semudah itu. Tidak ada salahnya untuk bertanya. Tidak ada ruginya
mempertanyakan ulang apa yang sudah ditanamkan di benak kita sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya benar dan salah.
-sayap-imaji-

Hanya sekedar berbagi cerita..membaca hit random di situs favoritku (www.astacala.org) membuat ku teringat percakapan singkat dengan seorang kawan.


Singkat kata seorang kawan berkata berkata padaku “bosen di sekre..terlalu banyak orang..lagi BT juga, aku dipaksa ikut seleksi atlet utnuk ekspedisi padahal aku ga mau, males aja..”

Mendengar ia berkata seperti itu sempat membuatku terrmenung beberapa saat..dan setelahnya dalam hati, aku hanya bisa berkata..”Akh..”. Lalu aku berkata padanya, “kawan, jika saja kita bisa berganti nasip, mungkin akan kutukarkan punyaku dengan mu..”.

nasib.. apakah ini nasib? Setelah kupikir – pikir mungkin juga tidak. Bukan menjadi nasib ketika sekarang, disini begitu sulit mencari kawan hanya sekedar untuk menemani perjalanan menikmati bumi ilahi. Atau ketika begitu susahnya mengajak seseorang untuk sekedar ngobrol disaung kebanggan om bejat. Kita semua begitu sibuk. saat ini. disini. di tempat ini. entah dengan apa. Mungkin aku pun menjadi bagian dari blunder kondisi seperti ini.

Ketika orang lain begitu sibuk dengan persiapan petualangan, sementara kita terjebak dengan kebingungan bagaimana agar regenerasi akan terus berlanjut. Tapi apakah defenisi petualangan itu? apakah selalu dengan menembus rimba di keheningan hutan ciwidey? atau mencapai puncak gunung 3000? atau diceramahi dikantor polisi tentang apa yang sebaik nya dilakukan dan tidak dilakukan hanya untuk mendapat selembar surat keterangan? Akh, adakah yang bisa membuatku mengerti, apakah itu petualangan ?

Kita ada di organisasi untuk penyaluran potensi, bakat dan hobi. Kita penuh dengan idealisme muda yang tak ada habisnya,. Tapi kenapa ini semua malah menimbulkan banyak pertanyaan tak terjawab yang mungkin akan berakhir dengan frustasi atau rasa marah entah dengan apa..? (Astaghfirullah, jauhkan ini dari ku ya Allah)

Akh, mungkin aku tak sekuat om gendut yang konon pernah sendiri di sekre, atau om gepeng yang selalu menjadi kiblat ku tentang deskribsi idealisme, atau momesh yang tegar dengan apa yang pernah kulihat pernah ia alami dalam tanggung jawabnya, atau jimbo dengan kekuatan karakter nya , atau…atau…atau?

Konsistensi…menjadi kata yang aneh untuk diucapkan, tapi “omong doang” adalah aib yang ingin kita hindarkan. Padahal keduanya adalah sisi mata uang yang tak mungkin terpisah.

“Aku hanyalah aku”. kadang kuanggap kalimat itu sebagai bentuk pembenaran atas kesalahan dan kebodohon. Tapi memang benar : aku adalah aku, dan kamu adalah kamu. dengan segala kekurangan kita, inilah kita.

Kembali seperti kalimat dalam hit random diatas “Nilai tanpa batasan yang jelas itu telah direduksi ke dalam bentuk hitam dan putih, padahal tidak semudah itu..”

PS :
Terimakasih untuk para pendahulu ku dan kawan – kawan ASTACALA ku.. membawaku ada di sini, ditempat ini dan menunjukan hal yang belum tentu dapat kulihat, kudengar, atau kurasakan sebelumnya.

Aidi / A- 062 – KF





Try To Ask My Self, But No Answer

18 07 2006
Hidup telah menyisakan kepada kita sejuta ketidakjelasan untuk di jawab. Kegalauan dalam hati bukan suatu kutukan. Kebebasan bukanlah sebuah aib yang di wariskan. Nilai tanpa batasan yang jelas itu telah direduksi ke dalam bentuk hitam dan putih,
padahal tidak semudah itu. Tidak ada salahnya untuk bertanya. Tidak ada ruginya
mempertanyakan ulang apa yang sudah ditanamkan di benak kita sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya benar dan salah.
-sayap-imaji-

Hanya sekedar berbagi cerita..membaca hit random di situs favoritku (www.astacala.org) membuat ku teringat percakapan singkat dengan seorang kawan.

Singkat kata seorang kawan berkata berkata padaku “bosen di sekre..terlalu banyak orang..lagi BT juga, aku dipaksa ikut seleksi atlet utnuk ekspedisi padahal aku ga mau, males aja..”

Mendengar ia berkata seperti itu sempat membuatku terrmenung beberapa saat..dan setelahnya dalam hati, aku hanya bisa berkata..”Akh..”. Lalu aku berkata padanya, “kawan, jika saja kita bisa berganti nasip, mungkin akan kutukarkan punyaku dengan mu..”.

nasib.. apakah ini nasib? Setelah kupikir – pikir mungkin juga tidak. Bukan menjadi nasib ketika sekarang, disini begitu sulit mencari kawan hanya sekedar untuk menemani perjalanan menikmati bumi ilahi. Atau ketika begitu susahnya mengajak seseorang untuk sekedar ngobrol disaung kebanggan om bejat. Kita semua begitu sibuk. saat ini. disini. di tempat ini. entah dengan apa. Mungkin aku pun menjadi bagian dari blunder kondisi seperti ini.

Ketika orang lain begitu sibuk dengan persiapan petualangan, sementara kita terjebak dengan kebingungan bagaimana agar regenerasi akan terus berlanjut. Tapi apakah defenisi petualangan itu? apakah selalu dengan menembus rimba di keheningan hutan ciwidey? atau mencapai puncak gunung 3000? atau diceramahi dikantor polisi tentang apa yang sebaik nya dilakukan dan tidak dilakukan hanya untuk mendapat selembar surat keterangan? Akh, adakah yang bisa membuatku mengerti, apakah itu petualangan?

Kita ada di organisasi untuk penyaluran potensi, bakat dan hobi. Kita penuh dengan idealisme muda yang tak ada habisnya,. Tapi kenapa ini semua malah menimbulkan banyak pertanyaan tak terjawab yang mungkin akan berakhir dengan frustasi atau rasa marah entah dengan apa..? (Astaghfirullah, jauhkan ini dari ku ya Allah)

Akh, mungkin aku tak sekuat om gendut yang konon pernah sendiri di sekre, atau om gepeng yang selalu menjadi kiblat ku tentang deskribsi idealisme, atau momesh yang tegar dengan apa yang pernah kulihat pernah ia alami dalam tanggung jawabnya, atau jimbo dengan kekuatan karakter nya , atau…atau…atau?

Konsistensi…menjadi kata yang aneh untuk diucapkan, tapi “omong doang” adalah aib yang ingin kita hindarkan. Padahal keduanya adalah sisi mata uang yang tak mungkin terpisah.

“Aku hanyalah aku”. kadang kuanggap kalimat itu sebagai bentuk pembenaran atas kesalahan dan kebodohon. Tapi memang benar : aku adalah aku, dan kamu adalah kamu. dengan segala kekurangan kita, inilah kita.

Kembali seperti kalimat dalam hit random diatas “Nilai tanpa batasan yang jelas itu telah direduksi ke dalam bentuk hitam dan putih, padahal tidak semudah itu..”

PS : Terimakasih untuk para pendahulu ku dan kawan – kawan ASTACALA ku.. membawaku ada di sini, ditempat ini dan menunjukan hal yang belum tentu dapat kulihat, kudengar, atau kurasakan sebelumnya.

Aidi / A- 062 – KF





No Subject

1 07 2006

Seminggu yang lalu, masih di situ lembang nih. 5 hari, tak ada hujan tapi jadi lebih dingin dari yang sudah – sudah. Aku hanya menemani 1 orang siswa, angkatan 2005. Waktu simulasi bikin camp alam dan api sendiri..malesnya minta ampun, hingga oleh kawan – kawan “dicelupin” ke sungai saat jam 8 malam..ah, sudah tak bisa lagi kutahan mereka. Kata mereka “supaya lebih menghargai artinya dingin dan makna sebuah api”.
Mengapa dalam setiap perjalanan – perjalanan ini kurasakan sedikit rasa sedih. Mengingatmu dan kehilangan yang ku tak tau apa artinya. Dan diantara malam – malamnya, pasti terselip mimpi tentang kamu. Selalu yang aku tak tau menceritakan tentang apa. Mungkin hanya penggalan – penggalan ingatan masa lalu, bahkan wajahmu masih saja tetap tak dapat jelas kulihat. Kabur dan buram.
Kenapa begitu lama untuk melupakanmu? karena aku tau, untuk membawamu selalu dalam ingatanku hanya butuh sekejab. Aku ingin dapat membencimu saja dan semua kenangan yang pernah ada. Tapi selalu penyangkalan hanya mengantarkanku pada kesedihan.