Ode Untuk Teman

17 05 2006

Pertemuan denganmu sebuah kebetulan
Kau di luar rencanaku menggembirakan diri
Tampil saja di sela kemanjaanmu
Hanya kurasakan kesegaran yang penuh saat bersamamu
Kurasakan kelancaran nafas hidup
Kurasakan sukacita waktu dalam gerakmu

Aku menjadi temanmu saja
Menyediakan detik detik untukmu
Rauplah sesukamu
Datanglah mengeluh
Hiruplah kebaikan sejauh ada padaku

Kita berteman saja
Sebuah kenyataan yang sangat mungkin abadi
Menjelma kupu-kupu indah di suatu pagi dengan bunga-bunga dan suara burung
Meski kau akan berlayar jauh dengan kekasih
Aku adalah pelabuhan dikala sendiri
Kita berdua memetik kesunyian
Membikin dunia terjaga dan bersama gembira

Kita berteman saja
Sambil tetap berdoa
Demi ketulusan hati yang kuingin tetap begitu
Dalam hidup ini dan nanti

Bagus Takwin 2001

* Tulisan yang mengagumkan.
begitu datar tapi menghanyutkan.

Advertisements




Ode Untuk Teman

17 05 2006

Pertemuan denganmu sebuah kebetulan
Kau di luar rencanaku menggembirakan diri
Tampil saja di sela kemanjaanmu
Hanya kurasakan kesegaran yang penuh saat bersamamu
Kurasakan kelancaran nafas hidup
Kurasakan sukacita waktu dalam gerakmu

Aku menjadi temanmu saja
Menyediakan detik detik untukmu
Rauplah sesukamu
Datanglah mengeluh
Hiruplah kebaikan sejauh ada padaku

Kita berteman saja
Sebuah kenyataan yang sangat mungkin abadi
Menjelma kupu-kupu indah di suatu pagi dengan bunga-bunga dan suara burung
Meski kau akan berlayar jauh dengan kekasih
Aku adalah pelabuhan dikala sendiri
Kita berdua memetik kesunyian
Membikin dunia terjaga dan bersama gembira

Kita berteman saja
Sambil tetap berdoa
Demi ketulusan hati yang kuingin tetap begitu
Dalam hidup ini dan nanti

Bagus Takwin 2001

* Tulisan yang mengagumkan.
begitu datar tapi menghanyutkan.





Di kaki Merapi ku

14 05 2006

Hari Kamis (11-05-2006) lalu, aku berencana ke jogja mengambil alat yang rencananya akan kami beli dari 2 orang suplier . Nilai transaksi nya sendiri tidak terlalu banyak, namun karena sekalian menemani kak Lisa yang baru blk dari bdg+ memeriksa alat itu sdr (maklum salah satunya black market) maka kuyakinkan hari itu juga ke jogja.
Setibanya di jogja, seharian aku bergerilya mencari buruanku..yah ada yang sukses dan ada yang tidak….Malamnya, aku berencana balik ke bandung dengan kereta jam 9 malam. Aku menyempatkan singgah sebentar ke MAPALA sebut saja GGM . Namun, karena terjadi penyanderaan anggota mereka oleh oknum – oknum sekre, akhirnya aku pun disandra dan tidak boleh pulang malam itu ke bdg..
Sebenarnya saat itu aku diajak untuk merapi di pos pengamatan bebeng (malam itu cuaca sungguh cerah !!). Inilah yg membuat ku dengan rela tidak menolak untuk disandra huehehehe….(momen langka nih coy..). Bagaimana tidak..belm tentu 10 tahun atau ratusan tahun sekalipun ada saat – saat seperti ini. Aku dengan yakin menolak tawaran – tawaran menggiurkan siang itu :
1. Caving ke luweng JOMLANG (90 m vertikal multi pitch) + gua SEROPAN (horizontal dengan 2 air terjun didalamnya !!!!) bareng kawan – kawan ASC,
2. fun rafting ke ELO dengan teman – teman dari UNISI,
3. Hunting foto upacaara Waisak di borobudur
Semua dengan yakin ku jawab : “TIDAK, makasih banget tapi ini bisa lain waktu..hari minggu aku harus di bandung menemani diklan Rock Climbing..”. Namun, untuk motret merapi…aduh, sepertiya rencana ke bandung bisa ditunda deh..”so,rencana naik kereta jumat malam diundur saja jd sabtu pagi ….kan bisa sampai di bandung sabtu malam”, pikirku.
Singkat kata, jam 12 malam itu kami berangkat ke bebeng….gila angin malamnya dingin sekaleeee. Di pos ini (sebelah kali adem) sudah banyak orang dari berbagai kepentingan : wartawan stasiun tv, wartawan majalah, freelancer fotografer, pasangan muda mudi lagi mojok, keluarga bahagia yang membawa anak – anak trus ngampar tikar kayak lg piknik..dan terakhir orang – orang seperti aku dan kawan – kawan (kategori kami apa yah ?)
Waktu itu aku membawa master piece Canon AE-1 punya sekre tanpa tripod/monopod (ga tau kenapa, waktu packing kemarin aku sangat ingin kamera itu menemani perjalanan ku. Walaupun tak ada plan untuk hunting). Sedangkan temanku membawa NIKON F 60 nya yg katanya baru di beli di JEPANG sana (weeekss).
Malu juga mengeluarkan kamera malam itu, selain karena kemampuan motretku yang seadanya, juga karena kamera negri tetangga yang gila abies…dengan lensa sepanjang kaki…huehehehe.
Tak lama, merapi memberikan pemandangan sungguh menggiurkan. Lava pijar keluar dari puncak nya, terlihat tenang disertai gepulan asap WEDHUS GEMBEL yang terkenal itu. Segera saja terdengar teriakan “WUUUU” disusul dengan bunyi “jepret…jepret..jepret…”.
Saat itu aku masih terpana dengan apa yang kulihat (maklum baru pertama dalam hidup nih coy..). Tak ingat
bahwa seharusnya aku juga ikut mengabadikan moment langka itu walau tanpa tripod dan hanya bermodal lensa standar 35mm. Namun, bagaimana mungkin, memotret saja aku sulit..dan sepertinya…huehehehe kacian deh lu
Ah, sebodo wae….ketika datang moment itu lagi, aku dengan cuek nya segera memotret walau 99% tak yakin dengan hasilnya. Saat itu aku pakai kecepatan 30 dan diagfragma paling besar di lensa itu : 1.4… tak puas, aku coba meletakan kamera ke pagar pembatas kali adem, dan mengambil settingan bulb..semua nya dengan insting coba2 aja…bodo’ lah !! mungkin 20 frame labih sudah habis, sebelum akhirnya sang master piece mulai ngambek dengan menolak untuk bersedia ditekan tombol release nya (mungkin karena tempat batrai nya goyang), hal ini terjadi sampai pagi..ga ada ampun !!!!!
Lain lagi ceritanya dengan Nikon F 60 kawan ku ini, dari awal sudah macet duluan gara – gara karakter semi otomatiknya yang membuat ia ngambek saat udara begitu dingin…..huehehehe terbukti mahal blom tentu handal. Tapi seperti membuat shift jaga dengan kamera ku, saat Canon macet gantian si Nikon yang unjuk gigi. “Jepret..jepret..jepret..”, temanku ini lalu asik memotret merapi. ah, siaaaalll..aku pengen juga….!!!!
Lebih pagi sedikit sekitar pukul 3 lewat, lava merapi mulai menunjukan hal yang baru : sejak ditetapkan status menjadi siaga, baru malam ini lava pijarnya mengarah ke arah selatan.sebelumnya lava ini hanya mengalir ke arah utara (babatan dan sekitarnya..), namun saat ini lava itu seakan terbagi 2 di pelataran gendol , ada yang mengarah ke babatan dan ada ke arah selatan (jogja).
“Sungguh beruntungnya aku” pikirku, karena datang pada moment yang sungguh menakjubkan. Ketika merapi dengan caranya menunjukan kekuasaan Ilahi. Hingga pagi, kami hanya bisa terpana melihat gejala alam ini, tanpa bisa memotret dan menggigil kedinginan. Angin gunung langsung menerpa pelataran di pos pengamatan itu tanpa ampun, hingga salah seorang kawan jogja ku berkata “baru kali ini bebeng sedingin ini sejak aku main kesini selama 4 tahun !!!”
Jam 6 pagi, kami beranjak dari tempat kami duduk semalam dan berbenah kembali ke jogja. Saat itu, cuaca sungguh cerah, merapi di sirami sinar mentari dengan terangnya. Dapat kulihat perubahan bentukan yang disebabkan muntahan lava pijar semalam. Kubah merapi sendiri menurut info yang kudapat paling tidak bertambah 7m sehari !!!
Siang itu, setelah “tepar” karena begadang semalaman, aku dijemput Kak lisa untuk berangkat ke stasiun lempuyangan mencoba naik kereta jam 11 ke bandung. Beruntung kereta terlambat beberapa menit, maka aku bisa tiba juga di bandung malam ini (Sabtu, 13-05-2006).
Hari ini juga aku mendengar kabar, bahwa status merapi berubah menjadi AWAS, sehingga semua pos pengamatan ditutup. Dalam hati aku bersyukur, diberi kesempatan untuk dapat melihat, mendengar dan merasakan apa yang dihadapkan ke depan ku. Bagaimana alam dengan rendah hati menunjukan kekuasaan ilahi pada dirinya. Semoga tidak terjadi apa – apa di waktu mendatang, dan rakyat sekitar merapi dapat kembali beraktifitas dengan tenang lagi.
Tuhan, terima kasih engkau sudah memberiku hidup yang begitu berharga, maka berikan juga lah manfaat atas semua yang ada dalam hidupku.
Amien.





Di kaki Merapi ku

14 05 2006
Hari Kamis (11-05-2006) lalu, aku berencana ke jogja mengambil alat yang rencananya akan kami beli dari 2 orang suplier . Nilai transaksi nya sendiri tidak terlalu banyak, namun karena sekalian menemani kak Lisa yang baru blk dari bdg+ memeriksa alat itu sdr (maklum salah satunya black market) maka kuyakinkan hari itu juga ke jogja.

Setibanya di jogja, seharian aku bergerilya mencari buruanku..yah ada yang sukses dan ada yang tidak….Malamnya, aku berencana balik ke bandung dengan kereta jam 9 malam. Aku menyempatkan singgah sebentar ke MAPALA sebut saja GGM . Namun, karena terjadi penyanderaan anggota mereka oleh oknum – oknum sekre, akhirnya aku pun disandra dan tidak boleh pulang malam itu ke bdg..

Sebenarnya saat itu aku diajak untuk merapi di pos pengamatan bebeng (malam itu cuaca sungguh cerah !!). Inilah yg membuat ku dengan rela tidak menolak untuk disandra huehehehe…..(momen langka nih coy..). Bagaimana tidak..belm tentu 10 tahun atau ratusan tahun sekalipun ada saat – saat seperti ini. Aku dengan yakin menolak tawaran – tawaran menggiurkan siang itu :
1. Caving ke luweng JOMLANG (90 m vertikal multi pitch) + gua SEROPAN (horizontal dengan 2 air terjun didalamnya !!!!) bareng kawan – kawan ASC,
2. fun rafting ke ELO dengan teman – teman dari UNISI,
3. Hunting foto upacaara Waisak di borobudur

Semua dengan yakin ku jawab : “TIDAK, makasih banget tapi ini bisa lain waktu..hari minggu aku harus di bandung menemani diklan Rock Climbing..”. Namun, untuk motret merapi…aduh, sepertiya rencana ke bandung bisa ditunda deh..”so,rencana naik kereta jumat malam diundur saja jd sabtu pagi ….kan bisa sampai di bandung sabtu malam”, pikirku.

Singkat kata, jam 12 malam itu kami berangkat ke bebeng….gila angin malamnya dingin sekaleeee. Di pos ini (sebelah kali adem) sudah banyak orang dari berbagai kepentingan : wartawan stasiun tv, wartawan majalah, freelancer fotografer, pasangan muda mudi lagi mojok, keluarga bahagia yang membawa anak – anak trus ngampar tikar kayak lg piknik..dan terakhir orang – orang sepertt aku dan kawan – kawan (kategori kami apa yah?)

Waktu itu aku membawa master piece Canon AE-1 punya sekre tanpa tripod/monopod (ga tau kenapa, waktu packing kemarin aku sangat ingin kamera itu menemani perjalanan ku. Walaupun tak ada plan untuk hunting foto). Sedangkan temanku membawa NIKON F 60 nya yg katanya baru di beli di JEPANG sana (weeekss).

Malu juga mengeluarkan kamera malam itu, selain karena kemampuan motretku yang seadanya, juga karena kamera negri tetangga yang gila abies…dengan lensa sepanjang kaki…huehehehe.

Tak lama, merapi memberikan pemandangan sungguh menggiurkan. Lava pijar keluar dari puncak nya, terlihat tenang disertai gepulan asap WEDHUS GEMBEL yang terkenal itu. Segera saja terdengar teriakan “WUUUU” disusul dengan bunyi “jepret…jepret..jepret…”. Saat itu aku masih terpana dengan apa yang kulihat (maklum baru pertama dalam hidup nih coy..). Tak ingat
bahwa seharusnya aku juga ikut mengabadikan moment langka itu walau tanpa tripod dan hanya bermodal lensa standar 35mm. Namun, bagaimana mungkin, memotret saja aku sulit..dan sepertinya…huehehehe kacian deh lu

Ah, sebodo wae….ketika datang moment itu lagi, aku dengan cuek nya segera memotret walau 99% tak yakin dengan hasilnya. Saat itu aku pakai kecepatan 30 dan diagfragma paling besar di lensa itu : 1.4… tak puas, aku coba meletakan kamera ke pagar pembatas kali adem, dan mengambil settingan bulb..semua nya dengan insting coba2 aja…bodo’ lah !! mungkin 20 frame labih sudah habis, sebelum akhirnya sang master piece mulai ngambek dengan menolak untuk bersedia ditekan tombol release nya (mungkin karena tempat batrai nya goyang), hal ini terjadi sampai pagi..ga ada ampun !!!!!

Lain lagi ceritanya dengan Nikon F 60 kawan ku ini, dari awal sudah macet duluan gara – gara karakter semi otomatiknya yang membuat ia ngambek saat udara begitu dingin…..huehehehe terbukti mahal blom tentu handal. Tapi seperti membuat shift jaga dengan kamera ku, saat Canon macet gantian si Nikon yang unjuk gigi.” Jepret..jepret..jepret..”, temanku ini lalu asik memotret merapi. ah, siaaaalll..aku pengen juga….!!!!

Lebih pagi sedikit sekitar pukul 3 lewat, lava merapi mulai menunjukan hal yang baru : sejak ditetapkan status menjadi siaga, baru malam ini lava pijarnya mengarah ke arah selatan.sebelumnya lava ini hanya mengalir ke arah utara (babatan dan sekitarnya..), namun saat ini lava itu seakan terbagi 2 di pelataran gendol , ada yang mengarah ke babatan dan ada ke arah selatan (jogja).

“Sungguh beruntungnya aku” pikirku, karena datang pada moment yang sungguh menakjubkan. Ketika merapi dengan caranya menunjukan kekuasaan Ilahi. Hingga pagi, kami hanya bisa terpana melihat gejala alam ini, tanpa bisa memotret dan menggigil kedinginan. Angin gunung langsung menerpa pelataran di pos pengamatan itu tanpa ampun, hingga salah seorang kawan jogja ku berkata “baru kali ini bebeng sedingin ini sejak aku main kesini selama 4 tahun !!!”

Jam 6 pagi, kami beranjak dari tempat kami duduk semalam dan berbenah kembali ke jogja. Saat itu, cuaca sungguh cerah, merapi di sirami sinar mentari dengan terangnya. Dapat kulihat perubahan bentukan yang disebabkan muntahan lava pijar semalam. Kubah merapi sendiri menurut info yang kudapat paling tidak bertambah 7m sehari !!!

Siang itu, setelah “tepar” karena begadang semalaman, aku dijemput Kak lisa untuk berangkat ke stasiun lempuyangan mencoba naik kereta jam 11 ke bandung. Beruntung kereta terlambat beberapa menit, maka aku bisa tiba juga di bandung malam ini (Sabtu, 13-05-2006).

Hari ini juga aku mendengar kabar, bahwa status merapi berubah menjadi AWAS, sehingga semua pos pengamatan ditutup. Dalam hati aku bersyukur, diberi kesempatan untuk dapat melihat, mendengar dan merasakan apa yang dihadapkan ke depan ku. Bagaimana alam dengan rendah hati menunjukan kekuasaan ilahi pada dirinya.

Semoga tidak terjadi apa – apa di waktu mendatang, dan rakyat sekitar merapi dapat kembali beraktifitas dengan tenang lagi. Ah, Tuhan terima kasih engkau sudah memberiku hidup yang begitu berharga, maka berikan juga lah manfaat atas semua yang ada dalam hidupku. amien.





Saat ku coba berjalan entah kemana

14 05 2006

Aku ingin mampu menangis. tapi ketika tangis tak layak untuk menghapus duka, pun menghilangkan sedikit kenangan mu, maka yang dapat kulakukan adalah diam dalam kesendirian. Aku tak mengerti semua ini. Mungkin karena memang kita diciptakan untuk selalu mencoba memahami. Tentang hidup dan kehidupan, atau tentang waktu yang terus berputar bersama alam.
Tak selamanya yang terlihat adalah apa yang harus dirasakan. Kadang kita harus melihat sedikit lebih jauh atau dekat. Ketika kejujuran yang paling dalam adalah kebohongan itu sendiri, maka yang ingin kulakukan adalah hanyut dalam kesunyianku. Mungkin keheningan yang pernah kau tunjukan padaku membuatku terpana. Sehingga aku begitu tak bisa melupakan semua yang terjadi tentangnya.

Dalam kesendirian dan kesunyianku pun tak dapat kumerasakan saat seperti itu lagi. Padahal hanya itulah tempatku bersembuyi dari bayangan mu. Ah, ingin rasanya ku membunuhmu saja, hingga tak ada lagi yang menyakitimu atau memilikimu. Tapi, seperti nya aku hanya ingin kamu ada untuk lalu pergi. Karena tak mungkin bisa kumenggapaimu. Karena itulah aku masih disini, selalu mencoba berdiri untuk lalu berlari dijalanku. Walau selalu kudapati diriku masih berlutut di sini, mencoba bertahan entah dari apa.
Musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Ia hasil konspirasi ego dan sombong yang selalu iri dengan rasa rendah hati. Atau rasa marah akan rasa sakit yang pernah kurasakan. Tapi kita hidup untuk menantang itu semua. Setidaknya itulah yang kuyakini saat ini.
Aku benci dengan hidup yang tak bisa kugapai, karena ia begitu jauh dari rentangan tangan lemah ku. Sebaliknya aku begitu jatuh cinta dengan keterpanaan atas apa yang telah kulalui, dan betapa aku tergila – gila dengan itu semua. Jiwaku masih melayang – layang entah kemana. Hatiku? bukankah sudah kau bawa pergi? Mengapa pertanyaan yang sama selalu berulang? Hm, mungkin ia ingin juga menyerupai rentetan peristiwa yang terkadang menjadi de javu.
Ah, bagaimana bisa kutemui dia? dimanakah ia sekarang? mengapa kamu masih terdiam disana? Hei, si gila mungkin adalah satu – satu nya yang paling waras dari semuanya. Entah mana yang benar, yang pasti semua begitu absurd dan tak menentu. Aku hilang. Saat ku coba berjalan entah kemana, mencoba merasakan kebingungan ketika persimpangan – persimpangan hidup menghadang dihadapanku.

Tapi selalu ada yang mengikutiku.“Jangan!!”, begitulah yang selalu kukatakan padanya dari kejauhan. Karena tak pernah ia bisa untuk ku dekati. Namun ku takutkan ketika gemuruh didepan menjadi badai yang begitu dingin, atau keramaian disini menjadi kesunyian datang menghampiri. Karena ia memberiku mimpi yang lain, yang akan hancur seiring datangnya realita. Hanya bayangan. tapi ku tau ia mampu hancurkan ku atau membuatku berlari sekencang – kencangnya menantang hidup di depan. Ia adalah semua kenangan akan kamu.

Al – Kahfi





Saat ku coba berjalan entah kemana

14 05 2006

Aku ingin mampu menangis. tapi ketika tangis tak layak untuk menghapus duka, pun menghilangkan sedikit kenangan mu, maka yang dapat kulakukan adalah diam dalam kesendirian. Aku tak mengerti semua ini. Mungkin karena memang kita diciptakan untuk selalu mencoba memahami. Tentang hidup dan kehidupan, atau tentang waktu yang terus berputar bersama alam.

Tak selamanya yang terlihat adalah apa yang harus dirasakan. Kadang kita harus melihat sedikit lebih jauh atau dekat. Ketika kejujuran yang paling dalam adalah kebohongan itu sendiri, maka yang ingin kulakukan adalah hanyut dalam kesunyianku. Mungkin keheningan yang pernah kau tunjukan padaku membuatku terpana. Sehingga aku begitu tak bisa melupakan semua yang terjadi tentangnya.


Dalam kesendirian dan kesunyianku pun tak dapat kumerasakan saat seperti itu lagi. Padahal hanya itulah tempatku bersembuyi dari bayangan mu. Ah, ingin rasanya ku membunuhmu saja, hingga tak ada lagi yang menyakitimu atau memilikimu. Tapi, seperti nya aku hanya ingin kamu ada untuk lalu pergi. Karena tak mungkin bisa kumenggapaimu. Karena itulah aku masih disini, selalu mencoba berdiri untuk lalu berlari dijalanku. Walau selalu kudapati diriku masih berlutut di sini, mencoba bertahan entah dari apa.

Musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Ia hasil konspirasi ego dan sombong yang selalu iri dengan rasa rendah hati. Atau rasa marah akan rasa sakit yang pernah kurasakan. Tapi kita hidup untuk menantang itu semua. Setidaknya itulah yang kuyakini saat ini.

Aku benci dengan hidup yang tak bisa kugapai, karena ia begitu jauh dari rentangan tangan lemah ku. Sebaliknya aku begitu jatuh cinta dengan keterpanaan atas apa yang telah kulalui, dan betapa aku tergila – gila dengan itu semua. Jiwaku masih melayang – layang entah kemana. Hatiku? bukankah sudah kau bawa pergi? Mengapa pertanyaan yang sama selalu berulang? Hm, mungkin ia ingin juga menyerupai rentetan peristiwa yang terkadang menjadi de javu.

Ah, bagaimana bisa kutemui dia? dimanakah ia sekarang? mengapa kamu masih terdiam disana? Hei, si gila mungkin adalah satu – satu nya yang paling waras dari semuanya. Entah mana yang benar, yang pasti semua begitu absurd dan tak menentu. Aku hilang. Saat ku coba berjalan entah kemana, mencoba merasakan kebingungan ketika persimpangan – persimpangan hidup menghadang dihadapanku.


Tapi selalu ada yang mengikutiku.”Jangan!!”, begitulah yang selalu kukatakan padanya dari kejauhan. Karena tak pernah ia bisa untuk ku dekati. Namun ku takutkan ketika gemuruh didepan menjadi badai yang begitu dingin, atau keramaian disini menjadi kesunyian datang menghampiri. Karena ia memberiku mimpi yang lain, yang akan hancur seiring datangnya realita. Hanya bayangan. tapi ku tau ia mampu hancurkan ku atau membuatku berlari sekencang – kencangnya menantang hidup di depan. Ia adalah semua kenangan akan kamu.


Al – Kahfi





Saat ku coba berjalan entah kemana

14 05 2006

Aku ingin mampu menangis. tapi ketika tangis tak layak untuk menghapus duka, pun menghilangkan sedikit kenangan mu, maka yang dapat kulakukan adalah diam dalam kesendirian. Aku tak mengerti semua ini. Mungkin karena memang kita diciptakan untuk selalu mencoba memahami. Tentang hidup dan kehidupan, atau tentang waktu yang terus berputar bersama alam.

Tak selamanya yang terlihat adalah apa yang harus dirasakan. Kadang kita harus melihat sedikit lebih jauh atau dekat. Ketika kejujuran yang paling dalam adalah kebohongan itu sendiri, maka yang ingin kulakukan adalah hanyut dalam kesunyianku. Mungkin keheningan yang pernah kau tunjukan padaku membuatku terpana. Sehingga aku begitu tak bisa melupakan semua yang terjadi tentangnya.


Dalam kesendirian dan kesunyianku pun tak dapat kumerasakan saat seperti itu lagi. Padahal hanya itulah tempatku bersembuyi dari bayangan mu. Ah, ingin rasanya ku membunuhmu saja, hingga tak ada lagi yang menyakitimu atau memilikimu. Tapi, seperti nya aku hanya ingin kamu ada untuk lalu pergi. Karena tak mungkin bisa kumenggapaimu. Karena itulah aku masih disini, selalu mencoba berdiri untuk lalu berlari dijalanku. Walau selalu kudapati diriku masih berlutut di sini, mencoba bertahan entah dari apa.

Musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Ia hasil konspirasi ego dan sombong yang selalu iri dengan rasa rendah hati. Atau rasa marah akan rasa sakit yang pernah kurasakan. Tapi kita hidup untuk menantang itu semua. Setidaknya itulah yang kuyakini saat ini.

Aku benci dengan hidup yang tak bisa kugapai, karena ia begitu jauh dari rentangan tangan lemah ku. Sebaliknya aku begitu jatuh cinta dengan keterpanaan atas apa yang telah kulalui, dan betapa aku tergila – gila dengan itu semua. Jiwaku masih melayang – layang entah kemana. Hatiku? bukankah sudah kau bawa pergi? Mengapa pertanyaan yang sama selalu berulang? Hm, mungkin ia ingin juga menyerupai rentetan peristiwa yang terkadang menjadi de javu.

Ah, bagaimana bisa kutemui dia? dimanakah ia sekarang? mengapa kamu masih terdiam disana? Hei, si gila mungkin adalah satu – satu nya yang paling waras dari semuanya. Entah mana yang benar, yang pasti semua begitu absurd dan tak menentu. Aku hilang. Saat ku coba berjalan entah kemana, mencoba merasakan kebingungan ketika persimpangan – persimpangan hidup menghadang dihadapanku.


Tapi selalu ada yang mengikutiku.”Jangan!!”, begitulah yang selalu kukatakan padanya dari kejauhan. Karena tak pernah ia bisa untuk ku dekati. Namun ku takutkan ketika gemuruh didepan menjadi badai yang begitu dingin, atau keramaian disini menjadi kesunyian datang menghampiri. Karena ia memberiku mimpi yang lain, yang akan hancur seiring datangnya realita. Hanya bayangan. tapi ku tau ia mampu hancurkan ku atau membuatku berlari sekencang – kencangnya menantang hidup di depan. Ia adalah semua kenangan akan kamu.


Al – Kahfi