Catatan – catatan terakhir

23 07 2009
Aku teringat, dulu sekali, dan..pun kembali saat ini, kita semua pernah sepakat, pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi rangkaian rutinitas yang tak syarat arti. Pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi retorika yang memuakan. Pendidikan kita harus menjadi momen untuk kita berbenah, menjadi saat untuk kita introspeksi diri.

Sebelum kita membantu untuk membuka pintu kesempatan bagi lebih banyak jiwa muda ini menjadi ASTACALA dan mengenalkan tentang hakekatnya, pada saat itulah selambat – lambatnya kita membuka pintu kesempatan untuk masing – masing diri ini, “sudahkah kita menjadi benar – benar seorang ASTACALA ?”

Sebelum kita berbagi pengetahuan dengan jiwa – jiwa yang membakar semangat ini tentang misteri tanpa batas alam, pada saat itulah saat yang tepat untuk kita bertanya – tanya pada diri ini, “Sudahkah kita cukup berendah hati untuk berkawan dengan alam ?”

Kawan, berhentilah berbicara tentang sesuatu yang absurd. Kemarilah, hiruplah secangkir kopi hangat yang ini bersamaku. coba kita dengarkan sesaat bunyi sayup suara malam kerimbunan hutan ini, mungkin diantara bisikan nya, ada suara hati yang bisa kita dengar. Tentang cerita yang tak ingin kau dan aku katakan dalam lisan. Taukah kau, betapa muaknya aku dengan semua retorika rutinitas ini ? yang membuat kita tak mampu berbicara lagi satu sama lain dengan bahasa hati.

Sahabat, duduklah disini bersamaku, didepan perapian ini yang tadi kita buat ditengah menggigilnya tubuh kita diterjang badai tadi. Mari, kita nikmati hangat yang akan segera berakhir ini. karena, sebentar lagi cakrawala segera menjemput kegelapan pekat malam dan menggantikannya dengan hangat mentari pagi.

Dan saudaraku, percayalah padaku, karena saat ini puncak dinginnya malam telah datang, yang menandakan sebentar lagi langit malam ini akan pergi. Mari kita nikmati kebersamaan untuk merenungi misteri hidup, karena tentu adalah suatu kepastian, jiwa kita tak akan selamanya miliki kesempatan.

Catatan terakhir sebelum aku beranjak, untuk ASTACALA.

Bandung, Desember 2008
-Enam Dua-





hey die Welt,das bin Ich

27 05 2008
Orang-orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan ketenangan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata. Karena itu jika anda dalam pergumulan yang sangat berat dan merasa ditinggalkan sendiri dalam hidup, angkatlah kepala ke atas karena kemungkinan anda sedang dipersiapkan untuk menjadi orang yang luar biasa. (anonimous)





Congratz yak…..!!!

3 12 2007
Adek..tadi kakak udah sidang. dia dapat A, kasih selamat gih….Adek gimana, kapan sidang?

Adek..Abang udh selesai ujian & presentasi. Hasilnya bagus ..Sekarang Inoe tinggal pengangkatan karyawan PT. Pertamina EP hari hari jum’at tgl 5..ama manajer HRD
————–

Dua pesan ini yang kuterima beberapa hari lalu..mengantarkan secercah senyum dalam hati kecilku. Ya, pesan tentang kakak – my twin yang baru saja ujian yudisium untuk kelulusan dari status mahasiwa kedokteran dan abang, calon DIRUT PERTAMINA kami…hahahah

Ah, aku teringat saat kecil dulu..ketika kami masih bermain bersama…berlarian kesana kemari..atau bertengkar tak ada habisnya. Dili, kota kecil tempat kami pernah tumbuh bersama..hampir 4 tahun lamanya.

Sekarang, semua menjadi kenangan indah.
Hidup ini akan berakhir, cepat atau lambat.
Waktu terus berjalan, mencoba membantu mendewasakan kita.
Mudah – mudahan Allah mempertemukan kita di jannah nya kelak.

Selamat ya abang…kakak…
jangan lupa makan – makan nya ntar klo kita udah pada ngumpul di Jakarta.
Btw, Doain adek juga ya..:D





gute Fahrt

3 12 2007
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa..Redalah reda …
Waktu terus bergulir..Semuanya mesti terjadi..
Daun-daun berguguran. Tunas-tunas muda bersemi
-iwan fals, satu-satu-

siapa yang berhak menentukan seseorang benar – benar ASTACALA atau bukan ?
PR kah ?
Badan diklat kah ?
sidang anggota muda kah ?
pendidikan dasar kah ?
….
atau tanda tangan ketua ASTACALA ?
….
karena pertanyaan ini yang sontak memukul ketika selembar surat pengunduran diri ada ditanganku.

——————-
Kak, sibuk ga?“, begitu sapaan yang mengejutkanku di kamar samping yang kita sebut gua selarong ini. pertanyaan ini juga yang sering kudapatkan sejak maret lalu, entah bagaimana caranya orang yang bukan siapa – siapa tiba- tiba jadi tampak begitu sibuk hanya karena selembar surat keputusan pengangkatan ketua ASTACALA disahkan. entahlah. yang jelas saat itu pasti aku tak begitu sibuk kecuali menikmati kepala yang nyut – nyutan sejak siang tadi.

haa ya, Ada apa?“, jawabku sekenanya, ternyata adikku yang membangunkan saat itu.

Ini“, lalu diserahkannya amplop putih itu, yang sebelumnya sudah kubaca isinya dan kukembalikan lagi pada yang memberikan, seraya kuminta yang bersangkutan memberikannya langsung. mungkin sejak saat pagi itu migrain ku kambuh.

Lalu kubuka saja amplob itu, mencoba membaca isi yang sudah kuhafal apa kalimatnya , memcoba untuk tampak membaca meski mataku menolaknya. Lalu kutarik saja nafas panjang, mungkin mencoba untuk melepaskan energi kekecewaan yang teramat sangat sudah kutahankankan entah berapa lama, atau menahan sisa pertanyaan ” mengapa” yang tak akan terjawab hingga sang waktu menginginkannya.

hmm..apa ini maksudnya?“, ucapku
aku mau mengundurkan diri”, jawabnya.
lalu episode lain percakapan tak ada arti menyapa kami, meninggalkan buih yang akan hilang digulung ombak waktu.

begini, surat ini kukembalikan. tolong dipikirkan dulu, paling tidak semiggu ini. Kepalaku sedang sakit banget sekarang, lagi banyak masalah juga, benar – benar ga bisa mikir apa – apa. LEbih baik kita tenangkan hati dulu, nti ko udah agak dingin baru ngobrol lagi. bagaimana ?“, ucapku mencoba menawarkan tawaran yang pasti hambar untuk nya.

besok kan sudah pembukaan pendas. aku ga bisa membuka sesuatu yang ga bisa aku selesaikan“, jawabnya.

“siapa bilang kamu belum membuka atau memulai?“, jawabku.
……………..
“hmm..ok maaf, ga usah dilanjutkan. surat ini kuterima dulu, nti kukabari lagi”

lalu dia pergi meninggalkan ku dan sebuah ingatan, “ah, aku blum ashar. pantas saja”, ucapku dalam hati.

——-

Dan malam ini, jam dinding yang terbalik diruang ini menunjukan waktu 23.55, 1 desember 2007. Kami sudah berdiskusi hampir 4 jam lebih, ya..tapi tetap saja ia tak ada arti. Dan kutandatangani juga lembar putih ini, yang dihiasi baris tinta merah ASTACALA dan deretan kata berbunyi SURAT KEPUTUSAN Tentang PENGUNDURAN DIRI ANGGOTA.

tak pernah ku sanggka akhirnya akan kutandatangai juga surat macam ini. Pun tak pernah terpikirkan menerima bet nomor anggota , lambang dan slayer merah ASTACALA.

akh..bahkan warnya nya pun belum lagi pudar adik ku.. mengapa ?” ucapku dalam hati.

tapi memang sebenarnya kita tidak punya hak mempertanyakan fakta yang sudah terjadi, toh memang bumi ini berputar diatas kesenjangan fakta dan harapan.

Aku terlempar sejenak pada saat – saat di beberapa tahun lalu, teringat mushaf kecil yang sempat kutitipkan padanya, diantara kesunyian malam gelap PENDIDIKAN DASAR ASTACALA 14. mushaf kecil yang sebelumnya menemaniku dalam setiap perjalanan diwaktu yang lalu dan memberiku kekuatan untuk kembali berjalan esok hari. Waktu itu, kuharapkan ia mampu menjadi penawar sepi dan keraguan, seperti yang juga kurasakan.

jadikan sebagai penawar hati“, ucapku malam itu.

Tapi lalu ia kau tinggalkan hampir basah dalam carrier penuh lumpur ini, hingga akhirnya kutemukan. “ah, tidak apa – apa“, ucapku mencoba meredam dalam hati.

Tapi siapa sangka,bertahun – tahun sesudahnya kau lakukan ini dengan ASTACALA ? dan memang, kalimat “ah, tidak apa – apa” itu tak sanggub lagi kuucapkan, karena memang ASTACALA bukan milikku saja, tidak seperti mushaf itu.

aku seharusnya patah hati, tapi bahkan rasa sakit ini tak terasa sedikitpun. mungkin memang karena ia sudah kebas.

Mungkin aku terlalu lama merenung dalam dinginnya gelap malam.
Kini saat nya untuk menyalakan lagi api didepan bivak ini.

Dan, mulai saat ini kau memang bukan saudara ASTACALA ku lagi.
Mudah-mudahan Allah meridhoi semua ini .

Dan tak pernah memutus tali silaturahim kita.
Selamat tinggal adikku, AM – 001 – MP.


ASTACALA !!!!




What a beautiful life

25 11 2007
Jangan lah kamu berduka cita..sesungguhnya Allah bersama kita..
(At-Taubah 40)

Lewat 24 jam yang lalu, sepertinya sedikit dari kiamat kecil dalam hidupku menyapa (halah..) Iya, bagaimana ga kiamat kecil untukku? wong harddisk 250 GB ke delete semua partisinya..semua file tutorial, tulisan, data studi, musik, picture, and upsolutely Tugas Akhir musnah lah sudah..

Tapi syukurlah, Allah masih sayang…beberapa minggu yang lalu sempat di back up ke harddisk lain. Jadi ingat orang yang kebakaran rumah..ga ada yang tersisa, kecuali baju dan celana yang terpasang di badan. Ya tuhan, tak taulah aku klo itu tak sempat kulakukan ;dan yang pasti tindakan terbodoh dalam hidup-red; mungkin aku sudah gila sewaktu memposting tulisan ini. Kacau…sedang ditengah kebingungan seperti ini, masalah semakin bertambah…

Tapi anehnya, aku menghadapinya dengan senyum..dan diam. Tak ada kata-kata panik tak beraturan, teriakan frustasi, apalagi keringat dingin.. semuanya berjalan seperti biasa; dan hari itu sukses kulalui dengan full smile serta sedikit bicara.

Bahkan ketika tau dataku itu musnah semua, dalam otak ku hanya terbayang apa yang harus kulakukan, bagaimana melakukannya, dan seterusnya..seterusnya. Dan ditengah kesulitan demi kesulitan ini..serta amanah ini…aku semakin yakin Allah tak melupakanku atau bahkan sedang mendengarkan ku. Hanya masalah waktu saja,, kapan ini akan terlewati

Aku jadi teringat peristiwa 2 tahun yang lalu, saat meng-evakuasi seorang ditengah hutan di gigiran kaki gunung Tangkuban Perahu..Masih jelas terngiang dikepalaku teriakan-teriakan yang bergema di kerimbunan hutan sana. Saat itu tanpa rasa, kubalut tangan yang bersimbah darah dengan slayer merah ini. Telapak tangan yang keempat jarinya hampir putus. Tanpa rasa juga kulalui saja itu semua, dengan ketenangan yang masih mencengangkanku hingga saat ini. dan selanjutnya….baca sendiri saja ya ? :)

Tapi sekali lagi kukatakan, aku teringat bagian hidup yang itu.
Dalam otak ini saat itu hanya ada sederetan algoritma apa yang harus kulakukan dan yang tidak boleh kulakukan.

if …. then…

begin
..
end;
else…
begin
..
end;

while…do..
begin
..
end;

Jadi, saat ini ketika kualami musibah seperti ini, tak heran lagi aku dengan algoritma sikap yang refleks kulakukan itu. kok kamu bisa ya dek ? klo ada masalah genting gitu bisa aja tenang. Klo aku mungkin udah nangis ato teriak – teriak tuh..ga tau mo ngapain”

Well, tulisan ini tak akan membahas hal ini lebih panjang lagi sehingga berkembang menjadi narcisme. .. Tapi, jujur dalam hati sempat kujawab juga “Mungkin kolerikku sedang ambil bagian saat itu” atau jangan – jangan aku sudah mati rasa kali ya? hahaha..

entahlah..
sudahlah..
berlalulah !!

kuingin bernyanyi dan tak berhenti
sampai kau terlelap tidur di pangkuanku
dengarkan nyanyian tentang cinta kita
iringi langkah dan jalan hidup ini
..
Ihsan-Buah Hati

Entah mengapa, mendadak lagu ini yang ingin ku dengar berulang-ulang. .lagi..lagi..dan lagi..Hmm..Mungkin melankolikku yang gantian ambil bagian… ha ha ha…ga nyambung kalee pun yak ?




Ya Allah, jadikan semua kesulitan, kebimbangan dan kesabaran ini menempa jiwaku menjadi pribadi yang lebih baik.
Ya Rahman, hapuslah keraguan dalam sikapku, berikan keikhlasan dalam amanahku, dan curahkanlah kearifan dalam perbuatanku. Ya Rahim, Berikanlah bagiku kekuatan agar redam kemarahan ini, hawa nafsu ini, dan jauhkan goadaan syetan ini. Sungguh aku tak akan sanggup jika Engkau tinggalkan.



Astaghfirullahhal’azim…
Astaghfirullahhal’azim…
Astaghfirullahhal’azim.
..





Cukup

13 11 2007

Aku sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi.
Kamu tau, tak akan bisa kau mencariku.
Dan memang tau perlu lagi kau tau kabarku.
Cukuplah sudah di jalan hidup yang itu kita berpapasan.

Hanya ada doa, yang ingin selalu kuucapkan.
Sebab rasa ini hanya kuikhlaskan dan coba kulepaskan,
karena Yang memberikannya memintaku melakukannya.

Siang ini, biarkan ku berjalan sendiri dengan diriku.
Karena malam nanti, aku ingin bermimpi kembali tentang kita
Dan ketika subuh menjelang, akan kutata kembali hidup untuk hari yang baru





My wishes list

7 11 2007

Daftar harapanku…akan berubah seiring berlalunya waktu..
1. Sidang dan lulus sarjana
2. Certified sun solaris dan cisco
3. Kerja, berapapun gajinya asal halal and nambah pengalaman
4. Punya sepeda gunung and gabung klub lagi
5. Beli kamera D-SLR
6. Punya notebook
7. Summit attack semeru, agung, rinjani
8. Sekolah S2 di jerman
9. Backpacker and hunting ke bromo
10. Dan 1 Aikido
11. Menikah dengan dia (heeee…..)





Salam Mahasiswa !!!

7 11 2007

Mumet, kepala senut – senut, telinga serasa berdenging, otak ngilu…


wuaahh…!!!
tak terasa, bulan sudah berputar ke posisi November. Jatahku untuk masih menjadi mahasiwa sudah kulanggar. Kawan – kawan yang seharusnya bersamaku meniti langkah perjuangan ini, satu persatu telah pergi. Oh bukan pergi, tapi memang aku yang tertinggal. Mereka sudah lewati semua proses dan prosesi untuk memenuhi amanah sebagai mahasiswa ini. Lewati langkah perjuangan dan pengorbanan ini, untuk menjadi sarjana.

2002..walau aku tak dapat singgahi lagi prosesi kemenanganmu, tapi tak ada hal lain yang mampu ku ucapkan untukmu sahabat, selain selamat dan iringan doa dari hati terdalam. Ya, bagaimana tidak, tunai sudah amanahmu ini. Dan sebuah langkah besar telah siap menunggumu untuk menyongsong hari yang lebih baik. Tak lupa kau kirimkan doa kembali untuk ku, agar segera menyusulmu secepat nya. amin. terima kasih.

Tapi, kembali kurenungi sejenak, bagaimana aku ? siapkah aku menjadi sarjana? jangan – jangan dunia mahasiwa terlalu membuatku jatuh cinta. Tapi, Jangankan aku..dulu Soe Hok Gie pun sempat gelisah ketika detik – detik nya tidak lagi menjadi mahasiswa akan datang. Tapi siapa pula aku ini, berhak memutuskan apakah aku siap atau tidak siap menjadi sarjana? toh, orang tuakulah yang membanting tulang kesana kemari untuk sekedar aku dapat duduk lagi di bangku ruang kuliah, mondar-mandir nyari pembimbing dan sekedar menyambung sesuap nasi setiap hari. Jadi siapa pula aku berhak memperpanjang beban orang tuaku ini ?

Ahk, terlanjur basah memang, pengen kuliah ya harus jadi sarjana. Pengen lulus, ya selesaikan Tugas Akhir. Ini memang terasa menjadi ujian sangat besar bagiku, sarana mengkaji lagi apa saja yang kudapat selama ini. Tapi tentu saaja, tidak semua yang didapat selama menjadi mahasiswa bisa diukur dengan “hanya” beberapa puluh lembar buku Tugas AKhir dan beberapa ribu baris coding ini.

Kembali ke dunia nyata. Saat ini, sudah hampir 2 bulan tak beranjak aku dari kondisi ini. BAB 4. akhhhh….rasanya ini bagian tersulit dari semuanya…yap, ini bagian Implementasi dari semua celoteh selama ini, dan pengujian dari itu semua. Nah, masalahnya aku ternyata cukup blank dengan ini, jadi gimana mo diuji coba ? Tanya sana sini, belum ada solusi nya..dan tak banyak juga yang tau. Lah, wong aku nanya malah dikasih pertanyaan lagi…gimana coba ? Ya begitulah..ternyata masih banyak yang aku tak bahwa aku tak tau dan kemana lagi harus mencari tau. Itu inti masalahnya. Terpaksalah sekarang harus back to basic : trying and error. Lah, emang mo merengeng sama siapa?

Disisi lain, seiring dengan tuntutan untuk segera lulus sudah semakin menghimpit, amanah yang lain juga malah makin berebutan untuk mencuri perhatian. Haaahh…semakin sempit saja ruang dadaku, apalagi space otak. Tapi mo gimana lagi ? Kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan. Pikirkan saja apa yang layak dipikirkan. Biarlah Allah saja yang menentukan, apakah diri ini amanah atau tidak. Karena memang hanya Dia saja yang tau dan berhak menentukan. Tapi, Bukankah lulus adalah amanah juga ? jadi mau seperti apa lagi, sudah terlanjur basah ya sekalian saja.


….
….
….
….

pusyiiiing….
akh sudahlah, hadapi saja.

Hei…desember, here i come..

Salam Mahasiswa !!!





Meretas langkah perjuangan

9 09 2007

Kadang aku tak mengerti mengapa aku harus disini. melakukan hal – hal yang mereka jadikan sebagai amanah bagiku, menunaikan tanggung jawab yang terkadang menghimpit, menahan kemarahan yang serasa memecahkan dada, lalu mencoba diam seakan semua baik – baik saja dan tidak ada masalah.Aku teringat 4 tahun lalu, ketika itu aku, mas anug, dan seorang lain sedang menunggu angkutan untuk mengikuti sebuah seminar kepemimpinan di kampus ITB. waktu itu aku hanya kebetulan saja berada dalam situasi ini -sebagai wakil dari BEM STTTelkom- karena ajakan mas Anug ketika aku sedang asyik membaca koran di sekre kami. Saat itu, aku hanya mahasiswa tingkat pertama yang sedang dalam berada dalam kondisi yang begitu bersemangat dengan hidup baruku, dengan begitu banyak pertanyaan “mengapa” dan sedang mencari idealisme yang dapat kujadikan contoh bagi sikapku. Dalam penungguan itu, sempat aku terlibat percakapan menarik dengan Mas Anug. Dari keseluruhan sesi itu, ada satu yang begitu kuingat hingga saat ini.

Setiap kita memiliki hidup yang dipenuhi berbagai orang dengan kepentingan yang berbeda – beda bahkan bertentangan satu sama lain. Ada banyak saat yang akan sering kita temui dalam hidup, ketika kita merasa ditarik – tarik dari berbagai sisi, mencoba memenuhi keinginan banyak orang, menunaikan begitu banyak harapan -orang tua, kawan seperjuangan, pacar, saudara, bos, dll- Ada banyak momen dalam hidup ini, ketika kita dilanda semua tuntutan itu, amanah ini, suka atau tidak suka, sanggub atau tidak sanggub.

Tapi kita juga punya banyak momen untuk belajar dari itu semua. Menjadi “tong” tempat dunia disekitar kita membuang keluh kesah, meneriakan pemikiran, menuangkan kekesalan, menceritakan kegembiraan, mengisahkan heroik pengakuan diri. Karena semua manusia ingin didengarkan dan mendapat pengakuan. Inilah makanan bagi mental setiap kita. Bukankah Begitu banyak anomali dalam hidup ini ? yang bahkan hukum fisika maupun matematika pun tak akan mempu menterjemahkan apalagi memberi penjelasan. Kita kadang tak menyadari, bahwa pembicara yang baik itu tak lain adalah pendengar yang simpatik atau pemenang yang sesungguhnya adalah yang mengalah ketika kemarahan sudah diujung ubun – ubun.

Allah Maha Kuasa yang membuat kegala kerumitan hidup ini dilindungi dalam kesederhanaan.

Kadang aku limbung ketika memikirkan mengapa aku masih ada di sini. Meretas satu demi satu langkah perjuangan ini yang orang lainpun tak ingin menjalaninya, terpaksa menjadi pribadi yang tidak dikenal orang, mengatakan kebenaran yang menyakitkan yang bahakan tak ingin kukatakan, berada dalam posisi untuk mengambil keputusan yang tidak ingin diambil orang lain, menjadi tumbal bagi semua kesalahan – kesalahan. “Dipuncak itu sepi rasanya“, begitulah dulu yang pernah dikatakan John Maxwell. Dan saat ini, itulah yang kurasakan, suka atau tidak suka aku telah berada disini saat ini, disini, sekarang. Berdiri di puncak yang sepi ini, hanya ditemani sepoi angin dingin yang setiap saat bisa berubah menjadi badai yang mematikan.

Saat ini dan berjuta momen sebelumnya, kusadari aku telah ditinggalkan. Dari kawan – kawan yang saharusnya bersamaku menunaikan amanah ini. Tapi kata orang, dunia berputar karena kesenjangan fakta dan harapan. Dan inilah fakta yang harus dihadapi saat ini, tentang janji yang tidak ditunaikan, tentang kepercayaan yang ditinggalkan. “Tenang saja, klo udah sidang ntar kuselesaikan ini semua, gantian kita”, seribu ucapan seperti itu yang coba kupahami berjuta detik yuang lalu. Tapi manusia itu memang selalu sama dengan ucapannya, yang membedakannya hanya apa yang dia lakukan dengan ucapan itu. Itulah yang membedakan pecundang dengan pemenang. Dan mereka pergi, lari dari amahan ini dan meninggalkanku.

Ada begitu banyak keresahan yang ingin ditumpahkan, kemarahan yang ingin dilampiaskan hingga membuat seluruh tubuhku bergetar karena menahannya, sumpah serapah yang ingin diteriakan, kesedihan yang ingin kuwujudkan dalam tangis. Tapi untuk apa itu semua ? bukankah kita hidup untuk menantang kesulitan? dan belajar sebanyak – banyaknya dari itu semua? Sekarang yang ingin kulakukan hanya membersihkan diriku dari najis yang melekat, katanya air wudhu ini membasuh marah, keresahan atau kesedihan. Lalu aku pun menulis.

AKu teringat Mak dan Abah. Kedua orang tua yang kusayangi disini. aku teringat tubuh renta Mak yang selalu dengan semangat menawariku gorengan yang terlalu besar dengan tepung ketika aku dengan perut keroncongan datang ke warungnya yang telah reot dan meminta makan. Aku teringat Abah yang selalu tertawa lebar menampakan gigi ompongnya saat ku berjalan menyusuri tepian pematang sawahnya yang telah menguning dan akan panen sebentar lagi. Mendengar ia mengatakan sesuatu dalam bahasa negri ini dengan bunyi yang tak pernah kumengerti selain mengucapkan “nuhun..nuhun abah..”

Waktu itu aku terlelap di bawah kerindangan kebun sederhana ini. Dan tiba – tiba terdengar seperti suara gemuruh yang semakin mendekat. Sontak aku berlari keluar dan ah, ternyata hujan..sungguh sudah begitu lama tanah ini tidak dibasuh langit. Dan hujan ini seakan hanya menyapa, karena esoknya dan kesudahannya ia tak datang lagi. Menyisakan tanya, “Ada apa ya Allah ?“. Malam sesudahnya, Mak mendatangiku. Dengan irama kata yang kutau menahan sedih, ia mengatakan padaku “listrik mak mati, dek.” Masih limbung entah karena aura kasur yang memabukan atau mendengar berita itu, aku mendengarkan beliau. Mak..Orang tua ku yang renta, saat ini ada dihadapanku, menahan tangis yang ingin sebenarnya ingin ditumpahkannya.

Aku tak tau apa yang mampu kulakukan. Aku hanya orang biasa dengan gelombang demi gelombang amanah di bahuku. Yang dipaksa menahan marah yang membuncah, menepis kebencian walau ditinggalkan, mencoba ikhlas menerima kesulitan ini, melupakan masa lalu yang harus ditinggalkan, menatap saat ini dan menyongsong masa depan walau dengan merangkak sekalipun. Semua fakta ini harus kutelan dan tak boleh keluar dari rongga dadaku walaupun ia semakin sempit dengan sejuta pernyataan tak terjawab. Aku merasa sendiri, hanya mampu mendengar suara bising dunia disekitarku dengan sayup.

Aku ingin pulang. entah kemana. Bukankah Allah bersama orang – orang yang bersabar ?

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu? yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (Al-Insyiroh 1-8)





Menyusuri labirin renungan [1]

11 07 2007

29 Juni 2007. Dengan bismillah, aku bergantung pada sehelai tali putih tipis 10.5 mili ini..Sesaat yang lalu sebelum melepaskan semua pengaman terakhirku, sempat kutanyakan pada Ayis-Second Man kami pukul berapa saat itu “Sebelas lewat lima menit..“, jawabnya singkat. Entah mengapa kutanyakan itu…mungkin berharap angka yang disebutkan adalah urutan angka baik atau sekedar mengingatkan menit-menit terakhir nafasku berhembus -jika aku diijinkan mati saat itu-.

Entah seakan berkonspirasi dengan firasat tak menentu ini, angin dingin terus membelai dan jelas terasa sayup nada gemericik air dikedalaman sana. Gelap celah vertikal dibawah ini perlahan namun pasti mengantarkan denyut kesunyian yang tak terkatakan, bahkan melihat kebawahpun aku tak sanggup..entah mengapa juga lututku sekejab mengiggil dan terasa ringan, merasakan kekosongan gelap dimensi ruang dibawahku. Sebagai Rigging Man dalam penulusuran ini, aku berkewajiban untuk turun pertama kali memasuki lorong gelap ini..yang bahkan belum pernah kumasuki dan tak bisa rasakan kedalamannya.

Bandung, 1 Juli 2007. Minggu ini adalah sedikit dari saat melelahkan dalam perjalananku. bagaimana tidak, kami akan segera menyongsong petualangan di kedalam antah barantah perut bumi. Namun kami akan sangat ramai sekali saat itu..dan hampir sebagian besar dari mereka dipastikan akan sangat grogi -atau ketakutan- karena memang belum pernah memasuki gua sekalipun apalagi vertikal di malam sunyi gelap gulita. Tak heran, aku terus menerus khawatir menanti saat ini, bukan karena diriku saja tapi juga karena nyawa orang lain yang juga mungkin bergantung pada keputusan yang akan kami atau aku ambil nanti. inilah eksplorasi pertamaku tanpa rekan yang bisa dijadikan tempat bergantung..karena saat ini kami hanya mampu saling bergantung satu sama lain..saling menguatkan nyali yang mulai menciut.

Hanya selisih beberapa hari sebelumnya, kami baru saja menyelesaikan petualangan di tebing citatah selama 2 hari. Ya, 2 hari disiram teriknya mentari dan terpaan udara panas yang sedang berputar menyerbu angkasa. Sebelumnya bisa dikatakan kami tidak tidur, karena kawan – kawan anggota mudaku ini harus menyelesaikan sesi materi kelas rock climbing dulu sebelum melakukan praktek di tebing sesungguhnya.Baru jam 3 dini hari Sabtu tanggal 23 Juni 2007 itu kami bisa memejamkan mata..dan paginya harus kembali bangun menyiapkan perlengkapan yang harus kami bawa ke dalam beberapa carrier dan daypack, menuju Area Pusat Pendidikan dan Latihan Kopassus : Tebing 48 Citatah – purwakarta.

Lelah dan bau, kami akhirnya tiba lagi di Bandung minggu malam itu. Senin, tanggal 26 Juni 2007 diputuskan untuk beristirahat sejenak..fisik dan mental, dan tidak satupun alat – alat itu dicuci, karena akan digunakan lagi beberapa hari mendatang. Hari itu penuh hanya kuisi dengan tidur, baca buku dan menonton. Hari Selasa, 27 Juni 2007 pagi kami sudah ada di dasar Tower untuk berlatih SRT. Kami membuat 2 lintasan setinggi kira-kira 20 m waktu itu, dengan variasi intermediate dan simpul ditengah lintasan. Pagi itu aku dan kawan – kawan mentor mencoba memberikan materi mengenai teknik turun. Sorenya kutinggalkan sejenak sesi ini untukkeperluan masa depan, dan baru pulangnya aku tau kawan – kawan belum juga selesai berlatih hingga pukul 10 malam. Hari Rabu tanggal 28 Juni 2007 itu kawan – kawan sudah mulai menyiapkan perlengkapan dan membeli bekal untuk perjalanan selanjutnya minggu ini : penelusuran gua. Menurut rencana, kami akan berangkat Ju’mat paginya, sehingga paling tidak hari kamis kami sudah siap untuk On Action.

Oleh karena itu juga, kamis malam tanggal 29 Juni 2007 kami berlatih lagi atau lebih tepatnya tes. Onie dan Ayis sendiri sudah berangkat terlebih dahulu sebagai tim pendahulu, menyiapkan perijinan dan segala sesuatu nya disana. Sedangkan kawan – kawan anggota muda kali ini harus bisa menyiapkan peralatan SRT nya sendiri, melewati lintasan yang ditentukan dalam waktu terbatas berikut dengan peralatan lengkap penelusuran : Boot dan Helm. Ya ini adalah Tes Simulasi SRT, seperti biasa waktu yang telah ditentukan dilanggar..dan kembali aku harus begadang lagi..tak tanggung-tanggung hingga pukul 4 dini hari..”Ya Tuhan, berikan padaku kekuatan dan tambahan semangat“, pikirku waktu itu. Karena pukul 7 paginya kami sudah harus berangkat.

….

Sebenarnya tempat ini sudah pernah kudatangi sebelumnya, kawasan kars yang tersembunyi di bawah kerindangan hutan lindung pinus dan rimbunnya semak belukar kebun penduduk, Buni Ayu nama tempatnya. Sekitar 1-2 jam dari Kota Sukabumi. Saat itu tanggal 5-7 Mei 2007, kami hanya ber-4: Aku, nipon, Onie yang memimpin perjalanan survey ini dan acong, anggota muda yang juga turut kami ajak.

Sebenarnya tujuan perjalanan waktu itu bukanlah daerah ini. Tapi daerah kars yang lebih tersembunyi di pedalaman lagi..Sagaranten . Memang untuk mencapai daerah ini kita akan melewati daerah Buni Ayu dahuulu, yang tempatnya sudah menjadi area wisata yang dikelola perhutani dan berada sangat dekat dengan jalur transportasi. Namun lokasi komplek gua di Sagaranten sangat jauh dari keramaian. Nipon sendiri yang menjadi sumber informasi kami ketika itu, terakhir berkunjung pada tahun 2000 silam -7 tahun yang lalu-. Menurut informasi dari nya, kami tau bahwa daerah kars disana sangat perawan, dan terdiri dari berbagai gua vertikal – horizontal yang mayoritasnya berjenis fosil.

Berbekal data 7 tahun yang lalu itu juga, kami berempat akhirnya berangkat ke Sagaranten lengkap dengan perlengkapan camp, logisitik, bahan bakar, dan peralatan penelusuran vertikal. Sebelumnya aku tak pernah khawatir dan tidak sedikitpun firasat melintas dari benakku, bahwa telah banyak yang berubah selama 7 tahun terakhir di dunia ini…termasuk di daerah terpencil seperti Sagaranten.

Dan terjadilah sudah..seperti sudah ditakdirkan, kami saat itu tak berhasil melakukan penelusuran di Sagaranten…karena kami tak pernah ada disana. Ya, kami tidak mampu mencapai Sagaranten dalam perjalanan itu. Karena memang Sagaranten adalah suatu wilayah yang sangat luas..dan kami tidak punya kata kunci desa, kampung atau apapun yang mampu mengidentifikasi dimana tepatnya lokasi yang kami tuju : Rumah Pak Parmin, kuncen gua di Sagaranten. Pun tidak setelah bertanya dan dikerumuni orang-orang –tukang ojeg, preman, satpam,dll- di terminal, atau ketika meminta kawan untuk membawa mobil carteran untuk mengantar kami berkeliling mencari rumah kuncen Sagaranten tersebut hingga pukul 2 dini hari, atau ketika kami menumpang menginap di kantor polisi setempat : Polsek Nyalindung.

Ya, kami tidak pernah menelusuri gua – gua di Sagaranten dalam perjalanan itu. Esoknya tanggal 6 Juni 2007 setelah bangun dari tidur sejenak kami dan makan pagi seadanya di warung, kami berdiskusi mengenai rencana kami saat itu. Diputuskan bahwa kami menghentikan pencarian lokasi desa gua di Sagaranten itu dan langsung menuju Buni Ayu yang sudah jelas posisi nya dan dapat lansung dicapai dari tempat kami berada saat ini. Sebelumnya, ketika Pak Polisi yang sedang berjaga menanyakan tujuan kami, sempat kujawab Buni Ayu dan beliau menawarkan untuk mengantarkan kami dengan mobil patroli.

Dan akhirnya kami tiba juga di Buni Ayu hari Sabtu, tanggal 6 Mei 2007. Saat itu Pak Kakai, koordinator disana beserta Kang Ucok, salah satu guide yang menyambut. Kami menyampaikan niat kami untuk melakukan penelusuran dan mengatakan bahwa kami membawa perlengkapan yang lengkap sehigga tidak perlu meminjam alat. Saat itu yang kami perlukan adalah ijin berkemah dan guide untuk menunjukan gua yang bagus untuk dieksplorasi.

Dari hasil tawar menawar waktu itu, disepakati harga 60 ribu untuk menginap 1 hari di area camp, seorang guide, baju dan helm penelusuran. Waktu itu sudah siang, sekitar pukul 2 dan kami memutuskan untuk mengisi perut yang kosong dahulu. Tak lama hujan deras menemani makan siang sederhana kami itu, dan Pak Kakai menegaskan kembali bahwa kami tidak diijinkan untuk melakukan penelusuran gua yang melewati arus sungai karena dikhawatirkan terjadi banjir didalam..

Oleh karena hal tersebut dan keterbatasn waktu juga, hanya beberapa gua horizontal yang sempat kami masuki waktu itu -gua siluman dan buni ayu-, semuanya adalah entrance (mulut gua) horizontal. Lokasi ini menurut informasi yang kami dapat adalah tempat yang dikunjungi oleh Riani Jangkaru dengan timnya ditemani kawan – kawan MAPALA UI untuk syuting salah satu episode Jejak Petualang.

Selebihnya kami hanya melihat – lihat entrance lain dan mendokumentasikan posisi nya di permukaan bumi, Gua Landak, Domba yang kesemuanya adalah entrance horizontal dan terletak di dalam lebatnya hutan lindung pinus. Saat itu aku tak henti – henti nya kagum karena teringat dengan panasnya terik mentari di Gunung Sewu, Gunung Kidul…tempat yang dulu menjadi persinggahanku untuk mengenal petualangan ini. Saat itu, acong memutuskan untuk tidak ikut serta dengan kami, ”capek…sekalian aku jaga base camp”, katanya saat itu. Tapi aku melihat hal yang lain, shock? Ya untuk ukuran pemula, ia sudah cukub banyak mendapat hal baru yang sangat tak terduga dalam 24 jam terakhir : nyasar, nginap di kantor polisi, berada dalam lorong gelap horizontal dan merasakan bau serta kotoran yang kujamin tak pernah ditemuinya selama hidup di permukaan bumi.. Jadi kami tinggalkan acong di basecamp saat itu, karena memang perlu ada yang stand by untuk menjaga perlengkapan kami sekalian mempersiapkan makan malam.

Entrance Vertikal yang menjadi favorit yaitu Gua Kerek tak sempat untuk kami turuni. Ia adalah bentukan alam berupa sebuah lorong vertikal yang mulutnya terbentuk dari rekah longsoran batuan kapur beberapa ratus lalu. Waktu itu aku yang memegang GPS (alat untuk menentukan koordinat) dan merekam posisinya. Lensa kamera SLR Canon kami saat itu berembun, karena memang saat itu sudah sore dan tanah ini baru saja diguyur hujan begitu lebat nya siang tadi… hingga kami tak bisa merekam suasana yang ada saat itu. Pernahkah kamu membaca teori lubang hitam yang menarik segala sesuatu disekitranya? Seperti itulah yang kurasakan saat melihat dan berada di sekitar celah vertical ini : sunyi, gelap dan begitu kuat menariku..

Sama seperti yang kurasakan kelak, sayup terdengar suara aliran air didalamnya disertai angin dingin yang seakan menyembur dari bawah sana. “Ada sungai dibawah ya kang ? berapa kira-kira dalamnya ? “, tanyaku untuk sekedar melepas kesunyian pada guide kami hari itu. “Ya, ada sungai dibawah. Klo hujan bisa banjir hingga 2-3 meter..Dalamnya kira-kira 30 meter-anlah..“, jawab kang Ucok ringan. Mendengar keterangan singkatnya itu, aku mencoba menggambar kondisi dibawah sana di dalam pikiranku…turun kedalam lorong sempit sejauh 30 meter-an (bisa 39..35…32..) dan langsung disambut dingin nya air sungai.”anjrit…”, pikirku..

Klo musim hujan seperti ini, kami ga berani turun sore atau malam..karena biasanya hujan disore hari, sedangkan jika turun malam hari, tidak bisa dipantau kondisi langit dari kawan-kawan diatas. Gua ini bagian utama dari aliran sungai bawah tanah dibawah ini. Menurut perkiraan, sungai bawah tanahnya yang membentuk air terjun di depan entrance horizontal di bawah sana..walau belum ada yang membuktikan nya…beberapa tahun lalu memang ada peneliti dari prancis yang menelusuri sungai bawah tanah ini dengan perahu karet hingga ke entrance horizontal, tapi gagal. Klo waktu nya cukup, kita akan kesana.” katanya lagi dalam percakapan kami menelusuri hutan pinus ini, menuju pintu-pintu misteri lain yang bisa kami kunjungi sebelum matahari beranjak ke peraduannnya.

Dan memang benar, kami akhirnya tiba di air terjun setinggi 7 meter itu – Air Terjun Bibijilat. Sedikit kedalam kulihat ada entrance horizontal yang menjadi sumbernya..serasi dengan nama air terjun nya : Gua Bibijilat. Ya, Air terjun ini berasal dari sungai bawah tanah yang tiba – tiba muncul ke permukaan bumi dan langsung disambut bentukan bebatuan vertikal. Penduduk tampaknya memanfaatkan kekayaan alam ini dengan membangun undak-undak besar menyerupai gourdam dan 3 buah pompa air mekanik untuk menyuplai kebutuhan air bagi kampung mereka. Semak belukar diatas juga dipotong pendek sehingga menyerupai taman kecil sederhana yang rindang dibawah pepohonan besar diatasnya. Entah berapa kubik kecepatan air kapur ini mengalir…yang jelas bunyi gemuruhnya nya terdengar hingga jauh, dan aku tak mampu membayangkan kondisi sungai bawah tanah di gua sana…atau bagaimana rasanya terjebak didalam..

To be continued