Meretas langkah perjuangan

9 09 2007

Kadang aku tak mengerti mengapa aku harus disini. melakukan hal – hal yang mereka jadikan sebagai amanah bagiku, menunaikan tanggung jawab yang terkadang menghimpit, menahan kemarahan yang serasa memecahkan dada, lalu mencoba diam seakan semua baik – baik saja dan tidak ada masalah.Aku teringat 4 tahun lalu, ketika itu aku, mas anug, dan seorang lain sedang menunggu angkutan untuk mengikuti sebuah seminar kepemimpinan di kampus ITB. waktu itu aku hanya kebetulan saja berada dalam situasi ini -sebagai wakil dari BEM STTTelkom- karena ajakan mas Anug ketika aku sedang asyik membaca koran di sekre kami. Saat itu, aku hanya mahasiswa tingkat pertama yang sedang dalam berada dalam kondisi yang begitu bersemangat dengan hidup baruku, dengan begitu banyak pertanyaan “mengapa” dan sedang mencari idealisme yang dapat kujadikan contoh bagi sikapku. Dalam penungguan itu, sempat aku terlibat percakapan menarik dengan Mas Anug. Dari keseluruhan sesi itu, ada satu yang begitu kuingat hingga saat ini.

Setiap kita memiliki hidup yang dipenuhi berbagai orang dengan kepentingan yang berbeda – beda bahkan bertentangan satu sama lain. Ada banyak saat yang akan sering kita temui dalam hidup, ketika kita merasa ditarik – tarik dari berbagai sisi, mencoba memenuhi keinginan banyak orang, menunaikan begitu banyak harapan -orang tua, kawan seperjuangan, pacar, saudara, bos, dll- Ada banyak momen dalam hidup ini, ketika kita dilanda semua tuntutan itu, amanah ini, suka atau tidak suka, sanggub atau tidak sanggub.

Tapi kita juga punya banyak momen untuk belajar dari itu semua. Menjadi “tong” tempat dunia disekitar kita membuang keluh kesah, meneriakan pemikiran, menuangkan kekesalan, menceritakan kegembiraan, mengisahkan heroik pengakuan diri. Karena semua manusia ingin didengarkan dan mendapat pengakuan. Inilah makanan bagi mental setiap kita. Bukankah Begitu banyak anomali dalam hidup ini ? yang bahkan hukum fisika maupun matematika pun tak akan mempu menterjemahkan apalagi memberi penjelasan. Kita kadang tak menyadari, bahwa pembicara yang baik itu tak lain adalah pendengar yang simpatik atau pemenang yang sesungguhnya adalah yang mengalah ketika kemarahan sudah diujung ubun – ubun.

Allah Maha Kuasa yang membuat kegala kerumitan hidup ini dilindungi dalam kesederhanaan.

Kadang aku limbung ketika memikirkan mengapa aku masih ada di sini. Meretas satu demi satu langkah perjuangan ini yang orang lainpun tak ingin menjalaninya, terpaksa menjadi pribadi yang tidak dikenal orang, mengatakan kebenaran yang menyakitkan yang bahakan tak ingin kukatakan, berada dalam posisi untuk mengambil keputusan yang tidak ingin diambil orang lain, menjadi tumbal bagi semua kesalahan – kesalahan. “Dipuncak itu sepi rasanya“, begitulah dulu yang pernah dikatakan John Maxwell. Dan saat ini, itulah yang kurasakan, suka atau tidak suka aku telah berada disini saat ini, disini, sekarang. Berdiri di puncak yang sepi ini, hanya ditemani sepoi angin dingin yang setiap saat bisa berubah menjadi badai yang mematikan.

Saat ini dan berjuta momen sebelumnya, kusadari aku telah ditinggalkan. Dari kawan – kawan yang saharusnya bersamaku menunaikan amanah ini. Tapi kata orang, dunia berputar karena kesenjangan fakta dan harapan. Dan inilah fakta yang harus dihadapi saat ini, tentang janji yang tidak ditunaikan, tentang kepercayaan yang ditinggalkan. “Tenang saja, klo udah sidang ntar kuselesaikan ini semua, gantian kita”, seribu ucapan seperti itu yang coba kupahami berjuta detik yuang lalu. Tapi manusia itu memang selalu sama dengan ucapannya, yang membedakannya hanya apa yang dia lakukan dengan ucapan itu. Itulah yang membedakan pecundang dengan pemenang. Dan mereka pergi, lari dari amahan ini dan meninggalkanku.

Ada begitu banyak keresahan yang ingin ditumpahkan, kemarahan yang ingin dilampiaskan hingga membuat seluruh tubuhku bergetar karena menahannya, sumpah serapah yang ingin diteriakan, kesedihan yang ingin kuwujudkan dalam tangis. Tapi untuk apa itu semua ? bukankah kita hidup untuk menantang kesulitan? dan belajar sebanyak – banyaknya dari itu semua? Sekarang yang ingin kulakukan hanya membersihkan diriku dari najis yang melekat, katanya air wudhu ini membasuh marah, keresahan atau kesedihan. Lalu aku pun menulis.

AKu teringat Mak dan Abah. Kedua orang tua yang kusayangi disini. aku teringat tubuh renta Mak yang selalu dengan semangat menawariku gorengan yang terlalu besar dengan tepung ketika aku dengan perut keroncongan datang ke warungnya yang telah reot dan meminta makan. Aku teringat Abah yang selalu tertawa lebar menampakan gigi ompongnya saat ku berjalan menyusuri tepian pematang sawahnya yang telah menguning dan akan panen sebentar lagi. Mendengar ia mengatakan sesuatu dalam bahasa negri ini dengan bunyi yang tak pernah kumengerti selain mengucapkan “nuhun..nuhun abah..”

Waktu itu aku terlelap di bawah kerindangan kebun sederhana ini. Dan tiba – tiba terdengar seperti suara gemuruh yang semakin mendekat. Sontak aku berlari keluar dan ah, ternyata hujan..sungguh sudah begitu lama tanah ini tidak dibasuh langit. Dan hujan ini seakan hanya menyapa, karena esoknya dan kesudahannya ia tak datang lagi. Menyisakan tanya, “Ada apa ya Allah ?“. Malam sesudahnya, Mak mendatangiku. Dengan irama kata yang kutau menahan sedih, ia mengatakan padaku “listrik mak mati, dek.” Masih limbung entah karena aura kasur yang memabukan atau mendengar berita itu, aku mendengarkan beliau. Mak..Orang tua ku yang renta, saat ini ada dihadapanku, menahan tangis yang ingin sebenarnya ingin ditumpahkannya.

Aku tak tau apa yang mampu kulakukan. Aku hanya orang biasa dengan gelombang demi gelombang amanah di bahuku. Yang dipaksa menahan marah yang membuncah, menepis kebencian walau ditinggalkan, mencoba ikhlas menerima kesulitan ini, melupakan masa lalu yang harus ditinggalkan, menatap saat ini dan menyongsong masa depan walau dengan merangkak sekalipun. Semua fakta ini harus kutelan dan tak boleh keluar dari rongga dadaku walaupun ia semakin sempit dengan sejuta pernyataan tak terjawab. Aku merasa sendiri, hanya mampu mendengar suara bising dunia disekitarku dengan sayup.

Aku ingin pulang. entah kemana. Bukankah Allah bersama orang – orang yang bersabar ?

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu? yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (Al-Insyiroh 1-8)





Blog nya Sang Presiden : Mahmud Ahmadinejad

23 09 2006

Ternyata yang punya blog bisa dari kalangan mana saja. check this out guys..


Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad membuat blog sendiri. Peluncurannya disiarkan oleh stasiun televisi nasional Iran, Minggu (13/8) dan mendorong publik Iran untuk menulis langsung pesan-pesan mereka pada Presiden lewat blognya.

Isi blog Ahmadinejad masih berupa kisah tentang masa kecilnya, revolusi Iran dan perang Iran-Irak. Blog tersebut juga dilengkapi dengan ruang polling online yang untuk kali ini mengangkat tema, apakah AS dan Israel “sedang menarik picu perang dunia lagi.”

Blog Presiden Ahmadinejadi disajikan dalam tiga bahas, Inggris, Perancis dan Arab dengan alamat http://www.ahmadinejad.ir/

Dalam blognya Ahmadinejad menulis, bagaimana pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khomeini mulai mempengaruhi pemikirannya ketika Ayatullah berada dalam pengasingan selama kurun waktu 1960-an sampai 1970-an.

Ahmadinejas menulis dalam blognya,”Makin saya mengenal pemikiran dan filosofinya, semakin saya mengaguminya dan pengasingan serta ketidakhadirannya, buat saya tidak bisa ditoleransi.”

Di blognya, Ahmadinejad juga menyampaikan kritik-kritik tajamnya pada AS dan pandangan-pandangannya terhadap Perang Iran-Irak di era 1980-1988, ketika Ahmadinejad masih menjadi anggota pasukan elit Revolutionary Guard.

Seperti di negara-negara lainnya, perkembangan dunia maya memungkinkan setiap orang untuk memiliki situs sendiri, tak terkecuali di Iran. Cuma, di Iran para blogger belum bisa bergerak bebas untuk menuangkan pemikirannya.

Kabarnya, pemerintah Ahmadinejad termasuk yang ketat mengawasi kemunculan blog dan para bloggernya, yang mulai marak sejak lima tahun lalu. Menurut Muhammad Ali Dadkhah, seorang praktisi hukum hak asasi manusia, diperkirakan ada 50 bloger yang ditangkap selama kurun waktu setahun ini.

Isa Saharkhiz, anggota Committe to Protect Journalist di Iran mengatakan,”Tindakan keras terhadap para blogger merupakan bagian dari meningkatnya kebijakan sensor oleh pemerintah.” (ln/aljz)





Kenangan Kepada Seorang Demonstran : Soe Hok Gie

18 08 2006
Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran“, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya“, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: “Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!”

Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.

Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”


Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil“, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti“.

Arief pun menulis kenangannya lagi:” … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, ‘Gie kamu tidak sendirian’. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.”

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: “…Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: “... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: “… Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: “... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa“. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Take from http://www.indomedia.com/intisari/1999/desember/sohokgi.htm