Catatan – catatan terakhir

23 07 2009
Aku teringat, dulu sekali, dan..pun kembali saat ini, kita semua pernah sepakat, pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi rangkaian rutinitas yang tak syarat arti. Pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi retorika yang memuakan. Pendidikan kita harus menjadi momen untuk kita berbenah, menjadi saat untuk kita introspeksi diri.

Sebelum kita membantu untuk membuka pintu kesempatan bagi lebih banyak jiwa muda ini menjadi ASTACALA dan mengenalkan tentang hakekatnya, pada saat itulah selambat – lambatnya kita membuka pintu kesempatan untuk masing – masing diri ini, “sudahkah kita menjadi benar – benar seorang ASTACALA ?”

Sebelum kita berbagi pengetahuan dengan jiwa – jiwa yang membakar semangat ini tentang misteri tanpa batas alam, pada saat itulah saat yang tepat untuk kita bertanya – tanya pada diri ini, “Sudahkah kita cukup berendah hati untuk berkawan dengan alam ?”

Kawan, berhentilah berbicara tentang sesuatu yang absurd. Kemarilah, hiruplah secangkir kopi hangat yang ini bersamaku. coba kita dengarkan sesaat bunyi sayup suara malam kerimbunan hutan ini, mungkin diantara bisikan nya, ada suara hati yang bisa kita dengar. Tentang cerita yang tak ingin kau dan aku katakan dalam lisan. Taukah kau, betapa muaknya aku dengan semua retorika rutinitas ini ? yang membuat kita tak mampu berbicara lagi satu sama lain dengan bahasa hati.

Sahabat, duduklah disini bersamaku, didepan perapian ini yang tadi kita buat ditengah menggigilnya tubuh kita diterjang badai tadi. Mari, kita nikmati hangat yang akan segera berakhir ini. karena, sebentar lagi cakrawala segera menjemput kegelapan pekat malam dan menggantikannya dengan hangat mentari pagi.

Dan saudaraku, percayalah padaku, karena saat ini puncak dinginnya malam telah datang, yang menandakan sebentar lagi langit malam ini akan pergi. Mari kita nikmati kebersamaan untuk merenungi misteri hidup, karena tentu adalah suatu kepastian, jiwa kita tak akan selamanya miliki kesempatan.

Catatan terakhir sebelum aku beranjak, untuk ASTACALA.

Bandung, Desember 2008
-Enam Dua-





gute Fahrt

3 12 2007
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa..Redalah reda …
Waktu terus bergulir..Semuanya mesti terjadi..
Daun-daun berguguran. Tunas-tunas muda bersemi
-iwan fals, satu-satu-

siapa yang berhak menentukan seseorang benar – benar ASTACALA atau bukan ?
PR kah ?
Badan diklat kah ?
sidang anggota muda kah ?
pendidikan dasar kah ?
….
atau tanda tangan ketua ASTACALA ?
….
karena pertanyaan ini yang sontak memukul ketika selembar surat pengunduran diri ada ditanganku.

——————-
Kak, sibuk ga?“, begitu sapaan yang mengejutkanku di kamar samping yang kita sebut gua selarong ini. pertanyaan ini juga yang sering kudapatkan sejak maret lalu, entah bagaimana caranya orang yang bukan siapa – siapa tiba- tiba jadi tampak begitu sibuk hanya karena selembar surat keputusan pengangkatan ketua ASTACALA disahkan. entahlah. yang jelas saat itu pasti aku tak begitu sibuk kecuali menikmati kepala yang nyut – nyutan sejak siang tadi.

haa ya, Ada apa?“, jawabku sekenanya, ternyata adikku yang membangunkan saat itu.

Ini“, lalu diserahkannya amplop putih itu, yang sebelumnya sudah kubaca isinya dan kukembalikan lagi pada yang memberikan, seraya kuminta yang bersangkutan memberikannya langsung. mungkin sejak saat pagi itu migrain ku kambuh.

Lalu kubuka saja amplob itu, mencoba membaca isi yang sudah kuhafal apa kalimatnya , memcoba untuk tampak membaca meski mataku menolaknya. Lalu kutarik saja nafas panjang, mungkin mencoba untuk melepaskan energi kekecewaan yang teramat sangat sudah kutahankankan entah berapa lama, atau menahan sisa pertanyaan ” mengapa” yang tak akan terjawab hingga sang waktu menginginkannya.

hmm..apa ini maksudnya?“, ucapku
aku mau mengundurkan diri”, jawabnya.
lalu episode lain percakapan tak ada arti menyapa kami, meninggalkan buih yang akan hilang digulung ombak waktu.

begini, surat ini kukembalikan. tolong dipikirkan dulu, paling tidak semiggu ini. Kepalaku sedang sakit banget sekarang, lagi banyak masalah juga, benar – benar ga bisa mikir apa – apa. LEbih baik kita tenangkan hati dulu, nti ko udah agak dingin baru ngobrol lagi. bagaimana ?“, ucapku mencoba menawarkan tawaran yang pasti hambar untuk nya.

besok kan sudah pembukaan pendas. aku ga bisa membuka sesuatu yang ga bisa aku selesaikan“, jawabnya.

“siapa bilang kamu belum membuka atau memulai?“, jawabku.
……………..
“hmm..ok maaf, ga usah dilanjutkan. surat ini kuterima dulu, nti kukabari lagi”

lalu dia pergi meninggalkan ku dan sebuah ingatan, “ah, aku blum ashar. pantas saja”, ucapku dalam hati.

——-

Dan malam ini, jam dinding yang terbalik diruang ini menunjukan waktu 23.55, 1 desember 2007. Kami sudah berdiskusi hampir 4 jam lebih, ya..tapi tetap saja ia tak ada arti. Dan kutandatangani juga lembar putih ini, yang dihiasi baris tinta merah ASTACALA dan deretan kata berbunyi SURAT KEPUTUSAN Tentang PENGUNDURAN DIRI ANGGOTA.

tak pernah ku sanggka akhirnya akan kutandatangai juga surat macam ini. Pun tak pernah terpikirkan menerima bet nomor anggota , lambang dan slayer merah ASTACALA.

akh..bahkan warnya nya pun belum lagi pudar adik ku.. mengapa ?” ucapku dalam hati.

tapi memang sebenarnya kita tidak punya hak mempertanyakan fakta yang sudah terjadi, toh memang bumi ini berputar diatas kesenjangan fakta dan harapan.

Aku terlempar sejenak pada saat – saat di beberapa tahun lalu, teringat mushaf kecil yang sempat kutitipkan padanya, diantara kesunyian malam gelap PENDIDIKAN DASAR ASTACALA 14. mushaf kecil yang sebelumnya menemaniku dalam setiap perjalanan diwaktu yang lalu dan memberiku kekuatan untuk kembali berjalan esok hari. Waktu itu, kuharapkan ia mampu menjadi penawar sepi dan keraguan, seperti yang juga kurasakan.

jadikan sebagai penawar hati“, ucapku malam itu.

Tapi lalu ia kau tinggalkan hampir basah dalam carrier penuh lumpur ini, hingga akhirnya kutemukan. “ah, tidak apa – apa“, ucapku mencoba meredam dalam hati.

Tapi siapa sangka,bertahun – tahun sesudahnya kau lakukan ini dengan ASTACALA ? dan memang, kalimat “ah, tidak apa – apa” itu tak sanggub lagi kuucapkan, karena memang ASTACALA bukan milikku saja, tidak seperti mushaf itu.

aku seharusnya patah hati, tapi bahkan rasa sakit ini tak terasa sedikitpun. mungkin memang karena ia sudah kebas.

Mungkin aku terlalu lama merenung dalam dinginnya gelap malam.
Kini saat nya untuk menyalakan lagi api didepan bivak ini.

Dan, mulai saat ini kau memang bukan saudara ASTACALA ku lagi.
Mudah-mudahan Allah meridhoi semua ini .

Dan tak pernah memutus tali silaturahim kita.
Selamat tinggal adikku, AM – 001 – MP.


ASTACALA !!!!




Ramuan Ajaib Getafix

26 12 2006
Besar kemungkinan kita semua pernah membaca atau setidak nya mendengar kisah asterix dan obelix, jagoan dari negri Gaul…Tapi kisah yang akan saya ceritakan ini sudah pasti bukan tentang mereka, karena nti bisa gawat klo saya sampai digerebek disekre A dengan tuduhan melanggar hak paten….hehehehe

Singkat kata begini bung…waktu itu sempat ada pembicaraan antara saya, gejor n taka. Sebenarnya ini rapat internal badan diklat, tapi berhubung hal yang perlu untk dirapatkan sudah kelar semua sedangkan energi untuk bertukar pikiran masih banyak maka akhirnya kami membicarakan fenomena dilematis sistem kaderisasi kita…halaaahhh ribet banget yak, maksudnya : gimana metode terbaik menghasilkan A setangguh ewok, gepeng, kebo, kopet, momesh, dll tapi melalui format yang dapat menyesuaikan dengan ekonomi yang semakin wah, biaya kuliah yang semakin tinggi, masa studi yang makin pendek dan semakin-semakin lainnya…

Hmm….hmm…jadi gimana coy sebaiknya nih?” celetuk salah seorang diantara kami..
Hmm..Hmmm”, terdengar dari sudut..
“kita harus berubah..sesuaikan dengan jaman, kebutuhan pasarnya udah beda
Hmm..Hmm..“, siapa tuh?
Ok lah, format pendidikan harus reformasi, di zip klo perlu…banyakin jalan – jalan yang terarah, ekspedisi..toh tanpa latihan, materi kelas n teori itu ga akan ada artinya….emang kita mo bikin anak orang harus hafal semua teori tapi kagak ada yang bisa dilakuin ?“, nah lo….
“Gimana klo begini aja, pendas kan udah mulai di geser dikit – dikit nih paradigma nya….diklan harus menyesuaikan. kagak usah bikin diklan yang smp kelar berbulan – bulan….2 bulan aja cukup, tapi habis itu langsung banyakin kegiatan di luar…”
Ok langsung di petakan aja..”

Dan dari sinilah berlanjut semua…
Di papan white board sekre segera digambar time line..mulai dari bulan agustus alias tahun ajaran baru..lalu diusulkan agar pendas pada bulan september saja. Tidak perlu lama – lama, materikelas + praktek lapangan digabung jadikan 4 – 7 hari, sudah cukup. Pastikan semua siswa dikenalkan materi dasar kepecinta-alaman, disamakan persepsinya tentang ASTACALA, difasilitasi untuk mengenal rekan seperjuangannya, dll. Tidak perlu muluk – muluk sampai mengerti bener peta – kompas segala….tidak perlu bantai – bantaian, klo masalah karakter tak akan mampu ASTACALA merubahnya dalam 3-5 tahun..karena karakter itu sudah terbentuk sejak 20 tahun hidupnya, jadi ASTACALA hanya mengarahkan untuk membina mental, bukan membentuk apalagi merubah karakter !!

Pendidikan Lanjut…selesaikan dalam 2 bulan = november – desember karena oktober masa UTS.
sama seperti pendas, di zip kan, jika perlu 2 bidang ilmu digabung waktu pelaksanaannya dalam 2-3 hari. Misal Fotografi & Jurnalistik, Gunung Hutan & SAR (ini udah pernah kita lakukan), Climbing dengan Caving, klo perlu langsung nyambung dengan Rafting

Bagaimana dengan bobot materi?
Nah, untuk kasus pemberian materi / pendidikan cukup diberikan di kampus, bukan langsung sewaktu pendidikan lanjutnya. Sehingga bagi AM akan terasa tidak terlalu lama, kaku, dan sangat menuntut waktu. Ingat bung, ada TP di akhir minggu, itu masih jadi musuh nomor 1 kita…apa anak A menyusup jadi aslab semua, biar di hack tuh sistem lab nya and dibikin kagak ada TP-TPan lagi???huahahaha..ntar dulu deh, klo udah ada orang-orangnya baru bicara kayak gini

Kita lanjutkan lagi, misal untuk kasus pendidikan lanjut Rock Climbing & Caving. Materi kelas bisa diberikan seminggu sebelumnyakan? bisa di sekre sambil lesehan and nyerut teh hangat…santai tapi tetap serius, AM ga tertekan and seneng dengan apa yang dia lakukan. Pemateri juga ga terbebani dengan mesti serius – serius banget…

Nah setelah itu, dalam 1-2 minggu jadwalkan latihan rutin di Wall atau Tower….bouldering, leading, rapelling dll untuk climbing dan SRT, riging untuk caving…bereskan?? yang belum memenuhi syarat latihan rutin belum boleh mengajukan untuk mengikuti pendidikan lanjut , jadi konsepnya : SIAPA YANG MAU BELAJAR YANG AKAN DIAJAR. Jum’at-Minggu langsung berangkat ke citatah, target nge-TOP tebing 48 atau 125 untuk climbing and masuk ke gua horizontal-vertikal untuk caving.

Trus ntar materinya ga dalam dungs? siapa bilang coy..lihat aja konsepnya, yang ga memenuhi target latihan pra pendidikan lanjut ga boleh ikut pendidikan lanjut..ini sama aja dengan konsep latihan fisik di pendas, tapi bedanya ini termasuk materi teori dan praktek. peserta / AM dikondisikan untuk mengikuti latihan rutin sesuai dengan jadwal yang dia bisa ikuti..toh wall climbing masih dibelakang SC ini, apa sulitnya? Dari pada semua diborong di lapangan, rugi waktu, rugi duit…dan ga menjamin AM langsung bisa….pada konsep lama, setelah pendidikan lanjut juga belum tentu ia akan mengulang materi ini kecuali mau maju sidang…bener kagak??

Nah, tambahan perbedaan lagi di sistem ini adalah metode evaluasi nya. ini adalah bagian dari sidang AM. kita semua yang udah sidang pasti tau bahwa sidang itu terdiri dari 2 bagian : 1. materi 2. keorganisasian. singkat kata, semua diborong di akhir smp AM nya jadi bodoh klo ditanyain detail2 waktu sidang. Yang maju sidang, stress..yang lain ga maju, karena males kelamaan klo ga takut.

Nah, di sistem ini diubah semua. Bagian 1 dilakukan setelah AM menyelesaikan tiap pendidikan lanjut, jadi ada sidang kecil setiap selesai pendidikan lanjut. Ini memang sudah kita lakukan tapi bedanya tidak ada follow up nya. Dengan sistem ini, klo perlu AM ditemani oleh 2-3 A ketika presentasi paska pendidikan lanjut. Ia dinilai dan dievaluasi kekurangan dan kelebihannya. Selanjutnya ini di tindak lanjuti oleh badan diklat, yang terus memonitor perkembangan AM ini setelah selesai diklan ttg penguasaanya atas materi tsb. Klo perlu, jika ia belum memenuhi syarat penguasaan minimum dari badik, maka belum boleh sidang. Nah, nanti di sidang ga perlu smp berhari – hari bahas materi lagi karena itu sudah dibahas ketika setelah pendidikan lanjut …jadi langsung ke bagian 2 saja : keorganisasian….sok dah di evaluasi semua, loyalitas, solidaritas, dan tas..tas…lainnya. jadi waktu yang kita habiskan untuk sidang ga terlalu banyak n AM nya ga terlalu stress krn proses lain sudah dicicil jauh hari sebelumnya..

Perjalanan wajib..bisa dilakukan di akhir bulan januari – februari…sok dah mo pada jalan kemana…mo ke kalimantan, irian, sumatra…silahkan. Langsung bikin perjalanan AM itu yang bergengsi, ga cuma jalan ke gunung x tok..kagak ada hasilnya kecuali AM bisa me manage perjalanan sendiri. Menurut saya sungguh sayang momen seperti itu hanya untuk mencapai target itu saja, karena potensi SDM dan waktu yang sangat berharga ini bisa kita manfaatkan untuk membuat konsep perjalanan yang lebih bermakna..misal ada penelitian atau menambah referensi ASTACALA akan daerah baru..bukan gunung yang itu – itu saja..dari tahun ke tahun…sejak jaman gepeng masih pakai baju putih biru….upppsss…Boseeeenn coy..bener kagak??

Trus bulan maret sampai agustusnya lagi ngapain ??
Jalan – jalan lagi lah…ngapain nongkrong di sekre terus, tidur ga jelas…
bikin ekspedisi gede sekalian…..ke cartens….ke tebing arau di payakumbuh….ke sini …ke situ…
waktu nya panjang, jadi memberi kita kesempatan untuk berkreasi n menyiapkan segala kebutuhanya
klo perlu cari sponsor yang gede..eiger, gubernur jabar sekalian, dll
semua itu bisa di manage lebih baik dengan sistem yang baik juga
karena sebenarnya begitu banyak waktu dan kesempatan untuk belajar
tanpa harus mengorbankan kuliah yang nota bene amanah utama dari orang tua

Ingat lagi bung, sebelum kita meminta loyalitas buta dari AM..
Ingat lagi, klo kita semua pertama datang ke bandung…kuliah di STTTELEPON pasti bukan untuk masuk ASTACALA tapi untuk selesaikan pendidikan kita and menggapai hidup labih baik agar orang tua kita bahagia.
Busyet..ngomong apa lagi nih gw….ah udah ding..ntar dibilang banyak omong lagi…
Sekian saja dah paparan saya tentang pembicaraan kami dini hari itu…

Omong – omong….saya ingatkan lagi klo ini sama sekali ga ada hubungannya sama ramuan getafix yang bisa bikin asterix kuat lho…apalagi ajaib… Ini cuma obrolan antara kawan yang pernah bersama menikmati hangatnya api unggun yang kami buat dengam menggigilnya tubuh yang kedinginan cieee…udah ah, jadi melankolik gini gw..ca caw..

ASTACALA !!!!!

EnamDuaKabutFajar
[hanya orang biasa yang masih belajar berpikir agar dapat hidup lebih baik]





Pesona Goa Negeri Angso Duo (3)

24 09 2006

Catatan Perjalanan Caving TWKM XVII

Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Rabu, 14 Des 2005

Pagi ini kami sepakat untuk mencoba ascending – descending menggunakan SRT Set di pohon sekitar basecamp sebagai pemanasan. Aku, Onie dan datuak yang memang belum berkecimpung di dunia para caver, menggunakan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan kawan – kawan yang sudah expert. Bagaimana tidak, banyak diantaranya adalah Kadiv Caving di organisasinya. Kami berlatih hingga siang, kemudian makan dan sholat.

Sesuai dengan ROP, kami dibagi menjadi 2 team : Jefry, Catur, Onie, Mpok Sanni, Getol di Team 1 dan Abon, Datuak, Berry, Bebek, Aku di Team 2. Aku bersyukur dengan ini, karena memungkinkan kami untuk meminjam SRT Set kawan di team lain ketika melakukan penelusuran (bergantian vertikal dan horizontal).

Siang itu, kedua team mempersiapkan perlengkapan masing – masing. Jam 3 siang, kami serentak berangkat menuju lokasi. Perjalanan yang ditempuh cukup mengejutkan kawan – kawan. Karena memang lokasi goa yang berada di balik punggungan, sehingga kami harus mendaki dulu kira – kira 1 jam. Setibanya di depan entrance goa Mesjid, kami masih sempat mencuci muka dulu di sungai kecil yang juga digunakan petani walet – yang mendirikan pondok disekitar situ – untuk mandi dan mencuci. Team 1 mesti harus mendaki beberapa saat lagi sebelum tiba di entrance goa Kadir. Team 2 ditemani oleh 3 orang guide petani walet : jala, alwi dan rudini. Selama ekplorasi kami mengunjungi 4 dari 7 lorong yang ada. Sebenarnya kami ingin waktu eksplorasi lebih lama lagi, agar memberi kesempatan lebih lama untuk mempelajari goa ini. Namun karena sang guide mesti menjaga sarang walet di goa lain, maka kami mengakhiri eksplorasi sore itu juga dan tiba di basecamp tepat sebelum magrib. Kondisi goa yang kotor dan rusak itu cukup untuk membuat kecewa kawan – kawan. Bebek tampak cemberut sampai malam itu, walau tidak berkata apa – apa, aku tau dia berharap dapat melihat ornamen yang lebih bagus setelah jauh – jauh ke jambi.

Setibanya di basecamp kami bebersih sambil menunggu team 1 kembali. Menurut ROP, seharusnya mereka sudah tiba sebelum jam 9 malam itu. Jika tidak juga datang sebelum jam 10, maka kawan – kawan panitia dan peserta putra sepakat untuk menyusul. Aku, Bebek dan panitia putri tetap stand by di basecamp. Kami tertidur dan terbangun setelah mendengar keributan, ternyata team 1 sudah datang. Ketika itu waktu menunjukan kira – kira jam 12 malam. Aku bangun lagi, mengikuti evaluasi dan briefing hingga jam 3. Kawan – kawan putri lain – yang tampak sangat kelelahan – tidak ikut dan beristirahat.

Kamis, 15 Des 2005

Hari ini, gantian team 2 yang eksplorasi ke goa vertikal. Sesuai evaluasi malam sebelumnya, maka dipilih goa vertikal lain karena goa Kadir menurut kawan – kawan team 1 sungguh mengecewakan karena hanya berupa sumur, sehingga dianggap tak labih dari latihan SRT saja alias ga ada jalan – jalannya.

Kawan – kawan yang kurang tidur baru bisa bersiap dan berangkat jam 1 siang lewat. Team 1 menuju goa Mesjid, sedangkan kami menuju entrance goa Sentot. Perjalanan nya cukup advance juga, membuatku kembali bersemangat. Ternyata dugaanku tepat, dikejauhan bau guano sudah tercium yang menandakan ada goa tak jauh dari posisi kami saat itu. Entrance goa Kadir mengobati kepenatan setelah mendaki 1 jam lebih. Dengan diameter 5 meter lebih, kami mencoba menganalisa lokasi anchor yang tepat untuk rigging. Jala, yang menemani saat itu membantu kami membersihkan semak di sekitar mulu goa. Belum ada orang yang melewati entrance ini sebelumnya, begitulah kata Robi – panitia yang bersama kami -. “Gilaaaaa…bakal seru nih”, pikirku.

Kami membawa 2 tali karmantel super statis 50 m dengan kondisi yang kotor dan berbulu. Aku dan bebek sempat sikut – sikutan waktu melihat tali itu dan berdoa mudah – mudahan talinya cukup kuat untuk SRT 6 orang. Tak kurang dari 2 jam, instalasi jalur sudah selesai, dengan bentuk Y anchor dan 2 jalur (karena perkiraan jalur kurang dari 30 m vertikal). Jadi, akan turun 2 orang bersamaan : Jibrik (instruktur) – Robi (panitia), Bebek – Datuak, terakhir Abon – Adek.

Ketika Jibrik dan Robi decending, diketahui ternyata kedalaman jalur ini lebih dari 30 m sehingga tali tidak cukup. Mereka kemudian turun hingga teras pertama. Seluruh team diinstruksikan decending hingga teras ini dulu kemudian 1 tali dilepas dan disambung ke tali yang lain. Ketika aku dan Abon turun, sebuah bongkahan batu sebesar kardus supermi jatuh. “ROCK FAAAALLLLL !!!” teriak abon. kami berhenti sebentar dan sangat kawatir dengan kawan – kawan dibawah, karena tempat berpijak mereka saat itu sangat sempit ditambah salah seorang kawan tidak menggunakan helm. Setelah terdengar teriakan aman dari bawah, kami pun melanjutkan descending. Untuk menghilangkan ketegangan, aku dan abon mengisi decending dengan bercanda. Alhamdullilah kami selamat tiba di teras, kemudian bergabung dan mengamankan diri dengan cowstail.

Ben dan Bowo – yang stand by di atas – melepas tali ke 2. Jibrik dan Abon kemudian memasang kembali lintasan. Waktu itu sudah magrib sehingga kami mulai dikelilingi kegelapan. Dinding didepanku saat itu tampak seperti tengkorak karena bentukan tonjolannya. Setelah semua aman, jibrik diikuti abon, bebek, datuak, aku dan terakhir abon descending kembali. Saat itu kami membuat 1 deviasi untuk menghilangkan friksi dan 1 simpul butterfly pada lintasan ini. Menurut Abon, lintasan ini tidak begitu baik karena penuh dengan friksi. Jibrik yang tiba lebih dulu, berteriak bahwa dibawah sungguh menakjubkan. Dari atas kami sudah terdengar suara sungai bawah tanahnya. Kata Jibrik sungai ini lumayan besar..”akhirnyaaaa”, pikirku.

Kami mengunjungi semua lorong yang ada dan menemukan siphon di salah satu lorongnya. Saat itu semua orang sungguh ceria, yah..akhirnya terbayar sudah setelah jauh – jauh datang ke jambi. Bagiku ini adalah pengalaman sekaligus pembelajaran yang tak terlupakan. Tak pernah terbayang dalam benak ini, goa vertikal pertama yang akan kuturuni ada di jambi dan langsung 60 m lebih !!!

Eksplorasi saat itu berakhir hingga jam 10 malam lewat. Keluar melalui entrance horizontalnya pun sungguh penuh tantangan dimana kami harus sedikit chimneying, karena lorong yang sangat sempit (kurang dari 50 cm) dan dibawahnya mengalir sungai yang mungkin saja dalam. Diluar kami sempat menemukan air terjun seperti yang diceritakan jala. Saat instalasi tadi, jala memang sudah mengatakan bahwa menurut perkiraannya goa ini akan tembus ke entrance horizontal di dekat air terjun.

Perjalan ke basecamp aku isi dengan berlari, karena memang jalurnya turun. Sesampainya di basecamp, kami sudah ditunggu oleh kawan – kawan team 1 yang tak sabar menanti cerita kami. Setelah bebersih, kami pun bercerita tentang eksplorasi tadi. Saat itu waktu menunjukan jam setengah 11 malam lewat.

Jumat, 16 Des 2005

Karena penasaran dengan cerita kami, kawan – kawan Team 1 pun meminta pada panitia untuk diantar ke goa kadir juga. Sesuai kesepakatan team 1 akan berangkat sebelum waktu sholat jum’at dan team 2 akan menyusul dari entrance horizontal sambil membawa makan siang team 1.

Kami berangkat jam 1 siang lewat ditemani 3 panitia (fahmi, eka, sri) dan bertemu dengan team 2 jam 2 an. Saat itu, Yuda dan Getol sudah ada di dasar goa. Kami menunggu hampir 2 jam sebelum semua personil tiba. Eksplorasi ini tidak lebih dari 3 jam. Kami makan malam di entrance horizontal. Suasana saat itu sungguh membuatku akan selalu mengingat momen ini. aku merasa disinilah titik puncak rasa persaudaraan yang mulai tumbuh diantara kami.

Sabtu, 17 Desember 2005

Sesuai instruksi panitia, kami harus bersiap – siap dari pagi karena kemungkinan truk yang akan menjemput kami tiba jam 9. Kami sempat makan pagi dulu, membantu panitia untuk packing tenda pleton dan perlengkapan basecamp lain. Sambil tidur – tidur di hammock, main kartu atau sekedar ngobrol kami menunggu. Tapi hingga jam 1 siang, truk yang ditunggu tidak datang juga. Akhirnya kami makan siang dan panitia meminta peserta jalan dulu ke desa terdekat yang –katanya- tidak lebih dari 2 km.


Aku sedikit sangsi jarak yang kami tempuh dulu itu kurang dari 2 km, paling tidak 5 km lah. Ternyata benar. AKu, Catur dan Yuda saat itu berjalan cepat di depan. Kami tiba di Dusun Dalam –desa terdekat- jam 6 sore atau 5 jam jalan kaki!!! “Buseeeet….lengkap semua : dari offroad, gunung hutan, berenang di goa, panjat tebing sampai long march !!! ”, pikirku.

Alhamdullilah truk yang kami tunggu sedang parkir di sana. Ternyata beliau memang tidak bisa menjemput ke lokasi dan Robi yang kemarin mencari kendaraan akhirnya ke Merangin mencari alternative lain. Pak Sahar bersedia mengantar hingga kantor Polsek Sungai Manau. Dari sana kami akan melanjutkan dengan bus antar kota ke Jambi.

Bebersih dan makan malam, kami menunggu lagi hingga jam setengah 12 malam. Waktu yang ada kami isi dengan menonton tv dan bermain teka – teki konyol. Ketika bus yang ditunggu datang, kami langsung berangkat. Perjalanan ke jambi memakan waktu 6 jam lebih. Hingga kami tiba di kampus Unja Telanaipura jam setengah 6 pagi.

Aku bertemu dengan Sapi dan Petong yang datang setelah kami. Aku tidak menemukan Ayis di kumpulan team RC yang tiba lebih dulu. Sementara itu team GH baru tiba siang hari nya. Aku bertemu Jabek di aula siang itu dan menanyakan ROP ke bandung. Menurut komandan, tiket pesawat sudah di booking untuk penerbangan besok jam 5 sore.

Pak Kebo dan pasukan dari bandung pagi itu juga sempat mampir dan mentraktir kami makan pagi di warung padang terdekat. Ternyata benar, di jambi biaya makan sungguh mahal. Pak Kebo yang tidak bisa lama – lama di jambi langsung berangkat ke bangko setelah sarapan itu.

Siang itu team Caving sempat jalan – jalan keliling jambi dan sorenya kami mengantarkan Berry ke bandara karena harus sudah tiba di Bandung besok untuk UAS. Malamnya kami mengikuti penutupan TWKM XVII di rumah dinas Walikota Jambi. Acara berakhir jam 11 malam dan NO DRUGS. Tapi sesampainya di aula Unja Telanaipura dini hari itu, aku melihat kawan – kawan lain sudah pada mabok. Karena sudah capek langsung saja aku dan yang lain instalasi tempat tidur dan bobok..

Minggu, 18 Desember 2005

Hari ini hanya diisi dengan menunggu. Aku bertemu dengan seorang kenalan dari Padang yang sudah jadi jendral nya Proklamator. Beliau saat ini aktif di MAPALA dan mendirikan salah satu KPA di Bangko. Dari percakapan itu, aku mengetahui bahwa kawan – kawan di Jambi cukup kecewa dengan pelaksanaan TWKM. Hal ini antara lain karena masalah koordinasi yang tidak jelas. Namun, aKu yakin panitia pun telah memberikan yang terbaik dari yang ada. Mudah – mudahan evaluasi ini memberi pelajaran berharga bagi kita semua tentang arti penting sebuah kesiapan dalam melaksanakan kegiatan.

Aku kemudian meminta diantarkan untuk mencari jajanan khas Jambi untuk oleh – oleh. Aku diajak ke MAKOPLA DIMITRI dulu dan sempat ngobrol dengan kawan – kawan disana. Ternyata mencari jajanan khas Jambi tidak perlu jauh – jauh, cukup di supermarket saja…ya elahhh.

Kami berangkat jam 4 siang dengan mobil Fahmi. Aku tidak sempat berpamitan dengan kawan – kawan Caving lain, karena mereka sedang bergerilya mencari transportasi pulang. Di rombongan kami juga ada team MAPA GUNDAR dan PALAWA. Kebetulan kami dengan penerbangan yang sama.Jam 6 sore kami sudah tiba di Sukarno Hatta.

Kami langsung pulang hari itu juga ke bandung, tidak mampir ke warnet Macan dulu. Kami tiba di Bandung tengah malam. Membeli nasi goreng dulu di palasari, kami lalu pulang. Di sekre saat itu sedang stand by Pak Ketua. Setelah nongkrong sebentar dan cerita tentang hal konyol di jambi, aku langsung ke goa tidur. Karena lelapnya, kenangan Jambi saat itu tidak terlintas dalam mimpiku. Mudah – mudahan ilmu yang didapat bukan hanya jadi mimpi kesiangan, karena harapan untuk jalan – jalan dengan Dream Team Caving ASTACALA jadi bagian obsesi ku sejak saat itu. Amien


*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom

Tulisan ini tersedia di Kisah Perjalanan website www.astacala.org





Pesona Goa Negeri Angso Duo (2)

24 09 2006

Catatan perjalanan Caving TWKM XVII

Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Persiapan Teknis

Secara umum, persiapan teknis yang kami lakukan adalah persiapan perlengkapan masing-masing divisi. Sapi dan Petong sebagai delegasi Kenal Medan Divisi Rafting, melakukan peminjaman perlengkapan melaui sponsorship (Boogie) dan organisasi independen (YCR / You Can Raft). Pihak Boogie meminjamkan beberapa pelampung dan tak lupa memberikan kaos CREW www.boogieadvindo.com (yang kemudian oleh kawan – kawan disablonkan kata ASTACALA tepat diatas kata CREW nya). Sementara itu, YCR bersedia meminjamkan beberapa paddle dan helm. Terima kasih Boogie dan YCR…

Ayis – yang ikut di Kenal Medan Divisi Rock Climbing- dapat segera melakukan inventarisasi perlengkapan yang dibawa. Dalam hal ini, tidak dilakukan peminjaan dari pihak eksternal karena ASTACALA memiliki inventaris perlengkapan climbing yang cukup.

Berbeda nasib dengan cerita diatas, aku dan Onie yang ikut Kenal Medan Divisi Caving tidak dapat banyak mempersiapkan alat – alat penelusuran goa, karena ASTACALA sendiri belum memiliki inventaris untuk perlengkapan penelusuran goa (terutama SRT Set), juga perlengkapan tersebut masih sulit dicari di bandung (melalui peminjaman). Hal ini karena masih sedikitnya organisasi MAPALA / Pecinta Alam di Bandung yang berkegiatan dan memiliki peralatan penelusuran goa. Untuk langsung membeli sangat tidak mungkin karena minimnya waktu dan kondisi keuangan kami atau organisasi. Oleh karena itu, kami hanya membawa beberapa perlengkapan yang sekiranya bermanfaat. Aku juga sempat meminjam head lamp milik Astaka dan mengamankan sepatu boot hijau Jimbo yang sebelumnya digunakan untuk berkebun (terima kasih banyak bantuan nya…. : )

Jabek, yang ikut Temu Wicara juga sempat melakukan persiapan teknis. Perwakilan ASTACALA (jabek, onie, sapi, petong) hadir pada pertemuan konsolidasi akhir antara MAPALA se JAWA BARAT di Kampus UPI yang dikoordinasikan oleh MAHACITA. Dalam pertemuan dibahas rencana pencalonan PIN ataupun tuan rumah TWKM XVIII oleh MAPALA yang ada di JAWA BARAT. ASTACALA sempat masuk dalam bursa pencalonan tuan rumah TWKM XVIII. Namun, setelah berkoordinasi degan barudak yang ada di sekre hal ini untuk sementara di tolak dulu, mengingat kondisi ASTACALA yang perlu melakukan pembenahan internalisasi sebelum merambah keluar. Selain itu, petong juga sempat mempersiapkan makalah untuk dipresentasikan pada sidang TWKM XVII, namun karena berbagai hal makalah ini tidak sempat diselesaikan sehingga tidak dapat dipresentasikan.

Dalam hal ini, penulis berpendapat ASTACALA mulai dikenal dan dipercayai oleh MAPALA lain khususnya Bandung untuk mendapat amanah. Selain adanya wacana tuan rumah TWKM XVIII tadi, juga terbukti dengan terpilihnya ASTACALA untuk menjadi PID JAWA BARAT pada TWKM XVII tersebut.

Mudah – mudahan hal ini dapat menjadi dexter yang menambah kekuatan fisik dan mental kawan – kawan ASTACALA dalam menempuh perjalan panjang menundukan puncak – puncak kejayaan kepetualangan. Apapun bentuk nya.

Perjalanan

Minggu, 11 Des 2005

Hari itu akan selalu ku kenang sebagai salah satu hari paling kocak yang pernah ku alami dalam hidup. Bagaimana tidak, pagi itu kami team ASTACALA yang akan ikut TWKM XVII sedang terburu – buru untuk packing kebutuhan kami selama berkegiatan. Mulai dari kolor sampai carabiner screw dan helm menunggu untuk dimasukan dalam tasku yang hanya day pack itu. Bagi ku, day pack ini sedang berada dalam fase test drive , maklum baru beli coy…di counter boogie yang ada di sekre sendiri, lumayan discount 20 %.

Ditengah kesibukan kegiatan itu, aku teringat belum mengambil uang kontan untuk saweran kami dan kiriman dari salah satu jendral yang mesti segera di setor ke komandan Jabek. Belum lagi harus ke kos seorang teman untuk menitipkan surat ijin tidak ikut presentasi tugas besar sabtu depan. Segera saja, aku dan Petong -yang kebetulan bernasip sama- meminjam motor mbak Uuth untuk pergi ke ATM di buah batu. Waktu itu waktu menunjukan jam 09.30 lewat artinya waktu yang ada sangat sedikit, karena jam 10 kami harus sudah berangkat ke pool di leuwi panjang. Packingan ku yang yang hampir selesai segera kutinggalkan dan langsung cabut. Sesampainya di sekre yang saat itu rame –kayak kandang– aku langsung menghampiri day pack untuk menyelesaikan packing an yang belum kelar. Beruntung insting ini masih tetap jalan, aku melihat susunan packing – an sudah berubah bentuk, dan -benar saja– didalamnya penuh dengan benda – benda aneh semacam patung budha, payung, dll. Bangsat…pikirku, ini pasti ulah jacky ato kebo ato makhluk usil lainnya yang sekarang membunyikan pluit dan memukul – mukul meja untuk membuat kami panik.

Akhirnya, kami semua sudah selesai dan siap untuk berangkat. Tak lupa berfose dulu di kebun belakang sekre. Saat itu waktu menunjukan jam 10 lewat. Petong -yang menemukan patung budha di carriernya- kembali membuka packing an sambil menyumpahi pelaku…(heheheh…sapa tuh?). Jacky dan Kebo bersedia mengantarkanku dan ayis. Sementara kawan – kawan yang lain naik angkot / ojeg. Sesampainya di pool, ternyata ada juga penumpang yang lain yang belum datang. Aku menghampiri seorang bapak yang sedang duduk dimeja kerja menyampaikan klo teman ku yang lain sedang di jalan. Duduk menunggu, aku membuka buku catatan, mencoba memikirkan apakah ada yang masih belum kelar. Tak lama kemudian datang ayis, petong, sapi dan terakhir onie – jabek.

Di pool itu kami menunggu cukup lama juga. Petong –sekali lagi- menemukan patung budha di carier nya. Akhirnya, patung itu kami tinggalkan saja di pool. Jam 11 lewat, bus itu pun siap berangkat. Kami diberi kue yang langsung saja kami lahap, maklum belum sarapan..Berjalan cukup kencang, bus itu akhirnya berbalik lagi setelah masuk tol. Saat itu hingga bus kembali ke pool, aku tidak berfiirasat apa – apa. Hingga kami menunggu sampai jam 3 siang, aku mulai menghampiri bapak tadi menanyakan bagaimana nasip kami. Akhirnya, dengan raut menyesal beliau mengatakan tidak ada ada harapan lagi dan kami harus mencari alternative angkutan lain. Siaaaal…aku -sambil berusaha menjaga emosi ini- menyampaikan sesalku kenapa hal ini tidak dikatakan dari tadi, karena kami mungkin bisa naik bus ekonomi yang berangkat sekitar jam 2.30 siang. Akhirnya setelah negosiasi, uang kami dikembalikan 100%. Kami diberi info bahwa kami bisa menanti bus ke merak dipintu tol.

Duduk di trotar, kami beberapa kali melewatkan bus ekonomi ke merak. Kami sepakat naik eksekutif karena lewat cipularang, sehingga lebih cepat sampai ke merak. Tapi kemudian lewat juga bus ekonomi yang juga lewat cipularang. Kami pun naik bus ini.

Di dalam bus, aku sempat mengirim sms singkat ke Jimbo dan Oelil menanyakan bagaimana kondisinya di merak kalau kami mau nyebrang. Keduanya langsung reply. memberikan saran yang berbeda. Jabek – yang saat itu menghubungi pak kebo – di sarankan untuk turun dijakarta, nginap di warnet macan kemudian naik pesawat senin pagi. Usul itulah yang akhirnya kami lakukan, karena selain cemas bercampur was – was bagimana starategi kami di merak nanti, kami juga harus tiba di jambi sebelum sore – yang tidak akan mungkin terjadi klo nyambung – nyambung…- , karena lokasi Kenal Medan yang katanya sangaaaaat jauh.

Kejadian ini sungguh mengajarkan kami untuk bereaksi cepat. Bagaimana tidak, waktu itu rencana menggunakan pesawat tidak ada sama sekali di benakku. Artinya, hitung – hitungannya adalah naik ekonomi atau nyambung – nyambung. Alternatif pertama langsung gugur, karena pada saat negosiasi dengan agen agar duit kembali penuh, waktu sudah menunjukan pukul 3 siang lebih. Artinya lagi, bus ekonomi manapun sudah berangkat beberapa saat yang lalu. Alternatif kedua yang bernasip sama akhirnya mengantarkan kami pada the last chance.

Sesampainya di Jakarta, kami turun di depan RS Harapan Kita. Naik mobil ke Kampung Rambutan kemudian ke Lebak bulus –sebelumnya sempat nyasar dulu– akhirnya kami tiba di warnet macan. Saat itu, orang yang dicari sedang tidak ditempat. Setelah meletakan barang bawaan, kami kemudian menuju warung nasi terdekat, memesan makanan yang ada tanpa berpiir tentang harga. Saat itu jam 11 malam lewat, perut ini sudah menjerit minta diisi karena memang belum makan seharian. Akhirnya terjadilah : tagihan kami menunjukan angka 80 ribu lebih..sudahlah, toh ini jatah 3 kali makan… Kembali ke warnet macan, kami langsung saja bebersih dan istirahat karena besoknya harus sudah siap dijemput Bos Otong jam 5 pagi karena kami berencana naik pesawat jam 7.

Senin, 12 Des 2005

Jam 4 pagi itu, aku dan jabek sudah siap tempur. Sambil menunggu Bos Otong dan tak lupa membangunkan anak – anak, aku sempat membuka astacala.org dan login dengan account jabek, menyampaikan kabar terbaru kami di fordis. Sedikit cemas juga, karena Bos Otong yang dari tadi di miss call ga ngangkat telp nya. AKhirnya, jam 6 kurang kami di jemput si Bos dengan mobil vioz baru nya itu…..cieeeee.

Tiba di sukarno Hatta jam 7 lewat, kami membagi tugas : Petong ke Mandala, Sapi dan aku ke Sriwijaya Air, Jabek – Ayis ke ATM untuk ambil uang cash. Saat itu penerbangan terdekat hanya jam 13.30 dengan sriwijaya Air (yang jam 7 baru saja take off..). Harga tiket sewaktu aku tanyakan adalah 330 ribu. Kami kemudian berembuk dulu, karena asumsi awal kami harganya kurang dari 250 ribu. Setelah deal –10 menit kemudian- aku memesan dan kaget, harga tiket tadi sudah menjadi 350 ribu..siaaaaal. Menurut mbak nya, harga ini naik tiap detik sesuai perkembangan pemesanan. Akhirnya kami pun pasrah dan memesaan 6 seat..hik hik hik

Karena jadwal penerbangan yang masih lama, kamipun di ajak ke grogol untuk sarapan oleh si bos, sementara beliau sendiri harus ke kantor sebentar untuk meeting…..Setelah sarapan, kami menunggu di trotoar sambil terbahak – bahak memikirkan kisah kami hingga hari ini. Jam 11.30 lewat yang ditunggu belum juga datang, padahal kami harus boarding pass maksimal jam 12.30. Sms pun dikirimkan..dan tak lama si bos pun nongol.

Di area parkir dan di dalam pesawat kami masih sempat berfose, mengabadikan momen langka ini…kapan – kapannya anak ASTACALA jalan naik pesawat???. Kami tiba di Bandara Sutan Taha jam 14.30. Oh ya, dari Sukarno Hatta kami bareng dengan Cholish, anak UPN Veteran Jogja yang akan ikut Temu Wicara. Dari bandara kami naik 2 kali angkot – style musiknya khas alias keras ngujubileh coy…- kemudian langsung menuju kampus Unja Telanaipura, karena menurut teman jabek kami kumpul di sana dulu. Ternyata disana kami disambut suasana sepi. Kami menuju sekretariat SIGINJAI, dan benar saja : kami hanya menemui 3 orang panitia. Setelah berkenalan sebentar, kami diberi tahu bahwa kami harusnya ke kampus Mendalau. Disanalah kami harus mendaftar kemudian diberangkat ke lokasi. Beruntung ada mobil pick up panitia yang memang berniat ke mendalau untuk mengantar beberapa barang. Akhirnya kami melaju dan tiba 10 menit kemudian kemudian langsung mengurus administrasi dll.

Karena keterlambatan ini, kami melewati pembukaan dan stadium general. Sambil menunggu keberangkatan ke lokasi masing –masing, kami makan dengan nasi bungkus yang diberi panitia. Kami berkenalan dengan kawan – kawan lain yang juga nongkrong di depan aula itu : dari Padang, Makassar, Jakarta, Lampung, dll. Kawan – kawan ITB saat itu juga sedang menunggu seorang teman yang berangkat dengan penerbangan jam 15.30.

Sore itu, peserta setiap divisi sempat briefing dengan panitia. Kami (divisi arum jeram, caving dan panjat tebing) diberitahu untuk sudah bersiap – siap ba’da magrib ini untuk berangkat – dengan bus carter ekonomi – ke Merangin, sementara itu divisi gunung hutan (yang jumlah nya 40 orang lebih / sejumlah 3 divisi lain) di bus terpisah (AC coy…..bikin sirik deeeh).

Kami tiba di Merangin jam 2.30 pagi. Lelah dan mengantuk, kami segera bebersih dan instalasi tempat bobok di aula dinas pariwisata Kabupaten Mendalau itu. Beberapa kawan juga tampak memasang hammock. Sial bagi petong, ketika membuka carrier nya ia menemukan sebuah kipas angin kecil putih ter packing dengan rapi di dalamnya. Sempat shock sebentar, ia akhirnya hati – hati memindahkan barang – barang itu ke carrier sapi supaya tidak terlihat yang lain sewaktu mengambil perlengkapan tidur. AKu teringat pesan Momesh sebelum berangkat ke pool (sebelumnya aku ga ngerti maksudnya), “Dek, jagain Petong ya…nanti mungkin mentalnya kena di sana. Pokoknya kamu jagain yah..”…gilaaaaaaaa

Selasa, 13 Des 2005

Setelah terobati tidur cukup nyenyak, kami segera mandi atau sekedar cuci muka. Pagi ini akan dilakukan upacara pelepasan dengan Bupati Merangin. Gladi bersih yang dipimpin oleh staf pemda cukup kacau, karena anak – anak ogah – ogahan untuk nyanyi lagu Indonesia Raya (kebayang false nya gimana?????). Dengan frustasi, si bapak berkata “Klo di cina nyanyi lagu kebangsaan sambil main – main bisa dihukum gantung..”. Tak lama kemudian, terdengar celetukan kawan dibelakang “Klo di cina, ngomong sambil kumis goyang – goyang bisa dihukum gantung pak…!!! ”. Si Bapak yang memang punya kumis style Hitler itu langsung pergi dengan muka merah. Lama juga menunggu pimpinan upacara kita, yang oleh kawan – kawan dipanggil Bupati Cina. Kami sempat sarapan dan akhirnya jam 10.30 datang juga Wakil Bupati menggantikan, upacara pun dilangsungkan. Dengan serius, kawan – kawan bernyanyi lagu Indonesia Raya (beda banget dengan gladi bersihnya!!!! anak MAPALA getoo lho….). Upacara tidak berlangsung lama dan diakhiri dengan foto bersama.

Sambil menunggu angkutan datang, kami berfose dulu di tepi sungai batang merangin yang ada di depan aula itu. Setelah mobil jeep team Caving datang, kami pun berpamitan dengan kawan – kawan tebing dan sungai. Di mobil yang ukurannya mirip Rover nya Gapoeng itu, kami berhimpit – himpitan 13 orang bersama bahan makanan. Kami memutuskan untuk makan siang nanti, karena baru saja menyantap sarapan yang terlambat datang.

Jalan menuju Sengayau sungguh menakjubkan. Bagaimana tidak, tiap saat kami diguncang oleh lubang yang menganga hingga salah seorang kawan dari jogja sempat nyeletuk “Klo nih jalan disamaain kayak sungai, mungkin udah sama kayak Colorado neh….”. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 6 jam (ditambah aksi dorong mobil juga…..). Mobil yang kami tumpangi ini adalah mobil Departemen Kehutanan, dan sopirnya yang juga Ranger Taman Nasional Gunung Kerinci itu terlihat sudah sangat mengenal mobil yang digunakan. Namun, karena memang medan yang terlalu sulit akhirnya sang sopir menyerah (setelah melewati Dusun Dalam) dan kami pun pindah ke truk pak Sahar yang kebetulan dibelakang rombongan kami. Truk ini mengangkut batu sungai untuk menutup lobang di jalan. Dari yang penulis lihat, didalam truk dijumpai beberapa mesin pemotong kayu, sehingga kemungkinan juga digunakan untuk mengangkut kayu tebangan dari hutan.

Di tengah perjalanan kami berhenti, karena pemiliki truk ingin mengambil batu di sungai. Kami pun menggunakan kesempatan ini untuk makan siang di tepi sungai (jalan yang kami lalui memang sejajar dengan sungai). Waktu itu hari menunjukan jam 3 siang lebih. Selama perjalanan, kami menggunakan kesempatan ini untuk saling mengenal. Di rombongan kami ada 10 peserta (5 putri, 5 putra….pas banget yaaa) : Abon (Mapa Gundar); Jeffry yang kuliah di UNSOED (ASTADECA); Datuak – anak gunung gutan yang pengen nyoba Caving (PAKSI ARGA); Catur yang kami panggil babie romeo, karena memang mirip (Wanapala UNAIR); Berry (KMPA Ganesha); Sanny yang kami pangil “Mpok” karena mirip mpok nya Alhm. Benjamin (MAPAGAMA); Getol (JAYAGIRI); Bebek – seorang kawan yang setahun lalu sempat ngajarin aku, jabek dan kupret latihan SRT di jogja (MAPALA UNISI), terakhir aku dan onie. Sedangkan panitia yang mengiringi : Robi (Koordinator), Rika (Sekretaris) dan Sri (Bendahara).

Oh ya, di desa kami sempat diberi jajanan khas oleh penduduk yang bentuknya seperti dodol namun lebih keras dan pecah dimulut. Setiba nya di jambi kelak, aku baru mengetahui bahwa makanan ini hanya ada di Sengayau saja. Aku menyesal juga tidak sempat membawa nya. Kami tiba di basecamp jam 6 sore lebih (lokasi tepat setelah melewati jembatan permanen ke 3). Sesampainya di sana, aku bergegas sholat zuhur- ashar dulu walaupun ga yakin belum magrib. Sesudahnya kami instalasi dan bebersih.

Di basecamp sudah ada team pendarat : Eka (KPA Elang Gunung), Fahmi (SWAT Stikom), Bowo (KPA Pamalayu), Pahlevi (Siginjai) dan instruktur kami : Jibrik dan Ben (MAKOPALA Budi Luhur). Malam itu hanya diisi ngariung dengan instruktur yang berasal dari Jakarta (Ben dan Jibrik). Kedua nya cukup asyik karena lucu, dan cerita kami berlanjut ke kisah eksplorasi yang diselingi pertanyaan – pertanyaan ringan seputar alat / kasus yang ditemui.

*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom

To be continue..





Ada tukang nyolong di sekre ?*

24 09 2006
Hanya mencoba mengajukan wacana saat ini, tentang alat sekretariat yang kadang ga nongol saat dicari, seperti tentang golok tebas tramontina yang berkurang atau beberapa perkakas yang tak tampak atau rescooker yang menghilang saat perut lapar meronta minta diisi nasi atau buku koleksi perpustakaan ASTACALA yang beberapanya tidak ditemukan saat ingin dibaca atau sang pemiliki yang dulu pernah menghibahkan nya ke sekre ingin membolak – balik halaman nya lagi atau duit DU yang kurang hitungan untungnya sewaktu di cross cek dengan fakta di laci duit sekre.

Adalah kewajaran ketika segala bentuk kekecewaan atas hal – hal diatas menguap ke udara. Adalah kewajaran juga ketika segala bentuk pertanyaan atas fakta – fakta ini diucapkan oleh lisan.

Namun sebelum segala bentuk tuduhan terucap (ada yang nyolon g?? atau ada yang ngoleksi buku untuk dibawa ke kos ?? atau…atau..atau..), sudilah kiranya kita sedikit menganalisa atas sistem yang ada. Suatu contoh kasus saja untuk buku koleksi di perpustakaan misalnya, perlu kita sadari bahwa saat ini akses orang umum masuk ke sekretariat sangat luas dan banyak, tidak seperti dulu ketika yang dapat masuk ke sekre hanya anak – anak A’ers saja atau benar – benar yang sudah kenal dekat. Saat ini, semua orang bahkan yang ingin numpang cuci kaki hingga berwudlu bisa masuk sekre. Ditambah lagi fakta buku – buku sekre ini setau saya terakhir didata setelah MUSANG (musyawarah anggota-red) hampir 2 tahun lalu atau seringnya oknum yang selesai membaca buku tidak mengembalikan ke tempat semula. Dari sini saja sudah dapat kita simpulkan bahwa banyak kemungkinan atas hilang atau tidak tampak nya buku koleksi perpustakaan kita. Ketika terucap kata bermakna “anak sekre yang membaca buku itu ke kos untuk jadi koleksi pribadi”, saya pikir adalah sebuah tuduhan tak beralasan dan tanpa bukti yang dikemukakan oleh kekesalan tak jelas.

Atau ketika ketika keuntungan duit DU (Dana Usaha-red) tidak sesuai dengan hitungan diatas kertas. Juga bukanlah suatu solusi ketika kita dengan mudahnya melempar wacana adanya penggelapan uang oleh oknum tertentu baik dalam bentuk tidak bayar minuman atau mengambil uang di laci untuk bayar makan oleh oknum tersebut. Atau ketika rescooker nasi tidak tampak, maka segera saja ada wacana ada oknum sekre yang membawa ke kos (yang padahal setelah dicari lebih lanjut ditemukan di laci dalam dapur !!)

Tuduhan – tuduhan seperti ini -yang ketika terus diungkapkan- menurut saya hanya akan menimbulkan atmosfir ketidak nyamanan atau bahkan ketika terus berlanjut akan menyebabkan meluasnya fakta adanya iklim tidak percaya terhadap kawan – kawan di sekre.

Coba saja analisa, bagaimana rasanya klo lo tidur n nongkrong di sekre, ninggalin kamar kosan yang nyaman…trus tiba – tiba ada barang yang ga ketemu n lo dituduh ngambil…enak ga coy ??

Menjadi jelas bagi saya, ini tidak hanya masalah buku ga ketemu atau rescooker ga keliatan atau pisau dapur berkurang atau cangkul tak tampak saja, namun sudah menjadi masalah minimnya kredibilitas kepercayaan terhadap kawan – kawan yang saat ini nongkrong di sekre. Karena intinya bukan bagaimana memperbaiki sistem tapi siapa.

Entahlah apakah analisa saya terlalu sensitif saja, namun kecenderungan ini sudah saya rasakan beberapa bulan lalu dan terus terang mulai mengganggu. Coba saja kalau anda dituduh nyolong buku sama saudara sendiri ? rasanya ga enak bung !! Jika memang masih konsep persaudaraan yang dikembangkan di organisasi ini, saya pikir menjadi bijak bagi kita untuk merumuskan bersama bagaimana menciptakan sistem yang lebih sehat agar alat – alat sekre kita diatur penggunaannya, apakah pada “cara dan media penyimpanan nya” atau “mekanisme pemakaiaannya”. Sekali lagi bukan mencari tersangka untuk membebankan kekesalan yang timbul saja.

Salam
-EnamDuaKabutFajar-

NB:
Tulisan ini silahkan ditanggapi. Afwan jika tidak berkenan. viva ASTACALA

* Suatu bentuk kritik terhadap salah satu dinamika di sekretariat ASTACALA. Tulisan ini tersedia di Forum Diskusi website www.astacala.org, Senin 14 Agustus 2006.





How Much DU Give Us Income?

22 09 2006
Beberapa saat yang lalu, seakan kegelisahan dengan ketidak jelasan makna DU (Baca : Dana Usaha-red) memaksa munculnya sedikit aksi untuk segera menuntaskan sedikit dari banyak masalah yang ada.

Begini bung, biarkan saya mengingatkan ingatan kita lagi seperti apa strategisnya posisi DU ASTACALA dari sisi finansial saja. Mengapa saya katakan dari “sisi finansial saja”? karena sesungguhnya banyak hal strategis lain yang dapat kita lihat dari peran DU, salah satunya melihat siapa A’ers yang memang peduli dan yang tidak peduli. Tapi, saat ini kita tinggalkan saja subjek itu, karena akan susah menemukan ujung nya.

Ok, baiklah kita mulai. Dari sisi transaksi per 2 minggu, dalam laci DU yang tak seberapa besar itu bisa berputar uang kurang lebih 3,7 juta….Wowww. Dari semua itu, ada pengeluaran untuk membeli produkyaitu kurang lebih sebesar 2 juta. Nah, jika kita kurangi maka bisa kita ketahui bahwa keuntungan DU setiap 2 minggu nya berkisar pada angka 1,7 juta bung !!!

Bukan angka yang kecil, khususnya untuk saya..entahlah untuk yang lain. Karena dari pengalaman saya hunting harga alat paling murah untuk menambah inventaris alat sekre beberapa lalu, bisa saya kalkulasikan itu untuk membeli beberapa friend lagi, atau tali karmantel lagi, atau sit harness untuk climber ASTACALA, atau helm / boom untuk caver ASTACALA, atau…atau…atau…atau…

Eits..tunggu dulu, masih ada lagi, DU ga mungkin tutup bukan? Jadi dari 1,7 juta itu perlu disisihkan beberapa rupiahnya untuk memulai usaha kecil ini agar ia bisa memutar uang lagi. Nah, dari kalkulasi saya, beberapa rupiah yang kita sebut saja dengan MODAL TETAP itu bisa berkisar pada angka 1 juta. Bayangkan saja bung, dengan 2 lemari kulkas dan beberapa kotak makanan itu bisa menampung produk siap jual seharga 1 juta !!!

Nah saat ini, setelah membaca paparan saya saja, saya yakin anda pasti gregetan. Karena jumlah itu tidak lah sedikit, karena dengan jumlah sedemikian hingga itu anak A’ers tak perlu lagi beralasan ga bisa jalan karena ga ada duit atau alat ga ada, toh organisasinya cukup untuk memberi pinjaman cair agar yang bersangkutan bisa jalan atau membeli alat baru.

Apalagi bung, bagi kawan – kawan yang setiap hari mengangkat krat demi krat botol – botol itu dan membersihkannya ke dalam kulkas agar hari itu ada beberapa mulut lagi yang bisa minum dari botolnya. Lelah dan bosan akan rutinitas itu tak terasakan karena 1 alasan, setidaknya bagi saya pribadi : MUDAH – MUDAHAN ADIK – ADIK GUA BEBERAPA TAHUN LAGI BISA MENIKMATI HASILNYA. Thats all

Saat ini, kegelisahan itu seharusnya segera saja musnah. Setiap manusia yang merasa dirinya nyaman untuk nongkrong di sekre A harusnya cukup sadar untuk memasukan uang dalam laci dan menyimpannya dalam lemari uang agar jumlahnya tak terlalu banyak hingga mencegah tindakan rampok, “pinjam dulu bentar”, dll. Pun juga mengisi kembali 2 kulkas di depan pintu kita, agar setiap hari tetap ada botol yang menanti untuk dijual.

Repot??
memang.
Untuk bahagia atau berhasil itu memang repot.
Untuk memetik buah itu memang harus menanam dulu.
Tak ada hadiah untuk sebuah kemalasan.
Saya yakin, kawan2 yang lulus PDA punya setidaknya 1 tujuan dari byk tujuannya lain: UNTUK BELAJAR SEBANYAK2NYA DARI ALAM dan MANUSIA LAIN.
Inilah salah satu pembelajaran itu.

nb:
Untuk saudaraku yang pernah becerita “Sungguh menyakitkan rasanya, ketika capek masukin botol ke DU atau kerja di kebun belakang atau bersihkan alat, tapi yang lain malah nongkrong2 atau nonton TV seakan ga peduli sama sekali.”. Yakinlah, untuk setiap usahamu itu ada maknanya. Mungkin saja, ketika kamu tak ada meraka juga berjerih payah seperti mu. Jika tidak, maka percayalah diantara keringat & lelah mu itu pasti ada harga nya. Toh kita disini untuk belajar sebanyak2nya bukan ? kenapa tidak coba beri saja yang terbaik untuk ASTACALA sebanyak dan seikhlas yang kamu bisa?

viva ASTACALA

Sekre ASTACALAKU – 22 Sept 2006, 15.30 -
-EnamDua Kabut Fajar-

(Tulisan ini juga tersedia di Forum Diskusi www.astacala.org)





Retorika yang tak kan habis..

20 09 2006

Semakin lama semakin banyak yang tidak jelas bagiku
mungkin memang kapasitas otak ini yang tak sanggub
menampung hal – hal yang tak logis
dan kasat mata..

Entah apa arti esensi bagi kita
yang memberi sedikit makna dalam proses kaderisasi
Entah apa pula kaderisasi ini??
Ah, sudah lah jangna ngomong yang ribet – ribet lu !!!”
Itulah salah satu teriakan dari sisi otak ku yang lain
Tapi pertanyaan ini tetap terngiang2…
Aneh….absud…kembali lagi, tak ada yang jelas!!

WAGU !!!
Apapun itu..aneh jika kita memberi arti sesuatu dan menganggabnya penting tapi kita sendiri tak tau pa makna sebenarnya
Kenapa ini harus ku lakukan?
Kenapa pula tidak kulakukan?
Mengapa itu harus kuperjuangkan?
Mengapa pula itu harus kutinggalkan?

Kembali pertanyaan ini tetap terngiang2…
Bagaimana tidak…
Aku heran..apa arti sebuah pendidikan demi pendidikan
jika kita sendiri tak tau apa tujuan mendidik itu
Bagaimana tidak..
Ketika anggota muda yang mau sidang malah tidak ingat dengan jadwal sidang nya sendiri..

Eits…, katanya mo ada sidang ANGOOTA MUDA ASTACALA ya MINGGU ini????
Kok gw kagak tau ya???
Padahal cuma mangkir dari sekre klo mo mandi atau boker di kos aja !!!!
Aneh..

Semakin lama semakin banyak pertanyaan demi pertanyaan tak terjawab
di sini..
di tempat ini…
saat ini..
Kita suka dengan ketenanganan yang absud…
Berpura – pura tidak ada masalah…
Semua baik – baik saja….
Berlindung dibalik kalimat “Biarkan semua apa adanya..”
Dan menyambut datangnya gelombang matinya diskusi dan inisiatif.

Memulai dari yang kecil akan membuat nya jadi bukit.
Namun ketika hal kecil tak pernah disatukan ia akan selamanya menjadi hal kecil…..tak mungkin ia akan menjadi gunung yang menjulang tinggi!!!

Entah mengapa..dari dulu aku lebih nyaman berada dalam panas perdebatan dari pada berpura – pura merasakan kesejukan : every things is ok tapi sebenarnya tak ada yang ok.

Memang gus dur sering katakan “Itu aja kok repot!!”
Sebenarnya tergantung dari mana pula kita pandang repot itu
Lalu ada yang teriak…”Klo ga mau repot mending tidur aja dirumah sambil naik kuda terserah juga !!”
ha..ha..hal….kena lu…
Mau ikut organisasi kok ga mau repot…
Mau ngurus anak orang kok ga mau pusing…

Aneh…absurd..tak ada yang jelas…
Kembali lagi kata – kata itu datang “Biarkan semua apa adanya..

Sekre ASTACALAKU
-EnamDua Kabut Fajar-

(Tulisan ini juga tersedia di Forum Diskusi www.astacala.org)





My First Evacuation

4 08 2006
Senin – 23 jan 2006, pukul 11 pagi, teriakan “ASTACALA !!!” menggema di lembahan kaki gunung gigiran Tangkuban Perahu. Camp 1 Gunung Hutan. seorang siswa – Prita – terkena golok di telapak tangan. Kondisi tandon jari telunjuk putus dan mengenai sepanjang 4 tandon jari lain. Waktu itu materi Man To Man.

Kondisi yang hujan membuat jalan begitu licin, korban menggunakan golok untuk membantu turun. Ketika terpeleset ia reflek berpegangan pada golok dan langsung merosot ke bawah.
Beruntung api saat itu belum kami matikan. Swing team yang stand by saat itu Adek-taka-jabek. Oni dan ayis yang mendampingi pemateri Bolot-Gejor saat itu sudah bersama kami.

Ketika mendengar teriakan
ASTACALA !!!berkali -kali, sontak aku dan taka langsung berlari ke arah sumber suara. Belum sepernuhnya sadar apa yang terjadi, aku melihat korban berdiri memegangi tangan nya masih menggendong carrier. Gejor yang memang tak kuat melihat darah yang memang mengucur seperti air sempat shock dan limbung. Ia langsung ditangani taka.

Setelah kuperban seadanya, ku bawa ia ke tempat kami. Setelah mengganti baju dengan baju hangat, taka meminta aku dan bolot segera turun untujk evakuasi. Kami tidak bawa carrier, hanya ransel berisi perlengkapan seadanya. Perjalanan ke desa terdekat (Nagrok) kurang dari 2 jam, sepanjang jalan prita kadang menangis, entah karena menahan sakit atau meninggalkan PENDAS atau kedua nya. Saat itu jalan itu, aku sempat menangis juga, mungkin karena melihat jelas semangat nya untuk bertahan.

Seperti dugaan, puskesmas di Cipulus sudah tutup. Beruntung ada mobil lewat, yang langsung saja ku stop. Kami diantar smp Puskesmas Wanayasa. Disana ia sempat diperiksa dokter – beruntung gratis- dan kami dirujuk ke RS Bayu Asih karena luka yang parah. Kondisi prita saat itu sudah lemas, karena jalan yang jauh dan memang kami belum makan siang. Waktu itu pukul 3 lewat, aku hanya mampu membeli roti coklat dan meminta air teh hangat dari penjual mie untuk kuberikan padanya.

Dari wanayasa, kami carter angkot 65rb setelah memohon2 sama sopirnya untuk kurang dari 80rb. (duit yang ada hanya 80rb an). Di RS, prita sempat di jahit dan di ronsen. Dokter jaga memberi merekonendasikan untuk ke spesialis tulang sore ini atau rawat inap dulu karena dikternya tidak ditempat. Kami memutuskan untuk ditangani secepatnya. tagihan RS saat itu tidak mampu kami bayar, hingga aku stand by di YGD sammbil menunggu momesh, Bolot dan prita ke Dokter.

Momesh datang dengan kak Dedi jam 8 malam, dan kami segera menyusul ke klinik. Malam itu juga, Prita dioperasi. Kami menunggu orang tua Prita yang tiba jam 11 malam itu. Setelah ngobrol sebentar, meraka langsung ke jakarta dan kami segera berangkat ke bandung. waktu itu jam 12.30 malam.

AKu teringat, prita masih memikirkan PENDAS dan kawan – kawan yang ditinggalkannya. Waktu ku tanyakan padanya apakah ada pesan untuk kawan – kawan , ia menajawab : “Bilang maaf sama pipin dan vio, prita ga bisa nemenin pendas bareng kalian. trus tetap semangat sampai akhir.”

siang ini, aku, bolot serta mbak doni menyusul ke Ujung Aspal, basecamp terakhir GH PENDAS 14. Hanya 12 jam waktu evaluasi, tapi mengajarkan ku banyak hal.


Kesiswaan PDA XIV





Dan waktu pasti akan selalu berlalu

4 08 2006

Hanya mencoba membayangkan

seperti apa rumah kecil ini nanti?
atau pepohonan rimbun yang meneduhi nya?
dan suasana hangat dibalut nada dari winamp nya kelak?

Bagaimanakah adik – adik ku saat ku datang beberapa tahun lagi?
Masihkah kita akan mengerumuni sedikit bungkus nasi di lantai itu?
atau tertawa saat koprol mewarnai perjalanan pendidikan kita?
atau kata – kata makian saat kentut tak tertahankan di hembuskan?

Ah, pasti waktu akan berlalu
meninggalkan sejuta kenangan
dan generasi – generasi nya
serta kesepakatan – kesepakatan sederhana kita
di sini..
ditempat ini..
saat ini.

Tapi saat ini kita muda
dan kita punya segala nya !!!

Hmm..ngomong apa aku nih?
Cuma sekedar berbagi saja.Begini bung, sambil engkau menghirup cangkir kopi atau sigaretmu…biarkan ku ajak engkau menganalisa beberapa hal. Tahun ini, biaya pendidikan masuk STTTelkom +- 13 juta an, dan tak kurang setiap semester orang tua mahasiswa membayar +- 4,5 jt hingga 4 jt per semester..Wooowww, bukan jumlah yang sediit…setidak nya begitulah menurut ukuran tingkat ekonomi ku. Eits, itu belum cukup…ditambah lagi +- puluhan mahasiswa yang masuk dengan jalur hubungan industri (baca : tanpa tes) yang dapat masuk STTTelkom asal orang tuanya mampu membayat +- 70 jt…Hmm, belum uang kos-kosan yang semakin naik mengikuti tingkat ekonomi konsumen dan makin sedikitnya quota asrama STTTelkom !!!

Lengkap sudah….dari hal diatas, wajarkah ketika aku katakan bahwa STTTelkom saat ini sangat jauh berbeda dengan STTTelkom jaman om gendut…om gepeng….om kebo….om balok…dan om om lain nya…?

ketika biaya kuliah menjadi melambung tinggi,
ketika menimati bumi ilahi bisa dicapai hanya dengan membayar sejumlah rupiah pada outbond2 training, tour guide dan berbagai macam bentuk organisasi bisnis di luar sama..maka menjadi jelas bagi ku bahwa mayoritas mahasiswa di kampus ini akan berpikir ulang untuk meninggalkan waktu belajar nya di kos bahkan waktu kuliah untuk menikmati hangatnya api unggun…atau derasnya andrenalin saat melewati jeram demi jeram sungai citarum….atau cepatnya detak jantung saat meniti ketinggian tebing citatah…atau…atau…atau…

wajarkah ketika aku katakan bahwa ASTACALA kedepan pasti akan berbeda dengna astacala jaman om gendut…om gepeng….om kebo….om balok…dan om om lain nya…?

suka atau tidak suka inilah fakta nya bung..
ini lah fakta nya bahwa, semakin lama waktu untuk berlatih semua cabang ilmu kepecinta alaman di organisasi ini akan makin sedikit.
inilah fakta nya bahwa, akan begitu sulit menemukan kaum proletar di kampus ini diantara lautan anak – anak borjuis..
inilah fakta nya bahwa, uang dan waktu adalah hal yang menjadi penentu

wajarkah ketika aku katakan bahwa PENDAS ASTACALA kedepan pasti akan berbeda dengan PENDAS ASTACALA jaman honje…api….telapak bara…badai gunung…atau kabut fajar…?

suka atau tidak suka inilah fakta nya bung..
waktu pasti akan menggilas kita yang melawan nya

suka atau tidak suka mungkin memang kesepakatan – kesepakatan sederhana kita akan melalui tahap pemakluman hingga batas tertentu

suka atau tidak suka mungkin memang jumlah hari pendidikan dasar jauh lebih sedikit dari jumlah siswa yang mengikuti nya

suka atau tidak suka mungkin kita harus mengarahkan dan membgi2 anggota muda untuk MENGUASAI beberapa bidang ilmu kepecinta alaman dari pada mendapatkan semua anggota muda yang TAU SEMUA tapi TAK SATU PUN YANG DIKUASAI NYA.

suka atau tidak suka inilah fakta nya bung..
waktu pasti akan menggilas kita yang melawan nya…

mungkin memang kita harus berkompromi dengan nya atas kesepakatan – kesepakatan kita dulu.

NB :
tulisan ini dibuat untuk menyambut +-3 bulan lagi MUSANG ASTACALA. juga sebagai bentuk masukan untuk badan diklat saat ini dan kepengurusan nanti. hanya sekedar mengingatkan bahwa waktu terus berlalu begitu juga perputaran jaman. suka atau tidak suka, kita harus berubah..sekarang atau tidak sama sekali !!!

viva ASTACALA
-EnamDuaKabutFajar-