Catatan – catatan terakhir

23 07 2009
Aku teringat, dulu sekali, dan..pun kembali saat ini, kita semua pernah sepakat, pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi rangkaian rutinitas yang tak syarat arti. Pendidikan kita tak boleh dan tak akan pernah hanya menjadi retorika yang memuakan. Pendidikan kita harus menjadi momen untuk kita berbenah, menjadi saat untuk kita introspeksi diri.

Sebelum kita membantu untuk membuka pintu kesempatan bagi lebih banyak jiwa muda ini menjadi ASTACALA dan mengenalkan tentang hakekatnya, pada saat itulah selambat – lambatnya kita membuka pintu kesempatan untuk masing – masing diri ini, “sudahkah kita menjadi benar – benar seorang ASTACALA ?”

Sebelum kita berbagi pengetahuan dengan jiwa – jiwa yang membakar semangat ini tentang misteri tanpa batas alam, pada saat itulah saat yang tepat untuk kita bertanya – tanya pada diri ini, “Sudahkah kita cukup berendah hati untuk berkawan dengan alam ?”

Kawan, berhentilah berbicara tentang sesuatu yang absurd. Kemarilah, hiruplah secangkir kopi hangat yang ini bersamaku. coba kita dengarkan sesaat bunyi sayup suara malam kerimbunan hutan ini, mungkin diantara bisikan nya, ada suara hati yang bisa kita dengar. Tentang cerita yang tak ingin kau dan aku katakan dalam lisan. Taukah kau, betapa muaknya aku dengan semua retorika rutinitas ini ? yang membuat kita tak mampu berbicara lagi satu sama lain dengan bahasa hati.

Sahabat, duduklah disini bersamaku, didepan perapian ini yang tadi kita buat ditengah menggigilnya tubuh kita diterjang badai tadi. Mari, kita nikmati hangat yang akan segera berakhir ini. karena, sebentar lagi cakrawala segera menjemput kegelapan pekat malam dan menggantikannya dengan hangat mentari pagi.

Dan saudaraku, percayalah padaku, karena saat ini puncak dinginnya malam telah datang, yang menandakan sebentar lagi langit malam ini akan pergi. Mari kita nikmati kebersamaan untuk merenungi misteri hidup, karena tentu adalah suatu kepastian, jiwa kita tak akan selamanya miliki kesempatan.

Catatan terakhir sebelum aku beranjak, untuk ASTACALA.

Bandung, Desember 2008
-Enam Dua-





Meruya -Potret buram pertanahan Indonesia- Bag 3

25 05 2007

Penundaan Eksekusi

Karena ada perlawanan gugatan dari warga dan dari Pemda Provinsi DKI Jakarta itulah, maka Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) rencana eksekusi tanah di Meruya Selatan yang menjadi sengketa antar warga dengan PT. Porta Nigra pada 21 Mei 2007 ditunda. Hal ini diungkap Ketua PN Jakbar, Haryanto, di Jakarta, Senin (14/5).

Penundaan ini dilakukan hingga gugatan warga memiliki putusan hukum yang sah dan mengikat. Sedangkan adanya penundaan tersebut yang berarti keputusan Mahkamah Agung (MA) yang telah memenangkan PT. Porta Nigra tidak berlaku lagi. Haryanto mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan terlebih dahulu karena masih banyak yang harus dipelajari. Dia juga mengakui, PN Jakbar telah menerima surat dari kantor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang menyebutkan, Sejak tahun 1993 data – data pajak dan girik sudah tidak administrasikan lagi, serta berdasarkan surat edaran Direktorat Jenderal Pajak No. 15/1993 dan 32/1993, PBB sudah dilarang untuk melakukan pelayanan terhadap girik – girik yang terdapat di dalam gugatan PT. Porta Nigra. “Artinya girik – girik tersebut sudah dianggap tidak ada.”

Sementara itu, Direktur Utama PT Portanigra, Benny Purwanto Rachmad, Senin (14/5) sore, dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR mengatakan, warga Meruya Selatan yang memiliki sertifikat tanah sebelum 1997 akan dibebaskan dari eksekusi yang bakal dilakukan oleh PT Portanigra. “Bagi pemilik sertifikat setelah 1997, kita minta supaya bersama-sama menggugat Pemda, kenapa mengeluarkan sertifikat-sertifikat itu setelah berita sita jaminan keluar,” ucapnya.


Pada raker dengan Komisi II, kuasa hukum PT Portanigra, Yan Djuanda Saputra mengatakan, kliennya sendiri hanya akan mengeksekusi 15 hektare lahan kosong. “Tak benar kami akan mengeksekusi perumahan DPR, Universitas Mercu Buana, gereja, serta sekolah. Lahan 15 hektare itu hanya meliputi Kavling DKI dan Kavling BRI,” katanya.


Namun, peta yang digunakan PT Portanigra untuk menunjukkan lahan 15 hektare yang disebut lahan kosong, dipertanyakan oleh Komisi II, lantaran bukan peta resmi. Oleh karena itu, Komisi II meminta Portanigra memberikan peta asli lahan yang telah dibebaskannya.


What Next ??

Masalah sengketa Meruya Selatan memang menimbulkan rasa masygul bagi siapapun yang masih berharap pada tegaknya keadilan di negeri ini. Dukungan dari berbagai pihak kepada warga Meruya Selatan setidaknya telah menunjukkan adanya solidaritas kepada warga agar tetap memperoleh haknya terhadap tanah yang dimilikinya secara sah yang diwakili oleh sebuah sertifikat yang kekuatannya didukung Undang-undang bahkan Undang-undang Dasar negeri ini.


Sengketa Meruya memberikan pertanda pada kita betapa krusialnya persoalan pertanahan temasuk di Ibu kota Jakarta ini. Pemerintah tentu perlu memberikan jalan tengah yang mengakomodir secara bijak kepentingan berbagai pihak yang terlibat. Untuk kepastian hukum dan wujud keberpihakan kepada rakyat, sertifikat warga Meruya itu tidak usah diutak-atik. Namun begitu, Portanigra pun harus mendapatkan hak mereka kembali dalam bentuk kompensasi sebesar tanahnya yang hilang. Tanggung jawab kompensasi itu ada pada negara, yang telah berbuat kesalahan mengeluarkan dua kepemilikan diatas satu tanah.

Jika eksekusi ini tetap dilaksanakan akan berdampak pada situasi ketidakpastian hukum karena amburadulnya manajemen pemerintahan dan tidak tertibnya administrasi pertanahan. Hal ini tentu akan mempengaruhi iklim usaha, karena pelaku usaha akan merasa was-was untuk mendirikan usaha di Indonesia karena situasi hukum yang tidak pasti. Selain itu, potensi munculnya gejolak sosial dalam masyarakat akan tinggi dalam situasi yang penuh ketidakpastian hukum. Lembaga hukum seperti PN dan MA akan dipandang sebagai pihak yang tidak mempunyai kewibawaan hukum karena tidak mampu memberikan jaminan kepastian hukum. Selanjutnya pada pemerintah akan kehilangan kepercayaan dari rakyannya sendiri.

Belajar dari Meruya Selatan, perlu adanya pembenahan sistem manajemen dan administrasi dari lembaga-lembaga pemerintah yang terlibat dalam kasus sengketa tanah Meruya Selatan ini. Sudah saatnya pihak Pemda menata kembali paradigma mental jajarannya agar tak menjadikan urusan tanah sebagai peluang untuk mencari keuntungan pribadi di atas penderitaan rakyat banyak. Sebuah sistem yang transparan dalam proses perizinan pertanahan menjadi keharusan jika kita ingin membenahi masalah pertanahan di negri ini

* sumber

www.golkar.or.id
www.tempointeraktif.com
www.republika.co.id
www.politikindonesia.com
www.adang-dani.com
www.vhrmedia.net





MERUYA – Potret buram pertanahan Indonesia – Bag 1

25 05 2007

Kasus sengketa tanah Meruya tak lain adalah masalah pertanahan di Meruya Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat tiba-tiba menghentak perhatian publik paska keluarnya putusan Mahkamah Agung yang menyatakan tanah seluas 44 hektar di wilayah Meruya sebagai milik yang sah dari PT Porta Nigra. Sebagian dari tanah seluas 78 hektar ini (10 RW) yang dihuni ribuan penduduk dengan berbagai bangunan di atasnya -termasuk perumahan DPR 3, komplek Dewan Pertimbangan Agung ( DPA ), Komplek unilever, perumahan karyawan Walikota Jakbar, Kavling DKI Meruya, Meruya Residence, Taman Kebon Jeruk, Perumahan Mawar, Kavling BRI, Grand Villa, menara stasiun televisi ANTEVE, menara stasiun televisi LATIVI, sebidang tanah milik stasiun televisi METRO TEVE dan gedung Cek dan Ricek, dll –akan dieksekusi sesuai dengan keputusan hukum yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung.

Kilas Balik

Konon dikisahkan pada rentang waktu hingga tahun 1960-an, daerah Meruya Udik –kini Meruya Selatan- adalah area persawahan yang dikelola oleh penduduk sekitar. Namun, seiring perjalanan waktu -seperti daerah pinggiran lainnya di Ibukota negara ini- daerah tersebut perlahan berubah menjadi area pemukiman warga menengah keatas. Di area seluas 78 hektar ini terhampar perumahan, aset pemerintah dan swasta dan berbagai fasilitas pendukung kehidupan rakyat urban lain.

Perubahan dasyat Meruya sendiri sebenarnya dimulai sejak 1970-an. Pada 1972, Haji Djuhri bin Haji Geni, Yahya bin Haji Geni, dan Muhammad Yatim Tugono membeli membeli tanah-tanah girik dari warga Meruya Udik yang luasnya mencapai luas 78 hektare. Kemudian pada rentang tahun 1972-1973, Djuhri –yang kala itu sebagai koordinator penjualan tanah dengan jabatan resmi pegawai kantor Kelurahan Meruya Udik- menjualnya kepada PT Portanigra, -sebuah perusahaan properti milik Beny Rachmat- seluas 44 hektar Kelurahan Meruya Selatan seharga Rp. 300 per meter persegi. Proses pembebasan tanah tersebut diketahui dan disetujui Lurah Meruya Udik, Asmat bin Siming dan penggantinya (1973).

Masalah muncul ketika PT. Portanigra menuduh tiga mandor itu membuat girik palsu dan menjual lagi tanah tersebut ke beberapa pihak. Kasus pemalsuan girik ini ditemukan oleh Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Pusat pimpinan Laksamana Sudomo pada 1978. Dalam proses pemeriksaan, 3 mandor tadi mengaku menjual kembali girik tanah yang telah dibebaskan tersebut kepada enam pihak dengan menggunakan surat-surat palsu yaitu, Pemprov DKI Jakarta seluas 15 hektare untuk proyek lintas Tomang seluas 15 hektare seharga Rp. 200 rupiah per meter persegi pada tahun 1974, PT Labrata seluas 4 hektare, PT Intercone Enterprize 2 hektare (Perumahan mewah Taman Kebon Jeruk seluas 150 Hektar yang juga meliputi area Meruya Selatan), PT Copylas 2.5 hektare pada tahun 1975, Drs Junus Djafar 2,2 hektare, dan Koperasi BRI 3,5 hektare pada 1977.

Di sinilah kemudian Pemda DKI Jakarta juga mulai masuk dalam persoalan. Pada 1986, Djuhri dinyatakan bersalah dan divonis hukuman percobaan selama satu tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Selanjutnya Juhri harus menyediakan lahan seluas tiga hektar dan uang senilai Rp 175 juta. Khususnya untuk uang itu sendiri, Juhri menyerahkan uang tunai senilai Rp 57 juta dan sisanya dalam bentuk penyerahan lahan yang terdiri atas satu hektar tanah di Tambun, dan satu hektar di Kebon Kacang atau kawasan Ciledug. Di tingkat banding, Yahya terkena vonis setahun penjara, kasasinya ditolak Mahkamah Agung sehingga ia harus masuk penjara pada 1989. Sedangkan barang bukti diserahkan kepada yang berhak yakni PT. Portanigra dan girik palsunya dimusnahkan. Persoalan itu juga sudah selesai saat kuasa dari PT Portanigra yang diwakili oleh Mayjen TNI AL (Purn) Mohammad Anwar.


Rupanya saat proses persidangan berjalan, tanah itu sudah berpindah tangan beberapa kali alias tanah tersebut diperjual-belikan dan dibangun warga. Ribuan warga bahkan kemudian mendapat SERTIFIKAT TANAH dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). Sertifikat untuk hak milik ada 4.228, sertifikat hak guna bangunan 1.908 bidang dan sertifikat hak pakai 90 bidang diatas lokasi tanah tersebut. Dari semua sertifikat itu, ada pula yang digunakan sebagai jaminan yaitu sertifikat hak milik 451 bidang dan hak sertifikat guna bangunan 312 bidang. Entah dari mana sumber girik yang mereka dapatkan untuk kemudian dijadikan sertifikat. Padahal, girik aslinya seharusnya sudah dikembalikan pada PT Portanigra, sedangkan girik palsu sudah dimusnahkan.


Memasuki tahun 1991, kasus ini muncul kembali. Berbekal putusan pidana tadi PT Portanigra menggugat Juhri yang dianggap telah melakukan kecurangan dalam penyediaan lahan dan dikenai Pasal 385 dan 386 KUHP. ”Namun, berdasarkan pemeriksaan Polda Metro Jaya dinyatakan tidak ada bukti. Hal ini berarti permasalahan itu sudah selesai, namun anehnya tiba-tiba muncul kembali bahkan luas arealnya juga bertambah,” kata Djunaidi SH (Republika 7/5/07). PT. Portanigra kemudian menggugat perdata ketiga mandor tersebut pada 1996. Ketika itu, Pengadilan Negeri Jakarta Barat sudah meletakkan sita jaminan terhadap tanah seluas 44 hektare yang diklaim milik PT Portanigra. Gugatan ini sempat ditolak di tingkat pertama dan banding. Namun, pada 2001, nasib berbalik memihak PT Portanigra ketika perkara sampai di Mahkamah Agung. Mahkamah memenangkan PT Portanigra. ”Putusan perkara pidana dan bukti jual-beli memang jadi pegangan putusan kasasi,” kata Nurhadi, Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Mahkamah Agung.


Tanggal 9 April 2007 barulah turun Surat Eksekusi berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat yang ditandatangani oleh Ketua PN Jakbar, Haryanto SH. Adalah Kaharudin Dompu Ketua Dewan Kelurahan Meruya Selatan yang pagi itu sudah berada di kantor Kelurahan Meruya Selatan dan tertarik pada seberkas surat yang tergeletak di meja Lurah. Ia sempat membacanya dan seketika itu juga terperanjat. Surat itu adalah rencana penyitaan oleh pengadilan atas 44 hektare tanah di Kelurahan Meruya Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Permohonan sita itu diajukan PT Portanigra dan eksekusinya akan dilakukan pada 21 Mei oleh juru sita Pengadilan Negeri Jakarta Barat. ”Kok, bisa begini? Kenapa Anda tidak memberi tahu kami?” tanya Kaharudin kepada Lurah Samsul Huda. ”Saya bingung mau memberi tahu warga,” jawab Samsul. Kaharudin makin kaget ketika sang Lurah mengaku sudah mengikuti rapat persiapan eksekusi di kantor Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 26 April.


Lahan yang dieksekusi sendiri tersebar di 10 dari total 11 RW yang ada di Kelurahan Meruya Selatan dan terbagi dalam 311 girik. Pemilik tanah yang akan terkena eksekusi sebanyak 5.563 kepala keluarga (KK) atau sekitar 21.760 jiwa. Meliputi warga di Perumahan karyawan Wali Kota Jakarta Barat, Kompleks Perumahan DPR 3, Perumahan mawar, Meruya Residence, Kompleks Perumahan DPA, Perkaplingan BRI, Kompleks Perkaplingan DKI, Green Villa, PT Intercon Taman Kebon Jeruk dan Perumahan Unilever.

* Sumber :

www.golkar.or.id
www.tempointeraktif.com
www.republika.co.id
www.politikindonesia.com
www.adang-dani.com
www.vhrmedia.net





Ups..

4 01 2007

Its a new day..
is that right ???

But…
Sowry.. I don’t say ‘Happy new year’..

Coz i dont celebrate new year in 1st January





Ramuan Ajaib Getafix

26 12 2006
Besar kemungkinan kita semua pernah membaca atau setidak nya mendengar kisah asterix dan obelix, jagoan dari negri Gaul…Tapi kisah yang akan saya ceritakan ini sudah pasti bukan tentang mereka, karena nti bisa gawat klo saya sampai digerebek disekre A dengan tuduhan melanggar hak paten….hehehehe

Singkat kata begini bung…waktu itu sempat ada pembicaraan antara saya, gejor n taka. Sebenarnya ini rapat internal badan diklat, tapi berhubung hal yang perlu untk dirapatkan sudah kelar semua sedangkan energi untuk bertukar pikiran masih banyak maka akhirnya kami membicarakan fenomena dilematis sistem kaderisasi kita…halaaahhh ribet banget yak, maksudnya : gimana metode terbaik menghasilkan A setangguh ewok, gepeng, kebo, kopet, momesh, dll tapi melalui format yang dapat menyesuaikan dengan ekonomi yang semakin wah, biaya kuliah yang semakin tinggi, masa studi yang makin pendek dan semakin-semakin lainnya…

Hmm….hmm…jadi gimana coy sebaiknya nih?” celetuk salah seorang diantara kami..
Hmm..Hmmm”, terdengar dari sudut..
“kita harus berubah..sesuaikan dengan jaman, kebutuhan pasarnya udah beda
Hmm..Hmm..“, siapa tuh?
Ok lah, format pendidikan harus reformasi, di zip klo perlu…banyakin jalan – jalan yang terarah, ekspedisi..toh tanpa latihan, materi kelas n teori itu ga akan ada artinya….emang kita mo bikin anak orang harus hafal semua teori tapi kagak ada yang bisa dilakuin ?“, nah lo….
“Gimana klo begini aja, pendas kan udah mulai di geser dikit – dikit nih paradigma nya….diklan harus menyesuaikan. kagak usah bikin diklan yang smp kelar berbulan – bulan….2 bulan aja cukup, tapi habis itu langsung banyakin kegiatan di luar…”
Ok langsung di petakan aja..”

Dan dari sinilah berlanjut semua…
Di papan white board sekre segera digambar time line..mulai dari bulan agustus alias tahun ajaran baru..lalu diusulkan agar pendas pada bulan september saja. Tidak perlu lama – lama, materikelas + praktek lapangan digabung jadikan 4 – 7 hari, sudah cukup. Pastikan semua siswa dikenalkan materi dasar kepecinta-alaman, disamakan persepsinya tentang ASTACALA, difasilitasi untuk mengenal rekan seperjuangannya, dll. Tidak perlu muluk – muluk sampai mengerti bener peta – kompas segala….tidak perlu bantai – bantaian, klo masalah karakter tak akan mampu ASTACALA merubahnya dalam 3-5 tahun..karena karakter itu sudah terbentuk sejak 20 tahun hidupnya, jadi ASTACALA hanya mengarahkan untuk membina mental, bukan membentuk apalagi merubah karakter !!

Pendidikan Lanjut…selesaikan dalam 2 bulan = november – desember karena oktober masa UTS.
sama seperti pendas, di zip kan, jika perlu 2 bidang ilmu digabung waktu pelaksanaannya dalam 2-3 hari. Misal Fotografi & Jurnalistik, Gunung Hutan & SAR (ini udah pernah kita lakukan), Climbing dengan Caving, klo perlu langsung nyambung dengan Rafting

Bagaimana dengan bobot materi?
Nah, untuk kasus pemberian materi / pendidikan cukup diberikan di kampus, bukan langsung sewaktu pendidikan lanjutnya. Sehingga bagi AM akan terasa tidak terlalu lama, kaku, dan sangat menuntut waktu. Ingat bung, ada TP di akhir minggu, itu masih jadi musuh nomor 1 kita…apa anak A menyusup jadi aslab semua, biar di hack tuh sistem lab nya and dibikin kagak ada TP-TPan lagi???huahahaha..ntar dulu deh, klo udah ada orang-orangnya baru bicara kayak gini

Kita lanjutkan lagi, misal untuk kasus pendidikan lanjut Rock Climbing & Caving. Materi kelas bisa diberikan seminggu sebelumnyakan? bisa di sekre sambil lesehan and nyerut teh hangat…santai tapi tetap serius, AM ga tertekan and seneng dengan apa yang dia lakukan. Pemateri juga ga terbebani dengan mesti serius – serius banget…

Nah setelah itu, dalam 1-2 minggu jadwalkan latihan rutin di Wall atau Tower….bouldering, leading, rapelling dll untuk climbing dan SRT, riging untuk caving…bereskan?? yang belum memenuhi syarat latihan rutin belum boleh mengajukan untuk mengikuti pendidikan lanjut , jadi konsepnya : SIAPA YANG MAU BELAJAR YANG AKAN DIAJAR. Jum’at-Minggu langsung berangkat ke citatah, target nge-TOP tebing 48 atau 125 untuk climbing and masuk ke gua horizontal-vertikal untuk caving.

Trus ntar materinya ga dalam dungs? siapa bilang coy..lihat aja konsepnya, yang ga memenuhi target latihan pra pendidikan lanjut ga boleh ikut pendidikan lanjut..ini sama aja dengan konsep latihan fisik di pendas, tapi bedanya ini termasuk materi teori dan praktek. peserta / AM dikondisikan untuk mengikuti latihan rutin sesuai dengan jadwal yang dia bisa ikuti..toh wall climbing masih dibelakang SC ini, apa sulitnya? Dari pada semua diborong di lapangan, rugi waktu, rugi duit…dan ga menjamin AM langsung bisa….pada konsep lama, setelah pendidikan lanjut juga belum tentu ia akan mengulang materi ini kecuali mau maju sidang…bener kagak??

Nah, tambahan perbedaan lagi di sistem ini adalah metode evaluasi nya. ini adalah bagian dari sidang AM. kita semua yang udah sidang pasti tau bahwa sidang itu terdiri dari 2 bagian : 1. materi 2. keorganisasian. singkat kata, semua diborong di akhir smp AM nya jadi bodoh klo ditanyain detail2 waktu sidang. Yang maju sidang, stress..yang lain ga maju, karena males kelamaan klo ga takut.

Nah, di sistem ini diubah semua. Bagian 1 dilakukan setelah AM menyelesaikan tiap pendidikan lanjut, jadi ada sidang kecil setiap selesai pendidikan lanjut. Ini memang sudah kita lakukan tapi bedanya tidak ada follow up nya. Dengan sistem ini, klo perlu AM ditemani oleh 2-3 A ketika presentasi paska pendidikan lanjut. Ia dinilai dan dievaluasi kekurangan dan kelebihannya. Selanjutnya ini di tindak lanjuti oleh badan diklat, yang terus memonitor perkembangan AM ini setelah selesai diklan ttg penguasaanya atas materi tsb. Klo perlu, jika ia belum memenuhi syarat penguasaan minimum dari badik, maka belum boleh sidang. Nah, nanti di sidang ga perlu smp berhari – hari bahas materi lagi karena itu sudah dibahas ketika setelah pendidikan lanjut …jadi langsung ke bagian 2 saja : keorganisasian….sok dah di evaluasi semua, loyalitas, solidaritas, dan tas..tas…lainnya. jadi waktu yang kita habiskan untuk sidang ga terlalu banyak n AM nya ga terlalu stress krn proses lain sudah dicicil jauh hari sebelumnya..

Perjalanan wajib..bisa dilakukan di akhir bulan januari – februari…sok dah mo pada jalan kemana…mo ke kalimantan, irian, sumatra…silahkan. Langsung bikin perjalanan AM itu yang bergengsi, ga cuma jalan ke gunung x tok..kagak ada hasilnya kecuali AM bisa me manage perjalanan sendiri. Menurut saya sungguh sayang momen seperti itu hanya untuk mencapai target itu saja, karena potensi SDM dan waktu yang sangat berharga ini bisa kita manfaatkan untuk membuat konsep perjalanan yang lebih bermakna..misal ada penelitian atau menambah referensi ASTACALA akan daerah baru..bukan gunung yang itu – itu saja..dari tahun ke tahun…sejak jaman gepeng masih pakai baju putih biru….upppsss…Boseeeenn coy..bener kagak??

Trus bulan maret sampai agustusnya lagi ngapain ??
Jalan – jalan lagi lah…ngapain nongkrong di sekre terus, tidur ga jelas…
bikin ekspedisi gede sekalian…..ke cartens….ke tebing arau di payakumbuh….ke sini …ke situ…
waktu nya panjang, jadi memberi kita kesempatan untuk berkreasi n menyiapkan segala kebutuhanya
klo perlu cari sponsor yang gede..eiger, gubernur jabar sekalian, dll
semua itu bisa di manage lebih baik dengan sistem yang baik juga
karena sebenarnya begitu banyak waktu dan kesempatan untuk belajar
tanpa harus mengorbankan kuliah yang nota bene amanah utama dari orang tua

Ingat lagi bung, sebelum kita meminta loyalitas buta dari AM..
Ingat lagi, klo kita semua pertama datang ke bandung…kuliah di STTTELEPON pasti bukan untuk masuk ASTACALA tapi untuk selesaikan pendidikan kita and menggapai hidup labih baik agar orang tua kita bahagia.
Busyet..ngomong apa lagi nih gw….ah udah ding..ntar dibilang banyak omong lagi…
Sekian saja dah paparan saya tentang pembicaraan kami dini hari itu…

Omong – omong….saya ingatkan lagi klo ini sama sekali ga ada hubungannya sama ramuan getafix yang bisa bikin asterix kuat lho…apalagi ajaib… Ini cuma obrolan antara kawan yang pernah bersama menikmati hangatnya api unggun yang kami buat dengam menggigilnya tubuh yang kedinginan cieee…udah ah, jadi melankolik gini gw..ca caw..

ASTACALA !!!!!

EnamDuaKabutFajar
[hanya orang biasa yang masih belajar berpikir agar dapat hidup lebih baik]





The Tale Of Otory : The Great Japan Story

24 09 2006

Membaca tentang Takeo dalam 3 buku The Tale Of Otory : Across the Nightingale Floor, Grass For His Pillow, Brilliance Of The Moon pasti tak akan pernah membosankan. Setidaknya bagiku, jika tak ada kerjaan hampir dipastikan buku – buku itu akan membuatku terbius untuk membaca dan membacanya lagi dan lagi.

The Tale Of Otory bercerita tentang perjalanan hidup seorang pemuda jepang bernama Tomasu yang lahir ditengah komunitas rendah dalam hierarki sosial Jepang saat itu. Saat kampung halaman dan seluruh keluarganya dibantai oleh penguasa yang lalim Lord Lida Sadamu, Iia diselamatkan oleh seorang bangsawan samurai Lord Otory Shigeru dan sejak saat itulah seluruh hidup nya berubah.

Untuk keselamatan dirinya, Tomasu diberi nama baru Otory Takeo. Dan sejak saat itu ia bersumpah setia pada Shigeru dan juga kemampuan dirinya yang selama ini terpendam muncul : ia bisa mendengar suara yang sangat halus, mampu menghilang dan dapat berada di dua tempat sekaligus.

Perjalanan hidup selanjutnya membawa Takeo pada keputusan yang sulit, antara memilih dan mengikuti jati dirinya sebagai seorang kikuta tribe atau mengikuti sumpah setianya kepada Shigeru. Ditengah kerumitan itu juga, ia bertemu dengan seorang wanita : Kaede, anak seorang bangsawan yang di korbankan untuk menjadi tawanan bagi Lida Sadamu.

..Perdamaian akan terwujud melalui pertumpahan darah. Lima peperangan akan membayar perdamaian, empat kali menang dan satu kali kalah…

Itulah ramalan yang diberikan pada Takeo dalam perjuangannya membalaskan dendam keluarganya, Shigeru dan membebaskan Kaede. Dalam buku ke 3 pun, akhir cerita masih akan menyisakan sedikit rasa penasaran bagi pembaca karena, Takeo yang juga diramalkan mati ditangan anak nya ternyata belum dipaparkan lebih lanjut oleh penulis. Tampaknya masih ada kelanjutan Trilogy ini yang mungkin sengaja disisakan untuk menuntaskan akhir perjalan Takeo. Tapi klo begitu bukan Trylogy dungs??? entahlah, anyway…anda rugi klo belum baca bukunya coy !!!

Nah ternyata benar, Lian Hearn sang penulis berencana merilis kisah Takeo hingga buku ke 5. Menurut kabar burung, buku ke 4 dan 5 itu ditulis bersamaan oleh Hearn yang tidak mau menulis kisah Takeo itu selain dengan tulisan tangannya sendiri. wooooww..entahlah mengapa.

Buku ke 4 yang berjudul The Harsh Cry Of The Heron akan di rillis bukan oktober 2006 di indonesia, sedangkan di US pada tanggal 26 september nya. Hik..hik..hik….padahal aku udah penasaran banget pengen baca !!!!

Buku ke 5 yaitu Heaven’s Net is Wide adalah prequel dari Across the Nightingale Floor yang menceritakan kehidupan Lord Shigeru dari berumur 12 tahun dimana pada saat itu Takeo lahir dan berakhir tepat sebelum cerita pada Across the Nightingale Floor dimulai, yaitu penyelamatan Takeo di Mino. Buku ini akan diterbitkan pada tahun 2007.

Great link for this http://www.kisahklanotori.com/ dan http://www.lianhearn.com/





Ada tukang nyolong di sekre ?*

24 09 2006
Hanya mencoba mengajukan wacana saat ini, tentang alat sekretariat yang kadang ga nongol saat dicari, seperti tentang golok tebas tramontina yang berkurang atau beberapa perkakas yang tak tampak atau rescooker yang menghilang saat perut lapar meronta minta diisi nasi atau buku koleksi perpustakaan ASTACALA yang beberapanya tidak ditemukan saat ingin dibaca atau sang pemiliki yang dulu pernah menghibahkan nya ke sekre ingin membolak – balik halaman nya lagi atau duit DU yang kurang hitungan untungnya sewaktu di cross cek dengan fakta di laci duit sekre.

Adalah kewajaran ketika segala bentuk kekecewaan atas hal – hal diatas menguap ke udara. Adalah kewajaran juga ketika segala bentuk pertanyaan atas fakta – fakta ini diucapkan oleh lisan.

Namun sebelum segala bentuk tuduhan terucap (ada yang nyolon g?? atau ada yang ngoleksi buku untuk dibawa ke kos ?? atau…atau..atau..), sudilah kiranya kita sedikit menganalisa atas sistem yang ada. Suatu contoh kasus saja untuk buku koleksi di perpustakaan misalnya, perlu kita sadari bahwa saat ini akses orang umum masuk ke sekretariat sangat luas dan banyak, tidak seperti dulu ketika yang dapat masuk ke sekre hanya anak – anak A’ers saja atau benar – benar yang sudah kenal dekat. Saat ini, semua orang bahkan yang ingin numpang cuci kaki hingga berwudlu bisa masuk sekre. Ditambah lagi fakta buku – buku sekre ini setau saya terakhir didata setelah MUSANG (musyawarah anggota-red) hampir 2 tahun lalu atau seringnya oknum yang selesai membaca buku tidak mengembalikan ke tempat semula. Dari sini saja sudah dapat kita simpulkan bahwa banyak kemungkinan atas hilang atau tidak tampak nya buku koleksi perpustakaan kita. Ketika terucap kata bermakna “anak sekre yang membaca buku itu ke kos untuk jadi koleksi pribadi”, saya pikir adalah sebuah tuduhan tak beralasan dan tanpa bukti yang dikemukakan oleh kekesalan tak jelas.

Atau ketika ketika keuntungan duit DU (Dana Usaha-red) tidak sesuai dengan hitungan diatas kertas. Juga bukanlah suatu solusi ketika kita dengan mudahnya melempar wacana adanya penggelapan uang oleh oknum tertentu baik dalam bentuk tidak bayar minuman atau mengambil uang di laci untuk bayar makan oleh oknum tersebut. Atau ketika rescooker nasi tidak tampak, maka segera saja ada wacana ada oknum sekre yang membawa ke kos (yang padahal setelah dicari lebih lanjut ditemukan di laci dalam dapur !!)

Tuduhan – tuduhan seperti ini -yang ketika terus diungkapkan- menurut saya hanya akan menimbulkan atmosfir ketidak nyamanan atau bahkan ketika terus berlanjut akan menyebabkan meluasnya fakta adanya iklim tidak percaya terhadap kawan – kawan di sekre.

Coba saja analisa, bagaimana rasanya klo lo tidur n nongkrong di sekre, ninggalin kamar kosan yang nyaman…trus tiba – tiba ada barang yang ga ketemu n lo dituduh ngambil…enak ga coy ??

Menjadi jelas bagi saya, ini tidak hanya masalah buku ga ketemu atau rescooker ga keliatan atau pisau dapur berkurang atau cangkul tak tampak saja, namun sudah menjadi masalah minimnya kredibilitas kepercayaan terhadap kawan – kawan yang saat ini nongkrong di sekre. Karena intinya bukan bagaimana memperbaiki sistem tapi siapa.

Entahlah apakah analisa saya terlalu sensitif saja, namun kecenderungan ini sudah saya rasakan beberapa bulan lalu dan terus terang mulai mengganggu. Coba saja kalau anda dituduh nyolong buku sama saudara sendiri ? rasanya ga enak bung !! Jika memang masih konsep persaudaraan yang dikembangkan di organisasi ini, saya pikir menjadi bijak bagi kita untuk merumuskan bersama bagaimana menciptakan sistem yang lebih sehat agar alat – alat sekre kita diatur penggunaannya, apakah pada “cara dan media penyimpanan nya” atau “mekanisme pemakaiaannya”. Sekali lagi bukan mencari tersangka untuk membebankan kekesalan yang timbul saja.

Salam
-EnamDuaKabutFajar-

NB:
Tulisan ini silahkan ditanggapi. Afwan jika tidak berkenan. viva ASTACALA

* Suatu bentuk kritik terhadap salah satu dinamika di sekretariat ASTACALA. Tulisan ini tersedia di Forum Diskusi website www.astacala.org, Senin 14 Agustus 2006.





How Much DU Give Us Income?

22 09 2006
Beberapa saat yang lalu, seakan kegelisahan dengan ketidak jelasan makna DU (Baca : Dana Usaha-red) memaksa munculnya sedikit aksi untuk segera menuntaskan sedikit dari banyak masalah yang ada.

Begini bung, biarkan saya mengingatkan ingatan kita lagi seperti apa strategisnya posisi DU ASTACALA dari sisi finansial saja. Mengapa saya katakan dari “sisi finansial saja”? karena sesungguhnya banyak hal strategis lain yang dapat kita lihat dari peran DU, salah satunya melihat siapa A’ers yang memang peduli dan yang tidak peduli. Tapi, saat ini kita tinggalkan saja subjek itu, karena akan susah menemukan ujung nya.

Ok, baiklah kita mulai. Dari sisi transaksi per 2 minggu, dalam laci DU yang tak seberapa besar itu bisa berputar uang kurang lebih 3,7 juta….Wowww. Dari semua itu, ada pengeluaran untuk membeli produkyaitu kurang lebih sebesar 2 juta. Nah, jika kita kurangi maka bisa kita ketahui bahwa keuntungan DU setiap 2 minggu nya berkisar pada angka 1,7 juta bung !!!

Bukan angka yang kecil, khususnya untuk saya..entahlah untuk yang lain. Karena dari pengalaman saya hunting harga alat paling murah untuk menambah inventaris alat sekre beberapa lalu, bisa saya kalkulasikan itu untuk membeli beberapa friend lagi, atau tali karmantel lagi, atau sit harness untuk climber ASTACALA, atau helm / boom untuk caver ASTACALA, atau…atau…atau…atau…

Eits..tunggu dulu, masih ada lagi, DU ga mungkin tutup bukan? Jadi dari 1,7 juta itu perlu disisihkan beberapa rupiahnya untuk memulai usaha kecil ini agar ia bisa memutar uang lagi. Nah, dari kalkulasi saya, beberapa rupiah yang kita sebut saja dengan MODAL TETAP itu bisa berkisar pada angka 1 juta. Bayangkan saja bung, dengan 2 lemari kulkas dan beberapa kotak makanan itu bisa menampung produk siap jual seharga 1 juta !!!

Nah saat ini, setelah membaca paparan saya saja, saya yakin anda pasti gregetan. Karena jumlah itu tidak lah sedikit, karena dengan jumlah sedemikian hingga itu anak A’ers tak perlu lagi beralasan ga bisa jalan karena ga ada duit atau alat ga ada, toh organisasinya cukup untuk memberi pinjaman cair agar yang bersangkutan bisa jalan atau membeli alat baru.

Apalagi bung, bagi kawan – kawan yang setiap hari mengangkat krat demi krat botol – botol itu dan membersihkannya ke dalam kulkas agar hari itu ada beberapa mulut lagi yang bisa minum dari botolnya. Lelah dan bosan akan rutinitas itu tak terasakan karena 1 alasan, setidaknya bagi saya pribadi : MUDAH – MUDAHAN ADIK – ADIK GUA BEBERAPA TAHUN LAGI BISA MENIKMATI HASILNYA. Thats all

Saat ini, kegelisahan itu seharusnya segera saja musnah. Setiap manusia yang merasa dirinya nyaman untuk nongkrong di sekre A harusnya cukup sadar untuk memasukan uang dalam laci dan menyimpannya dalam lemari uang agar jumlahnya tak terlalu banyak hingga mencegah tindakan rampok, “pinjam dulu bentar”, dll. Pun juga mengisi kembali 2 kulkas di depan pintu kita, agar setiap hari tetap ada botol yang menanti untuk dijual.

Repot??
memang.
Untuk bahagia atau berhasil itu memang repot.
Untuk memetik buah itu memang harus menanam dulu.
Tak ada hadiah untuk sebuah kemalasan.
Saya yakin, kawan2 yang lulus PDA punya setidaknya 1 tujuan dari byk tujuannya lain: UNTUK BELAJAR SEBANYAK2NYA DARI ALAM dan MANUSIA LAIN.
Inilah salah satu pembelajaran itu.

nb:
Untuk saudaraku yang pernah becerita “Sungguh menyakitkan rasanya, ketika capek masukin botol ke DU atau kerja di kebun belakang atau bersihkan alat, tapi yang lain malah nongkrong2 atau nonton TV seakan ga peduli sama sekali.”. Yakinlah, untuk setiap usahamu itu ada maknanya. Mungkin saja, ketika kamu tak ada meraka juga berjerih payah seperti mu. Jika tidak, maka percayalah diantara keringat & lelah mu itu pasti ada harga nya. Toh kita disini untuk belajar sebanyak2nya bukan ? kenapa tidak coba beri saja yang terbaik untuk ASTACALA sebanyak dan seikhlas yang kamu bisa?

viva ASTACALA

Sekre ASTACALAKU – 22 Sept 2006, 15.30 -
-EnamDua Kabut Fajar-

(Tulisan ini juga tersedia di Forum Diskusi www.astacala.org)





Retorika yang tak kan habis..

20 09 2006

Semakin lama semakin banyak yang tidak jelas bagiku
mungkin memang kapasitas otak ini yang tak sanggub
menampung hal – hal yang tak logis
dan kasat mata..

Entah apa arti esensi bagi kita
yang memberi sedikit makna dalam proses kaderisasi
Entah apa pula kaderisasi ini??
Ah, sudah lah jangna ngomong yang ribet – ribet lu !!!”
Itulah salah satu teriakan dari sisi otak ku yang lain
Tapi pertanyaan ini tetap terngiang2…
Aneh….absud…kembali lagi, tak ada yang jelas!!

WAGU !!!
Apapun itu..aneh jika kita memberi arti sesuatu dan menganggabnya penting tapi kita sendiri tak tau pa makna sebenarnya
Kenapa ini harus ku lakukan?
Kenapa pula tidak kulakukan?
Mengapa itu harus kuperjuangkan?
Mengapa pula itu harus kutinggalkan?

Kembali pertanyaan ini tetap terngiang2…
Bagaimana tidak…
Aku heran..apa arti sebuah pendidikan demi pendidikan
jika kita sendiri tak tau apa tujuan mendidik itu
Bagaimana tidak..
Ketika anggota muda yang mau sidang malah tidak ingat dengan jadwal sidang nya sendiri..

Eits…, katanya mo ada sidang ANGOOTA MUDA ASTACALA ya MINGGU ini????
Kok gw kagak tau ya???
Padahal cuma mangkir dari sekre klo mo mandi atau boker di kos aja !!!!
Aneh..

Semakin lama semakin banyak pertanyaan demi pertanyaan tak terjawab
di sini..
di tempat ini…
saat ini..
Kita suka dengan ketenanganan yang absud…
Berpura – pura tidak ada masalah…
Semua baik – baik saja….
Berlindung dibalik kalimat “Biarkan semua apa adanya..”
Dan menyambut datangnya gelombang matinya diskusi dan inisiatif.

Memulai dari yang kecil akan membuat nya jadi bukit.
Namun ketika hal kecil tak pernah disatukan ia akan selamanya menjadi hal kecil…..tak mungkin ia akan menjadi gunung yang menjulang tinggi!!!

Entah mengapa..dari dulu aku lebih nyaman berada dalam panas perdebatan dari pada berpura – pura merasakan kesejukan : every things is ok tapi sebenarnya tak ada yang ok.

Memang gus dur sering katakan “Itu aja kok repot!!”
Sebenarnya tergantung dari mana pula kita pandang repot itu
Lalu ada yang teriak…”Klo ga mau repot mending tidur aja dirumah sambil naik kuda terserah juga !!”
ha..ha..hal….kena lu…
Mau ikut organisasi kok ga mau repot…
Mau ngurus anak orang kok ga mau pusing…

Aneh…absurd..tak ada yang jelas…
Kembali lagi kata – kata itu datang “Biarkan semua apa adanya..

Sekre ASTACALAKU
-EnamDua Kabut Fajar-

(Tulisan ini juga tersedia di Forum Diskusi www.astacala.org)





Dan waktu pasti akan selalu berlalu

4 08 2006

Hanya mencoba membayangkan

seperti apa rumah kecil ini nanti?
atau pepohonan rimbun yang meneduhi nya?
dan suasana hangat dibalut nada dari winamp nya kelak?

Bagaimanakah adik – adik ku saat ku datang beberapa tahun lagi?
Masihkah kita akan mengerumuni sedikit bungkus nasi di lantai itu?
atau tertawa saat koprol mewarnai perjalanan pendidikan kita?
atau kata – kata makian saat kentut tak tertahankan di hembuskan?

Ah, pasti waktu akan berlalu
meninggalkan sejuta kenangan
dan generasi – generasi nya
serta kesepakatan – kesepakatan sederhana kita
di sini..
ditempat ini..
saat ini.

Tapi saat ini kita muda
dan kita punya segala nya !!!

Hmm..ngomong apa aku nih?
Cuma sekedar berbagi saja.Begini bung, sambil engkau menghirup cangkir kopi atau sigaretmu…biarkan ku ajak engkau menganalisa beberapa hal. Tahun ini, biaya pendidikan masuk STTTelkom +- 13 juta an, dan tak kurang setiap semester orang tua mahasiswa membayar +- 4,5 jt hingga 4 jt per semester..Wooowww, bukan jumlah yang sediit…setidak nya begitulah menurut ukuran tingkat ekonomi ku. Eits, itu belum cukup…ditambah lagi +- puluhan mahasiswa yang masuk dengan jalur hubungan industri (baca : tanpa tes) yang dapat masuk STTTelkom asal orang tuanya mampu membayat +- 70 jt…Hmm, belum uang kos-kosan yang semakin naik mengikuti tingkat ekonomi konsumen dan makin sedikitnya quota asrama STTTelkom !!!

Lengkap sudah….dari hal diatas, wajarkah ketika aku katakan bahwa STTTelkom saat ini sangat jauh berbeda dengan STTTelkom jaman om gendut…om gepeng….om kebo….om balok…dan om om lain nya…?

ketika biaya kuliah menjadi melambung tinggi,
ketika menimati bumi ilahi bisa dicapai hanya dengan membayar sejumlah rupiah pada outbond2 training, tour guide dan berbagai macam bentuk organisasi bisnis di luar sama..maka menjadi jelas bagi ku bahwa mayoritas mahasiswa di kampus ini akan berpikir ulang untuk meninggalkan waktu belajar nya di kos bahkan waktu kuliah untuk menikmati hangatnya api unggun…atau derasnya andrenalin saat melewati jeram demi jeram sungai citarum….atau cepatnya detak jantung saat meniti ketinggian tebing citatah…atau…atau…atau…

wajarkah ketika aku katakan bahwa ASTACALA kedepan pasti akan berbeda dengna astacala jaman om gendut…om gepeng….om kebo….om balok…dan om om lain nya…?

suka atau tidak suka inilah fakta nya bung..
ini lah fakta nya bahwa, semakin lama waktu untuk berlatih semua cabang ilmu kepecinta alaman di organisasi ini akan makin sedikit.
inilah fakta nya bahwa, akan begitu sulit menemukan kaum proletar di kampus ini diantara lautan anak – anak borjuis..
inilah fakta nya bahwa, uang dan waktu adalah hal yang menjadi penentu

wajarkah ketika aku katakan bahwa PENDAS ASTACALA kedepan pasti akan berbeda dengan PENDAS ASTACALA jaman honje…api….telapak bara…badai gunung…atau kabut fajar…?

suka atau tidak suka inilah fakta nya bung..
waktu pasti akan menggilas kita yang melawan nya

suka atau tidak suka mungkin memang kesepakatan – kesepakatan sederhana kita akan melalui tahap pemakluman hingga batas tertentu

suka atau tidak suka mungkin memang jumlah hari pendidikan dasar jauh lebih sedikit dari jumlah siswa yang mengikuti nya

suka atau tidak suka mungkin kita harus mengarahkan dan membgi2 anggota muda untuk MENGUASAI beberapa bidang ilmu kepecinta alaman dari pada mendapatkan semua anggota muda yang TAU SEMUA tapi TAK SATU PUN YANG DIKUASAI NYA.

suka atau tidak suka inilah fakta nya bung..
waktu pasti akan menggilas kita yang melawan nya…

mungkin memang kita harus berkompromi dengan nya atas kesepakatan – kesepakatan kita dulu.

NB :
tulisan ini dibuat untuk menyambut +-3 bulan lagi MUSANG ASTACALA. juga sebagai bentuk masukan untuk badan diklat saat ini dan kepengurusan nanti. hanya sekedar mengingatkan bahwa waktu terus berlalu begitu juga perputaran jaman. suka atau tidak suka, kita harus berubah..sekarang atau tidak sama sekali !!!

viva ASTACALA
-EnamDuaKabutFajar-