Pengenalan Dasar Navigasi Darat

2 06 2009

Laili Aidi, A – 062 – Kabut Fajar*

“The world is a book,
and those people who do not travel,
only read a page”

Navigasi darat, adalah bagian dari ilmu untuk menentukan posisi suatu objek dan arah perjalanan baik pada medan sebenarnya maupun pada peta. Kemampuan membaca dan memahami peta, menggunakan alat navigasi untuk menentukan posisi serta menganalisa dan memberikan asumsi awal terhadap medan yang dilalui merupakan salah satu dari keahlian dasar yang perlu dimiliki oleh setiap penggiat alam bebas.

Hal tersebut merupakan bekal awal dalam merencanakan dan melakukan kegiatan di alam terbuka maupun dalam usaha pencarian atau penyelamatan korban kecelakaan / tersesat. Berikut beberapa pemahaman dasar yang dapat digunakan untuk mempelajari dan berlatih lebih lanjut mengenai ilmu medan, peta dan kompas (IMPK) :
1. Peta
adalah gambaran unsur – unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di atas atau bawah permukaan bumi dan digambarkan pada bidang datar dengan proyeksi tertentu dalam ukuran yang diperkecil yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara visual maupun matematis.
* Jenis Peta berdasarkan penggunaan
1) Peta Dasar : Dibuat untuk membuat peta turunan, perencanaan maupun pengembangan wilayah. Umumnya menggunakan peta topografi
2) Peta Tematik : Menyajikan isi dan untuk kepentingan tertentu dengan menggunakan peta dasar untuk meletakan info tematiknya

* Jenis Peta Berdasarkan Isi, seperti :
1) Peta Topografi (Topographic Map), menampilkan Menampilkan sebagian unsur buatan manusia dan unsur alam dengan proyeksi tertentu
2) Peta Hidrografi, menampilkan informasi kedalaman dan keadaan dasar laut serta info lainnya untuk kepentingan pelayaran
3) Peta Geologi, menampilkan informasi keadaan geologis
4) Peta Geografi, Menampilkan informasi ikshtisar peta dengan skala kecil dari 1 : 100.000
5) Peta Kadaster, menampilkan informasi kepemilikan tanah dan batas nya
6) Peta irigasi, menampilkan informasi jaringan irigasi
7) Peta Jalan, menampilkaninformasi jaringan jalan
8) Peta Kota, menampilkan informasi jaringan transportasi, drainase, saran kota, dll
9) Dll

* Jenis Peta Berdasarkan Skala :
1) Peta Skala Besar, dengan skala lebih besar dari 1 : 10.000
2) Peta Skala Sedang, dengan skala kecil dari 1 : 10.000, besar dari 1 : 100.000
3) Peta Skala Kecil, dengan skala kecil dari 1 : 100.000

2. Kompas
Adalah alat penunjuk arah, yaitu arah utara magnetis bumi yang disebabkan oleh sifat kemagnetisannya. Karena sifatini, maka dalam penggunaannya jauhkan kompas dari pengaruh benda-benda yang terbuat dari baja atau besi, karena akan menyebabkan penunjukkan yang salah pada jarumnya.
* Kompas Orienteering
1) Baseplate / Kompas Protactor, ditemukan Kjellstrom bersaudara, terdiri atas rectangular baseplate (panah warna merah sepanjang axis), lingkaran kompas (0, hampir di seluruh dunia untuk lingkaran penuh adalah 360° , tetapi sebagian belahan eropa menggunakan 400°). Tanda dibagian dasar rumah kompas (panah dan garis paralel di dalam panah), lanyard untuk memasang kompas di pinggang, garis skala untuk ukuran jarak peta sepanjang satu atau lebih ujung dari baseplate, cermin untuk membaca peta secara detail, lubang berbentuk lingkaran dan segitiga untuk menandai jalur orienteering diatas peta.

2) Kompas Ibujari. Organisasi orienteering top dari Swedia membuat kompas baru dengan mempertajam baseplate dan membuat lubang untuk memasang kompas tsb di jempol. Kompas ini lalu dipasang di jempol tangan kiri, diletakkan di atas kompas yang juga dipegang dengang tangan kiri pula. Keuntungan dari model ini adalah peta dan kompas selalu di baca dalam satu unit, peta menjadi lebih mudah di baca dan cepat, ditambah satu tangan bebas bergerak. Kekurangan nya adalah sudut yang sangat akurat sesuai dengan sudut kompas sangat sulit diambil.

* Kompas Bidik
1) Kompas Prismatik
2) Kompas Lensa

3. Protactor


4. GPS Receiver
Adalah bagian dari sistem radio navigasi berbasis satelit yang secara terus-menerus mentransmisikan informasi dalam bentuk kode, sehingga memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan lokasi / posisi, ketinggian, kecepatan dan waktu dengan mengukur jarak kita dengan satelit.
Lebih dalam mengenai topik ini dapat dilihat pada tulisan Global Positioning System.

5. Sistem Proyeksi peta
Adalah penggambaran sistematis garis – garis sebagian / seluruh bola bumi di atas permukaan bidang datar dengan menggambarkan garis paralel dari lintang dan garis meridian dari bujur.

Proyeksi dapat dianalogikan dengan terminasi berikut : jika 3 orang yang belum pernah melihat gajah diminta untuk menggambar seekor gajah dari sudut yang berbeda pada selembar kertas (depan, belakang, samping) tentu akan menghasilkan gambar yang berbeda – beda.

Demikian juga dengan peta dan bumi. Interpretasi permukaan bumi yang merupakan objek berbentuk elipsoid (3 dimensi) kedalam peta (2 dimensi) perlu menggunakan teknik tertentu agar gambar yang dihasilkan memiliki distorsi minimum dan mampu memberikan informasi mengenai gambaran kondisi sebenarnya (berdasarkan skala dan perspektif tertentu). Beberapa paparan dasar mengenai sistem proyeksi peta yang umum digunakan :
* Cilindrical Projection


* Geographical Projection


* Lambert Conformal Conic Projection


* Azimuthal Projection


* Transverse Mercator (TM) (Gauss Conformal / Guass-Krüger / Transverse Cylindrical Orthomorphic), merupakan sistem proyeksi silinder, konform, tangen, traversal. Bidang silinder memotong bola bumi pada 1 garis bujur disebut meridian standar. Pada sistem ini, garis bujur tergambar sedikit melengkung dan garis lintang tegak lurus.




* Universal Transverse Mercator (UTM), merupakan model proyeksi berbasis TM namun secant. Sistem ini mendefenisikan 60 posisi dengan proyeksi silender transverse mercator dan meridian sentral berbeda, masing – masing nya disebut dengan zona. Kelebihan proyeksi ini:
1) Proyeksi simetris untuk setiap zona sebesar 6°
2) Transformasi tiap zona dapat dikerjakan dengan rumus yang sama untuk tiap zona diseluruh dunia.
3) Mereduksi distorsi proyeksi pada area menuju kutub bumi

Pembagian zona pada Proyeksi UTM

Lebar setiap Zona 6° dihitung dari 1800 BB / logitude -180° dengan nomor zona 1 hingga 1800 BT dengan nomor zona 60. Masing – masingnya memiliki garis bujur tengah / zone central longitude (ZCL). Jadi setiap zona memiliki Start longitude / SL dan End Longitude (EL) + 60.

Lebar satu zone adalah 8° dengan batas parallel atas 84°U dan batas parallel bawah 80°S. Pusat koordinat terletak pada perpotongan garis lintang dan bujur tengah yang disebut paralel tengah. Batas zone berikutnya dihitung dengan cara :
SL zone [X+1] = SL zone [X] + 6°
EL zone [X] = SL zone [X] + 6°
ZCL zone [X+1] = ZCL zone [X] + 6°


Indonesia terbagi dalam 9 zone, dengan panjang tiap zone 6°, terletak pada meridian 90°BT – 144°BT. Batas garis parallel 10°LU – 15°LS dengan 4 satuan daerah L, M, N, dan P. Bidang referensi digunakan spheroid GRS 1967 (Geodetic Reference System)

Lebih dalam mengenai topik ini dapat dilihat pada tulisan Sistem Proyeksi Peta.

6. Istilah Dasar
6.1. Sudut
Adalah besaran selisih derajat yang dibentuk oleh 2 buah garis, dimana yung satu menuju ke utara magnetis dan yang lain menuju ke sasaran.
1) Sudut Azimuth
Sudut mendatar yang besarnya dihitung sesuai dengan arah jarum jam dari arah utara. Azimuth ditujukkan untuk menentukan arah di medan atau di peta, melakukan pengecekkan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tsb adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan kita.

2) Sudut Back Azimuth
Sudut arah dari suatu garis dilihat menurut arah kebalikkan. Cara menghitung nya : Jika azimuth lebih dari 180º, maka back azimuth sama dengan azimuth dikurangi 180º. Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya sama dengan 180º ditambah azimuth.

6.2. Skala Peta, jarak antara titik di peta dengan jarak mendatar pada medan sebenarnya.
1) Skala Numerik, dinyatakan dengan angka
Contoh :
1:50.000 berarti 1 cm = 50.000 cm atau 1 cm = 500 m atau 2 cm = 1 km

2) Skala Grafis, dinyatakan dengan unit batang disertai nilai, berguna ketika terjadi perubahan ukuran peta pada saat penggandaan /info skala numerik tidak tercantum



6.3. Sistem Koordinat
Adalah titik yang terbentuk berdasarkan sistem sumbu yaitu dari perpotongan garis koordinat horizontal / absis dan vertikal / ordinat yang terdapat dipeta. Koordinat peta berguna untuk menunjukan suatu posisi pada permukaan bumi di peta. Pada penyebutan, garis mendatar diinformasikan terlebih dahulu lalu garis tegak. Garis Koordinat ini membagi peta dalam kotak – kotak (karvak). Sistem Koordinat yang lazim digunakan yaitu :
1) Geografi / gratikul (Geographical Coordinat)
Menyatakan posisi suatu titik dalam satuan derajat , menit , dan detik dari garis lintang (Utara dan Selatan) dan bujur (Barat dan Timur)
2) Grid / UTM (Grid Coordinat)
Menyatakan posisi suatu titik dalam ukuran jarak (meter) dari perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinalt(y) pada koordinat grid sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan. Penyebutan dengan koordinat grid dapat dilakukan dengan 4 Angka, 6 Angka, atau 8 Angka.

6.4. Arah Utara
* Utara Sebenarnya / Utara Geografi (Truth North / Geographical North, US / TN) diberi simbol * , arah utara yang ditunjukan garis bujur (meridian) dan menuju ke kutub utara bumi atau titik pertemuan garis bujur bumi.

* Utara peta / Utara Grid (Grid North, UP / GN) diberi simbol GN, arah utara yang ditunjukan garis koordinat tegak peta ke arah atas

* Utara magnetik (Magnetic North, UM) diberi simbol T (anak panah separuh) , arah utara yang ditunjukan jarum kompas menuju kutub utara magnetik bumi

6.5. Iktilaf
* Iktilaf Peta / Konvergensi Meredian, merupakan sudut yang dibentuk utara sebenarnya dengan utara peta
* Iktilaf Magnetik / Deklinasi, merupakan sudut yang dibentuk utara sebenarnya dengan utara magnetik
* Iktilaf Utra Peta – Utara Magnetik / Deviasi, merupakan sudut yang dibentuk utara peta dengan utara magnetis

6.6. Variasi Magnetik,
yaitu perbedaan besarikhtilaf magnetik pada waktu yang berlainan. Jika variasi magnetis ini bertambah maka disebuti Increase dan jika berkurang maka disebut Decrease.

6.7. Kontur,
garis khayal diatas permukaan bumi yang menghubungkan titik- titik yang tingginya sama sehingga dapat mengetahui bentuk medan yang sebenarnya (menunjukan ketinggian, perbedaan ketinggian, kemiringan, proyeksi 3D). Terdapat istilah penting :
* Interval Kontur, jarak tegak 2 garis kontur yang berdekatan / jaran bidang datar yang berdekatan.
Rumus : Interval kontur atau Ci = 1/2000 x skala peta
Namun rumus ini tidak selamanya dapat digunakan karena garis kontur pada daerah terjal berbeda dengan daerah landai

* Indeks Kontur, garis kontur yang penyajiannya ditonjolkan setiapinterval kontur tertentu untuk memudahkan pembacaan medan.
Rumus : i = 25 / jumlah cm dalam 1 km
i = n log tan a, dengan n (0.01 S + 1)1/2 m

6.8. Titik Ketinggian
* Tinggi Mutlak adalah tinggi yang diukur dari pemukaan laut, merupakan standarisasi pengukuran. Tinggi mutlak digunakan untuk menentukan tinggi sebenarnya dari permukaan laut.
* Tinggi Nisbi adalah tinggi yang diukur dari tempat dimana bendaitu berada, biasanya diukur dari permukaan tanah.
* Titik Triangulasi adalah titik atau tanda yang merupakan pilar / tonggak yang menyatakan tinggi mut lak suatu tempat dari permukaan laut . Titik ini digunakan oleh jawatan topografi untuk menentukan tinggi suatu tempat atau letak suatu tempat dalam pengukuran secara ilmu pasti pada waktu pembuatan peta.

7. Pengetahuan Peta
7.1. Bagian – Bagian Peta
*Judul Peta, bagian yang menyatakan identitas peta. Pada peta BAKOSURTANAL meliputi Judul Peta (biasanya merupakan nama daerah adminsist ratif, tempat terkenal dll) , Skala, Nomor Lembar Peta, Nama Lembar dan Edisi / terbitan. Sistem Penomoran Peta perlu diketahui untuk membantu dalam mencari peta tertentu.
* Letak Peta dan Diagram Lokasi Petunjuk Letak Peta, menunjukan nomor dan nama lembar peta terhadap peta sekelilingnya. Biasanya dalam bentuk matrikini berukuran 3 x 3.
* Lokasi, menunjukan letak peta pada ara yang lebih luas
* Sistem Referensi, terdiri dari sistem proyeksi, sistem grid, datum horizontal, datum vertikal, satuan tinggi dan selang kontur
* Pembuat dan Penerbit Peta
* informasi Nama dan Nomor Lembar Peta
*Legenda, merupakan petunjuk tanda atau simbol konvensional yang digunakan pada peta disertai warna dan deskribsi
*Keterangan Riwayat Peta
*Petunjuk Pembacaan Koordinat
· Pembagian Daerah Administrasi
*Skala
* Singkatan / Kesamaan Arti
* Utara Sebenarnya, Utara Grid, Utara Magnetik

7.2. Sistem Penomoran Peta
* Penomoran Peta Topografi proyeksi LCO

Batas peta wilayah indonesia yaitu : Barat : 940 40’ BT, Timur : 1410 BT, Utara : 60 LU, Selatan : 110 LS. Penomoran dimulai dari meridian 0 di jakarta yaitu 1060 48’ 27,29 ” BT (120 barat bujur 1060 40’ 27,29 timur green wich)
1) Lembar Peta skala 1 : 100.000 (Petainduk)
- Ukuran 1 lembar peta adalah 20’ bujur x 20’ lintang. Sehingga terdapat 7089 Lembar Petaindonesia skala 1 : 100.000.
-Penomoran tiap 20’ lintang dari 94.50 BT – 1410 BT dengan angka latin 1-139
-Penomoran tiap 2’ bujur dari 110 LU – 60 LU dengan huruf latini – LI


Contoh penomoran : 58/XLII berarti lembar ke 58 mendatar dari kiri, lembar ke XLII vertikal dari atas.

2) Lembar Peta skala 1 : 50.000
-Ukuran 1 lembar peta adalah 10’ bujur x 10’ lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 100.000 terdapat 2 x 2 = 4 lembar peta skala 1 : 50.000
-Penomoran dengan huruf latin A – D mulai pojok kanan bawah berlawanan arah jarum jam.


Contoh penomoran : 58/XLII – B berarti lembar ke 58 mendatar dari kiri, lembar ke XLIi vertikal dari atas peta 1 : 100.000, lembar ke 2 dari pojok kanan bawah berlawanan arah jarum jam.

3) Lembar Peta skala 1 : 25.000
-Ukuran 1 lembar peta adalah 5’ bujur x 5’ lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 100.000 terdapat 3 x 3 = 9 lembar peta skala 1 : 25.000
-
Penomoran dengan huruf latin a – q tanpa hurufi mulai dari pojok kanan atas searah jarum jam.

Contoh penomoran : 58/ XLIi f berarti lembar ke 58 mendatar dari kiri, lembar ke XLIi ver tikal dari atas peta 1 : 100.000, lembar ke 6 dari pojok kanan atas searah jarum jam.

* Sistem Penomoran Peta Topografi proyeksi UTM/AMS
Batas peta wilayah indonesia yaitu : Barat : 940 30’ BT, Timur : 1410 BT, Utara : 60 LU, Selatan : 120 LS
1) Lembar Peta UTM global skala 1 : 1.000.000
-Penomoran tiap 60 bujur dari 1800 BB – 1800 BT dengan angka latin 1 – 60
-Penomoran tiap 80 lintang dari 840 LU – 800 LS dengan huruf latin dari huruf C – X tanpa huruf I dan O.
-Dengan penomoran seperti ini (885 km x 665 km) maka indonesia berada pada zona 46 dengan bujur sentral 930 BT – zona 54 dengan bujur sentral 1410 BT serta arah lintang L,M,N,P mulai 150 LS – 100 LU

2) Lembar Peta skala 1 : 250.000
-Ukuran 1 lembar peta adalah 10 30’ bujur x 10 30’ lintang. Sehingga terdapat 4 x 8 = 32 lembar peta wilayah indonesia skala 1 : 250.00
-Penomoran tiap 1.50 bujur dari 94.50 BT – 1410 BT dengan angka latin 1-31
-Penomoran tiap 10 lintang dari 60 LU – 120 LS dengan angka romawii – XVII

3) Lembar Peta skala 1 : 1 00.000 indonesia ( Peta Induk)
-Ukuran 1 lembar peta adalah 30’ bujur x 30’ lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 250.000 terdapat 2 x 3 = 6 lembar peta skala 1 : 100.000
-Penomoran tiap 30’ bujur dari 94.50 BT – 1410 BT dengan angka latin 1-94 Penomoran tiap 30’ lintang dari 60 LU – 110 LS dengan angka latin 1-36

Contoh penomoran : 2145 berarti lembar ke 21 mendatar dari 45 vertikal.

4) Lembar Peta skala 1 : 50.000
-Ukuran 1 lembar peta adalah 15’ bujur x 15’ lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 100.000 terdapat 2 x 2 = 2 lembar peta skala 1 : 50.000
-Penomoran dengan angka romawii –iV mulai dari pokok kanan atas searah jarum jam

Contoh penomoran : 2145-iv berarti lembar 2145, urutan ke 4 dari pojok kanan atas searah jarum jam.

5) Lembar Peta skala 1 : 25.000
-Ukuran 1 lembar peta adalah 7’30” bujur x 7’30” lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 50.000 terdapat 2 x 2 = 2 lembar peta skala 1 : 25.000
-Penomoran dengan huruf latin a – d mulai dari pokok kanan atas searah jarum jam

Contoh penomoran : 2145-iVa berarti lembar 2145, urutan ke 4 dari pojok kanan atas searah jarum jam dan pertama dari pojok kanan atas searah jarum jam.

*Sistem Penomoran Peta Topografi BAKOSURTANAL
Batas peta wilayah Indonesia yaitu : Barat : 900 BT, Timur : 1410 BT, Utara : 60 LU, Selatan : 150 LS
1) Lembar Peta UTM global skala 1 : 1.000.000
Ukuran 1 lembar peta adalah 40 bujur x 60 lintang. Karena peta BAKOSURTANAL mengikuti proyeksi UTM, maka maka tiap 40 bujur dibagi menjadi 2 penomoran lagi : A dan B. Utk arah lintang Selatan makin besar ke bawah (A, B) , utk lintang Utara makin kecil ke bawah (B, A).


2) Lembar Peta skala 1 : 500.000 indonesia
Ukuran 1 lembar peta adalah 20 bujur x 30 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 1.000.000 terdapat 2 x 2 = 2 lembar peta skala 1 : 500.000

3) Lembar Peta skala 1 : 2 50.000 indonesia ( Peta Induk)
-Ukuran 1 lembar peta adalah 10 bujur x 10 30’ lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 500.000 terdapat 2 x 2 = 2 lembar peta skala 1 : 250.000
-Penomoran tiap 1.50 lintang dari 94.50 BT – 1410 BT dengan angka latin 1-31
-Penomoran tiap 10 bujur dari 110 LU – 60 LU dengan angka latin 1 – 17

Contoh penomoran : 2145 berarti lembar ke 21 mendatar dari 45 vertikal.

4) Lembar Peta skala 1 : 100.000
-Ukuran 1 lembar peta adalah 30’ bujur x 30’ lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 250.000 terdapat 3 x 2 = 6 lembar peta skala 1: 100.000

5) Lembar peta skala 1 : 100.000
-Penomoran dengan angka latin 1 – 6 mulai dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam

Contoh penomoran : 2145-1 berarti lembar ke 21 mendatar dari 45 vertikal, urutan ke 1 dari pojok kiri bawah ber lawanan arah jarum jam.

6) Lembar Peta skala 1 : 50.000
-Ukuran 1 lembar peta adalah 15’ bujur x 15’ lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 100.000 terdapat 2 x 2 = 4 lembar peta skala 1 : 50.000
-Penomoran dengan angka latin 1 – 4 mulai dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam

Contoh penomoran : 2145-12 berarti lembar ke 21 mendatar dari 45 vertikal peta 1 : 250.000, urutan ke 1 dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam peta 1 : 100.00, urutan ke 2 dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam peta 1 : 50.000.

7) Lembar Peta skala 1 : 25.000
-Ukuran 1 lembar peta adalah 7’30” bujur x 2’30” lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 50.000 terdapat 2 x 2 = 4 lembar peta skala 1 : 25.000
-Penomoran dengan angka latin 1 – 4 mulai dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam

8) Lembar Peta skala 1 : 10.000
Ukuran 1 lembar peta adalah 2’30” bujur x 2’30” lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 50.000 terdapat 2 x 2 = 4

9) Lembar peta skala 1 : 25.000
Penomoran dengan angka latin 1 – 9 mulai dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam



8. Orientasi Peta
Adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya atau menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya. Sebelum Memulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda- tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta dengan pencocokan bentuk puncakan, sungai, desa dll. Jadi minimal diketahui secara kasar posisi. Orientasi peta ini berfungsi untuk meyakinkan perkiraan posisi anda adalah benar.

Langkah-langkah orientasi peta:
1) Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda- tanda medan yang menyolok.
2) Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya
3) Cari tanda- tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda- tanda medan tersebut di peta.
4) Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan
5) Ingat tanda- tanda tersebut, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.

9. Cross Bearing Technic :
a. Resection
Yaitu menentukan posisi dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Langkah-langkah melakukan resection:
1) Lakukan orientasi medan
2) Cari objek / titik yang mudah dikenali pada medan sebenarnya dan pada peta, minimal 2 buah
3) Bidik tanda- tanda medan tersebut dari posisi saat ini (azimuth)
4) Hitung hasil backazimuth, tarik garis lurus dari titik acuan tersebut
5) Lakukan langkah 2 – 4 pada titik acuan lain
6) Perpotongan garis yang ditarik dari back azimuth titik acuan tersebut adalah posisi kita dipeta.


b. Intersection
Yaitu menentukan posisi suatu titik (benda) pada peta dengan menggunakan 2 atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan dan dipeta. Langkah- langkah melakukan intersection adalah:
1) Lakukan orientasi medan dan resection untuk memastikan posisi kita di peta.
2) Bidik obyek yang kita amati
3) Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta
4) Bergerak ke posisi lain dan lakukan langkah 1-3
5) Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud. Semakin banyak titik bidik untuk menarik garis perpotongan, semakin akurat hasil yang didapatkan. Sudut terbaik antara titik bidik untuk melakukan intersection adalah 900


10. Metode Pergerakan Sudut Kompas ( Passing Compass / Man to Man)
Yaitu membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Tentukan titik awal dan titik akhir perjalanan dan plot pada peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan / azimuth dan back azimuth nya.
2) Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.
3) Bidikkan kompas seusai dengan azimuth, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan / titik bidik sebagai penunjuk.
4) Pergi ke tanda medan di tersebut, dan bidik kembali ke titik awal tadi. Jika arah perjalanan benar maka sudut ini akan sama dengan back azimuth.
5) Sering terjadi tidak ada benda / tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda (Man to Man) .

11. Interpretasi dan Analisa Peta Topografi
Sebelum melakukan perjalanan untuk memahami kondisi medan sebenarnya berdasarkan informasi pada peta sehingga dapat digunakan sebagai asumsi awal dalam penyusunan rencana perjalanan. Interpretasi dan analisa peta ini dapat dilakukan dari :
a. Informasi dasar peta,
seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta, lokasi daerah dan titik ekstrim seperti perkampungan (nama daerah, nama jalan, nama sungai, nama gunung dan bentukan alam lain), perpotongan sungai, jalan, ketinggian suatu titik, kerapatan kontur berdasarkan pemahaman tentang sifat kontur yang dapat digunakan untuk memperkirakan jarak dan waktu tempuh, karakter medan / kemiringan (terjal / landai), vegetasi, dll.

b. Tanda Medan
Melakukan analisa bentuk kontur yang tergambar pada peta untuk mendapatkan gambaran medan sebenarnya. Mengenali tanda medan ini dapat dilakukan berdasarkan sifat garis kontur yaitu :
1) Perbedaan tinggi antara 2 kontur adalah setengah dari angka ribuan pada skala yang dinyatakan dalam satuan meter (biasanya tertera pada setiap peta topografi)
2) kontur yang rendah selalu mengelilingi kontur yang lebih tinggi, kecuali untuk kawah
3) antar kontur tidak akan saling berpotongan, kecuali berhimpit pada lembah yang sangat curam dimana terdapat air terjun
4) kontur yang bebentuk seperti huruf V dari pusat kontur merupakan punggungan dan yang berbentuk seperti huruf V terbalik dari pusat kontur adalah lembahan.
5) Kontur terputus-putus menyatakan ketinggian setengah atau lebih dari perbedaan tinggi antara 2 buah kontur berurut.
6) Makin rapat kontur, menunjukkan daerah yang makin terjal/curam.
7) Saddle adalah daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian
8) Pass adalah celah memanjang yang membelah suatu ketinggian
9) Bentukan sungai dapat terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian tingkat kontur, biasanya terdapat pada lembahan dan namanya tertera mengikuti alur sungai.


Dalam kondisi sebenarnya, sering kali teknik cross bearing tidak selalu dapat dilakukan seperti karena faktor cuaca atau tidak terlihatnya titik ekstrim yang dapat dijadikan acuan. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam kondisi seperti ini adalah dengan melakukan analisa dan interpretasi peta untuk kemudian dapat dibandingkan hasilnya dengan medan sekitar, serta merunutnya dari titik awal perjalanan.

Oleh karena itu, biasakan untuk mempelajari, menandai dan melakukan sebanyak mungkin analisa medan selama perjalanan serta melakukan cross check perkiraan awal tadi dengan fakta yang didapatkan dilapangan. Semakin banyak kita mengetahui tanda – tanda medan yang dilalui, semakin memahami pula kita tentang sifat dan tingkat kesulitan medan tersebut yang akan sangat berguna selama melakukan perjalanan dan dalam situasi darurat.

Namun, Navigasi darat merupakan ilmu praktis, yang hanya dapat terasah jika dipraktekkan langsung pada kondisi sebenarnya. Pemahaman mengenai teori dan konsep hanyalah membantu untuk memahami ilmu navigasi, bukan menjamin kemampuan navigasi darat seseorang.

Daftar Pustaka
-Amri, Yul Ir. 1997. ”Diktat Pendidikan Gunung Hutan Mahasiswa Se-Indonesia 1997, Sistem Penetuan Posisi Global” . Padang : MAPALA UNAND (Tidak Diterbitkan).
-ASTACALA. 2002. ”Diktat Pendidikan Dasar Astacala”. Bandung : Badan Pendidikan dan Latihan ASTACALA (Tidak Diterbitkan) .
-Azha, Aksan. 2006. ”Dasar Navigasi Darat”. http://www.daksina.org.
-GEGAMA. 2004. ”Mater i Dasar Kepecintaalaman”. Yogyakarta : mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Geografi ( Tidak diterbitkan)
-
WANADRI . 1996. ”Diktat Pendidikan Dasar Wanadri” . Bandung: Badan Pendidikan dan Latihan Wanadri (Tidak Diterbitkan).
-_________
. 2004. ”Panduan Membaca Peta Rupa Bumi Indonesia”. Bogor : BAKOSURTANAL (Tidak Diterbitkan).
-___________. – . ”Diktat Kursus Navigasi Darat ’”. Bandung : Yayasan Kapinis Indonesia (Tidak Diterbitkan).
-_________
. 1992. ”Naskah Departemen untuk Navigasi Darat”. Bandung : Pusat Kesenjataan Infanteri TNI AD Pusat Pendidikan (Tidak Diterbitkan).
-_________
.” Tutorial Navigasi 1”. http://www.geocities.com/ourormed/tutorial_1.htm
-_________
.” Tutorial Navigasi 2”. http://www.geocities.com/ourormed/tutorial_2.htm
-_________
.”Pengetahuan dasar Navigasi Darat ”. http://www.gappala.or.id
-____
_____.”Dasar – dasar navigasi ”. http://www.highcamp.web.id
-_________
.” Lamber t Conformal Conic” . h t t p : / / w w w . m a n i f o l d . n e t
-_________
.” Lat itude / Longitude Project ion” . h t t p : / / w w w . m a n i f o l d . n e t
-_________
.” Projections Tutorial” . h t t p : / / w w w . m a n i f o l d . n e t
-_________
.” Transverse Mercator” . h t t p : / / w w w . m a n i f o l d . n e t
-_________
.” Universal Transverse Mercator (UTM) ” . h t t p : / / w w w . m a n i f o l d . n e t

*Anggota ASTACALA, Perhimpunan Mahasiswa Pencinta Alam ITTelkom





Mountain Bike -In my newbie side-

1 06 2008

Bicycle… bicycle….I want to ride my bicycle…. I want to ride my bike.I want to ride my bicycle. I want to ride it where I like (Queen: Bicycle Race)

Well, lagu ini dipopulerkan oleh Queen, merupakan tribute Freddie Mercury untuk salah seorang atlet Tour de France di tahun 1980-an. Rasanya lagu itu memang pas untuk menggambarkan serunya main sepeda.

Pernahkah Anda mencoba membayangkan bagaimana rasanya menuruni pebukitan dengan mengendarai sepeda. Agak mendebarkan dan dibutuhkan keberanian serta perlengkapan lumayan lengkap memang. Namun, jika Anda penggemar adrenalin yang meninggi hingga ke ubun-ubun, olahraga ekstrim ini patut Anda coba.

Dengan kecepatan yang bisa mencapai 80 km per jam, turunan tanpa aspal sejauh 800 meter dilibas dalam waktu kurang dari satu menit. Penikmat hobi yang satu ini tentu akan berteriak menyelaraskan diri dengan adrenalin yang berpacu di jantungnya. Mereka umumnya menggemari ini hingga tak bisa lepas pandangan untuk mencoba berbagai pebukitan yang ditemui.

Untuk pehobi kelas berat, mungkin dalam satu minggu bisa diluangkan waktu hingga dua hari untuk melintasi pebukitan dengan kecepatan dan kesigapan tangan mengendalikan laju roda sepeda gunung.

Sejarah

Hikayat menyebutkan, sepeda dahulu kala dibuat pertama kali bukan untuk sarana rekreasi apalagi olahraga namun murni sebagai bentuk transportasi yang lebih efisien dan tak menguras tenaga ketimbang jalan kaki. Di zaman Mesir Kuno, sepeda hanyalah sebuah balok melintang dengan dua roda kayu di bawahnya. Kala itu tak dikenal pengayuh atau pedal.

Sejarah sepeda bermula di Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibangun di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes. Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Bisa dibayangkan, betapa canggung dan besar tampilan kedua sepeda tadi. Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang – pada masa itu – untuk berjalan.

Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais. Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman berhasil melakukan terobosan penting, yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya. Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat saat berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama, Draisienne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada 1817.

Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan. Pada tahun 1839, ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada.

Yang mempopulerkan pedal dan rantai penggerak roda belakang adalah James Starley. Sehingga pada tahun 1900 di Amerika Serikat tercatat ada 70 ribu buruh untuk membuat 4 juta unit sepeda. James Starley mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. Ia memproduksi sepeda dengan roda depan yang sangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil.

Klasifikasi Sepeda

Bersepeda merupakan salah satu olahraga yang menyenangkan. Namun untuk olahraga yang satu ini kita harus memilih spsefikasi dari berbagai jenis sepeda yang akan kita gunakan, karena itu yang akan menentukan permainan sepeda apa yang akan kita lakukan. Sepeda sendiri ada berbagai ragam mulai dari sepeda BMX untuk freestyle maupun untuk Downhill dan Roadbike yang lebih dikenal ‘sepeda Balap’ ataupun Mountain Bike (MTB) yang sering disebut ‘Sepeda Gunung’.

Dari jenis olahraganya, bersepeda bisa dibagi dua, yaitu on road dan off road. Pada tipe on road atau road bike,trek yang ditempuh biasanya di jalan – jalan dalam kota. Sedangkan pada tipe off road atau extreme bike, trek yang digunakan adalah pada medan jalan tanah dan bergunung. Karena medan yang dilalui relatif lebih sulit, tak heran jenis sepeda ini lebih lengkap.

Berdasarkan suspensi atau peredam kejut, design sepeda dapat dikategorikan menjadi empat jenis:

- Fully Rigid : Jenis ini memiliki rangka yang kaku, tanpa ada suspensi baik depan maupun belakang.

- Softtail : Frame-nya menggunakan suspensi yang disebut dengan “elastomer“, fungsinya adalah untuk menggerakkan frame melewati medan yang tidak rata.

- Hardtail : Jenis ini memiliki bagian depan yang bersuspensi, sedangkan frame dengan bagian chain stay kaku tanpa ada suspensi. Tipe hard tail biasanya dipakai di medan yang bervariasi. Tipe hard tail sendiri bisa dicirikan dari adanya satu shockbreaker di garpu depan. Kalau tipe ini lebih cepat mendapatkan momentum ketika digenjot sehingga untuk mendapat kecepatan maksimum jadi lebih gampang. Tipe ini cocok buat yang senang cross country atau main di daerah pedesaan. Untuk yang suka modifikasi, kita bisa menambah shockbreaker, rem cakram, menambah gir, dan lain-lain

- Dual/Full Suspension : Sepeda jenis ini memiliki suspensi untuk bagian garpu depan dan bagian chain stay. Mekanisme kerja peredam kejut di bagian chain stay menggunakan penggerak (Pivot) yang menghubungkan lower dan upper chain stay, sehingga membuat ban belakang dapat naik-turun mengikuti kontur medan yang dilalui. Untuk full suspention biasanya dipakai buat penggemar turunan atau downhill. Hal ini penting karena getaran sepeda saat turun bisa diredam oleh shockbreaker di garpu depan dan belakang sepeda. Sepeda jenis ini biasanya fork (garpu) depannya lebih tinggi ketimbang belakang. Soalnya ketika di turunan, sudut kemiringan sepeda enggak akan terlalu ekstrem. Alhasil sepeda jadi lebih mudah dikontrol.

Mountain bike (MTB) menurut data, lahir tahun 1976. Dia tercipta oleh beberapa kelompok orang California yang awalnya dijuluki clunker atau cruiser di kawasan Marin County. Orang-orang ini sebelumnya ‘gila berat’ dengan sepeda jenis bicycle motor cross (BMX). Mereka jika lomba dengan BMX, gayanya itu khas sekali. Yakni, lompat-lompat di atas balok kayu (log jump), batu dan sebagainya.

Tapi kenapa mereka pindah ke MTB dan menciptakan sepeda jenis itu? Menurut mereka, BMX kurang mampu menempuh jarak jauh sambil mendaki atau pun menuruni bukit. Selain itu, frame geometrical-nya (kerangka) amat beda sehingga teknis pengendaliannya juga berbeda. Pada log jump, MTB tak mampu melakukan manuver seperti itu tapi BMX begitu mudah dan tangkas.

Berdasarkan cara mengendarai dan jenis medan Setidaknya ada 5 jenis Mountain Bike berdasarkan fungsinya, yaitu:

- Cross country (XC). Dirancang untuk lintas alam ringan hingga sedang. Didesain agar efisien dan optimal pada saat mengayuh dan menanjak di jalan aspal hingga jalan tanah pedesaan. Sepeda jenis ini dapat digunakan untk melibas segala jenis trek yang bervariasi seperti tanjakan, turunan, aspal maupun kubangan lumpur. Namun, sepeda ini memang tidak dirancang untuk turunan yang sulit, khusus untuk turunan yang sulit lebih pas kalo kita gunakan sepeda jenis Downhill (DH). Sepeda jenis ini biasanya menggunakan bahan logam yang ringan. Di Indonesia banyak dipertandingkan kelas cross country dan downhill. Karena dilihat dari jumlah peminat dan penggemar sepeda lintas alam yang jauh lebih banyak serta dari segi risiko dan biaya perlengkapan yang jauh lebih rendah.

- Enduro / All mountain (AM). Dirancang untuk lintas alam berat seperti naik turun bukit, masuk hutan, melintasi medan berbatu, dan menjelajah medan offroad jarak jauh. Keunggulan all mountain ada pada ketahanan dan kenyamanannya untuk dikendarai. Hampir semua sepeda AM bertipe full-suspension. Sepeda ini memiliki karakteristik yang hampir sama dengan jenis XC, perbedaan utamanya adalah pada bobot. Sepeda AM lebih berat dibandingkan dengan XC. Bobot yang lebih berat ini dimaksudkan untuk mengantisipasi medan yang lebih ekstrim dan ukuran rangka biasanya lebih besar dari XC.

- Freeride (FR). Dirancang untuk mampu bertahan menghadapi drop off (lompatan) tinggi dan kondisi ekstrim sejenisnya. Bodinya kuat namun tidak secepat dan selincah all mountain karena bobotnya yang lebih berat. Kurang cocok untuk dipakai jarak jauh. Julukan freeride ini mengikuti jenis aliran yang ingin mendobrak keteraturan yang hanya melewati jalur atau medan yang dilewati. Bagi penikmat sepeda ini, freeride adalah “No Way End for My Bike“. Berat sepeda jenis ini bisa lebih berat dari jenis AM dan XC.

- Downhill (DH). Dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung. Mampu menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi dan selalu dilengkapi suspensi belakang untuk meredam benturan yang sering terjadi. Sepeda DH tidak mengutamakan kenyaman mengayuh karena hanya dipakai untuk turun gunung. Sepeda downhill juga lebih mengacu pada lomba, sehingga selain kekuatan, yang menjadi titik tekan dalam perancangannya adalah bagaimana agar dapat melaju dengan cepat. Untuk menuju ke lokasi, para downhiller tidak mengayuh sepeda mereka namun diangkut dengan mobil. Tidak efisien dipergunakan di dalam kota maupun di jalur cross country.

Sepeda jenis ini memang dirancang untuk dapat digunakan pada jalur yang penuh dengan turunan. Sepeda jenis ini juga memiliki berat yang lumayan dan biasanya terbuat dari logam yang cukup tebal dan berat (Berat sepeda sangat berguna untuk meluncur mengikuti gravitasi bumi..). Ciri yang kasat mata lainnya selain bentuknya yang menyerupai motor trail tanpa mesin, adalah jumlah gear depan dan belakang yang biasanya lebih sedikit. Suspensi depan biasanya memiliki travel berkisar antara 150 mm sampai dengan 200 mm, hal ini dimaksudkan agar getaran yang timbul dapat teredam dengan baik. Sedangkan suspensi belakang menggunakan travel berkisar antara 7 sampai 8 inchi.

Biasanya, berjenis full supension bike, yang mempunyai peredam kejut di bagian depan dan belakang. Fungsi kedua peredam kejut itu untuk lebih menjaga kemampuan kontrol, kekuatan menahan beban dan traksinya. Itu sebabnya, daya travel peredam kejut ini mencapai 7 inci. Yang tidak boleh terlewatkan adalah soal sistem pengereman. Melihat risiko dan medan yang dijelajahi, sepeda downhill memakai rem cakram. Di bagian crank, yaitu lengan ayun untuk mengayuh sepeda terpasang pada botom bracket dan di ujung satunya lagi terpasang pedal, punya spesifikasi khusus. Sepeda downhill hanya memiliki satu piringan chainwheel (piringan bergerigi yang berada pada chainset/komponen crank). Sepeda ini tidak bisa dipakai di medan menanjak. Dengan tuntutan spesifikasi yang khusus itu komponen sepeda downhill menjadi mahal. Bila dihitung-hitung, harga satu set sepeda yang siap bisa dipakai bermain, harganya mulai dari Rp 16 juta.

Seorang pemain sepeda downhill harus melengkapi dirinya dengan alat-alat keamanan. Karena risiko yang ditimbulkan lebih ekstrem dan berbahaya. Helm full face, pelindung dada dan tulang belakang wajib dikenakan. Kemudian masih ditambah pelindung siku, pergelangan dan tulang kering. Sepatunya juga khusus. Bila sudah siap berlaga, jangan lupa pakai kacamata (google) dan sarung tangan. Biaya pembelian perlengkapan keselamatan juga tidak murah. Helm full face biasanya berkisar Rp 1 juta, body protector komplet (Rp 1 – 2 juta), sepatu (sekitar Rp 500 ribu), kacamata (tak lebih dari Rp 1 juta) dan sarung tangan (sekitar Rp 200 ribu). Nah, sekarang anda bisa memperkirakan biaya yang akan anda keluarkan saat ingin mencoba hobi menarik yang satu ini.

- Dirtjump (DJ)/ Urban and Street (DJ). Nama lainnya adalah urban MTB. Penggemar jenis ini awalnya adalah anak muda perkotaan yang menggunakan sepeda gunung selain sebagai alat transportasi, ngebut di jalanan kota, juga digunakan untuk melakukan atraksi lompatan tinggi dan ekstrim. Fungsinya mirip BMX namun dengan bentuk yang diperbesar. Umumnya sepeda DJ memiliki frame yang hampir sama dengan jenis sepeda BMX (singkatan dari B=Bicycle M=Moto X=Cross), tetapi memiliki diameter yang lebih besar antara 30% – 40%. Jika BMX memiliki diameter ban 20 inchi, sepeda DJ menggunakan diameter 24″. Jenis sepda DJ ini digunakan untuk dapat melewati segala kontur yang sudah dibuat (biasanya diwilayah perkotaan) seperti trotoar, tangga, tembok dan sebagainya.

Get your new Stuff !!

- Beli jadi atau rakitan ?

Jangan anggap enteng masalah ini. Memilih sepeda, khususnya mountain bike bukan hal sepele. Begitu memasuki toko sepeda ada beragam pilihan yang membingungkan. Tanpa pengetahuan memadai tentang sepeda bisa-bisa kita membeli sepeda yang tidak sesuai dengan fungsinya. Bagi yang berkantong tebal salah membeli sepeda tentu bukan problem serius. Tapi bagi mereka yang harus menabung sedikit demi sedikit untuk membeli sepeda, salah memilih adalah perkara besar.

Jangan sekali-kali membeli sepeda hanya karena senang pada bentuknya, tapi prioritaskan pada fungsi sepeda dan kebutuhan kita. Tentukan dulu penggunaannya untuk apa. Jangan sampai salah setting. Misalnya, ingin bike to work dengan jarak rumah ke kantor 40 km tapi yang dibeli sepeda BMX, atau mau ke gunung tapi yang dibeli city bike. Lebih sempit lagi, dalam dunia MTB misalnya, sepeda cross country dipakai untuk downhill, atau sepeda downhill dipakai dirtjump.

Mountain Bike dapat dibeli dalam bentuk sepeda jadi (full-bike) maupun rakitan yang komponennya kita tentukan sendiri. Sebagai pemula mana yang harus dipilih?

Pilihan pertama, membeli full-bike, berarti tinggal datang ke toko, pilih, bayar dan langsung pakai. Mudah sekali. Jika Anda tak mau repot, atau bersepeda bagi anda sekadar untuk berolah-raga dan sarana transportasi alternatif, maka membeli sepeda full-bike sangat cocok. Namun membeli full-bike juga membuat sepeda kita kurang memiliki nilai personal, karena pasti tidak sedikit orang lain yang memiliki sepeda sama dengan kita.

Pilihan kedua, sepeda rakitan, berarti kita memilih komponen dan membangun sepeda sendiri. Memang lebih merepotkan. Tapi kelebihannya, sepeda rakitan memiliki nilai kepuasan tersendiri bagi pemiliknya karena sesuai dengan keinginan dan gaya pribadi. Faktor yang harus diperhatikan dalam merakit adalah kita harus faham kecocokan dari masing-masing komponen. Membeli sepeda secara rakitan karenanya kurang disarankan bagi pemula. Para pemula yang ingin merakit sepeda sendiri sangat disarankan mengajak pesepeda yang lebih senior. Proses perakitannya juga sebaiknya diserahkan kepada tokonya, kita hanya sekadar memilih komponennya saja.

Untuk masalah kualitas, sebetulnya sama saja antara beli jadi dengan rakitan. Tetapi untuk masalah harga, dengan tingkat komponen setara, biasanya sepeda full-bike lebih murah. Kenapa? Karena sepeda full-bike diproduksi secara masal, sehingga bisa menekan biaya produksi. Kecuali bila kita merakit sepeda dengan memakai frame bajakan (generik), maka harga sepeda rakitan jelas lebih murah. Frame bajakan adalah frame sepeda gunung dengan merk terkenal (misalnya Specialized, Schwinn, Kona, dll.) tapi sebenarnya bukan buatan pabrik tersebut. Harga frame bajakan bisa 1/10 frame aslinya.

- Hardtail atau full-suspension ?

Lalu bagaimana memilih MTB yang baik dan mampu mengatasi medan berat? Menurut para pakar, sebaiknya belilah sesuai kebutuhan dan keperluan. Jika cuma untuk dipakai dalam jarak pendek, tentu tak perlu yang mahal. Namun jika suatu hari kita punya minat untuk membeli yang ternama, pastikan belilah yang top branded. Sebab, lazimnya produk ternama memberi jaminan kualitas yang pasti.

Ketika menanyakan hal ini biasanya para pemula akan disarankan memulai dengan hardtail. Alasannya antara lain agar para pemula terlebih dulu membiasakan diri dengan sepeda yang lebih ringan, efisien dalam mengayuh, mudah dalam pengendalian dan sederhana dalam perawatan. Baru setelah jam terbangnya dengan hardtail cukup banyak dapat beralih ke fulsus.

Saran ini sekarang mungkin sudah kurang relevan lagi, meskipun juga tidak salah. Mengapa? Karena, saat ini telah banyak sepeda fulsus yang memiliki performa dan efisiensi mendekati hardtail. Terutama pada sepeda ‘kelas atas’. Jadi, bila bujetnya memang sudah tersedia, tidak ada salahnya langsung mencoba fulsus. Begitu pula bagi orang-orang yang baru memulai bersepeda di usia 30-an ke atas, memilih fulsus akan membuat bersepeda menjadi lebih nyaman. Tentunya, yang dipilih bukan fulsus ‘asal jadi’ dengan efek bobbing besar (biasanya produk Cina), karena justru akan menyengsarakan dan jangan-jangan malah akan membuat kapok bersepeda. Efek bobbing adalah rantai mengendor dan mengencang akibat gerakan suspensi belakang, membuat kayuhan menjadi berat dan energi kita terbuang percuma.

Tetapi satu hal yang pasti, untuk pemula yang baru pertama kali membeli MTB, belilah sepeda cross country terlebih dahulu. Baik hardtail maupun fulsus. Jangan membeli sepeda freeride, apalagi downhill.

Yang jadi masalah sekarang adalah harganya. Untuk bisa serius dan fokus di olahraga ini, punya sepeda yang baik dan bagus wajib hukumnya. Agar tidak salah dalam menentukan pilihan, sebaiknya tentukan dulu berapa bujet, baru kemudian cari sepeda yang sesuai dengan anggaran kita itu. Jika bujetnya cuma 800 ribu rupiah, carilah sepeda seharga itu. Jangan mudah tergiur dan kebablasan membeli sepeda di atas bujet yang disiapkan..

-Harga

Memang, semakin mahal harga sebuah sepeda semakin baik pula kualitasnya. Pepatah ‘harga tidak akan menipu’ dan ‘ada harga ada rupa’ berlaku dalam membeli sepeda. Lantas apakah kegiatan ini hanya ditujukan bagi mereka yang berkantong tebal? “Tidak juga. Banyak dari mereka yang berasal dan kalangan bawah yang suka olahraga ini. Mahal itu relatif dan tidak bisa diukur. Banyak sepeda yang harganya murah. Tapi memang standarnya sepeda yang untuk bertanding sekitar Rp 5 juta. Sedangkan untuk championship itu sekitar Rp 20 juta-an. Sekarang tinggal kita yang memilih sendiri. Apakah sepeda itu untuk bertanding demi negara, atau hanya untuk having fun saja,” kata Suwandra.

Daripada mempersoalkan gengsi, lebih penting untuk membuktikan bahwa meski dengan sepeda murah tapi lebih jago di tanjakan, lebih piawai di medan offroad, dan lebih kuat endurance-nya. Sambil, tentu saja, sisihkan sebagian penghasilan anda agar ke depannya dapat mengupgrade sepeda anda atau membeli sepeda yang lebih sesuai dengan keinginan.

Bahkan, beberapa merek sepeda gunung harganya bisa melangit hingga di atas Rp 50 juta. Biasanya, kerangka sepeda itu terbuat dari karbon fiber. Beratnya pun begitu ringan dan bisa diangkat dengan satu tangan. Desainnya pun semakin berkembang mengikuti kebutuhan si pengguna. Kini, banyak sepeda yang menggunakan rem cakram. Ini merupakan adaptasi teknologi kendaraan bermotor. Artinya, tingkat keamanan pun semakin tinggi pula. Guna meredakan kejutan atau goncangan, umumnya sepeda gunung dilengkapi dengan shockbreaker, entah di depan, tengah, atau bagian belakang, dilengkapi dengan sensor komputer yang akan mengatur kerja shockbreaker. Jadi begitu dijalanin dan merasakan kontur jalan, sepeda akan mengatur seberapa banyak getaran yang akan diserap.

Sepeda gunung bisa dibeli mulai dari harga 700 ribu hingga puluhan juta rupiah. Kualitas bahan, fitur dan desainnya lah yang membedakan. Sepeda gunung seharga 700 ribu framenya masih terbuat dari besi, sedangkan yang puluhan juta berbahan serat karbon, bahan yang sama dengan pesawat terbang. Bagi kebanyakan orang, frame berbahan aluminium sudah mencukupi. Tetapi sekadar saran, jika bujet Anda mencukupi, jangan membeli sepeda gunung dengan harga di bawah 1 juta rupiah. Untuk pemula yang sekadar ingin bicycling for fun, sepeda berharga 1,5 – 3 juta rupiah sudah sangat mumpuni. Kecuali jika Anda sudah mulai serius menekuni hobi ini dan menjadi kecanduan berat, sepeda seharga 10 juta rupiah pun masih dirasa kurang.

Richard Cunningham yang mendesain sepeda gunung dengan merek Nishiki dan Mantis menyarankan pada mereka yang serius tapi punya dana pas-pasan, agar membeli frame (terbaik) lebih dulu ketimbang membeli sepeda komplit yang mahal sekali. Bagian atau komponen lain bisa dibeli satu per satu yang sesuai dengan komponen sehingga tak perlu berkali-kali melakukan perbaikan.

Yang juga tak kalah penting adalah di saat kita berhadapan dengan pedagang sepeda. Pertama kali mintalah brosur (katalog) yang berisi spesifikasi. Sesuaikan geometri sepeda yang akan dibeli dengan geometri sepeda yang harganya lebih tinggi. Kalau kita menemukan kesamaan geometri dengan sepeda yang akan kita pilih, antara lain head angle (sudut kepala stang), seat angle (sudut pipa sadel dengan pipa atas), top tube length (panjang pipa atas) dan chainstay length (panjang pipa kedudukan rantai) maka sepeda Anda sudah mirip sepeda yang harganya lebih mahal.

-Merek ?

Sepeda seperti halnya mobil. Industri sepeda juga mengeluarkan model-model baru dengan sentuhan inovasi-inovasi terkini sehingga nyaman dikendarai. Bahan kerangkanya tidak hanya terbuat dari besi atau campuran baja seperti zaman dulu. Sekarang kerangka sepeda berasal dari bahan-bahan yang eksotis, seperti titanium, aluminium, dan serat karbon. Beratnya lebih ringan, tetapi lebih kuat dibandingkan dengan sepeda-sepeda dulu.

Yang jadi pertanyaan bagaimana mengetahui sepeda itu mereknya ternama, sementara kita sama sekali belum tahu apa-apa tentang sepeda? Ini gampang, tanyakan pada dealer atau toko sepeda tentang spesifikasi sepeda yang bakal dibeli. Merek sepeda yang beken biasanya spesifikasi dan ukurannya jelas dan tak berubah-ubah. Atau lihat majalah sepeda untuk mengetahui lebih jauh tentang itu.

Sekarang ini ada sepeda yang harganya mencapai Rp 60 juta. Sepeda mahal itu menggunakan kerangka terbuat dari karbon fiber. Beratnya pasti ringan, sekitar 10 kg. Bisa ditenteng dengan satu tangan. Sepeda gunung berkelas ini antara lain bermerek Canondale buatan Cannondale Bicycle Corp. Terakhir, perusahaan pembuat mobil Audi juga memproduksi sepeda yang diberi nama Audi Bicycle, Mountain Bike Cross Pro. Audi mematok harga sepeda per unit Rp 33 juta.

Frame sepeda gunung yang ditawarkan Audi terbuat dari aluminium dengan desain khusus untuk cross country yang full suspensi. Remnya menggunakan rem cakram, disk brake Magura Marta yang kuat mencengkeram. Cocok untuk digunakan dalam kota yang banyak sepeda motor dan mobil yang kadang-kadang berhenti mendadak.

Dan jangan lupa cek pipa kerangka sepeda (frame tubes). Material kerangka MTB terbuat dari macam-macam bahan. Ada yang dari besi sehingga kuat dan keras, namun akhirnya sepeda jadi berat. Juga ada bahan yang terbuat dari besi campuran yang disebut High Tension atau sering disingkat Hi-Ten yang lebih ringan dari besi. Kemudian lahir penemuan baru lagi yakni Chromoly. Tujuannya sama agar sepeda menjadi lebih ringan dari sebelumnya. Tapi belum lama Chromoly hadir, lahir konsep tubing baru yang disebut Tange. Yang disusul lagi oleh Alumunium, Carbon, dan Titanium. Sepeda pun menjadi semakin ringan namun tetap kuat.

Sepeda gunung umumnya menggunakan shokbreker, baik di bagian depan, tengah, maupun belakang. Sepeda buatan Audi juga demikian. Namun, Audi membuatnya sangat terbatas, hanya 200 unit. Perusahaan otomotif ini tampaknya tahu bahwa konsumen sepeda yang dibuatnya hanya untuk kalangan tertentu, yaitu kalangan menengah ke atas, orang yang tidak sayang membeli sebuah sepeda dengan harga puluhan juta rupiah.

Sumber :
http://diditho.net/
http://bayuwahyudi.multiply.com/
http://www.kompas.com/
http://www.sinarharapan.co.id/
http://poinmascyclingclub.wordpress.com/route-this-week/
http://genjotyuk.blogspot.com/
http://freemagz.com/index.php





mahasisiwa ideal ala ASTACALA

24 09 2007
- Effective n efficient,
Seorang bijak pernah mengatakan “Sebagian besar hal yang besar terjadi didunia ini dilakukan oleh orang – orang yang sangat sibuk atau sangat sakit. Sangat jarang lingkungan yang santai mampu membentuk seorang untuk menjadi sukses atau bertumbuh.” So, jadilah mahasiswa aktiv, ikuti program / organisasi yang menurutmu baik dan sesuai dengan minat. Di ASTACALA, kita dikondisikan untuk efektiv dan efisien memanfaatkan waktu. Terkadang, organisasi atau diperkuliahan memang menyita waktu dan perhatian kita. So, manfaatkanlah kesempatan yang tersisa untuk menyelesaikan amanah yang masih tertinggal.

- Nature,
Percaya atau tidak, alam akan selalu mampu memberikan ketenangan. Dengan mengenyampingkan sejenak urusan yang kadang membuat mumet (TP, tugas besar, Quiz, utang, dll), menikmati keindahan lingkungan sekitar, mengunjungi tempat-tempat terpencil, bertemu dengan orang – orang asing, kebudayaan atau bahasa berbeda di seluruh penjuru negri akan mampu merefresh otak kita, mencoba untuk hidup sederhana dan lepas dari rutinitas atau prolem hidup, serta mungkin dapat memberi sedikit contoh kearifan.

-Jointly,
Menjadi “makhluk sosial”, bergabunglah bersama komunitas yang berbeda – beda, cari informasi sebanyak mungkin, berdiskusilah dengan berbagai macam orang…Jangan biarkan dirimu perlahan-lahan menjadi mahasiswa kuper atau autis, yang tidak peduli dengan dunia luar. Bergaulah, dengan begitu hidup ini akan terasa lebih indah, karena kegembiraan itu salah satunya akan datang dari persahabatan.

- Organize
Diantara seabrek tugas kuliah yang bikin pusing, Te-Pe yang bikin sensi, rapat organisasi yang bikin cape dech, dll..kamu mesti bisa me-manage jadwal dengan baik. Aturlah segala sesuatu sesuai prioritasnya, karna setiap kita hanya diberi waktu 24 jam sehari dan kita tak akan pernah duduk di dua kursi sekaligus..terkadang memang kita harus meninggalkan amanah yang satu untuk membuat amanah yang lain berjalan, tapi ketika kesempatan untuk kembali datang, kejarlah ketertinggalan dan berikan yang terbaik. Jadilah orang yang berkompeten !!

-Yummy
inilah asiknya, anggaplah semua aktivitas yang kamu lakukan selezat makanan kesukaan kamu…Hmmm…nyak…enyak…enyak..enyak…Majulah jika kesempatan untuk memegang amanah datang padamu, belajar sebanyak – banyak nya dari orang lain dan lingkungan, dan jangan lupa enjoy your -only one- Life guys !!

Banyak anggapan yang berkembang, bahwa MAPALA itu hanyalah kumpulan orng-orang urakan, dekil, kuliah ga bener, doyan berantem, dsb..dsb…
Tapi taukah anda Soe Hok Gie -aktivis mahasiswa dijaman orde lama yang mulai tekenal lagi ketika kisah hidupnya difilmkan dan dibintangi Nicolas Saputra- adalah salah satu pendiri MAPALA UI ?
DIkalangan pecinta alam sendiri, banyak dikenal tokoh – tokoh besar. Yang tidak saja adalah orang – orang yang menghargai hidup, tapi juga pribadi yang berintegritas, menghargai waktu, serta memiliki komitmen yang besar dengan target – targetnya. “Kita adalah apa yang kita pikirkan tentang diri kita”, begitulah dulu Soe Hok Gie pernah berucap…
Jadi, ga semua anak MAPALA itu jelek, jadilah apapun yang kamu inginkan dan berprestasilah dimanapun..

by ASTACALA team
take from BEWARA ASTACALA.





Menyusuri labirin renungan [1]

11 07 2007

29 Juni 2007. Dengan bismillah, aku bergantung pada sehelai tali putih tipis 10.5 mili ini..Sesaat yang lalu sebelum melepaskan semua pengaman terakhirku, sempat kutanyakan pada Ayis-Second Man kami pukul berapa saat itu “Sebelas lewat lima menit..“, jawabnya singkat. Entah mengapa kutanyakan itu…mungkin berharap angka yang disebutkan adalah urutan angka baik atau sekedar mengingatkan menit-menit terakhir nafasku berhembus -jika aku diijinkan mati saat itu-.

Entah seakan berkonspirasi dengan firasat tak menentu ini, angin dingin terus membelai dan jelas terasa sayup nada gemericik air dikedalaman sana. Gelap celah vertikal dibawah ini perlahan namun pasti mengantarkan denyut kesunyian yang tak terkatakan, bahkan melihat kebawahpun aku tak sanggup..entah mengapa juga lututku sekejab mengiggil dan terasa ringan, merasakan kekosongan gelap dimensi ruang dibawahku. Sebagai Rigging Man dalam penulusuran ini, aku berkewajiban untuk turun pertama kali memasuki lorong gelap ini..yang bahkan belum pernah kumasuki dan tak bisa rasakan kedalamannya.

Bandung, 1 Juli 2007. Minggu ini adalah sedikit dari saat melelahkan dalam perjalananku. bagaimana tidak, kami akan segera menyongsong petualangan di kedalam antah barantah perut bumi. Namun kami akan sangat ramai sekali saat itu..dan hampir sebagian besar dari mereka dipastikan akan sangat grogi -atau ketakutan- karena memang belum pernah memasuki gua sekalipun apalagi vertikal di malam sunyi gelap gulita. Tak heran, aku terus menerus khawatir menanti saat ini, bukan karena diriku saja tapi juga karena nyawa orang lain yang juga mungkin bergantung pada keputusan yang akan kami atau aku ambil nanti. inilah eksplorasi pertamaku tanpa rekan yang bisa dijadikan tempat bergantung..karena saat ini kami hanya mampu saling bergantung satu sama lain..saling menguatkan nyali yang mulai menciut.

Hanya selisih beberapa hari sebelumnya, kami baru saja menyelesaikan petualangan di tebing citatah selama 2 hari. Ya, 2 hari disiram teriknya mentari dan terpaan udara panas yang sedang berputar menyerbu angkasa. Sebelumnya bisa dikatakan kami tidak tidur, karena kawan – kawan anggota mudaku ini harus menyelesaikan sesi materi kelas rock climbing dulu sebelum melakukan praktek di tebing sesungguhnya.Baru jam 3 dini hari Sabtu tanggal 23 Juni 2007 itu kami bisa memejamkan mata..dan paginya harus kembali bangun menyiapkan perlengkapan yang harus kami bawa ke dalam beberapa carrier dan daypack, menuju Area Pusat Pendidikan dan Latihan Kopassus : Tebing 48 Citatah – purwakarta.

Lelah dan bau, kami akhirnya tiba lagi di Bandung minggu malam itu. Senin, tanggal 26 Juni 2007 diputuskan untuk beristirahat sejenak..fisik dan mental, dan tidak satupun alat – alat itu dicuci, karena akan digunakan lagi beberapa hari mendatang. Hari itu penuh hanya kuisi dengan tidur, baca buku dan menonton. Hari Selasa, 27 Juni 2007 pagi kami sudah ada di dasar Tower untuk berlatih SRT. Kami membuat 2 lintasan setinggi kira-kira 20 m waktu itu, dengan variasi intermediate dan simpul ditengah lintasan. Pagi itu aku dan kawan – kawan mentor mencoba memberikan materi mengenai teknik turun. Sorenya kutinggalkan sejenak sesi ini untukkeperluan masa depan, dan baru pulangnya aku tau kawan – kawan belum juga selesai berlatih hingga pukul 10 malam. Hari Rabu tanggal 28 Juni 2007 itu kawan – kawan sudah mulai menyiapkan perlengkapan dan membeli bekal untuk perjalanan selanjutnya minggu ini : penelusuran gua. Menurut rencana, kami akan berangkat Ju’mat paginya, sehingga paling tidak hari kamis kami sudah siap untuk On Action.

Oleh karena itu juga, kamis malam tanggal 29 Juni 2007 kami berlatih lagi atau lebih tepatnya tes. Onie dan Ayis sendiri sudah berangkat terlebih dahulu sebagai tim pendahulu, menyiapkan perijinan dan segala sesuatu nya disana. Sedangkan kawan – kawan anggota muda kali ini harus bisa menyiapkan peralatan SRT nya sendiri, melewati lintasan yang ditentukan dalam waktu terbatas berikut dengan peralatan lengkap penelusuran : Boot dan Helm. Ya ini adalah Tes Simulasi SRT, seperti biasa waktu yang telah ditentukan dilanggar..dan kembali aku harus begadang lagi..tak tanggung-tanggung hingga pukul 4 dini hari..”Ya Tuhan, berikan padaku kekuatan dan tambahan semangat“, pikirku waktu itu. Karena pukul 7 paginya kami sudah harus berangkat.

….

Sebenarnya tempat ini sudah pernah kudatangi sebelumnya, kawasan kars yang tersembunyi di bawah kerindangan hutan lindung pinus dan rimbunnya semak belukar kebun penduduk, Buni Ayu nama tempatnya. Sekitar 1-2 jam dari Kota Sukabumi. Saat itu tanggal 5-7 Mei 2007, kami hanya ber-4: Aku, nipon, Onie yang memimpin perjalanan survey ini dan acong, anggota muda yang juga turut kami ajak.

Sebenarnya tujuan perjalanan waktu itu bukanlah daerah ini. Tapi daerah kars yang lebih tersembunyi di pedalaman lagi..Sagaranten . Memang untuk mencapai daerah ini kita akan melewati daerah Buni Ayu dahuulu, yang tempatnya sudah menjadi area wisata yang dikelola perhutani dan berada sangat dekat dengan jalur transportasi. Namun lokasi komplek gua di Sagaranten sangat jauh dari keramaian. Nipon sendiri yang menjadi sumber informasi kami ketika itu, terakhir berkunjung pada tahun 2000 silam -7 tahun yang lalu-. Menurut informasi dari nya, kami tau bahwa daerah kars disana sangat perawan, dan terdiri dari berbagai gua vertikal – horizontal yang mayoritasnya berjenis fosil.

Berbekal data 7 tahun yang lalu itu juga, kami berempat akhirnya berangkat ke Sagaranten lengkap dengan perlengkapan camp, logisitik, bahan bakar, dan peralatan penelusuran vertikal. Sebelumnya aku tak pernah khawatir dan tidak sedikitpun firasat melintas dari benakku, bahwa telah banyak yang berubah selama 7 tahun terakhir di dunia ini…termasuk di daerah terpencil seperti Sagaranten.

Dan terjadilah sudah..seperti sudah ditakdirkan, kami saat itu tak berhasil melakukan penelusuran di Sagaranten…karena kami tak pernah ada disana. Ya, kami tidak mampu mencapai Sagaranten dalam perjalanan itu. Karena memang Sagaranten adalah suatu wilayah yang sangat luas..dan kami tidak punya kata kunci desa, kampung atau apapun yang mampu mengidentifikasi dimana tepatnya lokasi yang kami tuju : Rumah Pak Parmin, kuncen gua di Sagaranten. Pun tidak setelah bertanya dan dikerumuni orang-orang –tukang ojeg, preman, satpam,dll- di terminal, atau ketika meminta kawan untuk membawa mobil carteran untuk mengantar kami berkeliling mencari rumah kuncen Sagaranten tersebut hingga pukul 2 dini hari, atau ketika kami menumpang menginap di kantor polisi setempat : Polsek Nyalindung.

Ya, kami tidak pernah menelusuri gua – gua di Sagaranten dalam perjalanan itu. Esoknya tanggal 6 Juni 2007 setelah bangun dari tidur sejenak kami dan makan pagi seadanya di warung, kami berdiskusi mengenai rencana kami saat itu. Diputuskan bahwa kami menghentikan pencarian lokasi desa gua di Sagaranten itu dan langsung menuju Buni Ayu yang sudah jelas posisi nya dan dapat lansung dicapai dari tempat kami berada saat ini. Sebelumnya, ketika Pak Polisi yang sedang berjaga menanyakan tujuan kami, sempat kujawab Buni Ayu dan beliau menawarkan untuk mengantarkan kami dengan mobil patroli.

Dan akhirnya kami tiba juga di Buni Ayu hari Sabtu, tanggal 6 Mei 2007. Saat itu Pak Kakai, koordinator disana beserta Kang Ucok, salah satu guide yang menyambut. Kami menyampaikan niat kami untuk melakukan penelusuran dan mengatakan bahwa kami membawa perlengkapan yang lengkap sehigga tidak perlu meminjam alat. Saat itu yang kami perlukan adalah ijin berkemah dan guide untuk menunjukan gua yang bagus untuk dieksplorasi.

Dari hasil tawar menawar waktu itu, disepakati harga 60 ribu untuk menginap 1 hari di area camp, seorang guide, baju dan helm penelusuran. Waktu itu sudah siang, sekitar pukul 2 dan kami memutuskan untuk mengisi perut yang kosong dahulu. Tak lama hujan deras menemani makan siang sederhana kami itu, dan Pak Kakai menegaskan kembali bahwa kami tidak diijinkan untuk melakukan penelusuran gua yang melewati arus sungai karena dikhawatirkan terjadi banjir didalam..

Oleh karena hal tersebut dan keterbatasn waktu juga, hanya beberapa gua horizontal yang sempat kami masuki waktu itu -gua siluman dan buni ayu-, semuanya adalah entrance (mulut gua) horizontal. Lokasi ini menurut informasi yang kami dapat adalah tempat yang dikunjungi oleh Riani Jangkaru dengan timnya ditemani kawan – kawan MAPALA UI untuk syuting salah satu episode Jejak Petualang.

Selebihnya kami hanya melihat – lihat entrance lain dan mendokumentasikan posisi nya di permukaan bumi, Gua Landak, Domba yang kesemuanya adalah entrance horizontal dan terletak di dalam lebatnya hutan lindung pinus. Saat itu aku tak henti – henti nya kagum karena teringat dengan panasnya terik mentari di Gunung Sewu, Gunung Kidul…tempat yang dulu menjadi persinggahanku untuk mengenal petualangan ini. Saat itu, acong memutuskan untuk tidak ikut serta dengan kami, ”capek…sekalian aku jaga base camp”, katanya saat itu. Tapi aku melihat hal yang lain, shock? Ya untuk ukuran pemula, ia sudah cukub banyak mendapat hal baru yang sangat tak terduga dalam 24 jam terakhir : nyasar, nginap di kantor polisi, berada dalam lorong gelap horizontal dan merasakan bau serta kotoran yang kujamin tak pernah ditemuinya selama hidup di permukaan bumi.. Jadi kami tinggalkan acong di basecamp saat itu, karena memang perlu ada yang stand by untuk menjaga perlengkapan kami sekalian mempersiapkan makan malam.

Entrance Vertikal yang menjadi favorit yaitu Gua Kerek tak sempat untuk kami turuni. Ia adalah bentukan alam berupa sebuah lorong vertikal yang mulutnya terbentuk dari rekah longsoran batuan kapur beberapa ratus lalu. Waktu itu aku yang memegang GPS (alat untuk menentukan koordinat) dan merekam posisinya. Lensa kamera SLR Canon kami saat itu berembun, karena memang saat itu sudah sore dan tanah ini baru saja diguyur hujan begitu lebat nya siang tadi… hingga kami tak bisa merekam suasana yang ada saat itu. Pernahkah kamu membaca teori lubang hitam yang menarik segala sesuatu disekitranya? Seperti itulah yang kurasakan saat melihat dan berada di sekitar celah vertical ini : sunyi, gelap dan begitu kuat menariku..

Sama seperti yang kurasakan kelak, sayup terdengar suara aliran air didalamnya disertai angin dingin yang seakan menyembur dari bawah sana. “Ada sungai dibawah ya kang ? berapa kira-kira dalamnya ? “, tanyaku untuk sekedar melepas kesunyian pada guide kami hari itu. “Ya, ada sungai dibawah. Klo hujan bisa banjir hingga 2-3 meter..Dalamnya kira-kira 30 meter-anlah..“, jawab kang Ucok ringan. Mendengar keterangan singkatnya itu, aku mencoba menggambar kondisi dibawah sana di dalam pikiranku…turun kedalam lorong sempit sejauh 30 meter-an (bisa 39..35…32..) dan langsung disambut dingin nya air sungai.”anjrit…”, pikirku..

Klo musim hujan seperti ini, kami ga berani turun sore atau malam..karena biasanya hujan disore hari, sedangkan jika turun malam hari, tidak bisa dipantau kondisi langit dari kawan-kawan diatas. Gua ini bagian utama dari aliran sungai bawah tanah dibawah ini. Menurut perkiraan, sungai bawah tanahnya yang membentuk air terjun di depan entrance horizontal di bawah sana..walau belum ada yang membuktikan nya…beberapa tahun lalu memang ada peneliti dari prancis yang menelusuri sungai bawah tanah ini dengan perahu karet hingga ke entrance horizontal, tapi gagal. Klo waktu nya cukup, kita akan kesana.” katanya lagi dalam percakapan kami menelusuri hutan pinus ini, menuju pintu-pintu misteri lain yang bisa kami kunjungi sebelum matahari beranjak ke peraduannnya.

Dan memang benar, kami akhirnya tiba di air terjun setinggi 7 meter itu – Air Terjun Bibijilat. Sedikit kedalam kulihat ada entrance horizontal yang menjadi sumbernya..serasi dengan nama air terjun nya : Gua Bibijilat. Ya, Air terjun ini berasal dari sungai bawah tanah yang tiba – tiba muncul ke permukaan bumi dan langsung disambut bentukan bebatuan vertikal. Penduduk tampaknya memanfaatkan kekayaan alam ini dengan membangun undak-undak besar menyerupai gourdam dan 3 buah pompa air mekanik untuk menyuplai kebutuhan air bagi kampung mereka. Semak belukar diatas juga dipotong pendek sehingga menyerupai taman kecil sederhana yang rindang dibawah pepohonan besar diatasnya. Entah berapa kubik kecepatan air kapur ini mengalir…yang jelas bunyi gemuruhnya nya terdengar hingga jauh, dan aku tak mampu membayangkan kondisi sungai bawah tanah di gua sana…atau bagaimana rasanya terjebak didalam..

To be continued





My Last Journey..

26 09 2006
This is my last journey in Jogja -never ending city-
with the cavers of ASC and all around indonesia
(from Semarang to Aceh
guys…)


The Man behind the sky
(Shoot it with The Masterpiece : Canon AE-1, Jembatan Beber Sari)



Lagi Survey keliling – keliling…mendaki gunung, lewati lembah…nyariin ada luweng or gua…masih sempet foto – foto dulu bareng anak – anak…

great moment i ever had..

Ditengah eksplorasi itu ada kesempatan buat sekalian belajar fotografi gua..

Masih amatir banget….walaupun udah coba di repair pake PS tetep aja hasilnya kayak genee…..apa fotonya emang udah ga ketolong lagi ato gw emang bego banget pake PS ya?? dua – duanya kaleee….teing euy…hahaah

(Shoot it with Nikon FM-10, Luweng Cokro Gunung Sewu)


Kawanku Rahman, Aranyacala Trisakti sedang mencoba untuk descending dari ketinggian 30 m. Saat itu kami dalam sesi latihan SRT dan Vertical Rescue di jembatan Beber Sari.

I hope i can see you again sooner in another eksploration guyss..!!

(Again Shoot it with The Masterpiece : Canon AE-1, Jembatan Beber Sari)


Lagi eksplorasi + belajar Maping gua nih…..
seru abis dah..
semua posisi dapat : merayap, merangkak, jalan jongkok, manjat, pokoke semua dah..
seru nya lagi,
itu semua dilakuin sambil bawa – bawa kompas n buku catetan segala…huahahahaha


Just Touch It !!!

Hahahaha……masih di luweng yang sama..ada bentukan bagus banget…tekstur batunya seperti kayu..

Tapi, sekali lagi keterbatasan skill ini untuk mengabadikan keindahan terhambat…hiks hiks, hasilnya over banget !!

(Shoot it with NIKON FM-10, Luweng Cokro Gunung Sewu)

Jalan – jalan n hunting picture keliling jogja..





Pesona Goa Negeri Angso Duo (3)

24 09 2006

Catatan Perjalanan Caving TWKM XVII

Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Rabu, 14 Des 2005

Pagi ini kami sepakat untuk mencoba ascending – descending menggunakan SRT Set di pohon sekitar basecamp sebagai pemanasan. Aku, Onie dan datuak yang memang belum berkecimpung di dunia para caver, menggunakan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan kawan – kawan yang sudah expert. Bagaimana tidak, banyak diantaranya adalah Kadiv Caving di organisasinya. Kami berlatih hingga siang, kemudian makan dan sholat.

Sesuai dengan ROP, kami dibagi menjadi 2 team : Jefry, Catur, Onie, Mpok Sanni, Getol di Team 1 dan Abon, Datuak, Berry, Bebek, Aku di Team 2. Aku bersyukur dengan ini, karena memungkinkan kami untuk meminjam SRT Set kawan di team lain ketika melakukan penelusuran (bergantian vertikal dan horizontal).

Siang itu, kedua team mempersiapkan perlengkapan masing – masing. Jam 3 siang, kami serentak berangkat menuju lokasi. Perjalanan yang ditempuh cukup mengejutkan kawan – kawan. Karena memang lokasi goa yang berada di balik punggungan, sehingga kami harus mendaki dulu kira – kira 1 jam. Setibanya di depan entrance goa Mesjid, kami masih sempat mencuci muka dulu di sungai kecil yang juga digunakan petani walet – yang mendirikan pondok disekitar situ – untuk mandi dan mencuci. Team 1 mesti harus mendaki beberapa saat lagi sebelum tiba di entrance goa Kadir. Team 2 ditemani oleh 3 orang guide petani walet : jala, alwi dan rudini. Selama ekplorasi kami mengunjungi 4 dari 7 lorong yang ada. Sebenarnya kami ingin waktu eksplorasi lebih lama lagi, agar memberi kesempatan lebih lama untuk mempelajari goa ini. Namun karena sang guide mesti menjaga sarang walet di goa lain, maka kami mengakhiri eksplorasi sore itu juga dan tiba di basecamp tepat sebelum magrib. Kondisi goa yang kotor dan rusak itu cukup untuk membuat kecewa kawan – kawan. Bebek tampak cemberut sampai malam itu, walau tidak berkata apa – apa, aku tau dia berharap dapat melihat ornamen yang lebih bagus setelah jauh – jauh ke jambi.

Setibanya di basecamp kami bebersih sambil menunggu team 1 kembali. Menurut ROP, seharusnya mereka sudah tiba sebelum jam 9 malam itu. Jika tidak juga datang sebelum jam 10, maka kawan – kawan panitia dan peserta putra sepakat untuk menyusul. Aku, Bebek dan panitia putri tetap stand by di basecamp. Kami tertidur dan terbangun setelah mendengar keributan, ternyata team 1 sudah datang. Ketika itu waktu menunjukan kira – kira jam 12 malam. Aku bangun lagi, mengikuti evaluasi dan briefing hingga jam 3. Kawan – kawan putri lain – yang tampak sangat kelelahan – tidak ikut dan beristirahat.

Kamis, 15 Des 2005

Hari ini, gantian team 2 yang eksplorasi ke goa vertikal. Sesuai evaluasi malam sebelumnya, maka dipilih goa vertikal lain karena goa Kadir menurut kawan – kawan team 1 sungguh mengecewakan karena hanya berupa sumur, sehingga dianggap tak labih dari latihan SRT saja alias ga ada jalan – jalannya.

Kawan – kawan yang kurang tidur baru bisa bersiap dan berangkat jam 1 siang lewat. Team 1 menuju goa Mesjid, sedangkan kami menuju entrance goa Sentot. Perjalanan nya cukup advance juga, membuatku kembali bersemangat. Ternyata dugaanku tepat, dikejauhan bau guano sudah tercium yang menandakan ada goa tak jauh dari posisi kami saat itu. Entrance goa Kadir mengobati kepenatan setelah mendaki 1 jam lebih. Dengan diameter 5 meter lebih, kami mencoba menganalisa lokasi anchor yang tepat untuk rigging. Jala, yang menemani saat itu membantu kami membersihkan semak di sekitar mulu goa. Belum ada orang yang melewati entrance ini sebelumnya, begitulah kata Robi – panitia yang bersama kami -. “Gilaaaaa…bakal seru nih”, pikirku.

Kami membawa 2 tali karmantel super statis 50 m dengan kondisi yang kotor dan berbulu. Aku dan bebek sempat sikut – sikutan waktu melihat tali itu dan berdoa mudah – mudahan talinya cukup kuat untuk SRT 6 orang. Tak kurang dari 2 jam, instalasi jalur sudah selesai, dengan bentuk Y anchor dan 2 jalur (karena perkiraan jalur kurang dari 30 m vertikal). Jadi, akan turun 2 orang bersamaan : Jibrik (instruktur) – Robi (panitia), Bebek – Datuak, terakhir Abon – Adek.

Ketika Jibrik dan Robi decending, diketahui ternyata kedalaman jalur ini lebih dari 30 m sehingga tali tidak cukup. Mereka kemudian turun hingga teras pertama. Seluruh team diinstruksikan decending hingga teras ini dulu kemudian 1 tali dilepas dan disambung ke tali yang lain. Ketika aku dan Abon turun, sebuah bongkahan batu sebesar kardus supermi jatuh. “ROCK FAAAALLLLL !!!” teriak abon. kami berhenti sebentar dan sangat kawatir dengan kawan – kawan dibawah, karena tempat berpijak mereka saat itu sangat sempit ditambah salah seorang kawan tidak menggunakan helm. Setelah terdengar teriakan aman dari bawah, kami pun melanjutkan descending. Untuk menghilangkan ketegangan, aku dan abon mengisi decending dengan bercanda. Alhamdullilah kami selamat tiba di teras, kemudian bergabung dan mengamankan diri dengan cowstail.

Ben dan Bowo – yang stand by di atas – melepas tali ke 2. Jibrik dan Abon kemudian memasang kembali lintasan. Waktu itu sudah magrib sehingga kami mulai dikelilingi kegelapan. Dinding didepanku saat itu tampak seperti tengkorak karena bentukan tonjolannya. Setelah semua aman, jibrik diikuti abon, bebek, datuak, aku dan terakhir abon descending kembali. Saat itu kami membuat 1 deviasi untuk menghilangkan friksi dan 1 simpul butterfly pada lintasan ini. Menurut Abon, lintasan ini tidak begitu baik karena penuh dengan friksi. Jibrik yang tiba lebih dulu, berteriak bahwa dibawah sungguh menakjubkan. Dari atas kami sudah terdengar suara sungai bawah tanahnya. Kata Jibrik sungai ini lumayan besar..”akhirnyaaaa”, pikirku.

Kami mengunjungi semua lorong yang ada dan menemukan siphon di salah satu lorongnya. Saat itu semua orang sungguh ceria, yah..akhirnya terbayar sudah setelah jauh – jauh datang ke jambi. Bagiku ini adalah pengalaman sekaligus pembelajaran yang tak terlupakan. Tak pernah terbayang dalam benak ini, goa vertikal pertama yang akan kuturuni ada di jambi dan langsung 60 m lebih !!!

Eksplorasi saat itu berakhir hingga jam 10 malam lewat. Keluar melalui entrance horizontalnya pun sungguh penuh tantangan dimana kami harus sedikit chimneying, karena lorong yang sangat sempit (kurang dari 50 cm) dan dibawahnya mengalir sungai yang mungkin saja dalam. Diluar kami sempat menemukan air terjun seperti yang diceritakan jala. Saat instalasi tadi, jala memang sudah mengatakan bahwa menurut perkiraannya goa ini akan tembus ke entrance horizontal di dekat air terjun.

Perjalan ke basecamp aku isi dengan berlari, karena memang jalurnya turun. Sesampainya di basecamp, kami sudah ditunggu oleh kawan – kawan team 1 yang tak sabar menanti cerita kami. Setelah bebersih, kami pun bercerita tentang eksplorasi tadi. Saat itu waktu menunjukan jam setengah 11 malam lewat.

Jumat, 16 Des 2005

Karena penasaran dengan cerita kami, kawan – kawan Team 1 pun meminta pada panitia untuk diantar ke goa kadir juga. Sesuai kesepakatan team 1 akan berangkat sebelum waktu sholat jum’at dan team 2 akan menyusul dari entrance horizontal sambil membawa makan siang team 1.

Kami berangkat jam 1 siang lewat ditemani 3 panitia (fahmi, eka, sri) dan bertemu dengan team 2 jam 2 an. Saat itu, Yuda dan Getol sudah ada di dasar goa. Kami menunggu hampir 2 jam sebelum semua personil tiba. Eksplorasi ini tidak lebih dari 3 jam. Kami makan malam di entrance horizontal. Suasana saat itu sungguh membuatku akan selalu mengingat momen ini. aku merasa disinilah titik puncak rasa persaudaraan yang mulai tumbuh diantara kami.

Sabtu, 17 Desember 2005

Sesuai instruksi panitia, kami harus bersiap – siap dari pagi karena kemungkinan truk yang akan menjemput kami tiba jam 9. Kami sempat makan pagi dulu, membantu panitia untuk packing tenda pleton dan perlengkapan basecamp lain. Sambil tidur – tidur di hammock, main kartu atau sekedar ngobrol kami menunggu. Tapi hingga jam 1 siang, truk yang ditunggu tidak datang juga. Akhirnya kami makan siang dan panitia meminta peserta jalan dulu ke desa terdekat yang –katanya- tidak lebih dari 2 km.


Aku sedikit sangsi jarak yang kami tempuh dulu itu kurang dari 2 km, paling tidak 5 km lah. Ternyata benar. AKu, Catur dan Yuda saat itu berjalan cepat di depan. Kami tiba di Dusun Dalam –desa terdekat- jam 6 sore atau 5 jam jalan kaki!!! “Buseeeet….lengkap semua : dari offroad, gunung hutan, berenang di goa, panjat tebing sampai long march !!! ”, pikirku.

Alhamdullilah truk yang kami tunggu sedang parkir di sana. Ternyata beliau memang tidak bisa menjemput ke lokasi dan Robi yang kemarin mencari kendaraan akhirnya ke Merangin mencari alternative lain. Pak Sahar bersedia mengantar hingga kantor Polsek Sungai Manau. Dari sana kami akan melanjutkan dengan bus antar kota ke Jambi.

Bebersih dan makan malam, kami menunggu lagi hingga jam setengah 12 malam. Waktu yang ada kami isi dengan menonton tv dan bermain teka – teki konyol. Ketika bus yang ditunggu datang, kami langsung berangkat. Perjalanan ke jambi memakan waktu 6 jam lebih. Hingga kami tiba di kampus Unja Telanaipura jam setengah 6 pagi.

Aku bertemu dengan Sapi dan Petong yang datang setelah kami. Aku tidak menemukan Ayis di kumpulan team RC yang tiba lebih dulu. Sementara itu team GH baru tiba siang hari nya. Aku bertemu Jabek di aula siang itu dan menanyakan ROP ke bandung. Menurut komandan, tiket pesawat sudah di booking untuk penerbangan besok jam 5 sore.

Pak Kebo dan pasukan dari bandung pagi itu juga sempat mampir dan mentraktir kami makan pagi di warung padang terdekat. Ternyata benar, di jambi biaya makan sungguh mahal. Pak Kebo yang tidak bisa lama – lama di jambi langsung berangkat ke bangko setelah sarapan itu.

Siang itu team Caving sempat jalan – jalan keliling jambi dan sorenya kami mengantarkan Berry ke bandara karena harus sudah tiba di Bandung besok untuk UAS. Malamnya kami mengikuti penutupan TWKM XVII di rumah dinas Walikota Jambi. Acara berakhir jam 11 malam dan NO DRUGS. Tapi sesampainya di aula Unja Telanaipura dini hari itu, aku melihat kawan – kawan lain sudah pada mabok. Karena sudah capek langsung saja aku dan yang lain instalasi tempat tidur dan bobok..

Minggu, 18 Desember 2005

Hari ini hanya diisi dengan menunggu. Aku bertemu dengan seorang kenalan dari Padang yang sudah jadi jendral nya Proklamator. Beliau saat ini aktif di MAPALA dan mendirikan salah satu KPA di Bangko. Dari percakapan itu, aku mengetahui bahwa kawan – kawan di Jambi cukup kecewa dengan pelaksanaan TWKM. Hal ini antara lain karena masalah koordinasi yang tidak jelas. Namun, aKu yakin panitia pun telah memberikan yang terbaik dari yang ada. Mudah – mudahan evaluasi ini memberi pelajaran berharga bagi kita semua tentang arti penting sebuah kesiapan dalam melaksanakan kegiatan.

Aku kemudian meminta diantarkan untuk mencari jajanan khas Jambi untuk oleh – oleh. Aku diajak ke MAKOPLA DIMITRI dulu dan sempat ngobrol dengan kawan – kawan disana. Ternyata mencari jajanan khas Jambi tidak perlu jauh – jauh, cukup di supermarket saja…ya elahhh.

Kami berangkat jam 4 siang dengan mobil Fahmi. Aku tidak sempat berpamitan dengan kawan – kawan Caving lain, karena mereka sedang bergerilya mencari transportasi pulang. Di rombongan kami juga ada team MAPA GUNDAR dan PALAWA. Kebetulan kami dengan penerbangan yang sama.Jam 6 sore kami sudah tiba di Sukarno Hatta.

Kami langsung pulang hari itu juga ke bandung, tidak mampir ke warnet Macan dulu. Kami tiba di Bandung tengah malam. Membeli nasi goreng dulu di palasari, kami lalu pulang. Di sekre saat itu sedang stand by Pak Ketua. Setelah nongkrong sebentar dan cerita tentang hal konyol di jambi, aku langsung ke goa tidur. Karena lelapnya, kenangan Jambi saat itu tidak terlintas dalam mimpiku. Mudah – mudahan ilmu yang didapat bukan hanya jadi mimpi kesiangan, karena harapan untuk jalan – jalan dengan Dream Team Caving ASTACALA jadi bagian obsesi ku sejak saat itu. Amien


*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom

Tulisan ini tersedia di Kisah Perjalanan website www.astacala.org





Pesona Goa Negeri Angso Duo (2)

24 09 2006

Catatan perjalanan Caving TWKM XVII

Adek Aidi (AM – 018 – KF) *

Persiapan Teknis

Secara umum, persiapan teknis yang kami lakukan adalah persiapan perlengkapan masing-masing divisi. Sapi dan Petong sebagai delegasi Kenal Medan Divisi Rafting, melakukan peminjaman perlengkapan melaui sponsorship (Boogie) dan organisasi independen (YCR / You Can Raft). Pihak Boogie meminjamkan beberapa pelampung dan tak lupa memberikan kaos CREW www.boogieadvindo.com (yang kemudian oleh kawan – kawan disablonkan kata ASTACALA tepat diatas kata CREW nya). Sementara itu, YCR bersedia meminjamkan beberapa paddle dan helm. Terima kasih Boogie dan YCR…

Ayis – yang ikut di Kenal Medan Divisi Rock Climbing- dapat segera melakukan inventarisasi perlengkapan yang dibawa. Dalam hal ini, tidak dilakukan peminjaan dari pihak eksternal karena ASTACALA memiliki inventaris perlengkapan climbing yang cukup.

Berbeda nasib dengan cerita diatas, aku dan Onie yang ikut Kenal Medan Divisi Caving tidak dapat banyak mempersiapkan alat – alat penelusuran goa, karena ASTACALA sendiri belum memiliki inventaris untuk perlengkapan penelusuran goa (terutama SRT Set), juga perlengkapan tersebut masih sulit dicari di bandung (melalui peminjaman). Hal ini karena masih sedikitnya organisasi MAPALA / Pecinta Alam di Bandung yang berkegiatan dan memiliki peralatan penelusuran goa. Untuk langsung membeli sangat tidak mungkin karena minimnya waktu dan kondisi keuangan kami atau organisasi. Oleh karena itu, kami hanya membawa beberapa perlengkapan yang sekiranya bermanfaat. Aku juga sempat meminjam head lamp milik Astaka dan mengamankan sepatu boot hijau Jimbo yang sebelumnya digunakan untuk berkebun (terima kasih banyak bantuan nya…. : )

Jabek, yang ikut Temu Wicara juga sempat melakukan persiapan teknis. Perwakilan ASTACALA (jabek, onie, sapi, petong) hadir pada pertemuan konsolidasi akhir antara MAPALA se JAWA BARAT di Kampus UPI yang dikoordinasikan oleh MAHACITA. Dalam pertemuan dibahas rencana pencalonan PIN ataupun tuan rumah TWKM XVIII oleh MAPALA yang ada di JAWA BARAT. ASTACALA sempat masuk dalam bursa pencalonan tuan rumah TWKM XVIII. Namun, setelah berkoordinasi degan barudak yang ada di sekre hal ini untuk sementara di tolak dulu, mengingat kondisi ASTACALA yang perlu melakukan pembenahan internalisasi sebelum merambah keluar. Selain itu, petong juga sempat mempersiapkan makalah untuk dipresentasikan pada sidang TWKM XVII, namun karena berbagai hal makalah ini tidak sempat diselesaikan sehingga tidak dapat dipresentasikan.

Dalam hal ini, penulis berpendapat ASTACALA mulai dikenal dan dipercayai oleh MAPALA lain khususnya Bandung untuk mendapat amanah. Selain adanya wacana tuan rumah TWKM XVIII tadi, juga terbukti dengan terpilihnya ASTACALA untuk menjadi PID JAWA BARAT pada TWKM XVII tersebut.

Mudah – mudahan hal ini dapat menjadi dexter yang menambah kekuatan fisik dan mental kawan – kawan ASTACALA dalam menempuh perjalan panjang menundukan puncak – puncak kejayaan kepetualangan. Apapun bentuk nya.

Perjalanan

Minggu, 11 Des 2005

Hari itu akan selalu ku kenang sebagai salah satu hari paling kocak yang pernah ku alami dalam hidup. Bagaimana tidak, pagi itu kami team ASTACALA yang akan ikut TWKM XVII sedang terburu – buru untuk packing kebutuhan kami selama berkegiatan. Mulai dari kolor sampai carabiner screw dan helm menunggu untuk dimasukan dalam tasku yang hanya day pack itu. Bagi ku, day pack ini sedang berada dalam fase test drive , maklum baru beli coy…di counter boogie yang ada di sekre sendiri, lumayan discount 20 %.

Ditengah kesibukan kegiatan itu, aku teringat belum mengambil uang kontan untuk saweran kami dan kiriman dari salah satu jendral yang mesti segera di setor ke komandan Jabek. Belum lagi harus ke kos seorang teman untuk menitipkan surat ijin tidak ikut presentasi tugas besar sabtu depan. Segera saja, aku dan Petong -yang kebetulan bernasip sama- meminjam motor mbak Uuth untuk pergi ke ATM di buah batu. Waktu itu waktu menunjukan jam 09.30 lewat artinya waktu yang ada sangat sedikit, karena jam 10 kami harus sudah berangkat ke pool di leuwi panjang. Packingan ku yang yang hampir selesai segera kutinggalkan dan langsung cabut. Sesampainya di sekre yang saat itu rame –kayak kandang– aku langsung menghampiri day pack untuk menyelesaikan packing an yang belum kelar. Beruntung insting ini masih tetap jalan, aku melihat susunan packing – an sudah berubah bentuk, dan -benar saja– didalamnya penuh dengan benda – benda aneh semacam patung budha, payung, dll. Bangsat…pikirku, ini pasti ulah jacky ato kebo ato makhluk usil lainnya yang sekarang membunyikan pluit dan memukul – mukul meja untuk membuat kami panik.

Akhirnya, kami semua sudah selesai dan siap untuk berangkat. Tak lupa berfose dulu di kebun belakang sekre. Saat itu waktu menunjukan jam 10 lewat. Petong -yang menemukan patung budha di carriernya- kembali membuka packing an sambil menyumpahi pelaku…(heheheh…sapa tuh?). Jacky dan Kebo bersedia mengantarkanku dan ayis. Sementara kawan – kawan yang lain naik angkot / ojeg. Sesampainya di pool, ternyata ada juga penumpang yang lain yang belum datang. Aku menghampiri seorang bapak yang sedang duduk dimeja kerja menyampaikan klo teman ku yang lain sedang di jalan. Duduk menunggu, aku membuka buku catatan, mencoba memikirkan apakah ada yang masih belum kelar. Tak lama kemudian datang ayis, petong, sapi dan terakhir onie – jabek.

Di pool itu kami menunggu cukup lama juga. Petong –sekali lagi- menemukan patung budha di carier nya. Akhirnya, patung itu kami tinggalkan saja di pool. Jam 11 lewat, bus itu pun siap berangkat. Kami diberi kue yang langsung saja kami lahap, maklum belum sarapan..Berjalan cukup kencang, bus itu akhirnya berbalik lagi setelah masuk tol. Saat itu hingga bus kembali ke pool, aku tidak berfiirasat apa – apa. Hingga kami menunggu sampai jam 3 siang, aku mulai menghampiri bapak tadi menanyakan bagaimana nasip kami. Akhirnya, dengan raut menyesal beliau mengatakan tidak ada ada harapan lagi dan kami harus mencari alternative angkutan lain. Siaaaal…aku -sambil berusaha menjaga emosi ini- menyampaikan sesalku kenapa hal ini tidak dikatakan dari tadi, karena kami mungkin bisa naik bus ekonomi yang berangkat sekitar jam 2.30 siang. Akhirnya setelah negosiasi, uang kami dikembalikan 100%. Kami diberi info bahwa kami bisa menanti bus ke merak dipintu tol.

Duduk di trotar, kami beberapa kali melewatkan bus ekonomi ke merak. Kami sepakat naik eksekutif karena lewat cipularang, sehingga lebih cepat sampai ke merak. Tapi kemudian lewat juga bus ekonomi yang juga lewat cipularang. Kami pun naik bus ini.

Di dalam bus, aku sempat mengirim sms singkat ke Jimbo dan Oelil menanyakan bagaimana kondisinya di merak kalau kami mau nyebrang. Keduanya langsung reply. memberikan saran yang berbeda. Jabek – yang saat itu menghubungi pak kebo – di sarankan untuk turun dijakarta, nginap di warnet macan kemudian naik pesawat senin pagi. Usul itulah yang akhirnya kami lakukan, karena selain cemas bercampur was – was bagimana starategi kami di merak nanti, kami juga harus tiba di jambi sebelum sore – yang tidak akan mungkin terjadi klo nyambung – nyambung…- , karena lokasi Kenal Medan yang katanya sangaaaaat jauh.

Kejadian ini sungguh mengajarkan kami untuk bereaksi cepat. Bagaimana tidak, waktu itu rencana menggunakan pesawat tidak ada sama sekali di benakku. Artinya, hitung – hitungannya adalah naik ekonomi atau nyambung – nyambung. Alternatif pertama langsung gugur, karena pada saat negosiasi dengan agen agar duit kembali penuh, waktu sudah menunjukan pukul 3 siang lebih. Artinya lagi, bus ekonomi manapun sudah berangkat beberapa saat yang lalu. Alternatif kedua yang bernasip sama akhirnya mengantarkan kami pada the last chance.

Sesampainya di Jakarta, kami turun di depan RS Harapan Kita. Naik mobil ke Kampung Rambutan kemudian ke Lebak bulus –sebelumnya sempat nyasar dulu– akhirnya kami tiba di warnet macan. Saat itu, orang yang dicari sedang tidak ditempat. Setelah meletakan barang bawaan, kami kemudian menuju warung nasi terdekat, memesan makanan yang ada tanpa berpiir tentang harga. Saat itu jam 11 malam lewat, perut ini sudah menjerit minta diisi karena memang belum makan seharian. Akhirnya terjadilah : tagihan kami menunjukan angka 80 ribu lebih..sudahlah, toh ini jatah 3 kali makan… Kembali ke warnet macan, kami langsung saja bebersih dan istirahat karena besoknya harus sudah siap dijemput Bos Otong jam 5 pagi karena kami berencana naik pesawat jam 7.

Senin, 12 Des 2005

Jam 4 pagi itu, aku dan jabek sudah siap tempur. Sambil menunggu Bos Otong dan tak lupa membangunkan anak – anak, aku sempat membuka astacala.org dan login dengan account jabek, menyampaikan kabar terbaru kami di fordis. Sedikit cemas juga, karena Bos Otong yang dari tadi di miss call ga ngangkat telp nya. AKhirnya, jam 6 kurang kami di jemput si Bos dengan mobil vioz baru nya itu…..cieeeee.

Tiba di sukarno Hatta jam 7 lewat, kami membagi tugas : Petong ke Mandala, Sapi dan aku ke Sriwijaya Air, Jabek – Ayis ke ATM untuk ambil uang cash. Saat itu penerbangan terdekat hanya jam 13.30 dengan sriwijaya Air (yang jam 7 baru saja take off..). Harga tiket sewaktu aku tanyakan adalah 330 ribu. Kami kemudian berembuk dulu, karena asumsi awal kami harganya kurang dari 250 ribu. Setelah deal –10 menit kemudian- aku memesan dan kaget, harga tiket tadi sudah menjadi 350 ribu..siaaaaal. Menurut mbak nya, harga ini naik tiap detik sesuai perkembangan pemesanan. Akhirnya kami pun pasrah dan memesaan 6 seat..hik hik hik

Karena jadwal penerbangan yang masih lama, kamipun di ajak ke grogol untuk sarapan oleh si bos, sementara beliau sendiri harus ke kantor sebentar untuk meeting…..Setelah sarapan, kami menunggu di trotoar sambil terbahak – bahak memikirkan kisah kami hingga hari ini. Jam 11.30 lewat yang ditunggu belum juga datang, padahal kami harus boarding pass maksimal jam 12.30. Sms pun dikirimkan..dan tak lama si bos pun nongol.

Di area parkir dan di dalam pesawat kami masih sempat berfose, mengabadikan momen langka ini…kapan – kapannya anak ASTACALA jalan naik pesawat???. Kami tiba di Bandara Sutan Taha jam 14.30. Oh ya, dari Sukarno Hatta kami bareng dengan Cholish, anak UPN Veteran Jogja yang akan ikut Temu Wicara. Dari bandara kami naik 2 kali angkot – style musiknya khas alias keras ngujubileh coy…- kemudian langsung menuju kampus Unja Telanaipura, karena menurut teman jabek kami kumpul di sana dulu. Ternyata disana kami disambut suasana sepi. Kami menuju sekretariat SIGINJAI, dan benar saja : kami hanya menemui 3 orang panitia. Setelah berkenalan sebentar, kami diberi tahu bahwa kami harusnya ke kampus Mendalau. Disanalah kami harus mendaftar kemudian diberangkat ke lokasi. Beruntung ada mobil pick up panitia yang memang berniat ke mendalau untuk mengantar beberapa barang. Akhirnya kami melaju dan tiba 10 menit kemudian kemudian langsung mengurus administrasi dll.

Karena keterlambatan ini, kami melewati pembukaan dan stadium general. Sambil menunggu keberangkatan ke lokasi masing –masing, kami makan dengan nasi bungkus yang diberi panitia. Kami berkenalan dengan kawan – kawan lain yang juga nongkrong di depan aula itu : dari Padang, Makassar, Jakarta, Lampung, dll. Kawan – kawan ITB saat itu juga sedang menunggu seorang teman yang berangkat dengan penerbangan jam 15.30.

Sore itu, peserta setiap divisi sempat briefing dengan panitia. Kami (divisi arum jeram, caving dan panjat tebing) diberitahu untuk sudah bersiap – siap ba’da magrib ini untuk berangkat – dengan bus carter ekonomi – ke Merangin, sementara itu divisi gunung hutan (yang jumlah nya 40 orang lebih / sejumlah 3 divisi lain) di bus terpisah (AC coy…..bikin sirik deeeh).

Kami tiba di Merangin jam 2.30 pagi. Lelah dan mengantuk, kami segera bebersih dan instalasi tempat bobok di aula dinas pariwisata Kabupaten Mendalau itu. Beberapa kawan juga tampak memasang hammock. Sial bagi petong, ketika membuka carrier nya ia menemukan sebuah kipas angin kecil putih ter packing dengan rapi di dalamnya. Sempat shock sebentar, ia akhirnya hati – hati memindahkan barang – barang itu ke carrier sapi supaya tidak terlihat yang lain sewaktu mengambil perlengkapan tidur. AKu teringat pesan Momesh sebelum berangkat ke pool (sebelumnya aku ga ngerti maksudnya), “Dek, jagain Petong ya…nanti mungkin mentalnya kena di sana. Pokoknya kamu jagain yah..”…gilaaaaaaaa

Selasa, 13 Des 2005

Setelah terobati tidur cukup nyenyak, kami segera mandi atau sekedar cuci muka. Pagi ini akan dilakukan upacara pelepasan dengan Bupati Merangin. Gladi bersih yang dipimpin oleh staf pemda cukup kacau, karena anak – anak ogah – ogahan untuk nyanyi lagu Indonesia Raya (kebayang false nya gimana?????). Dengan frustasi, si bapak berkata “Klo di cina nyanyi lagu kebangsaan sambil main – main bisa dihukum gantung..”. Tak lama kemudian, terdengar celetukan kawan dibelakang “Klo di cina, ngomong sambil kumis goyang – goyang bisa dihukum gantung pak…!!! ”. Si Bapak yang memang punya kumis style Hitler itu langsung pergi dengan muka merah. Lama juga menunggu pimpinan upacara kita, yang oleh kawan – kawan dipanggil Bupati Cina. Kami sempat sarapan dan akhirnya jam 10.30 datang juga Wakil Bupati menggantikan, upacara pun dilangsungkan. Dengan serius, kawan – kawan bernyanyi lagu Indonesia Raya (beda banget dengan gladi bersihnya!!!! anak MAPALA getoo lho….). Upacara tidak berlangsung lama dan diakhiri dengan foto bersama.

Sambil menunggu angkutan datang, kami berfose dulu di tepi sungai batang merangin yang ada di depan aula itu. Setelah mobil jeep team Caving datang, kami pun berpamitan dengan kawan – kawan tebing dan sungai. Di mobil yang ukurannya mirip Rover nya Gapoeng itu, kami berhimpit – himpitan 13 orang bersama bahan makanan. Kami memutuskan untuk makan siang nanti, karena baru saja menyantap sarapan yang terlambat datang.

Jalan menuju Sengayau sungguh menakjubkan. Bagaimana tidak, tiap saat kami diguncang oleh lubang yang menganga hingga salah seorang kawan dari jogja sempat nyeletuk “Klo nih jalan disamaain kayak sungai, mungkin udah sama kayak Colorado neh….”. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 6 jam (ditambah aksi dorong mobil juga…..). Mobil yang kami tumpangi ini adalah mobil Departemen Kehutanan, dan sopirnya yang juga Ranger Taman Nasional Gunung Kerinci itu terlihat sudah sangat mengenal mobil yang digunakan. Namun, karena memang medan yang terlalu sulit akhirnya sang sopir menyerah (setelah melewati Dusun Dalam) dan kami pun pindah ke truk pak Sahar yang kebetulan dibelakang rombongan kami. Truk ini mengangkut batu sungai untuk menutup lobang di jalan. Dari yang penulis lihat, didalam truk dijumpai beberapa mesin pemotong kayu, sehingga kemungkinan juga digunakan untuk mengangkut kayu tebangan dari hutan.

Di tengah perjalanan kami berhenti, karena pemiliki truk ingin mengambil batu di sungai. Kami pun menggunakan kesempatan ini untuk makan siang di tepi sungai (jalan yang kami lalui memang sejajar dengan sungai). Waktu itu hari menunjukan jam 3 siang lebih. Selama perjalanan, kami menggunakan kesempatan ini untuk saling mengenal. Di rombongan kami ada 10 peserta (5 putri, 5 putra….pas banget yaaa) : Abon (Mapa Gundar); Jeffry yang kuliah di UNSOED (ASTADECA); Datuak – anak gunung gutan yang pengen nyoba Caving (PAKSI ARGA); Catur yang kami panggil babie romeo, karena memang mirip (Wanapala UNAIR); Berry (KMPA Ganesha); Sanny yang kami pangil “Mpok” karena mirip mpok nya Alhm. Benjamin (MAPAGAMA); Getol (JAYAGIRI); Bebek – seorang kawan yang setahun lalu sempat ngajarin aku, jabek dan kupret latihan SRT di jogja (MAPALA UNISI), terakhir aku dan onie. Sedangkan panitia yang mengiringi : Robi (Koordinator), Rika (Sekretaris) dan Sri (Bendahara).

Oh ya, di desa kami sempat diberi jajanan khas oleh penduduk yang bentuknya seperti dodol namun lebih keras dan pecah dimulut. Setiba nya di jambi kelak, aku baru mengetahui bahwa makanan ini hanya ada di Sengayau saja. Aku menyesal juga tidak sempat membawa nya. Kami tiba di basecamp jam 6 sore lebih (lokasi tepat setelah melewati jembatan permanen ke 3). Sesampainya di sana, aku bergegas sholat zuhur- ashar dulu walaupun ga yakin belum magrib. Sesudahnya kami instalasi dan bebersih.

Di basecamp sudah ada team pendarat : Eka (KPA Elang Gunung), Fahmi (SWAT Stikom), Bowo (KPA Pamalayu), Pahlevi (Siginjai) dan instruktur kami : Jibrik dan Ben (MAKOPALA Budi Luhur). Malam itu hanya diisi ngariung dengan instruktur yang berasal dari Jakarta (Ben dan Jibrik). Kedua nya cukup asyik karena lucu, dan cerita kami berlanjut ke kisah eksplorasi yang diselingi pertanyaan – pertanyaan ringan seputar alat / kasus yang ditemui.

*Anggota Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam ASTACALA STTTelkom

To be continue..





My First Evacuation

4 08 2006
Senin – 23 jan 2006, pukul 11 pagi, teriakan “ASTACALA !!!” menggema di lembahan kaki gunung gigiran Tangkuban Perahu. Camp 1 Gunung Hutan. seorang siswa – Prita – terkena golok di telapak tangan. Kondisi tandon jari telunjuk putus dan mengenai sepanjang 4 tandon jari lain. Waktu itu materi Man To Man.

Kondisi yang hujan membuat jalan begitu licin, korban menggunakan golok untuk membantu turun. Ketika terpeleset ia reflek berpegangan pada golok dan langsung merosot ke bawah.
Beruntung api saat itu belum kami matikan. Swing team yang stand by saat itu Adek-taka-jabek. Oni dan ayis yang mendampingi pemateri Bolot-Gejor saat itu sudah bersama kami.

Ketika mendengar teriakan
ASTACALA !!!berkali -kali, sontak aku dan taka langsung berlari ke arah sumber suara. Belum sepernuhnya sadar apa yang terjadi, aku melihat korban berdiri memegangi tangan nya masih menggendong carrier. Gejor yang memang tak kuat melihat darah yang memang mengucur seperti air sempat shock dan limbung. Ia langsung ditangani taka.

Setelah kuperban seadanya, ku bawa ia ke tempat kami. Setelah mengganti baju dengan baju hangat, taka meminta aku dan bolot segera turun untujk evakuasi. Kami tidak bawa carrier, hanya ransel berisi perlengkapan seadanya. Perjalanan ke desa terdekat (Nagrok) kurang dari 2 jam, sepanjang jalan prita kadang menangis, entah karena menahan sakit atau meninggalkan PENDAS atau kedua nya. Saat itu jalan itu, aku sempat menangis juga, mungkin karena melihat jelas semangat nya untuk bertahan.

Seperti dugaan, puskesmas di Cipulus sudah tutup. Beruntung ada mobil lewat, yang langsung saja ku stop. Kami diantar smp Puskesmas Wanayasa. Disana ia sempat diperiksa dokter – beruntung gratis- dan kami dirujuk ke RS Bayu Asih karena luka yang parah. Kondisi prita saat itu sudah lemas, karena jalan yang jauh dan memang kami belum makan siang. Waktu itu pukul 3 lewat, aku hanya mampu membeli roti coklat dan meminta air teh hangat dari penjual mie untuk kuberikan padanya.

Dari wanayasa, kami carter angkot 65rb setelah memohon2 sama sopirnya untuk kurang dari 80rb. (duit yang ada hanya 80rb an). Di RS, prita sempat di jahit dan di ronsen. Dokter jaga memberi merekonendasikan untuk ke spesialis tulang sore ini atau rawat inap dulu karena dikternya tidak ditempat. Kami memutuskan untuk ditangani secepatnya. tagihan RS saat itu tidak mampu kami bayar, hingga aku stand by di YGD sammbil menunggu momesh, Bolot dan prita ke Dokter.

Momesh datang dengan kak Dedi jam 8 malam, dan kami segera menyusul ke klinik. Malam itu juga, Prita dioperasi. Kami menunggu orang tua Prita yang tiba jam 11 malam itu. Setelah ngobrol sebentar, meraka langsung ke jakarta dan kami segera berangkat ke bandung. waktu itu jam 12.30 malam.

AKu teringat, prita masih memikirkan PENDAS dan kawan – kawan yang ditinggalkannya. Waktu ku tanyakan padanya apakah ada pesan untuk kawan – kawan , ia menajawab : “Bilang maaf sama pipin dan vio, prita ga bisa nemenin pendas bareng kalian. trus tetap semangat sampai akhir.”

siang ini, aku, bolot serta mbak doni menyusul ke Ujung Aspal, basecamp terakhir GH PENDAS 14. Hanya 12 jam waktu evaluasi, tapi mengajarkan ku banyak hal.


Kesiswaan PDA XIV