.: Al-Kahfi :.
Take Care
26 12 2006Comments : Leave a Comment »
Categories : Uncategorized
[My Hope]
21 12 20061. Tubuh sehat dan kuat (Qowiyyul jismi)
2. Akhlak solid (Matiinul khuluqi)
3. Pikiran intelek (Mutsaqqoful fikri)
4. Aqidah bersih (saliimul aqiidah)
5. Ibadah benar (Shohiihul ibaadah)
6. Bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)
7. kekuatan menjaga dan memelihara lisan (Hifdzul lisaan)
8. Istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun filhaqqi)
9. Lemah lembut dan memaafkan (Latiifun wahubbul âl afwi)
10. Yakin dalam bertindak (Mutayaqqinun filâllahu amal)
11. Rendah hati (Tawadhu’)
12. Pikiran positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’)
13. Siap menolong (Mutanaashirun lighoirihi)
14. Menundukkan pandangan dan memelihara kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)
Comments : Leave a Comment »
Categories : Uncategorized
Nanti Saja
21 12 2006+ Kesedihan, mengapa kamu terdiam saja disudut itu?
+ Bolehkan kubawakan seorang teman untuk mu?
- Baiklah, tapi jangan saat ini..
+ Lalu kapan ?
- Nanti saja, kalau kegembiraan sudah datang menemaniku
[Al - Kahfi]
15 Desember 2006
Comments : Leave a Comment »
Categories : Uncategorized
Hanya Seperti itu
21 12 2006Adakah telihat oleh mu bintang yang sedang kulihat saat ini?
Sinarnya…entah mengapa, begitu menyilaukan dari pada bulan.
Aneh bukan ?
Belahan Hati, sedang ada dirimu saat ini?
Mengapa tak juga kamu datang padaku ?
Begitu nyaman kah di tempat mu saat ini ?
Apakah kamu merasakan damai yang dulu kita cari itu?
Hidup, kapan kah kamu akan berakhir ?
Tinggalkanlah jiwaku dan semua kenangan yang sudah ada
Lalu jeputlah aku lagi katika kamu telah kembali kelak
Bawakan aku banyu yang menyejukan dahaga, tentang kerinduan padamu
Pertanyaan ini, mungkinkah akan terjawab semua ?
Kegalauan ini, kapan kah berakhirnya ?
Dan kegilisahan ku, mungkin kah terobati nanti?
Ada bangau putih terbang rendah di sawah ini.
Disana, di ujung pandanganku, dipeluk ufuk yang mulai menjadi merah.
Pasti begitu damai rasanya, ketika bisa mengajakmu turut serta duduk di pematang sawah ini.
Melihat langit yang kulihat ini dan berbagai warna yang ditemani oleh lembutnya sinar mentari sore
Pasti saat itu tak mampu kuberbicara padamu
Biarkanlah suara jangkrik dan gemerisik rumput ini saja yang bercerita
Tentang hidup yang ingin kulalui denganmu
Tentang kisah yang kuharap dapat dibagi denganmu
Mungkinkah rasa rindu bisa membunuh ?
Ah, itu hanya di sinetron saja bukan ?
Tapi jantungku berdetak kencang sekali saat mengingatmu
Temani aku disini, cinta
Hiruplah udara yang juga kuhirup saat ini
Lalu hapuslah semua resah ini
Kemarilah, karena langit sedang begitu indahnya
Dan kekasih jiwaku, bicaralah padaku
ceritakan tentang dongeng yang mengantarkan mimpi tentangmu
Basuhlah luka ini, sebelum ia membusuk dan membunuhku perlahan – lahan
Hapuslah kesedihanku dan nyanyikanlah dengan indah bait kegembiraan milikmu
Rauplah seluruh harapanku untuk memilikimu sekalipun itu tidak dihidup saat ini
[Al - Kahfi]
15 Desember 2006
Comments : Leave a Comment »
Categories : Uncategorized
# Tentang ‘Mati’
13 12 2006
Orang sering bertanya pada ku. Kenapa naik gunung? Kenapa memanjat tebing? Kenapa masuk gua? Kenapa berenang di sungai deras? Kenapa..kenapa..kenapa?
Mulanya tak bisa kujawab pertanyaan demi pertanyaan itu. Tapi akhirnya ku jawab juga. Kukatakan, “Mungkin karena hubungan yang tercipta antara tuhan, alam dan manusia yang mampu dijalin olehnya“. Hmmm…Hmm..Hm…H…Halaaah.. Entahlah, jawaban seperti apa ini. Sungguh filosofis, tapi jujur saja ku akui itu adalah salah satu bualan terindah yang pernah kubuat. Jujur saja lagi kukatakan sekarang, sungguh menderita rasanya ketika berjalan ditengah kabut dan dingin hujan badai itu, sambil berjuang melawan rasa letih dan ngantuk yang mampu membunuh. Sungguh mengerikan rasanya menggantungkan nyawa pada sehelai tali tipis 10.5 mili, ditengah kasarnya tebing batu atau kegelapan dimensi ruang dalam di bawah kaki ini. Sungguh menyesakan dada, saat tubuh diputar gulungan air berjuta kubik dalam derasnya sungai tak berujung yang mampu menghantarkan setiap nafas pada akhir hembusan.
Jadi saat kamu tanyakan lagi, kenapa..kenapa..kenapa…lalu apa yang kira – kira kan kujawab ? Karena memang tak bisa kugambarkan padamu tentang damainya jiwaku karena hangat yang diberikan bara didepan api yang kubuat ditengah menggigilnya tubuh ini sore tadi. Padahal alam di luar sana sedang mengamuk dengan badai atau udara dingin menusuk tulang. Karena memang tak mungkin untuk membuatmu mengerti tentang makna waktu dan berharga nya keyakinan yang kurasakan sejenak tiba – tiba, ditengah kepanikan saat nyawaku bergantung pada keputusan beberapa detik lagi. Karena memang tak mampu ku ceritakan padamu, tentang mimpi seorang anak manusia yang hanya ingin hidup dengan harapan sederhana dan tanpa rasa takut. Saat ini, semua itulah yang mampu membawaku selalu mencoba mengerti tentang perjalanan hidupku, memahami dan menerimanya apa adanya.
Lihatlah siklus jiwa kita, ia hidup lalu mati lalu hidup lagi. Dan tadi malam, dalam sunyinya hutan dan ditemani hangat nya api ini, aku teringat dengan mati. Dan saat ini, tiba – tiba aku begitu merindukan mati. Bukan karena tak bersyukur atas nafas yang kuhirup lalu kuhembuskan sekarang, tapi karena itulah yang terindah dari apa yang mampu disuguhi kehidupan. Dan bukankan setelah itu aku akan hidup lagi? Karena kuingin matiku membawa harapan tentang kamu pada Sang Khalik dalam hidupku nanti.
Seperti yang Soe pernah katakan.., “Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” Aku ingin tersenyum dalam matiku, seperti yang pernah kamu katakan untuk ku lakukan. Di tengah dingin badai yang memberikan sensasi rasa hangat dan damai. Kuharap, sebelum datang kantuk yang melelapkanku selamanya, masih ada sedikit ingatan tentang kamu melintasi pikiranku, diantara ucapan doa terakhir hati yang dijemput malaikat kematian.
Al-Kahfi
-Situ Lembang, 12 Desember 2006-
Comments : 3 Comments »
Categories : Renungan
# Tentang ‘Mati’
13 12 2006
Orang sering bertanya pada ku. Kenapa naik gunung? Kenapa memanjat tebing? Kenapa masuk gua? Kenapa berenang di sungai deras? Kenapa..kenapa..kenapa?
Mulanya tak bisa kujawab pertanyaan demi pertanyaan itu. Tapi akhirnya ku jawab juga. Kukatakan, “Mungkin karena hubungan yang tercipta antara tuhan, alam dan manusia yang mampu dijalin olehnya“. Hmmm…Hmm..Hm…H…Halaaah.. Entahlah, jawaban seperti apa ini. Sungguh filosofis, tapi jujur saja ku akui itu adalah salah satu bualan terindah yang pernah kubuat. Jujur saja lagi kukatakan sekarang, sungguh menderita rasanya ketika berjalan ditengah kabut dan dingin hujan badai itu, sambil berjuang melawan rasa letih dan ngantuk yang mampu membunuh. Sungguh mengerikan rasanya menggantungkan nyawa pada sehelai tali tipis 10.5 mili, ditengah kasarnya tebing batu atau kegelapan dimensi ruang dalam di bawah kaki ini. Sungguh menyesakan dada, saat tubuh diputar gulungan air berjuta kubik dalam derasnya sungai tak berujung yang mampu menghantarkan setiap nafas pada akhir hembusan.
Jadi saat kamu tanyakan lagi, kenapa..kenapa..kenapa…lalu apa yang kira – kira kan kujawab ? Karena memang tak bisa kugambarkan padamu tentang damainya jiwaku karena hangat yang diberikan bara didepan api yang kubuat ditengah menggigilnya tubuh ini sore tadi. Padahal alam di luar sana sedang mengamuk dengan badai atau udara dingin menusuk tulang. Karena memang tak mungkin untuk membuatmu mengerti tentang makna waktu dan berharga nya keyakinan yang kurasakan sejenak tiba – tiba, ditengah kepanikan saat nyawaku bergantung pada keputusan beberapa detik lagi. Karena memang tak mampu ku ceritakan padamu, tentang mimpi seorang anak manusia yang hanya ingin hidup dengan harapan sederhana dan tanpa rasa takut. Saat ini, semua itulah yang mampu membawaku selalu mencoba mengerti tentang perjalanan hidupku, memahami dan menerimanya apa adanya.
Lihatlah siklus jiwa kita, ia hidup lalu mati lalu hidup lagi. Dan tadi malam, dalam sunyinya hutan dan ditemani hangat nya api ini, aku teringat dengan mati. Dan saat ini, tiba – tiba aku begitu merindukan mati. Bukan karena tak bersyukur atas nafas yang kuhirup lalu kuhembuskan sekarang, tapi karena itulah yang terindah dari apa yang mampu disuguhi kehidupan. Dan bukankan setelah itu aku akan hidup lagi? Karena kuingin matiku membawa harapan tentang kamu pada Sang Khalik dalam hidupku nanti.
Seperti yang Soe pernah katakan.., “Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” Aku ingin tersenyum dalam matiku, seperti yang pernah kamu katakan untuk ku lakukan. Di tengah dingin badai yang memberikan sensasi rasa hangat dan damai. Kuharap, sebelum datang kantuk yang melelapkanku selamanya, masih ada sedikit ingatan tentang kamu melintasi pikiranku, diantara ucapan doa terakhir hati yang dijemput malaikat kematian.
Al-Kahfi
-Situ Lembang, 12 Desember 2006-
Comments : Leave a Comment »
Categories : Renungan
# Tentang ‘Mati’
13 12 2006
Orang sering bertanya pada ku. Kenapa naik gunung? Kenapa memanjat tebing? Kenapa masuk gua? Kenapa berenang di sungai deras? Kenapa..kenapa..kenapa?
Mulanya tak bisa kujawab pertanyaan demi pertanyaan itu. Tapi akhirnya ku jawab juga. Kukatakan, “Mungkin karena hubungan yang tercipta antara tuhan, alam dan manusia yang mampu dijalin olehnya“. Hmmm…Hmm..Hm…H…Halaaah.. Entahlah, jawaban seperti apa ini. Sungguh filosofis, tapi jujur saja ku akui itu adalah salah satu bualan terindah yang pernah kubuat. Jujur saja lagi kukatakan sekarang, sungguh menderita rasanya ketika berjalan ditengah kabut dan dingin hujan badai itu, sambil berjuang melawan rasa letih dan ngantuk yang mampu membunuh. Sungguh mengerikan rasanya menggantungkan nyawa pada sehelai tali tipis 10.5 mili, ditengah kasarnya tebing batu atau kegelapan dimensi ruang dalam di bawah kaki ini. Sungguh menyesakan dada, saat tubuh diputar gulungan air berjuta kubik dalam derasnya sungai tak berujung yang mampu menghantarkan setiap nafas pada akhir hembusan.
Jadi saat kamu tanyakan lagi, kenapa..kenapa..kenapa…lalu apa yang kira – kira kan kujawab ? Karena memang tak bisa kugambarkan padamu tentang damainya jiwaku karena hangat yang diberikan bara didepan api yang kubuat ditengah menggigilnya tubuh ini sore tadi. Padahal alam di luar sana sedang mengamuk dengan badai atau udara dingin menusuk tulang. Karena memang tak mungkin untuk membuatmu mengerti tentang makna waktu dan berharga nya keyakinan yang kurasakan sejenak tiba – tiba, ditengah kepanikan saat nyawaku bergantung pada keputusan beberapa detik lagi. Karena memang tak mampu ku ceritakan padamu, tentang mimpi seorang anak manusia yang hanya ingin hidup dengan harapan sederhana dan tanpa rasa takut. Saat ini, semua itulah yang mampu membawaku selalu mencoba mengerti tentang perjalanan hidupku, memahami dan menerimanya apa adanya.
Lihatlah siklus jiwa kita, ia hidup lalu mati lalu hidup lagi. Dan tadi malam, dalam sunyinya hutan dan ditemani hangat nya api ini, aku teringat dengan mati. Dan saat ini, tiba – tiba aku begitu merindukan mati. Bukan karena tak bersyukur atas nafas yang kuhirup lalu kuhembuskan sekarang, tapi karena itulah yang terindah dari apa yang mampu disuguhi kehidupan. Dan bukankan setelah itu aku akan hidup lagi? Karena kuingin matiku membawa harapan tentang kamu pada Sang Khalik dalam hidupku nanti.
Seperti yang Soe pernah katakan.., “Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” Aku ingin tersenyum dalam matiku, seperti yang pernah kamu katakan untuk ku lakukan. Di tengah dingin badai yang memberikan sensasi rasa hangat dan damai. Kuharap, sebelum datang kantuk yang melelapkanku selamanya, masih ada sedikit ingatan tentang kamu melintasi pikiranku, diantara ucapan doa terakhir hati yang dijemput malaikat kematian.
Al-Kahfi
-Situ Lembang, 12 Desember 2006-
Comments : Leave a Comment »
Categories : Renungan
# Tentang ‘Mati’
13 12 2006
Orang sering bertanya pada ku. Kenapa naik gunung? Kenapa memanjat tebing? Kenapa masuk gua? Kenapa berenang di sungai deras? Kenapa..kenapa..kenapa?
Mulanya tak bisa kujawab pertanyaan demi pertanyaan itu. Tapi akhirnya ku jawab juga. Kukatakan, “Mungkin karena hubungan yang tercipta antara tuhan, alam dan manusia yang mampu dijalin olehnya“. Hmmm…Hmm..Hm…H…Halaaah.. Entahlah, jawaban seperti apa ini. Sungguh filosofis, tapi jujur saja ku akui itu adalah salah satu bualan terindah yang pernah kubuat. Jujur saja lagi kukatakan sekarang, sungguh menderita rasanya ketika berjalan ditengah kabut dan dingin hujan badai itu, sambil berjuang melawan rasa letih dan ngantuk yang mampu membunuh. Sungguh mengerikan rasanya menggantungkan nyawa pada sehelai tali tipis 10.5 mili, ditengah kasarnya tebing batu atau kegelapan dimensi ruang dalam di bawah kaki ini. Sungguh menyesakan dada, saat tubuh diputar gulungan air berjuta kubik dalam derasnya sungai tak berujung yang mampu menghantarkan setiap nafas pada akhir hembusan.
Jadi saat kamu tanyakan lagi, kenapa..kenapa..kenapa…lalu apa yang kira – kira kan kujawab ? Karena memang tak bisa kugambarkan padamu tentang damainya jiwaku karena hangat yang diberikan bara didepan api yang kubuat ditengah menggigilnya tubuh ini sore tadi. Padahal alam di luar sana sedang mengamuk dengan badai atau udara dingin menusuk tulang. Karena memang tak mungkin untuk membuatmu mengerti tentang makna waktu dan berharga nya keyakinan yang kurasakan sejenak tiba – tiba, ditengah kepanikan saat nyawaku bergantung pada keputusan beberapa detik lagi. Karena memang tak mampu ku ceritakan padamu, tentang mimpi seorang anak manusia yang hanya ingin hidup dengan harapan sederhana dan tanpa rasa takut. Saat ini, semua itulah yang mampu membawaku selalu mencoba mengerti tentang perjalanan hidupku, memahami dan menerimanya apa adanya.
Lihatlah siklus jiwa kita, ia hidup lalu mati lalu hidup lagi. Dan tadi malam, dalam sunyinya hutan dan ditemani hangat nya api ini, aku teringat dengan mati. Dan saat ini, tiba – tiba aku begitu merindukan mati. Bukan karena tak bersyukur atas nafas yang kuhirup lalu kuhembuskan sekarang, tapi karena itulah yang terindah dari apa yang mampu disuguhi kehidupan. Dan bukankan setelah itu aku akan hidup lagi? Karena kuingin matiku membawa harapan tentang kamu pada Sang Khalik dalam hidupku nanti.
Seperti yang Soe pernah katakan.., “Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” Aku ingin tersenyum dalam matiku, seperti yang pernah kamu katakan untuk ku lakukan. Di tengah dingin badai yang memberikan sensasi rasa hangat dan damai. Kuharap, sebelum datang kantuk yang melelapkanku selamanya, masih ada sedikit ingatan tentang kamu melintasi pikiranku, diantara ucapan doa terakhir hati yang dijemput malaikat kematian.
Al-Kahfi
-Situ Lembang, 12 Desember 2006-
Comments : Leave a Comment »
Categories : Renungan
Recent Comments